Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
70 : Eldania


__ADS_3

Kwakk..........


Sebagai suara terakhir, selepas Everst memakan daging terakhirnya.


"................" Entah karena gerangan apa yang sedang terjadi, Eldania merasa gemas dengan tindakan burung ini terlepas dari Everst yang mengulur-ulur waktu sebuah jawaban atas pertanyaannya 1 jam yang lalu.


“ Lumayan. “ Everst menatap piring kosong yang ada di depannya. Dia akhirnya merasa puas diri setelah membuat perutnya kenyang.


Selepas menatap piring kosong itu, Everst terbang pindah tempat ke sofa dan mencoba posisi terbaiknya untuk diam berdiri, sebab gadis di sebelahnya sudah mulai menuntut sebuah penjelasan, itu terlihat jelas dari sorotan matanya. 


“ Eksperimen sihir . “ Everst mulai menjelaskan apa yang gadis ini inginkan darinya.


“ Eksperimen sihir?. Apa hubungannya?. “


“ Kau bisa melakukan segala hal mustahil menjadi terwujud. Tapi tidak semuanya tidak menimbulkan konsekuensi. Dan dua iblis bersaudara itu adalah hasil dari eksperimen itu sendiri, dengan kepribadian berbeda menjadi sifat mereka. 


Satu akar muasal yang dibagi menjadi dua, itulah asal kedua iblis itu. Singkatnya seperti pinang dibelah menjadi dua. “ Jelas Everst.


“ Jaid tujuannya untuk apa, melakukan eksperimen seperti itu?. “


Everst seketika melirik ke arah Eldania, kembali menjelaskan. “ Tujuannya adalah untuk menggabungkan dua kekuatan berbeda ke dalam salah satu tubuh di antara mereka. 


Jadi pada dasarnya, setelah tenggat waktunya tiba. Salah satu di antara mereka, sosok yang keberadaannya harusnya tidak pernah ada di dunia ini akan menghilang. Yah.....itulah bayaran yang harus diterima agar eksperimennya berhasil. Karena jika tidak, mereka berdua akan sama-sama menghilang. “


“ Jadi, maksudmu Nathan.......dia mengorbankan dirinya untuk kakaknya?. “ Eldania merenungkan kejadian hari ini yang dia lihat beberapa jam yang lalu. 


Dalam banyaknya hal yang harus dilakukan untuk terus hidup, diantaranya adalah meraih mimpi dan ambisi. Tapi untuk Nathan,......dia justru mendedikasikan hidupnya sendiri untuk saudaranya.


“ Tidak, kau salah..... . Nathan bukanlah adiknya Ethan, tapi justru sebaliknya. Hanya menukar nama, tidak berarti identitas dari dia yang seorang kakak akan terhapus. 


Dan tugas umumnya seorang yang lebih tua dari saudaranya.......itulah yang dia emban.


Karena itu, ketika pengorbanannya di lakukan, nama yang dia miliki akan menghilang dari segala ingatan semua orang. 


Jadi jangan terheran, jika orang-orang akan melupakan namanya. “


Jelas Everst dengan serta merta hanya ingin membuat perempuan ini lebih banyak tahu segala kehidupan yang dijalani mereka, tidak sepenuhnya untuk mereka sendiri. Ada kalanya yang mereka lakukan hanya demi kepuasan nafs*u belaka dari orang lain dan hasilnya harus terpaksa mengorbankan dirinya sendiri agar tujuan itu tercapai.


[ Nama dari iblis itu ikut menghilang dari ingatan semua orang. ] Apakah memang seperti itu?. Tapi yang Eldania pikirkan justru berbeda dari penjelasan Everst.


“ Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?. “ lirik Everst. Dengan kaki yang tidak bisa diam itu, kini satu jari cakarnya mulai menyentuh rok yang dikenakan oleh Eldania.


“ Tidak ada.” Eldania ikut melirik ke bawah. Mencoba melihat apa yang sedang dilakukan oleh burung ini dengan kaki pendek yang cukup kuat itu. [ Apa yang mau dia lakukan?. ] dan sebuah ketukan pelan menyapa kulit pahanya.

__ADS_1


Itu adalah sesuatu yang cukup menggelitik.


“ Aku akan memberikan ini kepadamu. Kau tidak akan pernah kehilangannya ini lagi, sekalipun aku tidak bersama denganmu. “ Ucap Everst. Ketukan pelan yang Eldania rasakan di atas kulit paha nya langsung memunculkan sehelai bulu coklat miliknya. 


" Bulu?. " Sebuah bulu tiba-tiba terwujud di atas pangkuannya. Eldania mengambilnya dan menatapnya dengan seksama. Eldania seketika tahu, itu adalah bulu yang dapat berubah menjadi pedang, karena pada dasarnya burung ini.....Everst, melawan semua yang menjadi musuhnya dengan kemampuannya itu. 


Eldania memang sempat melupakannya karena merasa sudah kehilangan bulu itu begitu lama. Tapi hari ini, Everst dengan resmi seperti menyatakan kalimat yang berbeda dari yang dulu, seolah itu adalah pernyataan...


' Aku akan menjagamu, sampai aku mati sekalipun. '


“ ..............., kenapa?. “ Eldania menundukkan kepalanya ke bawah, menggenggam erat bulu itu di atas pangkuannya. Tidak lama kemudian bulu itu berubah wujud menjadi pedang.


“ Tidak ada alasan khusus. Tapi itu akan berguna karena selama ini, kau hanya mengeluarkan kartu AS di saat terdesak saja. Bukannya bagus aku memberikanmu itu?. “


"....................." Eldania mengulum senyuman tipis. Eldania merasakan bahwa burung ini selalu mengerti dirinnya. Tapi sebaliknya, Eldania merasa masih belum mengerti tentang Everst secara jauh.


[ Hmmm........aku hanya menebaknya saja, dibanding seperti hewan peliharaan bersama majikan, justru mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih. ] Erich tidak begitu paham dengan tiap ekspresi yang dibuat oleh gadis itu kepada burung tersebut, dan sebaliknya. 


Tetapi satu hal yang dia ketahui bahwa mereka berdua sedang berbicara serius.


[ Sampai-sampai aku tidak bisa tahu apa yang sedang dibicarakan mereka. ] Penasaran, tapi Erich benar-benar tidak bisa tahu apa yang sedang burung itu ungkapkan. [ Apa mereka menggunakan telepati?. ] 


Erich semakin penasaran karena keingintahuannya. Tapi di satu sisi, dia punya pengalaman buruk dengan seekor burung yang sudah merusak wajahnya. jadi Erich hanya bisa mencoba menahan perasaan itu dalam diam dengan menyeruput teh.


_________


Tetapi Nathan tidak memperdulikan panggilan dari Angela dan terus berjalan terus, seolah.........


Tidak seolah, tapi........


Tapi memang sengaja melakukannya untuk menjauhkan dirinya dari Angela.


[ Dia menghindariku. ] pikir Angela, ketika dirinya sekarang hanya bisa melihat punggung yang kian menjauh itu. 


Di koridor itu, Ethan berjalan sendirian selagi pikiran melayang entah kemana. Bahkan panggilan tadi saat berpapasan dengan Angela, sebenarnya dia bahkan tidak tahu dan sekalipun Ethan tahu, itu tidak akan membuat dirinya akan menyapa balik perempuan itu.


Karena Ethan merasa tidak perlu menyapa balik Angela yang bahkan bukan temannya.


"......................." 


Kemana tujuan Ethan pergi pastinya adalah berkeliling untuk mencari perempuan itu. Walau tahu pertemuan pertama mereka hanyalah ketidaksengajaan dan sangat biasa.


Tapi, kali ini Ethan merasa harus bertemu satu-satunya orang yang menjadi saksi mata.

__ADS_1


"....................., sebentar. " sesuatu yang merubah pikirannya tiba-tiba muncul, membuat langkah kakinya berhenti tepat di tengah koridor [ Jika........mereka bahkan tidak ingat siapa Nathan yang sebenarnya dan tidak ingat siapa itu Ethan, berarti tidak ada gunanya juga aku bertanya padanya. ] Satu kesimpulan yang membuat Ethan langsung mengurungkan niatnya untuk mencari gadis itu. 


Ethan berpikir demikian sebab Ethan merasa kalau perempuan yang akan Ethan temui, pada akhirnya akan memberikan jawaban yang sama dan  itu tidak ada gunanya lagi jadi hanya membuang-buang waktu.


Tapi...........


Apa harus menerimanya begitu saja seperti ini?.


Ethan bingung dengan keadaan ini.


Apa hanya dirinya saja yang bisa mengingat siapa itu Nathan?.


Apakah kedua orang tuanya ingat?, atau tidak?.


GRRTTT...........


Sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Ethan mendesis kesal dengan dirinya sendiri karena tidak tahu apa yang bisa dia lakukan di saat-saat seperti ini.


Apa satu-satunya jalan hanya itu saja?, yaitu memenuhi perannya sebagai Nathan?.


Tapi dirinya bukanlah Nathan tapi Ethan dengan kepribadian dan sifat yang bertolak belakang dengan saudara kembarannya itu.


Dirinya adalah Ethan, yang saat ini  hanya bisa berperan dengan menyandang nama Nathan saja dengan sIfat miliknya tidak bisa berubah, jadi......


Apa boleh buat, selain menggantikan posisinya Nathan.


__________________


[ Ethan, Nathan. ] Eldania tidur terlentang dan memandang langit malam tepat di atas sebuah atap bangunan. Merentangkan tangan kanannya ke atas, seolah dia ingin menggapai bintang-bintang itu. [ Mereka sudah berjuang hidup. Tapi hidup mereka ada, karena ada yang mengekangnya. Itu sama sepertiku. Tidak ada kebebasan selain perannya untuk hidup demi orang lain. ]


GREPP.....


Mengepalkan tangan kanannya, dia akhirnya mendapatkan cahaya hidup yang berkelap-kelip. Hanya mendapatkannya secara singkat saja, Eldania akhirnya melepaskan cahaya dari kunang-kunang tersebut.


[ Jadi........apakah perasaan saat siang tadi adalah efek dari keberadaannya yang menghilang?. ] Pikirnya. Itu adalah sebuah kilatan bayangan dan nama seseorang yang Eldania tahu. " Kalau begitu........., ngomong-ngomong kenapa aku masih ingat dia?. "


Eldania sejujurnya masih mengingat nama Nathan, tapi dia juga ingat siapa itu Ethan.


Satu hal yang pasti, wajah dari dua iblis bersaudara dengan nama Ethan dan Nathan masih teringat jelas di dalam kepalanya.


Eldania kemudian meringkuk, dengan mengambil posisi samping kanan. Dia melihat kota dari kejauhan. Tapi alam pikirannya tetap ada di tempatnya. “ Ternyata iblis punya masalah mereka sendiri. “ 


Tatapannya berubah menjadi semakin sayu, dia tiba-tiba teringat dengan satu masa lalunya. 

__ADS_1


“ Tapi masih sempat-sempatnya mereka memusuhi manusia. Iblis memang kurang kerjaan. “ Eldania bergumam lembut jika memikirkan kembali bahwa Iblis juga sebenarnya punya kehidupannya sendiri, tapi sayangnya masih saja untuk melibatkan manusia dalam jalan hidup mereka. 


Itulah yang membuat Manusia dan Iblis terus berada di ambang permusuhan yang tidak akan pernah berhenti, sekalipun kata ‘perdamaian’ masih melekat di antara mereka, tapi tidak berarti perselisihan sudah menghilang.


__ADS_2