Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
40 : Eldania


__ADS_3

" Hah….hah….hah….. " Deru nafas yang tak beraturan milik Evan tidak membuatnya untuk berhenti untuk tidak bertanya setelah bisa sampai di tempat dimana perempuan ini masih berdiri setelah suara tembakan yang terjadi beberapa saat tadi.


Saat ini Evan sudah berhasil berada di belakangnya, tempat dimana Eldania berdiri. 


" Maaf, ya, membuatmu terkejut. " tutur gadis ini sembari mendongak keatas. Dengan dalih seolah sedang berbicara pada Evan dengan gayanya itu, sebenarnya dia sedang meminta maaf kepada burung di atas sana karena membuatnya cemas sampai seperti itu. " Akting yang bagus, kan?. " tambahnya. 


Kini Eldania sedikit menurunkan pandangannya ke samping kanan, untuk menemui wajah dari Evan yang terlihat terkejut itu sembari memberikan senyuman simpul. Seakan bahwa dari tadi ia berbicara dengan Evan, kini Eldania pun menoleh dan menghadap Evan.


" Akting?. " tanya Evan, tidak mengerti dengan kalimat yang barusan di katakan oleh Eldania. ‘ Akting ‘ , baginya adalah kalimat yang begitu asing, karena baru pertama kali dia dengar. [ Apa itu maksudnya yang tadi hanyalah sandiwara?. Tapi dari sudut manapun, aku benar-benar melihat Arga menembak nona ini tanpa ragu. ] batin Evan tidak percaya. [ Tapi...Arga, dia dibawa burung itu. Bagaimana caranya menyelamatkan dia?. ] Evan menelan salivanya sendiri saat dari bawah dia masih bisa melihat keberadaan burung besar yang terbang tinggi membawa seorang manusia di kakinya. 


Tidak ada seorangpun yang mampu untuk melawan musuh yang bisa terbang ke langit. Maka dari itu, mereka tidak bisa apa-apa.


" Tadi pasti melihat Sir Arga tiba-tiba menodongkan pistol ke arahku, kan?. Aku jadi sekalian memintanya tembak kepalaku saja dan dia benar-benar menembaknya. "  jelas Eldania kepada Evan.


[ Apa dia gila?. Malah meminta kepalanya ditembak oleh orang lain?. ] Pikir Evan, tidak tahu jalan pikiran mana yang diambil oleh Eldania di mata Evan sendiri.


Mana ada orang yang meminta di tembak, kecuali orang itu memang benar-benar menginginkan sebuah kematian. 


Tapi anggapan bahwa gadis ini ‘gila’ adalah berdasarkan dari sudut pandangnya sendiri. 


Lalu, Eldania kembali melanjutkan ucapannya. Dia menjelaskan maksud dari ucapannya tadi kepada Evan. " Aku tahu dia akan meleset. Meskipun dia ksatria pengguna pedang yang bukan bertangan kidal sekalipun, jika tidak pernah menggunakan senjata pistol milikku, dia tidak akan mampu menahan hentakan peluru yang keluar dari selongsongnya. 


Tapi karena menggunakan senjata milikku, setidaknya dia tetap berhasil mengenaiku meski ujung pelurunya hanya menggores dahiku. " 


Dan di waktu yang sama, darah pun merembes membasahi pipi sebelah kanannya sampai akhirnya meluncur sampai dagu dan menitis ke bawah.


" Mengingat dia langsung tahu bagaimana caranya menggunakan senjataku tanpa bertanya dimana maksud dari ujung jari yang aku ucapkan. 


Akhirnya aku langsung tahu kalau orang yang tadi di depanku bukanlah Sir Arga itu sendiri. " 


“ Dari mana asal dari kesimpulan anda itu?. “ Evan akhirnya mengerti, bahwa ucapan dari permintaan ‘ gila ‘ ingin di tembak tadi, bukanlah sekedar ucapan bodoh belaka.


Lalu tatapan mata yang awalnya terlihat cerah seolah berhasil mengungkapkan pelaku sebenarnya, seketika itu berubah menjadi tatapan sendu. Tatapan mata yang memperlihatkan sebuah kesedihan.


Eldania sedikit menunduk dan kembali berkata." Aku melihat dari matanya. Sorotan mata yang aku lihat berbeda dari biasanya. 


Biasanya dia itu terlihat seperti orang yang terlihat cuek saat aku dekati.


Tapi yang tadi itu jelas berbeda. Tatapan matanya terlihat seperti benar-benar orang yang menyimpan dendam. Hmm...entahlah. "


“................” Evan yang hendak bicara itu, langsung mengatupkan mulutnya.


“ Ah...tapi aku ingatkan. “ Eldania langsung menambahkan kalimatnya dengan cepat sebelum Evan bicara. “ Itu bukan dendam karena aku memotong rambutnya.  Tapi itu terlihat seperti………... orang yang menyimpan dendam lama. “ tambahnya lagi dengan akhir nada seperti gumaman.


Kemudian Eldania tersenyum tipis, dia mulai menyimpulkan sesuatu dari apa yang sudah terjadi beberapa saat tadi. 


Sedangkan Evan, meski dia terdiam, tetapi isi di dalamnya terus dibuat berpikir. 


Evan jadi punya kesimpulan sendiri tentang perempuan di depannya itu. 


Bahwa semua apa yang dilakukannya, yang awalnya terlihat bahwa gadis ini bermalas-malasan sebab sering bangun siang, bahkan setelah pemberian kudapan pagi pada duke Avrel lalu tidur kembali. Kemudian tidak terlihat bahwa perempuan ini serius bekerja, sebab Evan lebih sering melihat gadis ini duduk diam di depan meja.


Sekarang dia tahu, bahwa semua itu tindakan sudah terencana. 


Dia tahu semenjak Evan melihat Eldania sering keluar malam dan masuk kedalam hutan adalah untuk memeriksa serangkaian jebakan sihir yang sudah terpasang.


Dalam semalam itu, Evan pun melihat gunungan mayat monster yang menumpuk. 


Hanya dengan menunggu, Evan sudah mendapati tumpukan monster mati. 


Bagi Evan, harga dirinya jadi merasa tercoreng, karena tidak pernah memikirkan hal sesimpel itu.


Dan kali ini…..


Evan pun sebenarnya merasa iri.


Di dalam hatinya, dia sedang tersenyum pahit dengan berbagai pencapaian Eldania yang tidak diketahui oleh orang lain kecuali dirinya.


Bahkan saat ini, bisa memberikan kesimpulan tentang tindakan Arga saja, sudah berhasil membuat Evan kembali dibuat kagum. 


[ Dia sampai bisa berpikir sejauh itu hanya dengan sekali lihat. Ah…..perempuan ini…..seberapa banyak kemampuan yang dimilikinya?. Meskipun belum lama mengenalnya, tapi dia benar-benar orang yang bisa membuatku ingin mengetahui isi kepalanya saat ini juga. ] pikir Evan. Dia benar-benar sangat menginginkan otak yang digunakan oleh Eldania. 


Sedangkan di dalam pikirannya Eldania sekarang, dia masih tetap memikirkan apa yang dilakukan Arga barusan. [ Apalagi setelah melihat dia tahu cara menggunakan senjataku, sudah pasti sosok yang merasukinya adalah sosok yang mengenal ku kan?. ]


Tidak ada yang tidak mungkin.


Dalam dunia yang sekarang sudah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa tahun ini, Eldania pun akhirnya memutuskan bahwa Reinkarnasi adalah sesuatu yang mulai umum. 


Padahal dulunya, dia adalah salah satu orang yang tidak percaya dengan cerita dari novel yang berisi banyak imajinasi berlebihan, apalagi takhayul yang sering diceritakan dalam segala cerita yang tertulis di dalam novel bergenre Fantasi. 


Namun itu adalah masa lalu yang sudah berlalu. Eldania sudah dibuat percaya, karena bukti dari kata ‘Reinkarnasi’ yang sering muncul di dalam kalimat novel adalah dirinya sendiri saat ini.


Benar…..


Oleh karenanya, Eldania pun mendapatkan satu pemikiran bahwa apa yang sedang dia yakini, roh yang ada di dalam tubuh Arga adalah sosok yang mengenal dia. 


Siapa?.


Itu akan tahu, setelah menunggu pekerjaan yang dilakukan oleh Everst selesai.


Eldania kembali mendongak ke atas. Terlihat dua titik yang terus kian mendekat. Dan dua titik itu perlahan memperlihatkan wujudnya yang tidak lain adalah Everst dan juga……

__ADS_1


Arga.


“.................” Evan dan Eldania sama-sama mendongak ke atas. Tidak lama kemudian…..


BRUKHH…………..


Suara keras itu menjadi pertanda bahwa mereka berdua sudah sampai dengan pendaratan yang cukup kasar.


Hal itu sukses membuat mereka berdua mengernyitkan matanya, sebab butiran tanah di sekitar mereka berterbangan dan mengganggu penglihatan mereka. 


KWAKK……….


Tetapi itu hanya berlangsung sesaat saja untuk gadis ini saat indera pendengarannya mendengar suaranya.


Benar…


“ ………………!. “ Eldania langsung membuka matanya lebar-lebar ketika mendengar suara yang sangat dia kenali itu sudah ada di depan matanya. 


Everst, dia berdiri dengan gagahnya. Tapi keberadaannya tidak hanya dia saja, karena tepat di bawah salah satu kaki Everst terlihat seorang manusia terbaring di sana juga.


Arga sudah terkapar tidak berdaya di sana berkat dibully oleh Everst.


[ Dia…… ] Evan terkesiap dengan burung sebesar itu, sekarang ada di depan matanya. Tapi karena itulah, Evan seketika bersikap waspada dengan keberadaan Everst yang langsung memberikan tatapan tajam ke arahnya.


“............” Hanya saja, Everst tidak menghiraukan Evan yang mulai menyentuh pedang yang masih tersarung itu.


“ Nona….., jangan kesana. “ Evan maju tiga langkah ke depan dan berhenti tepat di depan Eldania, sambil menghalau gadis itu untuk tidak pergi mendekati Everst. “ Dia berbahaya. “ Evan kembali memperingatkan.


“..................?. “ Salah satu alis Eldania terangkat. [ Dari sudut mana Everst terlihat berbahaya?. Dia bukan berbahaya...tapi keren!. ] ungkap gadis ini dengan mata berbinar.


Seketika logikanya mati saat melihat Everst, sang burung elang yang menjadi rantai makanan paling atas yang sedang berdiri dengan tegap itu, justru terlihat menawan di mata Eldania.


Eldania langsung menepis tangan kiri Evan yang menghalangi jalannya. Dia buru-buru berlari ke arah Everst dan menghiraukan segala pikiran Evan mengenai makhluk paling keren di mata Eldania itu.


“ No...na- “ Evan yang hendak menangkap tangan gadis itu, hanya berhasil menangkap angin kosong saja. 


Eldania berhasil berjalan mendekat ke tempat dimana Everst berada.


Everst pun menoleh ke arahnya, karena melihat gadis manusia yang dia lindungi tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan dengan ekspresi wajah wajah cemas?.


“ K-kau...kau kenapa?!. “ 


“................?. “ Evan sedikit tercengang dengan apa yang diucapkan oleh Eldania. [ Dia bicara dengan burung itu?. ]


“ Apa?. “ Jawab Everst lewat pikirannya.


Disini Eldania segera berjalan cepat ke arah Everst sambil mengulurkan kedua tangannya ke depan. “ Kaki….kakimu!. “ sesampainya di sebelah kaki Everst, Eldania sedikit membungkuk.


Eldania kemudian berlutut di samping kaki kanan Everst. Sedangkan Everst yang akhirnya melihat salah satu kakinya terluka, di detik itu juga Everst memberikan tatapan tajam kepada Evan yang juga hendak berjalan mendekatinya.


Evan otomatis berhenti melangkah karena seperti baru saja diberikan peringatan agar tidak mendekat.


“ Bukannya kau itu kuat?. Kenapa sampai bisa terluka seperti ini?. “ Gumam Eldania, sembari menyentuh kaki Everst yang terluka itu.


Everst hanya mengalihkan pandangannya dan tidak menjawab ucapan dari pertanyaannya.


“ Dilihat dari lukamu, ini luka dari ikatan tali. Katakan, dari mana kau mendapatkan luka seperti ini?. " tanya Eldania, sekarang dia dalam mode interogasi. 


Karena bertanya seolah benar-benar khawatir, membuat Everst justru seolah mendengar Eldania berbicara dengan kalimat lain.


' Dilihat dari luka anda, ini pasti goresan dari senjata. Katakan, dari mana yang mulia mendapatkan luka ini?. '


[ Ahh…… ] Everst seketika terkesiap dengan nada bicara gadis di bawahnya itu benar-benar mirip dengan seseorang. 


Karena gadis ini adalah ‘ dia '


Itu membuat Everst tersenyum dalam diam. Dia tidak lagi berkhayal.


Everst tidak lagi membayangkan gadis ini ' mirip dengan dia ' , arena Eldania memanglah ‘ Wanita itu ‘ .


Meski cara bicaranya berbeda, tapi nada dari kalimat rasa khawatir yang ditunjukkan oleh Eldania barusan, baginya memang sesuatu yang sangat familiar.


" Aku akan mengobatimu. " tambahnya.


' Saya akan mengobati anda. '


Dengan patuhnya, Everst tidak bergerak sedikitpun selagi diobati. Justru karena merasa tidak diperkenankan bergerak, maka Everst pun mendekatkan kepalanya ke samping kanan Eldania.


Dia sengaja melakukannya untuk membisikkan sesuatu, maka dari itu mulutnya sedikit terbuka.


Tetapi…


Tangan kanan gadis ini tiba-tiba saja terulur ke mulutnya dan meletakkan sesuatu di sana, sambil berkata. " Makan ini. "


"................?!. " tiba-tiba mulutnya dimasukkan sesuatu oleh perempuan ini. [ Apa ini?. Sangat kecil, juga manis. ]


Kwakk!.


" Permen. " Celetuk Dania, beberapa detik berlalu akhirnya berhasil menyembuhkan luka di kaki Everst, Eldania pun masih jongkok dan menatap kaki burung besar itu dengan begitu seriusnya.


" Aku bukanlah anak kecil, jangan memberikanku ini. “

__ADS_1


“ JIka tidak mau, harusnya muntahkan saja. “  


Dan benar saja, Everst yang berkata seolah tidak suka dengan permen yang diberikan oleh gadis ini, justru Everst terus makan sampai akhirnya permennya menghilang dari mulutnya.


Eldania hanya meliriknya sesaat, kemudian dia bergerak masuk merangkak di bawah tubuh Everst untuk mengambil pedang coklat yang tertancap di tubuh Arga itu.


“ I-itu….. “  Evan jadi merasa melihat lelucon, saat Eldania tiba-tiba merangkak di bawah tubuh burung besar itu dan salah satu kaki burung itu pun terangkat. 


Kwak..!. 


“ Apa yang mau kau lakukan?!.  “  Teriak Everst, dia bergeser sedikit ke sebelah kiri sembari mengibarkan salah satu sayapnya untuk menghalangi gadis ini mencabut pedangnya dari tubuh Arga.


“ Mencabutnya lah. “ jawabnya dengan santai.


KWAKK....KWAK....KWAKK..!


“ Aku peringatkan jangan lakukan itu!. “ Everst pun berteriak kencang tepat ke wajah Eldania. 


“.................!. “ Eldania dalam sekejap sontak langsung terkejut setengah mati. Baru kali ini, dia dibentak sampai seperti itu oleh Everst.


[ A-apa yang sebenarnya terjadi?. ] Evan ikut terkejut juga dengan teriakan burung itu, sampai menggema ke seluruh tempat.


Untuk beberapa waktu, Eldania menata hatinya untuk menghadapi burung ini.


Apa alasan di bali Everst tiba-tiba saja berteriak?.


“ Kenapa tidak boleh?. “ tanyanya sambil menatap mata verst yang terlihat masih menampilkan amarah.


Sebenarnya kenapa Everst tiba-tiba mengeluarkan amarahnya lewat teriakan dan sorotan matanya?.


“ Aku tidak mengizinkanmu. “


“ Berikan alasanmu dulu. “ pinta Eldania. 


Dan mereka berdua pun akhirnya beradu tatap mata. 


Eldania menepis wajah Everst dari hadapannya, dan berkata. “ Aku memang mengatakan kalau dia akan terbunuh. Tapi yang aku maksud bukan orang ini, tapi sesuatu yang merasukinya. Jadi aku tidak ingin melihat kematian yang tidak jelas di depan mataku. “


“ Kalau aku bilang dia berbahaya, apa tetap ingin mencabut pedangnya?. “


Mendengar ucapan Everst, Eldania menjadi ragu saat ujung jarinya sebentar lagi menyentuh bilah pedang itu. 


Tapi keraguan itu sudah sirna dalam sekejap mata. 


Eldania kemudian menyunggingkan senyuman masam. Sembari tangan kanannya memegang gagang pedang, dia kembali berkata. “ Bukannya karena ini sekarang kau berada di depanku?. Kau ada disini karena ingin menjagaku, jadi aku tidak khawatir dengan bahaya yang kau maksud. Karena…..bagiku, keberadaanmu sudah cukup membuatku terus merasa aman. Itulah yang aku yakini. “ Jelas Eldania.


Eldania akhirnya mencabut pedang dari tubuh Arga yang ada dalam kondisi berbaring dengan posisi telungkup itu. 


Sedangkan Everst jadi terdiam setelah mendengar ucapannya. 


Everst akhirnya tahu. Kekhawatirannya akhirnya merasa tidak berguna. Karena gadis ini ternyata sudah menaruh rasa percaya yang tinggi terhadapnya. 


Hanya dengan eksistensinya, gadis ini sudah dibuat aman.


[.................] Everst merasa kepalanya menjadi kosong. Dia jadi tidak bisa menolak segala keinginan yang ada dalam diri perempuan ini. 


Meski sangat disayangkan, bahwa usahanya dalam menyiksa roh yang ada di dalam tubuh Arga itu hanya berakhir sampai disini saja.


Everst pada akhirnya mengalah dengan keputusan yang dibuat oleh Eldania. 


Lalu Everst mundur dua langkah ke belakang untuk memberikan ruang untuk gadis ini, agar bisa menyembuhkan luka dalam yang dialami Arga yang sejujurnya masih dalam kondisi tidak sadarkan diri, karena masih dalam kontrol sosok yang merasukinya. 


Sedangkan pedang coklat itu, sudah kembali berubah menjadi sehelai bulu yang kembali menancap ke tubuh Everst. 


Evan tidak bisa berkata apa-apa karena keberadaannya terus diawasi oleh burung tersebut.


Tapi karena kejadian ini, Evan bisa melihat dari dekat, Eldania sedang menyembuhkan luka yang dialami Arga.


“ Apa bisa bantu aku?. “ Eldania tiba-tiba menoleh ke belakang, dan bertanya pada Evan. 


“ Bantu apa?. “ Tanya Evan ragu.


“ Membalikkan tubuhnya. “ kaa Dania.


“ Ba-.........” Evan yang belum sempat menjawab permintaan dari gadis itu, Everst yang masih dalam ukuran besar itu langsung menendang tubuh Arga yang dalam seketika tubuh Arga terbalik.


BUKH……..


“ Kenapa kau kasar sekali?. " Eldania memberikan tatapan peringatan.


“ Bukannya yang terpenting itu hasilnya?!. “ Jawab Everst, tidak memperdulikan prosesnya karena yang terpenting adalah hasil.


Setelah sedikit berdebat dengan makhluk bersayap itu, akhirnya Eldania berhasil menyembuhkan luka yang didapatkan tubuh Arga ini.


“ Uhuk….uhuk…” Arga terbatuk setelah mendapatkan kembali oksigen yang diperlukan paru-parunya. 


Dan tanpa basa-basi lagi, Eldania hendak mengajukan pertanyaan kepada Arga segera mengurungkan niatnya, setelah tiba-tiba saja tangannya kembali ditangkap dan di cengkram oleh laki-laki yang bahkan sepasang matanya masih terpejam.


“ Aku menemukanmu. “ kata Arga. 


“...............!. “ Everst, Eldania dan juga Evan seketika diam membisu dan memikirkan hal yang sama.

__ADS_1


__ADS_2