
Dalam kabut yang masih menyelimuti, suara langkah kaki itu terus terdengar, dan terdengar semakin dekat.
TAP........TAP........TAP.........TAP......
Akhirnya beberapa langkah yang diambil, membuat sosoknya hampir terlihat dengan jelas di balik kabut yang tebal ini.
Namun ....
Tanpa meninggalkan waktu sedikitpun, sebelum menunjukkan wujudnya dengan jelas, sebuah ujung pedang langsung terarah ke dada sebelah kiri Nathan.
Tepatnya dimana di dalam dada itu terletak lah sebuah jantung milik Nathan.
Jantung milik dari seorang iblis.
"................!" Dan siapa yang berani mengacungkan pedang ke arahnya?
Sebuah wajah tanpa ekspresi, dengan tatapan mata yang dingin seolah itu adalah mata tanpa harapan.
"Keputusan tidak bisa diubah." Dengan pelan, ujung pedang itu menyentuh baju seragam milik Nathan.
"Kenapa ka-" Semua kata-katanya langsung menghilang saat ujung pedang milik gadis ini ternyata adalah sebuah pedang suci yang mampu membunuh Iblis seperti dirinya.
Akhirnya dia pun mulai merasakan perih ketika ujung pedang itu menyentuh tubuhnya. Rasa perih, panas, dan perasaan yang sangat tidak nyaman itu seketika menjalar di tubuhnya.
Hingga suara keras memecah keheningan itu.
TENG.....TENG......TENG......
Suara lonceng dari sebuah menara, langsung mengisi kesunyian kota Dilshade yang gelap itu.
Dan apa yang terjadi?
Dalam kurun waktu yang sama, kabut tadi langsung menghilang dan digantikan dengan tempat asing yang cukup luas dengan pepohonan mengelilingi tempat mereka berdiri.
Sekarang mereka sudah berada di sisi lain hutan.
[Tempat ini!?] Nathan mendongak ke atas, langit yang sudah sepenuhnya gelap itu sudah dihiasi bintang, tetapi ada satu hal yang dia sadari ketika melihat bulan sudah berada tepat di atas kepalanya.
Malam itu benar-benar sudah malam. Dalam pembicaraan singkat tadi, waktu sudah bergulir cukup lama hingga lonceng 10 menit sebelum jam dua belas malam sudah berbunyi.
"Bagaimana bisa?! Eldania! Sebenarnya kau siapa?" Tanya Ethan atau kini yang sudah berubah nama menjadi Nathan.
Iblis ini kembali menatap ke depan, seorang perempuan yang dia temui hari ini untuk kedua kalinya, justru berakhir dengan momen seperti ini.
Momen dimana gadis ini seolah memang mau membunuhnya, tepat dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan mata hampa itu tertuju padanya.
PSSHH.....
Rasa panas seolah terbakar sudah mulai terjadi pada tubuh Nathan.
Seragamnya sobek, ujung pedang itu sudah menyentuh kulitnya dan berhasil membuat luka yang cukup membuatnya menderita.
Karena, entah mengapa....
[Aku tidak bisa bergerak!] Nathan tidak bisa bergerak dari tempatnya, bahkan hanya untuk menepis pedang suci milik Eldania yang hanya sekedar menyentuhnya saja, tidak bisa dia lakukan!
Sampai akhirnya sebuah darah mengalir keluar menyusuri dari ujung pedang hingga ke punggung pedang, dan berakhir dengan dua sampai 4 tetesan darah mendarat di tanah.
TES.....
SRINGG......
Lalu sebuah lingkaran sihir dalam bentuk besar berdiameter 4 meter langsung aktif.
Hal itu ditandai dengan cahaya berwarna biru.
TES.....
Dan satu lingkaran sihir lagi tercipta di sebelah lingkaran sihir yang tadi. Tapi warnanya adalah kuning.
Tidak hanya lingkaran sihir saja yang muncul, melainkan.....
"Biarkan aku saja." Satu suara pemilik dari saudara kembarannya, Ethan yang asli sudah muncul dengan seragam berwarna merah terpakai di tubuh atletisnya itu.
"Dania! Bagaimana bisa dia muncul?!" Teriak Nathan yang asli kepada gadis di depannya, sebab saudaranya tiba-tiba sudah muncul di depan matanya.
Padahal dari kemarin Nathan bahkan tidak melihat batang hidung saudaranya, sampai jejak sihir yang dimiliki saudaranya itu, dia bahkan tidak dapat menemukannya sedikitpun.
Tapi kembarannya yang Nathan pikir sudah menghilang, ternyata sudah ada di depan matanya.
Dengan mengerahkan tenaganya untuk menggerakkan tangan kanannya untuk mencengkram bilah pedang yang perlahan terus menusuknya, Nathan lalu bertanya dengan sarkas.
"Apa semua ini kau yang merencanakannya?! Dania! Apa maumu dengan kami!?" Nathan yang semakin geram lebih mencengkram bilah pedangnya Eldania dengan sebegitu eratnya agar tidak menusuk tubuhnya dengan lebih dalam, walau luka bakar di telapak tangannya segera Nathan dapatkan.
__ADS_1
Entah apapun yang Nathan tanyakan padanya, Eldania tetap terdiam dan hanya terfokus dengan pedang yang dia pegang.
Sekarang dia benar-benar melihat satu iblis di depannya sudah mendapatkan rasa sakit yang disertai wajah penuh dengan amarah.
"Berhenti! Kau jangan melukai tanganmu seperti itu terus atau tanganmu terbakar!" Perintah satu orang dengan wajah serupa dengan orang yang ada di depan Eldania.
Dialah Ethan yang asli, meminta adiknya untuk berhenti mencengkeram pedang suci dengan cara seperti itu.
"Berhenti sama saja membiarkannya membunuhku. Aku sedang menahannya, lagi pula aku mana sudi dibunuh oleh manusia ini tanpa sebab!" Sarkas Nathan, melihat akhirnya kakaknya muncul dan membuatnya kembali sadar dengan posisinya sebagai Iblis.
Sebagai Iblis, dibunuh oleh seorang manusia, dia mana sudi melakukannya hal bodoh itu.
Tapi reaksi dari Ethan setelah mendengar pernyataan dari adiknya adalah dengan mengumbar senyuman tipis.
Sedangkan Eldania, selepas mendengar pernyataan keras dari Nathan, dia langsung menarik lagi pedangnya.
Eldania berdiri dengan kepala sedikit menunduk. Dia memejamkan matanya sambil berkata: "Jika kalian berdua tidak mengambil keputusan, cepat atau lambat setelah jam 12 lewat, kalian berdua akan menghilang dari dunia ini untuk selama-lamanya." Jelas Eldania. Dengan wajah tenangnya itu, Eldania kemudian melirik ke arah mereka berdua secara bergantian, dan menambahkan. "Lagi pula......., besok bukannya hari ulang tahun kalian?"
DEG…..
“Batas waktu kalian adalah sebelum jam 12 malam.” Kata Eldania lagi menambahkan.
"Itu-" Nathan terdiam kehabisan kata-kata.
Dari mana Eldania tahu?
Itu menjadi rahasia kecilnya.
"Ethan, apa kau masih rela untuk menyerahkan nyawamu pada adikmu?" Masih terdiam di tempat, sudut matanya melirik ke arah Ethan yang terus mengulas senyuman lembut.
"Tentu saja." Jawab Ethan sambil tersenyum simpul.
"..........! Kenapa kau menjawab sebegitu entengnya?!" Tanya Nathan tidak mengerti, kenapa kakaknya begitu mudah mengucapkan sesuatu seperti orang yang putus asa kehilangan hidup, jadi mudah mengatakan dan menerima yang tidak seharusnya Ethan terima.
"Bukankah itu kemauanmu?" Jawab Ethan kepada adiknya. "Kau membenciku. Dengan diriku yang menghilang, kau tidak akan merasa terbebani lagi dengan keberadaanku ini.
Sekalipun kau terus berkata kasar padaku, sejak kecil terus menggunakan kata benci, bukankah artinya benci itu adalah kalimat untuk menyayangiku?
Nathan, semua yang kau katakan dengan amarah itu, mengolok-olokku adalah berusaha untuk membuatku membencimu.
Tapi ketahuilah, sebagai saudara aku tidak bisa membencimu walaupun kau bertindak semaumu kepadaku." Jelas Ethan panjang lebar.
"Bagaimana bisa ka-" Ethan tercekat kaget, semua kata yang diucapkannya secara lantang pada satu suara yang terus terdengar dari dalam kepalanya, ternyata kakaknya ikut mendengar semuanya.
Eldania menoleh ke arah Ethan dan segera berganti untuk menoleh ke samping kanannya, dimana Nathan sedang berdiri dengan wajah penuh amarah.
Nathan yang merasa bahwa semua kehendak dari pilihan ini dilaksanakan oleh gadis ini, Nathan pun langsung mengutarakan keinginannya.
"Aku tahu kau itu pendiam, tidak punya banyak teman, gunakan waktumu agar kau bisa mendapatkan teman lebih banyak. Jadi biarkan aku saja yang menghilang!" Ucap Nathan dengan nada tinggi.
Ethan segera menyela. "Aku pada dasarnya tidak butuh teman, melihatmu hidup sudah membuatku senang. Eldania! Biarkan aku yang menggantikannya mati!" Pujuk Ethan kepada Eldania..
Lalu, jam sudah mulai menunjukkan pukul 23:59
"Tidak! Biarkan aku saja!" Pungkas Nathan.
Ethan yang tidak mau kalah langsung berteriak meski dengan wajah penuh dengan kesedihan. "Nathan! Kau tidak usah keras kepala! Mereka lebih menyayangimu, dan aku juga menyayangimu! Aku sebagai kakakmu memerintahkan untuk hidup apa kau mengerti?!"
DEG........
Nathan untuk pertama kalinya diteriaki oleh saudaranya sendiri yang terkenal pendiam. Tapi kelihatannya, di saat-saat terakhir, saudaranya itu lebih banyak berbicara untuk mengungkapkan perasaannya yang mendalam sebagai seorang kakak.
Saat ini, apa yang bisa dilakukannya?
Menuruti kehendak kakaknya?
Nathan di berikan sebuah jalan buntu.
"................." Sedangkan Eldania terdiam dengan dua keputusan yang saling berlawanan ini.
TIK....
TOK.....
TIK.....
TOK.......
Waktu sudah pergi menuju detik-detik terakhir hari penuh dengan peristiwa ini.
Dua orang dengan kepribadian yang bertolak belakang, namun memiliki satu jiwa dengan perasaan yang sama, menjadi jawaban bahwa.....
[Mereka berdua tidak bisa dipisahkan.] Eldania menghela nafas pelan dengan sebuah senyuman tipisnya.
__ADS_1
Karena dia melihat adanya dua orang yang memiliki kasih sayang berbeda dengan cara mereka sendiri.
Berkata benci, padahal menyayangi.
Berkata puas, padahal sakit hati.
Dan kalimat kebahagiaan berubah menjadi kesedihan.
Pada akhirnya semua kalimat yang dia dengar adalah kebalikan dari hati yang sebenarnya.
Apapun itu, titik terang dalam kasus ini Ethan dan Nathan sama-sama ingin hidup.
Tidak ada yang menginginkan kematian di antara mereka. Jika ada satu yang mati, maka sisanya adalah kesedihan yang berujung.....
[Akhir hidupnya juga.] Eldania berpikir bahwa hanya mereka berdua yang ditakdirkan, dimana salah satu di antara mereka harus menghilang dari dunia ini. [Hanya karena eksperimen sihir, salah satu di antara mereka harus mengorbankan diri. Padahal terlihat jelas kalau mereka saling menyayangi.] Pikirnya lagi.
Melihat dua orang yang saling menatap satu sama lain, jelas kalau mereka berdua terus bergelut di dalam hati juga pikiran untuk melempar harapan hidup pada saudaranya.
Tetapi takdir mereka saat ini bukan ditentukan oleh Eldania, melainkan kedua iblis bersaudara itu.
Karena hidup mereka adalah kehidupan dari satu jiwa yang dibagi menjadi dua, maka dari itu salah satu pengorbanan harus dilakukan agar salah satunya menjadi iblis seutuhnya dengan jiwa yang sempurna.
Karena jika tidak, dua orang akan menghilang secara bersamaan.
Bersamaan dengan semua ingatan yang dimiliki semua orang yang sudah mengenal mereka berdua.
Meski tepat di hari ulang tahun terakhir mereka, yaitu 18 tahun, akhir dari takdir pun diputuskan sebelum detik-detik terakhir.
Memang mengenaskan.
Hari ulang tahun, akan menjadi hari dimana salah satu diantara mereka akan lenyap dari dunia ini.
Lalu untuk apa dua lingkaran sihir yang sudah terlukis di bawah kaki Ethan dan Nathan itu?
"Dua lingkaran sihir itu, adalah teknik sihir khusus yang aku buat untuk kalian berdua. Caranya mudah, yang menginginkan orang itu hidup, maka serahkan lingkaran sihir di bawah kakimu untuk di pindahkan ke dia." Beritahu Eldania kepada kedua Iblis bersaudara itu.
Itu adalah salah satu cara, yang paling menentukan.
Jadi bagaimana reaksi di antara mereka berdua?
Siapakah dari mereka yang akan menyerahkan seluruh hidupnya kepada jiwa yang satunya lagi?
Ethan?
Atau
Nathan?
"Kaulah yang harus hidup!" Dua orang secara serentak berteriak dengan kalimat yang sama, dengan tatapan tajam saling tertuju satu sama lain.
Mendengar satu jawaban dari dua orang secara bersamaan, lantas membuat Eldania dalam diam tersenyum lembut. "Iya.. Iya, kalian terlalu perhatian padaku, jadi aku akan hidup untuk kalian berdua." Eldania mengartikannya dengan sudut pandangnya sendiri.
[Dia mempermainkan kalimatku!] Pekik Nathan di dalam pikirannya, mendengar kalau yang pantas hidup malah perempuan ini?
Padahal ucapannya tadi hanya ditujukan untuk sang kakak.
"Nathan! Aku akan bersikap egois! Kau yang harus bertahan di sini. Lanjutkanlah hidupmu untukku!" Ucap Ethan, lalu dengan kecepatannya dalam mengendalikan sihir, Ethan mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya kepada Nathan.
Dalam waktu yang sama, lingkaran sihir yang berada di bawah kakinya langsung bergeser ke arah dimana lingkaran sihir milik Nathan berada, dia membuatnya untuk menyatukan dua lingkaran sihir tadi bergabung menjadi satu.
"Ethan!" Teriaknya kepada sang kakak.
Dalam detik berikutnya, setelah dua lingkaran sihir dengan dua warna berbeda tadi menjadi satu. Sebuah angin besar langsung melingkupi mereka berdua.
Dua wajah dengan satu amarah dan satu kesedihan adalah hal terakhir Ethan dan Nathan untuk melihat satu sama lain.
Tetapi mereka berdua secara tak sengaja ikut melihat satu wajah dengan ekspresi tenang, membuat senyuman tipis licik penuh siasat, itu adalah Eldania.
"Yosh....! Semua syarat sudah lengkap!" Ucap Eldania dengan penuh dengan semangat.
Eldania lalu merentangkan tangan kanannya ke depan, satu tetes darah yang terjatuh di atas tanah berhasil mengaktifkan satu lingkaran sihir berdiameter 8 meter, dan melingkupi mereka bertiga sekaligus.
"Aku memberikan kesempatan kepada kalian, jaga baik-baik hati kalian untuk saling menyayangi, kalian mengerti yang aku katakan kan?" Tambahnya.
KWAK........
Dan Everst yang bertengger di bahunya Eldania langsung mendekatkan kepalanya ke samping wajah Eldania sebelah kanan.
Tepat di detik itu juga, Everst membuka mulutnya. Dan meski punya lidah yang tidak begitu panjang, secara perlahan lidah itu menjangkaunya dan akhirnya menjilat pipi gadis ini.
Sebuah kulit yang cukup lembut untuk Everst jilat dengan pelan penuh perasaan.
Sekaligus, rasa lembut bercampur panas, dirasakan oleh Eldania saat itu juga.
__ADS_1
Sebuah senyuman tersungging di bibirnya dan angin yang datang bersamaan dengan sebuah kabut akhirnya menutupi keberadaan mereka semua.