Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
11 : Eldania


__ADS_3

Suara ringkikan kuda membuat Evan menoleh ke belakang, dan disaat yang sama pula seekor monster muncul secara mendadak lalu langsung menerjang kuda yang kebetulan sedang membawa gadis itu.


BRAKKK.......


"..............!" Evan akhirnya melihat gadis itu bersamaan dengan kudanya sudah terdorong keras ke belakang dan menghantam pohon, sampai membuat pohon itu sendiri bergoyang dan menjatuhkan banyak daun.


"GROARRH......!" 


Sedangkan kedua monster itu, kini sudah berada di depannya.


Apakah Evan akan melawan kedua monster itu ataukah berlari ke tempat dimana perempuan itu baru saja dihantam oleh monster dengan kepala babi itu?


____________


"Anda dengar suara barusan?" Tanya Irine kepada duke Avrel setelah mendengar erangan monster yang begitu keras berasal dari arah timur. 


CRAZHH.......


Duke Avrel yang baru saja berhasil memotong tangan monster yang sudah dikalahkan, langsung melirik ke arah Irine lalu bertanya balik. "Kau membiarkan monster lewat?" 


Padahal arah pembicaraannya bukan seperti itu, jadi Irine berusaha menegaskan. "Kenapa anda menuduh saya? Jelas-jelas itu kesalahan tembok yang roboh, makannya kita langsung kewalahan dengan rombongan monster yang datang." 


"Yah...kau ada benarnya juga. Apa semua orang yang disana sudah diungsikan?" Tanya Avrel lagi.


"Sir Evan sudah menangani itu." Jawab Irine singkat.


"Berarti dia bisa mengurus monster yang lolos itu sendirian." Kata Duke Avrel tanpa merubah ekspresi wajah datarnya dia tetap bisa bersikap tenang.


"Tapi aku merasakan ada tujuh monster, anda yakin dengan itu? Membiarkannya menangani mereka sendirian?" Tanya Irine, meragukan keputusan Duke Avrel yang membiarkan salah satu anak buahnya mengurus tujuh monster sendirian.


Mendengar keraguan dari wajah Irine, Duke Avrel langsung menjawabnya, "Jika khawatir padanya, kenapa tidak menyusul saja sana. Aku bisa mengurus semua yang ada disini."


"..............., tidak! Kelihatannya disini tempat yang lebih membutuhkan penyihir sepertiku." Kata Irine dengan percaya diri. Dia percaya diri dengan kemampuannya yang bisa membantai semua monster dalam sekali serang, jadi mengabaikan tujuh monster saja dan menyerahkannya ke sir Evan adalah yang terbaik untuk saat ini.


Karena dia harus tahu, bahwa sebagai pemimpin maka perannya adalah percaya dengan kemampuan anak buahnya, seperti sir Evan yang sudah bekerja lama dengan Duke Avrel.


Mau tidak mau Irine harus mempercayai dengan kemampuan Sir Evan itu, walaupun belum pernah melihatnya mengeluarkan pedang untuk melawan monster.

__ADS_1


_________________


"Apa? Apa yang barusan terjadi?" Gumam Evan pada dirinya sendiri. Dia tidak menyangka bahwa membiarkan gadis itu pergi sendirian justru malah membuat keberadaannya dijadikan bahan pelampiasan monster itu.


Lalu bagaimana keadaannya sekarang?


[Apa dia masih hidup?] Batinnya, setelah sesaat dia melihat perempuan itu dihantam dengan keras oleh tangan monster yang muncul mendadak.


Jadi Evan segera berlari untuk menghentikan monster itu sebelum melakukan hal yang lebih parah dari yang tadi.


"GROARHH.....!" 


Setelah berhasil menyerang kuda yang sedang dinaiki oleh manusia, monster ini kembali berusaha untuk menyerangnya.


Dia lapar, apapun itu ingin dia makan asalkan itu daging. Mau itu daging manusia ataupun daging hewan, baginya tidak masalah asalkan bisa makan sekaligus menghancurkan apa yang ingin dihancurkan.


Itulah keberadan dari monster ini. 


Apa lagi setelah melihat kedua makhluk itu terkapar terbaring di atas tanah. Setelah berhasil menghantam pohon dengan keras monster ini berpikir bahwa mereka berdua sudah diambang kematian. 


DRAP...........DRAP...........DRAP.........


Jadi Evan berusaha untuk tetap tenang karena dia percaya bahwa gadis itu pasti masih hidup.


Evan terus berlari kearah dimana monster itu berada, dalam jarak kurang dari dua puluh meter. Evan sudah mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang. Dia mengarahkan pedangnya ke samping kanan bawah, dan bersiap untuk menyerang monster dengan rupa kepala bab* itu.


“Hyaahh….!“ Saat di jarak lima meter, Evan melompat dan berusaha untuk menyerang bagian titik vital dari monster itu, meski di saat yang bersamaan dia melihat gadis itu sudah terduduk bersandar ke pohon di belakangnya. Tapi apa yang salah, dia tidak melihat apa yang terjadi setelahnya kecuali….


“GROARHH….!“ Monster ini tiba-tiba berteriak keras dengan kedua tangan menyentuh sepasang matanya. 


Darah mengalir deras melumuri wajah monster jelek itu dan di waktu yang sama pula Evan segera menyerang bagian belakang leher monster itu, lalu..


CRAZZHH……..


Evan memotong kepala monster tersebut hingga terpisah dari tubuhnya. Dan kepala monster itu pun sempat menggelinding dan berakhir tepat di depan kakinya Dania.


Evan segera berlari ke arah gadis yang terduduk itu dan hendak mencoba memeriksa apakah gadis itu masih hidup?

__ADS_1


“Nona Eld-“ Panggil Evan dengan wajah khawatir?.


Itu benar dia khawatir dengan gadis ini. Tapi semua rasa khawatir itu menghilang setelah melihat gadis yang hendak Evan periksa itu tiba-tiba saja berdiri dan berjalan ke arah kepala monster yang tergeletak itu, dan mengambil senjata yang bersarang di antara bola mata monster itu. 


“Anda baik-baik saja?“ Tanya Evan dengan wajah ragu.


“Siapa pun pasti merasa sakit setelah jatuh dari kuda." Jawab Eldania yang masih menundukkan kepalanya.


Eldania melihat belatinya yang berwarna biru muda itu sudah bersih, tidak ada noda darah yang menempel di pisaunya. Tetapi dia tetap mengelapnya dengan lengan bajunya, lalu dia sedikit menyentuh bilah belati itu untuk dia berikan sedikit dengan kekuatan sucinya. 


“Itu…., maafkan saya. Saya tidak bisa melindungi anda.“


Kata maaf yang tersampaikan oleh kesatria ini membuat Eldania menoleh ke arah Evan dan menatapnya dengan ekspresi wajah datar.


Siapapun pasti merasakan bersalah tidak bisa melindungi seseorang yang menjadi tanggung jawabnya, diantaranya kesatria ini. 


Tetapi ada hal yang lebih penting dari mendengarkan perkataan maaf, “Sekarang bukan saatnya bersimpati kepadaku menyesali keputusan Sir Evan membiarkanku pergi dulu. Karena mereka sudah datang.“ Itulah jawaban sekaligus peringatan kepada ksatria Evan. 


Bahwa sisa dari monster yang lolos masuk ke dalam wilayah ini kini sudah bertambah dan sudah berkumpul di depan mereka. Dan totalnya sekarang sudah ada enam.


Evan segera tersadar dan meninggalkan rasa simpati yang sempat dia buat kepada gadis ini langsung membuatnya memutar tubuhnya ke belakang. [Cukup banyak.] Evan kembali bersiap, dia tidak mau ada kesalahan lagi dalam keputusannya. 


[Apa yang akan dia lakukan? Menghadapi mereka semua?] Dania penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu, disamping dia sudah mendapatkan kembali belati yang tadi dia gunakan untuk menyerang mata monster barusan.


[Bagaimana caranya aku bisa mengalahkan mereka, sebelum ada salah satu yang pergi mengejar mereka.] Evan lagi-lagi dibuat berpikir karena antara kecepatan lari dari monster dengan manusia itu jauh berbeda. Dan Evan tahu kalau para pekerja yang pergi untuk mengungsi pasti masih belum bisa pergi jauh. 


Eldania terus meliriknya dengan seksama hingga Dania menghela nafas pelan dan berjalan mendekat ke arah dimana Evan sedang berdiri. “Aku akan membantu.“ Kata Eldania.


“Apa?“ Evan merasa pendengarannya salah dengan kalimat yang barusan dia dengar.


“Membantu.“ Ucap Eldania lagi sambil melihat wajah kesatria ini yang merasa tidak percaya dengan kalimat yang didengarnya. “Jika butuh jumlah, berarti aku akan berguna di sini.“


“Ha?“ Evan masih terpaku dengan kalimat itu.


Perempuan yang terlihat polos seperti gadis pada umumnya, tiba-tiba mengatakan hal yang mengejutkan seperti itu.


“.................” Eldania yang tidak begitu peduli dengan sudut pandang dari pria ini hanya terfokus dengan apa yang ada di depannya. 

__ADS_1


“GRAHH…!“ Satu erangan berhasil membuat para monster bergerak untuk menyerang mereka secara bersamaan.


__ADS_2