
Getaran tanah yang kian terasa, menandakan adanya bahaya yang semakin mendekat. Kolam dengan air berwarna darah yang cukup merah, tiba-tiba langsung menyembur keluar dan memunculkan sosok tinggi besar, dengan wajah cantik yang diselimuti amarah yang besar.
“ Siapa yang sudah menyelinap masuk kedalam kuilku?!“ teriak wanita ini dengan amarah yang semakin membara.
Durandal sudah sampai di dalam kuilnya, dan yang terlihat adalah semua telurnya sudah menghilang tanpa jejak. Tetapi dari pada itu, yang menjadi pusat perhatiannya adalah dia melihat dua rantai yang sudah tergeletak di atas tanah, sedangkan makhluk yang dia rantai ada di mana?.
[ Kemana Arin?! Dia tidak mungkin bisa terlepas dari rantai itu begitu saja. Ada sisa aroma manusia, berarti dia belum lama ini datang kesini. Tapi jika kuilku sudah kosong, dan energi disini sudah menurun, itu berarti dia….Tidak mungkin! ] Teriak Durandal dalam pikirannya.
SYUHTT……
“..................... ! “ Merasakan adanya senjata yang datang secara tiba-tiba ke arahnya, wanita ini memerintahkan ularnya menyerang senjata yang datang itu dengan menyemburkan api berwarna ungu.
DHUARR……
Ledakan yang cukup kuat berhasil menggetarkan seluruh area gua.
Durandal celingukan, saat mendongak keatas barulah dia menemukan seseorang langsung terjun ke arahnya.
" Apa yang sudah kau lakukan pada kuilku?!“
DHUARR……
Dalam sekejap mata sosoknya menghilang. Tidak…..tidak menghilang, tetapi langsung berpindah tempat dari posisinya dalam kurun waktu yang singkat itu.
__ADS_1
" Jika itu musuh manusia, tugasku adalah membasminya. Dan pesan yang aku terima dari seorang anak yang aku temui adalah untuk mengalahkanmu. Durandal. “ Kata Eldania menjelaskan.
“ AAKHH….! “ Durandal tiba-tiba berteriak keras.
Dia sudah menebak bahwa alasan kenapa Arin, yaitu anaknya sudah tidak ada karena manusia yang ada di depannya itu. Tanpa perlu mencari tahu lagi karena sudah merasakan energi sihir di dalam kuil sudah berkurang drastis, maka sudah bisa menjadi jawaban bahwa Arin sudah tidak ada di dunia ini lagi.
“ Kau…! Jadi benar, kau yang melakukan ini semua! Dasar manusia!“ Amarah yang kian memuncak membuat Durandal semakin agresif dalam menyerang satu orang manusia ini. “ Kau hanyalah manusia lemah, aku akan hancurkan tubuh lemah itu menjadi makananku sekarang juga!“
Dengan mengerahkan peliharaan yang menyatu pada tubuhnya, yaitu deretan kepala ular, mereka terus menyerang Dania.
Dan setiap Eldania memotongnya, maka kepala ular itu langsung muncul lagi tidak ada habisnya. Dan targetnya adalah untuk menghancurkan kalung emas yang menyatu dengan sisik-sisik di kulitnya.
“ Mati, mati, mati…!“ Kedelapan kepala ular itu sama-sama mengeluarkan kekuatannya. Durandal kewalahan dengan pergerakan cepat yang dilakukan oleh satu orang manusia itu. “ Hancurlah, meleburlah…!“
“ Tak kan kubiarkan!“ jawab Eldania. Dia terus menghindari keberadaan kepala ular yang terus mengikutinya dan menyerangnya dengan semburan yang cukup mematikan itu.
Durandal yang melihatnya langsung berteriak. “ Arghhh…! Jangan melihatku dengan mata itu!“
Tanpa tahu apa yang terjadi, tiba-tiba Durandal histeris sendiri.
[ Apa yang terjadi dengannya? ] Eldania serius memikirkan apa yang sedang dia lihat saat ini, makhluk yang ada di depannya tiba-tiba terlihat merasakan antara takut dan jijik dengan matanya? “ Hyah..!“
CRASZHH……..
__ADS_1
CRASZHH……….
Kepala ular yang terus menggeliat, mengikutinya, dia potong layaknya memotong wortel. “ Durandal!. “
“ Jangan menyebutku dengan nama itu!“ pekik Durandal, dia tidak begitu menyukai namanya sendiri. “ Jangan menghalangi balas dendam ku! Apa kau tidak mengerti?! “
“ Dendam pada manusia?“ Masih terus berlari demi menghindari yang seharusnya dihindari. “ Durandal, aku sudah tahu ceritamu. Di era zamanku, ada sebuah mitologi yang mengisahkan, di dalam pulau pulau tak terbentuk, kamu adalah sosok yang sudah pembunuh pahlawan. Pembalasanmu tidak akan keluar dari pulau. “
Ada dalam sebuah cerita di salah satumitologi yang tertulis di zaman dimana sebelum Eldania bereinkarnasi ke dunia ini.
Di dalam salah satu pulau tanpa nama, dan tanpa adanya apapun, hiduplah dua orang pahlawan dan juga satu makhluk bernama Durandal. Mereka hanya ingin hidup tanpa adanya apapun, mereka tak memiliki hal yang berharga, jadi setidaknya, mereka ingin melindungi cara hidup itu. Hingga suatu saat, Durandal menghancurkan cara hidup itu, dengan membunuh kedua pahlawan di dalam pulau itu, dengan memakannya.
“ Apa…?“ Seketika Durandal mematung, dia tiba-tiba mengngat kejadian dimana dua wanita kembar yang hidup bersamanya di dalam sebuah pulau, tiba-tiba saja dia bunuh tanpa suatu alasan apapun. Tekad yang muncul begitu saja, dan kejadian yang sudah berlalu membuatnya memiliki dendam.
Dia sebenarnya memiliki dendam pada dirinya sendiri.
Dendam yang berakhir dengan penyesalan, kesedihan, dia lampiaskan dengan cara menghancurkan manusia.
Menemukan kesempatan untuk menghancurkan kalung yang mengekangkeberadaan dari Durandal, Eldania langsung berlari ke arah targetnya, yaitu kalung yang terpakai di lehernya. Hingga di satu titik, pedang biasa yang dia pakai, dia buang dan langsung tergantikan dengan pedang suci miliknya dan kemudian menghancurkan kalung itu dalam sekali tusukan. Sampai membuat fisik dari tubuh Durandal akhirnya retak layaknya sebuah gelas kaca.
“ Selamat tinggal. Kesedihanmu takkan bisa dibuang. Itu takkan bisa terkabulkan. “ kata-kata terakhir Eldania.
“ Sialan,....... pedang itu!“ Durandal berdecih menyesal, tidak bisa mewujudkan harapannya sendiri dan malah justru dibunuh oleh seorang manusia dengan pedang suci.
__ADS_1
Sebuah ledakan terjadi yang otomatis membuka dua sisi tanah, membuat kolam yang berisi air darah merah itu segera terbuka dan menghilangkan segala isinya. Lalu memperlihatkan sebuah jurang cahaya. Durandal yang sudah tidak berdaya segera jatuh kedalam jurang tak berdasar itu.
Setelah masuk kedalam jurang yang sangat dalam, dalam seketika retakkan tanah itu menyatu kembali, memperlihatkan seolah tidak terjadi apapun di sana, sampai puluhan potongan kepala ular yang tergeletak di tanah, kini sudah lenyap.