
"Sudah hampir jam makan siang, kalian cepatlah bergegas." Perintah wanita ini kepada para pegawai yang masih memasak dengan porsi jumlah yang cukup besar.
"Tapi nyo_" Wanita yang kebetulan hendak berkomentar pada nyonya yang merupakan pengurus untuk bagian dapur langsung menghentikan kalimatnya saat diambang pintu tenda terlihat ada satu orang kesatria sedang berdiri dan menatap ke arah mereka semua dengan tatapan serius.
"Kalian semua, berhentikan aktivitas memasaknya." Evan berteriak memerintah mereka semua yang bekerja di dapur.
"Tuan kesatria Evan." Wanita ini langsung menoleh ke belakang setelah mendengar perintah tadi. "Apa ada sesuatu yang mendesak?" Tanyanya.
"Ada beberapa monster yang berhasil lolos masuk kesini karena tembok bagian barat runtuh. Aku perintahkan kalian untuk cepat mengungsi ke kastil segera sebelum mereka datang."
Semua orang celingukan, demi melindungi diri mereka sendiri mau tidak mau harus meninggalkan masakan mereka yang belum selesai.
"Umumkan ke semua orang yang kalian temui untuk pergi dari sini!." Tambahnya lagi.
"Baik tuan." Secara serentak menjawab dan langsung mematikan api yang masih menyala itu demi menghindari kebakaran, kemudian mereka pun bergegas pergi.
[Jika aku tidak pergi ke sini, mereka pasti masih terus memasak. Apa sangat sibuk sampai belum ada seorangpun yang datang ke sini memberitahu mereka?] Pikir Evan. Karena sudah diberitahu tentang situasi terburuk seperti ini harus mengungsi kemana, Evan tidak terlalu mencemaskannya lagi kecuali mengawasi sekitarnya. Hingga akhirnya dia seperti melupakan sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya. ".................?. " Evan celingukan ke kanan dan ke kiri. [Aku tidak melihatnya.......perempuan itu.]
Satu-satunya orang yang belum ditemuinya hampir setengah hari ini.
Evan kembali menaiki kuda lalu pergi mencari keberadaan dari satu gadis yang dia bawa pagi tadi.
Dari satu tenda ke tenda lainnya, dia tidak melewatkannya sedikitpun. Tetapi dia tidak melihat tanda-tanda dari keberadaannya perempuan yang dia bawa dari pasar tadi pagi.
"Di sini tidak ada." Gumam Evan setelah menilik satu tenda tempat peristirahatan.
Tidak berhenti sampai disitu saja Evan kembali pergi ke suatu tempat mencari satu-satunya orang yang menjadi tanggung jawabnya dari awal sampai akhir.
"Apa dia sudah ikut pergi dengan mereka?" Gumam Evan dengan tatapan berpikir.
"Hah......., aku di buat kerja rodi. Kemana orang bernama Evan itu?"
BRUKK.....
Tiba-tiba pemilik dari suara tadi langsung menyadarkan Evan setelah mendengar namanya ikut terpanggil.
[Dia sedang mencariku?] Evan yang penasaran segera turun dari kuda dan berjalan ke arah sumber suara. Tepatnya di belakang tenda.
"Lalu kau, aku berharap kau mengambilkan wortel yang jatuh itu untuk diberikan kepadaku, bukannya memakannya." Sebuah kalimat protes kembali terucap.
__ADS_1
Setelah melihat siapa orangnya, Evan akhirnya melihat gadis itu sedang menuntut protes kepada seekor kuda berwarna coklat yang tidak diikat ke apapun dan malahan sedang mengunyah wortel.
KHIHIHI.......
Lalu tidak hanya sampai disitu saja, Evan melihat dua ekor kuda lainnya berjalan mendekat dan ikut mencuri wortel yang ada di dalam kotak kayu itu saat gadis itu sedang memberikan protes pada kuda coklat.
"Kau....., itu wortel bukan untuk kalian." Ucap Eldania yang sedang menarik wortel dari mulut kuda hitam, tetapi sayangnya wortel yang hendak dia rebut justru sudah terlanjur di kunyah semua dan di telan, jadi Dania membiarkan wortel yang satu itu. "Makanan kalian berdua itu rumput, bukan wortel." Protesnya lagi.
[Dia seperti bisa bicara sama kuda saja.] Batin Evan. Hingga, suara erangan langsung menyapa mereka semua.
"GROARHH.........!"
"....................!" Eldania dan Evan juga para kuda secara serentak langsung diam mematung setelah mendengar suara keras barusan.
"Mereka datang ke sini!" Ucap kuda coklat, lalu ke dua kuda hitam di depannya segera menoleh ke samping kiri dan..
HIHIHIK...
"Kabur!"
"Tunggu!" Teriak Eldania, dia tidak ingin di tinggal sendirian, tetapi para kuda yang sudah memakan wortelnya justru sudah lari terbirit-birit meninggalkannya sendirian.
"GROARHH.......!"
Melihat jauh di depan sana, beberapa pohon tiba-tiba tumbang setelah mendengar suara derap langkah kaki yang besar. Eldania perlahan mundur ke belakang. Dia harus pergi dari sana, setidaknya itu yang sedang dia niatkan.
Tetapi jika dibiarkan maka makhluk yang sedang datang ke arahnya kemungkinan besar akan memporak porandakan bangunan tenda di sekitarnya dan pastinya semua masakan yang sudah dalam proses delapan puluh persen, akan segera terbuang sia-sia.
Eldania yang merupakan tipe orang yang tidak suka dengan kata mubazir, dia ingin sekali melawan monster itu.
[Aku kira dindingnya kokoh untuk menahan segala serangan dari monster, tapi kelihatannya dinding itu tidak dilapisi sihir pelindung juga. Makannya mereka bisa menerobos masuk dan datang ke sini. Ada tiga monster yang sedang datang ke sini, dari ukurannya........] Eldania membuka kelopak matanya dan menatap puluhan pepohonan yang ada di depannya itu dengan wajah tenang. Dia mencoba mengidentifikasi monster yang datang lewat kemampuan pendeteksi. [Tidak terlalu besar, tapi untuk ukuran manusia normal, mereka tetap saja dianggap makhluk yang susah dikalahkan.] Pikir Eldania.
Namun disaat dia sedang berkonsentrasi untuk menghadapi ketiga monster yang berhasil lolos dari para kesatria yang kemungkinan sedang dihadapi kewalahan, tiba-tiba saja dari belakang dia mendengar langkah larian kuda, lalu.....
"GROAHH........!"
BRAKK......
Tepat di depannya satu pohon terakhir yang tumbang langsung memperlihatkan dua ekor monster yang datang ke arahnya, lalu di saat yang sama pula satu lengan dari tangan seseorang tiba-tiba saja langsung melingkar di pinggangnya dan otomatis membuat tubuhnya jadi terangkat lalu mendarat di atas kuda.
__ADS_1
"Kita pergi dari sini!" Sebuah suara berat langsung menarik perhatian Eldania untuk menoleh ke belakang.
"Evan?!" Panggil Eldania dengan nada pelan.
[Kenapa perempuan ini terus memanggil langsung dengan namaku?] Evan melirik ke bawah.
"Tunggu! Kenapa kita pergi?!" Tanya Eldania yang masih menahan keterkejutannya tiba-tiba diangkat dan diletakkan di atas kuda yang sama. Sehingga kini dia sedang duduk di depannya Evan. [S-sensasi apa ini?.] Eldania sedikit menjeling ke belakang.
Untuk pertama kalinya dia naik kuda dengan seseorang dan memberikan sensasi aneh yang cukup membuat Eldania kegirangan sendiri.
Apa itu?
Punggungnya tentu saja terus menyentuh dada dari kesatria ini, walau memakai zirah pelindung tetapi tetap membuatnya mengerti apa arti dari mengendarai kuda bersama dengan pria, Itu memberikan kesan tersendiri.
Lalu Evan seketika melirik ke bawah terheran dengan pertanyaan yang dia dapatkan dari gadis ini. "Mereka monster, kenapa anda bertanya seolah tidak mau pergi?" Evan bertanya balik.
"Bukannya monster itu harusnya di kalahkan? Jika pergi melarikan diri, maka itu sama saja mengizinkan mereka masuk dan menghancurkan apa yang ada di depan mereka." Jelas Dania. "Bukannya itu merugikan kalian, apalagi dengan tenda di sana?" Menunjuk ke arah tenda yang digunakan sebagai tempat penyimpanan pasokan makanan untuk sementara.
Penjelasannya membuat Evan terdiam. Walaupun tidak melihat bagaimana dan seperti apa sorotan mata yang sedang ditunjukkan oleh gadis ini karena terus menatap ke depan, tapi tidak membuat Evan tidak mengerti maksud semua ucapannya.
[Maksudnya, harus melawan mereka?] Evan melirik ke belakang, monster itu ternyata sedang berlari mengejar mereka sambil menghancurkan tenda yang dilewatinya. "Apa anda bisa berkuda?" Tanya Evan.
Dia bertanya karena jika gadis itu tetap bersamanya, maka akan menjadi beban bagi Evan jika ingin melawan monster-monster itu.
Eldania menoleh ke belakang lalu mengangguk.
Evan langsung menarik talinya agar kudanya berhenti. "Pegang ini." Memberikan talinya kepada Eldania, Evan segera turun dari kuda. Lalu Evan memberikan sedikit masukan. "Terus pergi ke arah selatan, anda akan melihat kastil di sana." Dan ketika Evan menepuk beberapa kali bokong kuda, kuda itu langsung berlari menjauh membawa gadis itu pergi.
"......................." Eldania terdiam sambil menoleh ke belakang. Dia melihat kesatria itu berdiri di depan kedua monster yang masih berlari ke arahnya. Itu membuktikan bahwa kesatria itu akan melawannya seorang diri. [Dia berpikir jika aku di sini akan menjadi bebannya?] Eldania menunduk.
Eldania padahal tidak pernah berkata untuk menghadapi kedua monster sebesar itu sendirian dan membuat kesatria itu menjadi umpan untuk membuat Eldania mendapatkan waktu untuk kabur.
"Kabur...." Kalimat itu terucap dari mulut kecilnya dengan nada pelan dan lirih. [Padahal aku sudah mengatakan aku bisa melakukan banyak hal. Kelihatannya dia berpikir ucapanku hanyalah bualan saja. Tapi........itulah sudut pandang dari orang lain tentangku.] Tiba-tiba gadis ini tertawa kecil mencibir di sela-sela poni rambutnya menutupi pandangannya karena masih menunduk ke bawah. "Aku tidak akan menjadi beban, karena justru aku akan membantu kalian, demi mendapatkan imbalanku. Itulah aku, Sir Evan."
"GROARHH....!" Monster ini langsung bergerak cepat untuk menghabisi apapun yang kiranya mengganggu tepat di depan matanya.
"......................!" Langkah kaki besar itu langsung datang di waktu yang kurang tepat. Kemunculan monster yang mendadak datang dari arah samping kanan membuat Eldania yang sedang mengendarai kuda langsung menoleh ke samping kanan untuk melihat rupa monster itu.
Monster dengan kepala seperti bab* itu datang menerjang ke arahnya sampai ikut membuat kuda yang ditungganginya akhirnya terkejut saat monster itu datang dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya.......
__ADS_1
KHIHIHIKK............
BRUAKK..........