
" Apa aku punya hutang denganmu?. " Tanya Azel.
" Tidak, aku hanya menikmati pertarungan dengan orang bermandikan harga diri sepertimu. " jawab Caster.
Caster telah melakukan pertarungan dengan Azel selama lebih dari 10 menit ini, tidak ada perkembangan siapa yang akan menang ataupun kalah.
Tapi itu akan segera terjadi.
" Aku jadi senang mendengarnya. " Azel pun merasa senang bisa bertarung dengannya. Jarang sekali mendapatkan hal yang memuaskan ketika melakukan pertempuran dengan seorang manusia.
Namun dia bisa mendapatkan kepuasan itu hari ini, saat dimana sekarang dirinya tengah berhadapan dengan Caster.
Dimata Azel, Caster tidak terlihat hanya seorang manusia biasa. Dari mata iblisnya itu, Caster melebihi seorang penyihir pula. Itulah yang membuat Azel tidak bisa menolak untuk tidak bertarung dengan manusia itu. Karena Azel juga merasakan ada rahasia besar dari diri Caster ini.
_____________
KLANG........
Belati yang digenggam erat oleh tangannya Eldania terjatuh ke belakang ketika sebuah rumput menjalar melilit tubuhnya. Tumbuhan itu melilit dari kaki terus merambat ke atas, lalu ke paha, ke atas lagi melingkar di pinggang dan membuatnya menempel erat ke batang pohon, juga masih berlanjut.
SRRTT.....
SRRTT....
Bukan hanya tumbuhan biasa, melainkan....
" Lihat...lihat, bukannya tambah cantik dengan mawar merah yang mekar itu?. " menepuk rekan tim-nya yang ada di sebelahnya. “ Warnanya persis sekali dengan matanya. “
Berhasil membuat satu lawannya terikat dengan tumbuhan bunga mawar yang merambat, menjadi kesenangan mereka bisa menghentikan gadis itu dari berbuat sesuka hatinya, dan menghalangi rencana untuk mengambil pitanya.
" Apa ini tidak keterlaluan?. " beberapa orang merasa khawatir dengan tindakan Cecil sampai mengikat satu perempuan itu di pohon dengan tumbuhan bunga mawar merah yang dipenuhi duri.
" Apa kau mengkhawatirkannya?. " tanya teman perempuan Cecil.
" Bukan begitu, disini kita cuma mengambil pita miliknya. Apa harus sampai seperti ini?."
" Ucapanmu kenapa jadi terdengar memihak perempuan ini. " tutur Cecil dengan dingin, tidak suka ada pembelaan di tengah-tengah pertarungan yang sebentar lagi akan mendapatkan hasil.
Duri kecil namun tajam menyayat ringan kulit tipisnya, tidak ada pergerakan dari wanita ini ketika tumbuhan mawar itu melilit di bagian tubuhnya. Cairan merah keluar dari belahan kulit yang tersayat itu, warnanya senada dengan bunga mawar merah yang sudah mekar itu.
Tajamnya duri membuat sayatan kecil di seragamnya, pemandangan tak karuan untuk memberi kesan kasihan padanya.
" Aku sudah mendapatkan pitanya. " seru perempuan yang mengambil pita dari pisau yang menancap di salah satu pohon cemara. Dan sesaat sempat melirik Eldania yang dimana sekujur tubuhnya sudah terlilit dengan tumbuhan hijau merambat yang dihiasi dengan mawar merah yang sudah bermekaran.
Tapi disaat dirinya menatap ekspresi dari wajah datar Eldania yang terus menatap dirinya juga teman-temannya dengan tatapan dingin, membuatnya terbesit ada rasa takut. Di matanya terlihat kalau perempuan itu seperti iblis yang akhirnya punya pakaian yang sangat cocok dengan karakternya saat ini.
Rambut coklat gelap berpadukan mata berwarna ruby, darah merah yang merembes di baju putih dan daun hijau gelap dengan mawar merah yang menghiasi tubuhnya. Penampilan yang membuat siapapun yang melihatnya dengan lebih detail, akan langsung tersadar dan sekaligus segera terbesit kalau dia seperti seorang ratu kegelapan yang sedang menatap mangsanya.
" Ayo, kita pergi. " Cecil memutar tubuhnya berbalik dan berjalan memimpin mereka semua, karena sudah mendapatkan pita yang diincarnya sekarang hanya tinggal menunggu ketua tim memenangkan pertarungannya.
Setelah melihat kepergian mereka, Eldania langsung menyadarkan isi kepalanya untuk tidak melamun lagi. Eldania mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya sendiri.
[ Sudah berhenti bergerak?. ] cara mengatasi tumbuhan mawar berduri yang melilit ini adalah lebih baik diam, jika terus bergerak maka lilitannya benar-benar akan semakin kencang dan duri kecilnya itu bisa menggores kulitnya lebih dalam.
Setidaknya itu untuk orang sepertinya, karena memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri. Walau noda darahnya terlihat masih segar di seragamnya, tapi lukanya sudah sembuh. Masalahnya hanya satu yaitu....
[ Aku sudah berhasil mengambil pita mereka. ] Beberapa kali Eldania mengerjapkan matanya menatap bunga mawar ini. Di sekitar wajahnya terutama di bawah dagunya juga ada mekaran bunga mawar, dan entah kenapa di dalam hidungnya jadi terasa gatal. " Hachuu....! " bersin membuatnya jadi lega, tapi masih ingin bersin lagi!. " Hachuu...! "
Eldania kemudian mengeluarkan tangan kirinya yang tadi disembunyikan di belakang punggungnya. Enam pita berwarna kuning dia dapatkan dan dia genggam dengan erat. Sambil tersenyum merendahkan, Eldania kemudian bergumam, “ Aku sudah punya ini, jadi tugasku sudah selesai. Giliranmu Azel. Hachuu...! " bersin lagi untuk yang ketiga kalinya.
FLASHBACK __________
" Jika aku menggunakan sihir teleportasi, maka tidak akan seru. " tutur Azel dengan sombongnya.
" Maksudmu. Tidak kurang dari 1 menit pita itu bisa kamu rebut semua?. "
" Hm...tentu saja. " Azel menganggukkan kepalanya dengan pelan. " Jadi bagaimana menurut dari sudut pandangmu sebagai orang yang akan bertarung tapi kalah jumlah dengan mereka?. " tanya Azel, memberikan kesempatan kepada gadis di sampingnya untuk mengutarakan pemikirannya dalam strategi kali ini.
" Memang. Tapi mau bagaimana lagi karena kita hanya berdua saja, kita cuma harus mengakali mereka. " kata Eldania sambil mengamati pertarungan dari tim lain yang masih berlangsung dengan seksama. " Aku sudah tahu aturan mainnya, pita yang akan kita dapat kemungkinan besar berwarna hitam. " beritahu Dania kepada laki-laki di sampingnya ini.
" Dari mana kau tahu kita akan mendapatkan pita hitam?. "
" Aku tidak perlu memberitahumu. Tapi tentu saja aku sudah menganalisisnya. Aku sering membawa pita ini sendiri. " memperlihatkan pita merah yang biasa Eldania gunakan untuk hiasan rambutnya " Aku ingin kau menyesuaikan warnanya dengan pita yang akan kita dapat. Pita aslinya hanya perlu aku ikat di tanganku langsung di dalam lengan bajuku. Dan kita gunakan sihir ilusi untuk mengelabui mereka. Bagaimana?. "
Azel mengambil pita milik perempuan ini dan mengikatnya di lengan tangan kirinya. Sehingga sekarang tangan kirinya Eldania sudah terikat pita berwarna merah.
" Idemu cukup bagus. " Azel sedikit tersenyum sambil memberikan sentuhan sebuah sihir kepada pita merah yang sudah terikat di lengannya Eldania. Membuat pita tersebut berubah menjadi hitam.
" Kita hanya harus bertindak satu langkah ke depan. Aturannya cuma harus mengambil pita tim lawan, tapi tidak menyebutkan larangan kekuatan seperti apa yang akan digunakan untuk merebutnya. Jadi kita tidak melanggar apapun meski harus menggunakan sihir ilusi sekalipun atau bahkan melukai mereka sampai terasa tinggal separuh nyawa kan?. " jelas Eldania secara panjang lebar..
Tiba-tiba mengeluarkan ide siasat yang sangat licik, membuat mereka semua tidak akan pernah menyadari trik ini karena Eldania pada dasarnya dari awal tidak pernah mengungkapkan kepribadiannya saat di dalam kelas, seperti keseriusan dalam belajar, pernah mendapatkan hukuman, hampir telat masuk kelas, dan suka menghilang di saat jam istirahat.
[ Dia ni, sudah sangat jelas kalau dia sangat cerdik jika menjurus akan menghadapi pertarungannya. ] Azel melirik serius gadis ini dalam diam.
__ADS_1
Seperti itulah kesan lain gadis ini jika sedang berada di situasi seperti ini, menurut pandangan dari Azel.
FLASHBACK berakhir ____________
Sejujurnya Eldania tidak bisa dalam sihir ilusi seperti itu, maka dari itu Azel memberikannya bantuan sebuah cincin ilusi yang dapat digunakannya meski hanya bersifat sementara sebab hanya bisa digunakan satu kali pakai, namun hasilnya dia bisa menggunakan dengan baik.
Sesaat di awal pembicaraan mereka itulah justru peluang terbesarnya untuk mengambil pita mereka secara diam-diam, maka Eldania pun mengaktifkan cincin ilusi itu agar sihir ilusinya bisa di guanakan.
Selagi berbicara, di saat itulah Eldania membuat ilusi dirinya seolah-olah memang berbicara dengan mereka, padahal nyatanya Eldania sedang berdiri di samping mereka secara bergantian, dan perlahan mengambil pita mereka.
[ Meskipun terdengar curang, tapi karena ada kebebasan dalam pertandingan ini, aku akan melakukan yang aku bisa agar bisa menang dari mereka. ] pikirnya setelah mengingat kilas balik rangkaian kejadian. " Jadi.....aku hanya perlu keluar dari sini sebelum mereka sadar. " Eldania berbicara sendiri sambil memikirkan hal strategis untuk pergi dari sana.
Jadi untuk kali ini, Eldania tidak terlalu membuang tenaganya itu, hanya dengan sedikit taktik nya, ia bisa merampas dari mereka semua.
" Hachuu.....! " Bersin untuk kesekian kalinya, kini pedang lain yang sebenarnya dia punya langsung muncul begitu saja di genggaman tangannya, sehingga tangan itu mulai bergerak, bergeser dari atas ke bawah, meski kulit punggung tangannya langsung bergesekan dengan duri tajam itu, dia tidak memperdulikan rasa sakit di tangannya dan terus berusaha memotong tanaman mawar ini.
Demi mendapatkan kebebasannya.
CRASHH.......
Berhasil keluar dari situasi sulitnya itu, tiba-tiba seekor burung hantu bertengger di salah satu ranting pohon cemara.
" Ohh .....seseorang mendapatkan 6 pita berwarna kuning sekaligus!. Antara tim Azel dan Caster, kita akan menunggu siapa pemenang di antara mereka. " Pengumuman yang diberikan burung hantu ini sekaligus membuat ke 6 orang dari tim Caster terbelalak saking terkejutnya.
" Nona Cecil!, pitanya! " peringatnya, melihat pita yang dipegang Cecil berubah warna menjadi merah.
" Ha!, kita semua kehilangan pitanya!. " Sadar akan pita yang sudah tidak berada di tempatnya.
Mereka semua jadi meributkan sesuatu yang sudah jelas yaitu sudah kalah dari awal pertarungan. Cecil sendiri yang awalnya arogan dan meremehkan satu perempuan itu menjadi kesal sendiri.
____________
" Hahhhh~, mereka itu benar-benar tidak berguna. " sindir Caster pada mereka berenam yang pastinya sedang bergaduh di tempat lain.
" Nah....jadi pemenangnya sudah hampir terlihat. " sela Azel dengan cepat, tersenyum penuh kemenangan.
" Permainan bodoh ini sebenarnya tidak membuatku tertarik sama sekali, tapi dengan keberadaanmu jadi lumayan. " Caster awalnya tidak ingin ikutan dalam pertandingan seperti ini karena kurang menarik. Tapi keberadaan Azel entah mengapa jadi ada hati membara untuk mengalahkannya.
Azel menggunakan sihirnya kembali, dan mendapatkan satu pedang berwarna hitam berada di tangannya. Pedang iblis miliknya yaitu. " Azolegiem "
" Wah!, aku jadi sangat ingin membunuhmu. " meskipun Caster menyunggingkan senyuman lebar, tapi tidak dengan auranya yang terasa seperti ingin membunuhnya. Caster jadi sangat tertantang melihat Azel mengeluarkan kartu As nya, ia tahu itu karena matanya bisa memindai senjata yang digunakan lawannya.
" Silahkan saja.....kalau bisa!. " seru Azel.
Azel berpindah dengan kecepatan tinggi, membuat keberadaannya seketika berada di belakangnya Caster.
CTANG...!
Bunyi nyaring dengan dentingan akan dua senjata yang saling beradu menjadi irama di hutan tersebut, menciptakan suara akan pertarungan sengit mereka berdua.
Caster masih dapat menyunggingkan senyuman jahatnya itu meski pedang iblis itu hampir saja membelah kepalanya yang berharga. Karena dapat tertahan oleh senjata tombaknya, jadi ia masih terselamatkan.
" Aku tidak tahu, senjatamu cukup ampuh untuk menahan pedangku. " walau tak kan berlangsung lama, karena setelah itu dengan mudahnya Azel bisa mematahkan tombak emas yang keluar dari dimensi kekuatan milik Caster itu.
Sebuah pertarungan antara mereka pun terus berlangsung dengan sengit.
Eldania yang sudah berhasil meloloskan diri dari ikatan tanaman rambat itu, segera memperbaiki penampilannya sendiri yang terlihat acak-acakan.
Dia berlari dengan gesit, dan melompat dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya. Sekaligus tindakannya untuk menghindari berbagai serangan yang dilancarkan oleh mereka berenam yang sudah memperlihatkan amarah mereka,karena berhasil diperdaya gara-gara pita yang mereka miliki sudah berada di tangan Eldania semuanya.
“ Kejar!. Jangan biarkan dia lolos!. ‘ Perintah Cecil kepada semua teman setimnya, untuk mengejar Elania.
Seperti seorang pencuri, saat ini Eldania benar-benar dikejar mereka semua.
[ Kalian benar-benar pantang menyerah. Aku akui, kalian sangat semangat dalam mengejarku. ] Pikir Eldania. Dia membalikkan tubuhnya dengan menghadap ke belakang, tapi kedua kakinya terus bergerak untuk melompat mundur sembari membuat jarak untuk mereka semua.
“ Hyahh…..!. “ Salah satu diantara mereka mengayunkan pedangnya, dan membuat tiap batang pohon yang hendak Eldania pijak jadi terpotong.
Eldania terpaksa turun dari pohon dan mendarat dengan mulus ke tanah.
TAP……..
“.................!. “ Mereka berenam memandang dengan tatapan sengit pada satu orang yang menjadi target buruan mereka.
“ Pasti kesal ya. “ ucap Eldania dengan tatapan seperti sedang merendahkan mereka.
“ Ayo rebut kembali pita kita. “ Perintah Cecil.
Semua teman-temannya mengangguk setuju. Mereka akan mengambil apa yang sebenarnya menjadi milik mereka. Jadi meskipun harus bertarung dengan cara satu lawan enam sekalipun, mereka akan tetap pada pendiriannya untuk merebut kembali pita yang sudah direbut oleh Eldania itu, sebelum pimpinan mereka bertarung lebih sengit dan aturan terakhirnya jika pita yang dipegang Caster sebagai ketua mereka berhasil direbut, maka pertandingan akan selesai sudah tepat di detik itu juga.
Tapi karena masih ada waktu, maka pita yang sudah direbut oleh Eldania tadi bisa mereka rebut kembali sampai adanya kekalahan diantara mereka bisa terjadi.
“ Eldania…, terimalah kekalahan mu sekarang juga!. " ucap Cecil.
__ADS_1
"..............!. " Eldania mengerti perasaan kesal gara-gara apa yang dilakukan tidak sesuai harapan.
Eldania melompat mundur sejauh tiga meter sebelum pedang yang Cecil yang dari tadi masih tersarung dengan baik, sudah dikeluarkan dan ujung pedang tajam itu hampir saja mengenai poni rambutnya.
" Apa kau akan menghindar terus?. " ucap Cecil kepada Eldania dengan wajah seriusnya, karena terpancing dengan ucapannya barusan yang terdengar sedang merendahkan.
“ Karena aku mampu menghindar, lebih baik menghindar, kan?. “
Kembali terprovokasi dengan ucapannya, Cecil langsung menyuruh teman-temannya berpencar dan menyerang segenap kekuatan yang mereka bisa agar perempuan di depannya itu bisa dikalahkan dan merebut pitanya kembali dengan suka hati.
BRAKKK………
Eldania langsung menghindar menjauhi pohon yang berhasil di tebas dalam sekali ayunan dan berhasil membuat pohon tersebut tumbang dengan serta merta.
PLAKKK…….
Suara cambuk itu berhasil menarik perhatian Eldania untuk melihat ke sumber suara. Dia melihat perempuan berambut kelabu yang dimana rambutnya diikat dua, sedang menggenggam sebuah cambuk berwarna hitam.
Perempuan itu mulai mengayunkan cambuknya ke arahnya, dan Eldania tetap saja berhasil menghindari cambuk itu sebelum ujung cambuk itu melilit pergelangan kakinya. Tapi karena berhasil menghindarinya, maka hasilnya cambuk itu melilit ke batang pohon. Namun bukan berarti selesai disitu saja, karena perempuan itu langsung menarik cambuknya sendiri yang masih melilit di batang pohon dengan mudahnya, dan membuat batang pohon itu patah.
Eldania tidak bisa memandang remeh mereka lagi, apalagi setelah menyadari di belakangnya sudah ada yang menunggunya dengan pedang sudah bersiap untuk diayunkan ke arahnya.
“ Kau sangat keras kepala sekali, perempuan. “ ucap laki-laki ini sesaat sudah berpindah tempat dan sudah ada tepat di belakang Eldania yang masih melayang diudara setelah berhasil menghindari serangan dari temannya tadi.
Tapi reaksi yang dia dapatkan adalah tatapan dari sorotan mata tanpa cahaya, meski begitu bibirnya terlihat mengucapkan beberapa patah kata tanpa suara yang langsung membuat laki-laki ini mengerti artinya.
“ ………………..!. “ Sebelum akhirnya dia mendapati pedang yang sudah terayun untuk menyerang perempuan berpakaian seragam putih ini langsung tertahan dengan pedang yang entah datang dari mana.
CTANGG………
Suara pedang yang saling bergesekan itu segera menarik segala pemikirannya tadi.
Eldania masih menahan pedang dari laki-laki itu, tapi disatu sisi, tepat dari samping kanannya Eldania, Cecil mulai bergerak menyerang ke arahnya dan yang lainnya mulai menyerang dari bawah, diantaranya adalah cambuk dari perempuan berambut kuncir dua itu sudah berhasil melilit pergelangan kakinya.
Tiga serangan yang dihadapinya itu benar-benar tidak membuat Edania terlihat seperti orang yang sudah tersudutkan. Justru itu adalah sebuah kesempatan besar untuknya.
“ Coba saja jika bisa menangkapku. “ gumam Eldania, sebelum akhirnya Eldania yang masih berdiri di atas salah satu batang pohon dengan tangan kiri masih menahan pedang dari laki-laki di belakangnya, membuatnya langsung mendorong tubuhnya sendiri ke belakang dan membuat laki-laki di belakangnya turut terdorong.
“ Ahhh… “ perempuan berambut kuncir dua ini langsung melepaskan cambuknya sebelum dirinya terangkat ke atas, gara-gara sasarannya justru menjatuhkan diri ke sisi lain.
[................!. Cerdik sekali dia. ] Pikir laki-laki ini dimana dirinya mulai memperbaiki posisi tubuhnya sebelum benar-benar terjatuh kebelakang.
Hanya saja sebelum benar-benar memposisikan tubuhnya dengan benar, pundaknya justru dijadikan tumpuan oleh Eldania untuk tangannya untuk bisa salto melewatinya.
“ Dia…!. “ Cecil ketar-ketir dengan gerakan gesit yang dilakukan oleh Eldania itu, karena berhasil lolos dengan begitu mudahnya, padahal beberapa detik tadi, perempuan itu ada di depan matanya, tapi sekarang Eldania sudah jauh darinya.
Eldania sudah mendarat dengan sempurna, meski di detik itu pula tanaman rambat itu hampir menangkap basah dirinya yang baru mendarat di tanah, tapi Eldania langsung memotong tanaman itu dalam sekali tebas.
CRASZHH………..
“ Sekarang giliranku. “ ucap Eldania, dia langsung melesat ke depan, tepatnya menghampiri tiga orang yang kebetulan ada di depan matanya.
Dan hal itu membuat mereka semua seketika merasakan ancaman yang lebih besar dengan kedatangan Eldania yang dalam sekejap mata sudah berada di depan mata mereka bertiga.
“ AWAS……” Perempuan ini langsung mendorong temannya sebelum terkena pedang milik Eldania.
BUKH……
“ UHUKK……” perempuan ini langsung terbatuk dan merasakan rasa sakit luar biasa di bagian perutnya. Setelah berhasil menumbangkan satu orang, Eldania langsung beralih dengan yang lainnya, yang kebetulan tidak begitu jauh dari lokasi pertama.
“ AKHH……..” All.
Cecil yang mendengar teriakan dari teman-temannya, langsung membuatnya berlari ke tempat kejadian perkara.
[ Me..mereka semua kalah?. ] Cecil tercekat, dengan pemandangan dimana ketiga teman-temannya itu sudah terbaring di tanah sepenuhnya.
BUGH…..
“ Ahhw…. “
Cecil menoleh ke belakang, satu teman lainnya kini sudah tumbang juga. Dengan kata lain, sekarang tinggal dua orang. Yaitu dirinya dan satu orang lagi.
CTANG……...CTANG…….
BRAKK…….
Suara adu pedang dengan akhir yang begitu menyedihkan, membuat Cecil disuguhkan satu teman terakhirnya sudah tidak sadarkan diri setelah dalam posisi bersandar ke pohon.
Dalam waktu kurang dari satu menit itu, Cecil sekarang sudah sendirian.
TAP………...TAP………..TAP………..
“ Sekarang kita bisa bertarung satu lawan satu. “ ucap Eldania.
__ADS_1
Cecil memutar tubuhnya ke belakang, terlihat kini perempuan yang awalnya menjadi target mereka berenam, kondisi nya sudah berbalik pada Cecil.
Cecil tanpa sadar menelan salivanya sendiri. [ Siapa dia...kenapa bisa mengalahkan teman-temanku secepat itu. Dia bisa membuat mereka semua tumbang tanpa adanya luka serius. ] Batin Cecil. Dia tidak akan menyangka, kalau lawan yang sedang dia hadapi saat ini adalah seseorang yang seperti baru saja menikmati permainannya sendiri.