Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
56 : Eldania


__ADS_3

Di samping Eldania sedang melamunkan dirinya sendiri...


Di sisi lain.., Azel tak sengaja, entah memang takdir atau apa, Azel bertemu dengan wanita ini lagi. 


Alasannya tidak memberitahu kalau beberapa bulan yang lalu perempuan ini bertarung melawan dirinya adalah karena gadis yang di panggil Dania ini seperti orang yang tidak mengenal Azel.


Maka dari itu pertemuannya di pintu gerbang, ia tidak mengungkit masalah waktu itu terlebih dahulu.


Lalu langkahnya terhenti, jalanan di depan benar-benar sangat kosong seperti tidak ada orang, hal itu karena dirinya menerima ujian sihir dan bakat di urutan belakang, jadi sedikit terlambat untuk pulang.


" Apa yang sedang kamu pikirkan?. ''


" Menghitung nasib. " Celetuk Eldania tanpa menoleh ke si penanya, yang sudah Dania tahu dengan pasti siapa orangnya, karena dia sudah tahu dari suaranya saja, yaitu Azel.


" Hmm...begitu ya?, acara hari ini sudah selesai kan?. Kalau begitu, bagaimana kalau kita rayakan acara kelulusan kita dirumah ku. "


" Apa?. " tertegun tiba-tiba ada orang yang mengajaknya pesta. Seketika Dania jadi menuntut untuk melihat wajahnya Azel yang tersenyum penuh percaya diri.


" Merayakan kelulusan. " jawab Azel lagi, karena gadis di depannya ini masih belum percaya..


" Di rumahmu?. " tanyanya lagi.


" Kenapa?. Apa ada acara lain?. "


" Tidak ada. " dibarengi menggelang kepala. [ Dia mengajakku?. Padahal belum lama kenal. ] pikirnya. 


Dia merasa senang-senang saja ada yang mengajaknya pesta, yang berarti makan-makan. Apa lagi di rumahnya, berarti gratis!.


" Ah..pasti ibuku sudah menyiapkan pesta dan sudah menungguku. "


Sambil menerawang ke atas di alam pikirannya, ibunya sedang memasak masakan kesukaannya. Azel, benar-benar tidak sabar menantikan menghadapi hasil masakan ibunya yang sudah di cap paling enak di dunia.


" Denganku?. " Eldania yang masih tidak percaya, jadi bertanya lagi dengan mengangkat tangannya kanannya dan menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.


" Ya.. "


" Kamu yakin?. "


" Aku yang mengajakmu. "


" Aku ikut. "


" Kalau begitu, peganglah tanganku. " Azel kemudian mengulurkan satu tangannya ke depan gadis tersebut.


" Apakah jauh?. "

__ADS_1


" Tidak juga, tapi akan lebih cepat sampai. " 


" Baiklah. "


[ Dengan begini, aku bisa menghemat uang makan ku kan?. ] seluk beluk hati Eldania yang terdalam. Bisa makan gratis, dan di temani pria tampan.....sangat menjanjikan, untuk menghibur hati dan cuci mata!.


Maka dari itu, Azel pun mengulurkan tangannya dan Eldania dengan sedikit ragu namun memantapkan hatinya untuk ikut dengan pria ini. Dia pun akhirnya menerima uluran tangannya. Lalu dalam beberapa detik kemudian ada sinar terpancar di bawah kaki mereka berdua dan....


SHAAA---


" Sudah sampai. "


[ Toko pedang?. ] terlihat jelas di balik jendela kaca bangunan berlantai dua ini ada beberapa pedang berjejer menempel di tembok.


Lalu dia diajak masuk kedalam bangunan yang tak seberapa besar itu.


KLING........


Saat Azel mendorong pintu kaca, terdengar lonceng berbunyi. Kemudian datanglah seorang wanita dengan mengucapkan..


" Selamat datang. " dengan suara lembutnya itu.


" Aku pulang ibu. " Kata Azel, sebagai sapaan pertamanya kepada ibunya.


Buru-buru wanita berambut coklat terang itu sedikit berlari ke arah Azel, dan berdiri di depannya langsung sambil bertanya dengan penuh keraguan.


" Tenang saja, aku lulus. " dengan ekspresi percaya dirinya yang tinggi, tentu saja langsung sukses membuat senyuman wanita di depannya langsung mengembang dengan lebar.


Wanita ini segera berteriak. " Wah!, senangnya.....anak ibu memang cerdas. Ibu senang sekali.~ " tutur ibunya Azel sambil memeluk anaknya yang..


Sedikit memalingkan wajahnya ke tempat lain. Pria dengan wajah rupawan di depannya itu sudah merupakan tipenya, tapi masalah kepribadiannya, Eldania tidaklah tahu karena belum lama mengenalnya.


" Dia siapa Azel?. " baru menyadari di belakangnya Azel berdiri seorang gadis.


" Ah...aku belum mengenalkannya. Dia Eldania, aku berkenalan dengannya saat di Academy. " jawab Azel dengan cepat.


" Salam kenal nyonya. " sapa Eldania kepada ibunya Azel dengan sedikit menunduk.


Namun.....apa reaksi ketika sudah memberikan perkenalan kepada ibunya Azel.


Ibunya Azel, seketika kembali berteriak dengan wajah terkejutnya. " AHH.....kamu belum lama lahir, tapi sudah bawa calon menantu.! " serunya, kepada Azel.


Senang dan terkejut, menjadi satu kesatuan yang saling berkontradiksi.


" Uhuk....., a...apa?!. " Eldania terkejut bukan main dengan ucapan ibu ini yang sembarang bicara. [ Di bilang calon menantu?, pasti telingaku sedang salah dengar. ]

__ADS_1


" Kyaa....bagaimana ini!?. " Ibu nya Azel jadi panik sendiri mendapatkan anaknya laki-lakinya membawa pulang seorang gadis, bahkan sampai melompat-lompat.


Dengan tingkahnya yang seperti anak kecil, ini pertama kalinya bagi Eldania untuk melihat pemandangan dari seorang ibu sepertinya. " Anakku membawa pulang gadis!. "


Azel menoleh ke belakang dan menjelaskan. " Maaf, ibu ku memang suka asal menyimpulkan. " jelas Azel secara singkat.


[ Tapi ibumu yang berkata seperti itu, bagaimana caranya aku tidak tahan untuk tertawa?. ] pikirnya sambil menutup separuh wajahnya dengan tangan kanannya karena sedang menahan sipu malu, juga ingin tertawa lepas.


" Apa kamu baik-baik saja?. "


" Ah..iya. " buru-buru mengatur ekspresi wajahnya. [ Aku mana mungkin baik-baik saja!. ] detik hatinya, berteriak keras!.


" Dania....kalau begitu kita adakan pesta!. Pesta " ujar ibunya Azel kepada Eldania secara langsung.


" I-iya. " dengan gugupnya, Eldania pun akhirnya menerima tawarannya. [ Ada juga orang yang seperti ini?. ]


10 menit kemudian ketiga orang ini berada di meja makan untuk makan bersama.


" Maaf menunggu. " Ibunya Azel menyajikan beberapa makanan di atas meja. " Silahkan dimakan, Dania kamu makan yang banyak, jangan sungkan karena anakku yang mengajakmu kesini kan?. "


" Terima kasih nyonya. " sambil sedikit membuat senyuman.


" Selamat makan. " tutur Azel, menikmati suapan pertama. " Sempurna, ibu memang pandai memasak. " Puji Azel.


" Haha...tentu saja, resep rahasianya ada di cinta yang ibu berikan ke setiap masakan ini. " Jawabnya. " Tapi...... " Arah pandangannya segera beralih ke Eldania yang sedang memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. " Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Dania, apa yang kamu suka dari anakku ini?!. "


" Ehk.. " Azel sedikit tersedak karena pertanyaan ibunya itu.


Dengan menahan sipu malunya, Dania menjawabnya. " Hmm…. Aku suka sosok kerennya. " 


" Begitu, ya. " ujar Azel.


" Tindakan dan ucapanmu selalu masuk akal. " tambahnya lagi.


" Benar!, dia memang anakku yang keren, apa lagi dengan wajahnya yang tampan. Dialah penakluk hati wanita. " segera memuji kepada anaknya sendiri.


[ Wanita ini memang agak sedikit konyol tapi... ] menurut penilaiannya Eldania terhadap ibunya Azel. [ Terlalu bersemangat, dan suka mengambil kesimpulan sesuka hati. ]


" Bagaimana?, mau tambah lagi?. " Tanyanya kepada Azel.


Eldania melihat perhatian seorang ibu kepada anaknya, mereka berdua begitu harmonis.


Tidak ada yang tahu kasih sayang orang tua kepada anaknya jika belum merasakannya secara langsung.


Eldania walaupun tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua, tapi dia tahu kalau kasih sayang dari orang terdekat yang pernah dirasakannya pastinya sama?.

__ADS_1


[ Tapi...apakah itu sama?. ] pikirnya lagi, sembari menatap sendok yang berisi nasi dan daging.


__ADS_2