Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
74 : Eldania


__ADS_3

3 jam kemudian.


' Ka...'


Dahinya terus berkerut.


' Shka..!. '


Sebuah panggilan terus terdengar..


' Neshka..!. '


 


" Dania...!. " 


"..................! "


Dan sebuah teriakan memanggil nama itu secara bersamaan membuat si empu, segera membuka kelopak matanya dengan pelan.


Eldania yang sedang duduk di kursi yang tersedia di sebuah koridor tengah menghadap ke sebuah jendela yang berhiaskan kaca patri. Dari kejauhan dia memang terlihat seolah sedang menatap ke jendela tersebut dengan serius, tapi faktanya.....


[ Aku ketiduran. ] batin Eldania, tatkala posisinya memang duduk bersilang kaki, kedua tangan bersilang di depan dada dan punggungnya bersandar ke dinding, tetapi sebenarnya dia tidak sengaja ketiduran setelah bermain dengan alam pikirannya.


Eldania pun menoleh ke samping kanan dan kiri, tapi tidak terlihat ada seorang pun di sekitarnya kecuali dia seorang yang sedang duduk santai menikmati waktu istirahatnya seorang diri.


Jadi siapa yang barusan memanggil namanya?.


" Sudah bangun?!. " 


".................?!. " Eldania sempat berpikir sejenak karena baru bangun tidur, apa lagi terbangun secara mendadak membuat dirinya sedikit bingung dengan keadaannya. [ Suaranya Azel. ] pikirnya, setelah mendapatkan koneksi dari sel-sel otaknya.


" Sekarang kamu dimana?. " kata Azel lagi, lewat telepatinya.


" Duduk di depan perpustakaan, ada apa?. " langsung tanya, tepat di detik itu juga.


" Jadwal ujian kita dirubah. " 


"................!. " Sontak membuat Eldania langsung mendapatkan stimulan untuk menyadarkannya dari rasa kantuk yang sebenarnya tadi masih ada, tapi itu sudah hilang setelah mendengar pernyataan dari Azel. " Tahu dari mana?. "


" Tidak sengaja dengar dari seseorang. Jika tidak percaya, datanglah ke hutan. Tim dari kelas lain sudah mulai, beberapa jam lagi tinggal giliran kita. " terus terang Azel, memberitahukan situasi dan kondisi yang ada.


Seketika Eldania berdiri. [ Kenapa tidak ada pemberitahuan resmi?. Atau karena... ] melirik ke bawah, tepatnya menatap pakaiannya. Dia langsung mengetahuinya saat itu juga, jadi tanpa basa-basi lagi Dania menjawab. " Aku akan ke sana. "


Sesaat setelah memutuskan telepatinya dengannya, Eldania beralih posisi ke arah kanan dan memutuskan cepat-cepat beranjak dari sana sebelum terlambat.


[ Neshka~. ] Tatkala sepasang kakinya terus berjalan cepat agar bisa keluar koridor menuju halaman tengah, dia terus terpikirkan dengan panggilan dari nama yang dia dengar dari alam mimpi tadi.


Tidak ada petunjuk dari beberapa mimpi yang sudah dia alami, dan itu membuatnya lumayan jadi frustasi sendiri karena penasaran.


Pasalnya Eldania....dia ingat betul, tidak pernah, baik mendengar ataupun melihat sebuah pertemuan yang dia lihat di mimpinya dalam dunia melihat baik dirinya yang asli maupun tubuh yang Eldania diami.


Itu tidak ada dan membuatnya cukup kesulitan untuk mengetahui lengkap mimpi yang dia dapatkan itu.


KLEK.......


Terlepas dari kepergian Eldania dari gedung perpustakaan, suara dari pintu yang terbuka itu segera menghadirkan seseorang.


TAP.......TAP.........TAP.......


Langkah kaki yang kemudian berhenti tepat di tengah koridor membuatnya langsung menghadap ke arah kanan. Sepasang iris mata berwarna merah itu pun kemudian menangkap kepergian dari gadis yang sesaat tadi duduk di bangku di sampingnya ini. 


Pemilik dari surai berwarna pirang emas ini segera mengernyit, lalu menoleh ke belakang. Seekor burung elang berwarna coklat itu pun sedang terbang di belakangnya. 


Pria ini pun mengangkat tangan kanannya dan mengayun-ayunkan tangannya.


Kwak.....


Burung tersebut langsung menerima kode perintah dari lambaian tangan pria ini, sehingga kini burung ini pun pergi mengikuti kepergian dari perempuan tadi.


Itulah kode perintah yang di berikan oleh pria tersebut kepada burung itu.


Keheningan yang tak bertahan lama, langsung terpecah dengan suara lantang milik seseorang yang memanggil sebuah nama.


" Caster..!. "


Si pemilik nama 'Caster' langsung menoleh ke samping kiri, menjeling satu orang yang sedang berlari ke arahnya dengan wajah panik (?).


Caster hanya menganggapnya sebagai bawahan yang sedang di landa ke susahan karena seseorang.


DRAP......DRAP......DRAP.......

__ADS_1


" Hah..hah..." Sambil mengatur nafasnya, laki-laki ini dengan berani langsung menatap wajah seseorang yang tadi dia panggil yaitu ' Caster '.


" Ada apa?. " tanyanya dengan nada dingin selagi menatapnya dari atas sampai bawah, Caster melihat manusia di depannya ini seperti anak yang mudah di perintah dan mengiyakan apa pun yang di katakannya kepadanya.


Laki-laki berseragam biru ini pun langsung bicara ke poin utamanya. " Kami sedang mencarimu, karena jadwal ujian kita dirubah jadi hari ini. Setelah tim yang sekarang selesai, maka giliran kita. "


" Siapa musuh yang harus dihadapi?. " tanya Caster.


" Tim nya Azel. " jawabnya dengan singkat.


Pria ini pun langsung melengos sambil bersilang tangan di depan dada dan mengambil langkah pertamanya mendahului satu orang itu untuk segera pergi ke hutan dan mempersiapkan diri (?). 


Itu hanya di tunjukkan untuk mereka, bukan Caster sendiri. Karena justru, dia ini memang sedang menunggu momen ini. Momen untuk melihat bagaimana kemampuan dari iblis bernama Azel itu.


" Yah.....meskipun mulutmu dengan lancang meneriaki namaku dengan nada seperti itu-.. " Caster terus berjalan memimpin. " Kita memang tetap harus pergi ke sana. Jadi berbanggalah, aku menerimamu jadi timku. Manusia rendahan. "


" I-iya. " langsung menjawabnya dengan cepat, dan buru-buru mengekori pria tersebut agar tidak tertinggal.


[ Harusnya mereka seperti manusia ini, jadi budakku. ] batin Caster, beberapa saat menjeling ke samping kanan sedikit belakang. Diantara banyaknya orang, dialah manusia yang bisa di suruh. “ Apa yang lain sudah tahu soal ini?. “ tanya Caster balik.


“ Sudah. Mereka sedang menunggumu di hutan. “ 


“ Bagus. Kita akan tunjukkan pada wali kelas, yang seenaknya merubah jadwal. “ ucap Caster dengan nada yang sedang menyombongkan diri.


“ A-apa?. “ Laki-laki ini berpikir Caster akan mengucapkan kalimat seperti akan mengalahkan musuhnya, tapi yang dibahas justru adalah sang wali kelasnya.


“ Iblis memang selalu menunjukkan ketidak sopanannya, dia sudah merenggut waktu pribadiku untuk seseorang. “ kutuk Caster dengan sumpah serapahnya kepada Millie.


Ya...siapa lagi kalau bukan karena Bu Millie. JIka bukan karena wali kelas itu, Caster sebenarnya ingin menggunakan waktu pribadinya saat ini untuk seseorang yang dari awal Caster incar.


Tapi karena adanya perubahan rencana mendadak, maka mau tidak mau Caster harus mengurungkan niatnya itu.


“ Jika bukan karena dia, aku pasti sudah ada di sampingnya. “ Kata Caster menambahkan dengan sedikit gumaman.


[ Waktu pribadi?, dia?. sampingnya?. Apa yang sedang dibicarakan?. ] batin manusia ini, tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Caster tadi.


Caster, tanpa memperdulikan manusia yang ada di belakangnya dilanda sebuah kebingungan karena tidak paham dengan apa yang tadi diucapkannya, dia berjalan sambil mendongak ke atas. 


Dan Caster lagi-lagi berargumen dalam bayangannya sendiri. “ Dasar. Tidak ada yang bagus disini. “ 


____________


Siang itu, hutan besar di belakang Academy merupakan tempat saksi mata ujian antar tim. Seekor burung hantu putih jadi juri atas pertandingan mereka. Meski bergitu, burung hantu tersebut dapat berbicara layaknya manusia.


Di salah satu sisi dimana tim Mericta berada.


" Apa kalian sudah siap?. " tanya Mericta sebagai pemimpin tim di kala diskusinya itu.


" Siap. " All.


" kalian sudah tahu tugas masing-masing, aku yang akan melawan manusia laki-laki si Neizel itu. " ucap Mericta, seorang iblis dari kalangan bangsawan. " Berpencar dan jaga komunikasi. " perintah terakhir yang diberikan Mericta kepada mereka bertujuh.


Sedangkan di salah satu tempat dimana tim Neizel sedang berkumpul.


" Kalian sudah berlatih selama 4 hari ini, tunjukkan potensi terbaik kalian seperti di saat latihan. " Tutur Neizel, mencoba memberikan semangat, sekalipun masih saja mempertahankan ekspresi wajah datarnya.


" Apakah kita akan menang?, mereka adalah iblis. " salah satu orang ada yang mencemaskan hal tersebut, mengingat perlakuan kaum iblis terhadap manusia tidak main-main.


Neizel sekilas meliriknya dan menjawabnya dengan enteng. " Kalau iblis, memangnya kenapa?. Kalah atau menang tergantung tekad dan kemampuan. Jika memang ingin menang, anggap saja mereka orang jahat dan kejahatan harus dihilangkan. Bukankah itu adalah salah satu dasar dari seorang kesatria?. " jelas Neizel, kalah atau menang tentu saja tergantung dari potensi diri masing-masing, apakah serius dan tidak ragu saat menghadapi musuh alami mereka sendiri atau tidak.


Itulah yang Neizel tanamkan kepada rekan setimnya.


" Ah....iya juga. " Tapi masih tetap mencoba memghilangkan keraguan di dalam hatinya, karena inilah kali pertamanya untuk mereka melakukan pertarungan secara langsung dengan iblis dalam bentuk sebuah kelompok. 


Pada dasarnya, kecemasan mereka bukan dari segi lawan yang harus mereka kalahkan adalah iblis.


Tetapi kemampuan. 


Mereka yang punya harga diri yang tinggi, tidak ingin mencorang wajahnya sendiri dengan sebuah kekalahan, dan harus bisa menyamakan kekuatan sekaligus membuktikan bahwa dia bisa memberikan kemenangan untuk pemimpin mereka.


Itu yang sebenarnya di hadapi oleh mereka, sebagai seorang Aristokrat.


[ Kenapa mereka masih berdiskusi?. Apa ini tipuan?. ] pikir Mericta.


Mericta masih berada di tempat yang sama, namun dengan adanya kemampuan mata iblis yang di milikinya, ia mampu melihat hawa panas yang dimiliki seseorang meski berada di radius 500 meter sekali pun.


" Sic... periksa posisi mereka, dari posisimu berdiri ke arah jam 8. " perintah Mericta dengan salah satu bawahannya.


Yang di panggil Sic segera melaksanakan tugasnya saat itu juga, dia melakukannya dengan hati-hati.


1 menit kemudian perempuan ini pun memberi kabar kepada ketuanya, si Mericta. " Seperti dugaan, mereka tidak ada. "

__ADS_1


" Gunakan mata iblis kalian!. "


Dengan komunikasi lewat telepati, Mericta terus memerintah rekan satu timnya.


______________


1 jam terlewati.


" UGH.....! " 


BRAKK....... ( Menabrak pohon yang ada di belakangnya. )


" Bagaimana rasanya?, apakah enak bisa bersandar di pohon?. Kamu gugur dan pita ini untuk kemenangan nona Mericta. Terima kasih..." tutur iblis ini kepada manusia salah satu tawanan yang baru saja dia kalahkan dengan keberhasilannya membawa pita milik musuhnya.


PHAKK...


Dengan sekuat tenaga, iblis ini memukul tengkuk manusia tersebut sehingga dalam sekejap dia pingsan di tempat. Dan hal ini membawa 3 keberuntungan, karena sudah mengalahkan ke 3 orang dari tim nya Neizel.


" Tinggal 4 lagi. " tutur untuk dirinya sendiri, meski lelah namun tidak seberapa. Karena hal seperti ini sudah seperti rutinitasnya sehari-hari.


Pasalnya Sic ini awalnya adalah iblis yang tinggal di dalam hutan bersama keluarganya, hidup dengan berburu bermacam-macam hewan buas sudah seperti kesehariannya.


Jadi, bermain petak umpet seperti anak kecil adalah keahliannya Sic sebagai iblis pemburu.


Selepas mengambil pita dari lengan tangan dari salah satu orang dari tim Neizel, dia bergegas meninggalkannya, dan mencari target lain.


[ Aku masih belum bisa menemukan pemimpinnya. ] pikir Mericta, ia sedang berdiri di atas salah satu pohon. [ Aku kira dia hanya manusia bangsawan sombong dengan sikap dinginnya itu, ternyata aku tidak bisa meremehkan kemampuannya itu. ] Mericta dituntut untuk terus waspada terhadap salah satu manusia yang menjadi incarannya Mericta. " Jangan hanya bersembunyi saja!, apa kau adalah salah satu dari sekian banyak manusia pengecut!?." Seru Mericta, ia sengaja berteriak untuk memancing seseorang, yaitu Neizel untuk keluar dari persembunyiannya.


"...................." Disisi lain, Neizel memang mendengar teriakan gadis itu, namun siapa coba yang mau mendengarkan ocehan hanya untuk memancing musuhnya.


Di dalam pertandingan antar tim ini, semua regu diberikan pita dengan tiap regu memiliki warna yang berbeda. Pita tersebut di ikat di lengan masing-masing orang, dan mereka sendiri yang harus mempertahankan pita tersebut dari pada di rebut tim lawan.


Karena dinamakan ujian antar tim, maka perebutan pita dari tim lawan di perbolehkan menggunakan kekuatan untuk melawan dan menjaga diri masing-masing dari lawan.


Jika ada salah satu yang pitanya sudah direbut maka dia di anggap gugur, tetapi jika ada teman satu tim nya di sisi lain mendapatkan pita lawan mereka, maka ada pemberian satu hak khusus, yaitu bisa menghidupkan kembali salah satu temannya yang sudah gugur tadi.


Namun, jika sang pemimpin berhasil dikalahkan sekaligus pitanya berhasil direbut karena pemimpin memiliki logo tim mereka, maka akan dianggap kalah dan permainan langsung berakhir saat itu juga.


Mereka semua harus berjuang ekstra keras  demi menjauhi kekalahan dan demi diri mereka masing-masing.


Namun disini, tidak mengharuskan tim manusia maka harus dengan menusia, mereka bebas memilih pemimpin mereka masing-masing sesuai dengan kehendak hatinya.


_____________


" Bagaimana?. Apa kau sudah tahu peraturannya?. " tanya Azel kepada Eldania.


Mereka berdua sedang melihat pertandingan kedua tim yang sedang berlangsung dari satu jam yang lalu. 


Azel dan Eldania kini sedang berdiri di atas puncak bukit, walau tidak seberapa tinggi namun cukup untuk melihat pemandangan pertarungan dan yang seperti sedang memainkan permainan tikus dan kucing.


Saling menghindar dan mengejar. 


" Jika aku menggunakan sihir teleportasi, maka tidak akan seru. " tutur Azel dengan kebiasaan akan tingkat rasa percaya dirinya yang tinggi itu.


" Maksudmu. Tidak kurang dari 1 menit pita itu bisa kamu rebut?. " Eldania berpikir jika yang dikatakannya barusan adalah jika pita yang Azel rebut adalah milik dari pemimpinnya.


Azel tersenyum simpul seraya menjelaskan. " Sebenarnya inti dari ujian ini adalah, bagaimana cara mereka mempertahankan keberadaan mereka selagi harus mempertahankan hal yang berharga dari mereka selama melawan musuh-musuhnya. "


"..................? " Eldania hanya menatap kosong ke arah Azel ini.


Melihat gadis ini menatap wajahnya terus menerus, Azel akhirnya bertanya. " Apa ada sesuatu di wajahku?. "


Eldania hanya mendehem pelan, bahwa bukan itu yang dia maksud dari tatapannya tadi. " Aku mau tanya satu hal, kenapa kamu mau masuk ke Academy?, padahal kamu raja iblis. " tanya gadis ini dengan polosnya.


" Aku bosan dengan rutinitas berperang, maka dari itu aku bereinkarnasi. Hanya beberapa anak buahku yang tahu kapan aku bereinkarnasi. Meski tidak peduli lagi mereka mau mengakuiku sebagai raja iblis atau tidak, mereka akan tahu sendiri siapa yang kuat untuk menjadi sosok raja itu sendiri. Jadi jawabannya, aku hanya mau menghilangkan kebosananku. Begitulah..... " Dengan senang hati, Azel mau menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan gadis ini dengan sangat jelas.


" Bagaimana strategi kita?, saat bertanding?. " 


" Oh..ya, sudah hampir waktunya ya?. " Azel pun berdiri di ikuti Eldania setelah duduk beberapa waktu. " Strateginya tentu saja sangat mudah, aku akan lawan orang berambut pirang itu, sisanya adalah kamu. " ujar Azel sembari menunjuk seorang laki-laki pemilik dari rambut pirang emas. 


" Bukannya itu licik?. Kau satu lawan satu sedangkan aku satu lawan enam. " 


" Kau seperti tidak pernah bertarung saja. Kita sudah pernah bertarung sekali dan aku sangat tahu kemampuanmu itu. Jadi aku pikir kau lebih bisa mengurusnya dengan baik karena itu lah kelebihanmu. "


Eldania lagi-lagi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pada menatap Azel ini.


[ Yahh.....memang bisa di bilang bangga karena aku jadi terhasut dengan pujiannya tadi. Tapi aku harus lawan mereka?. ] Di dalam hatinya mulutnya ingin saja mengerucut karena lagi malas melayani mereka semua. 


Awalnya Eldania ingin istirahat karena seharusnya jadwal ujiannya itu besok, tapi tiba-tiba saja di jadwalnya dirubah secara mendadak dan Eldania jadi kehilangan waktu berharganya untuk istirahat dengan melakukan rutinitas lainnya.


Hanya saja, satu hal yang dia pikirkan saat ini.....

__ADS_1


' Siapa saja lawannya?. '


__ADS_2