Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
92 : Eldania


__ADS_3

WUSHH.........


Angin dan kabut datang secara bersamaan, sekaligus sukses menghalangi pandangan Nathan yang ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Sampai akhirnya, Nathan tiba-tiba saja berteriak.


"Ethan!" Jujur saja Nathan merasakan lidahnya kelu saat memanggil nama yang awalnya adalah nama yang sudah digunakan untuk dirinya, tapi sampai beberapa saat lalu, fakta baru terkuak bahwa nama Ethan, sebenarnya bukan di peruntukan untuk dirinya, melainkan saudaranya.


Namun si pemilik nama tadi, tetapi tidak membuat sahutan sama sekali.


Membuat Nathan yang asli ini merasa bahwa momen ini, memang benar-benar terjadi. Sudah terjadi, bahwa kakaknya sudah bersikap egois untuk meninggalkannya sendirian, dengan memberikan hidupnya itu kepada Nathan.


"Eldania!" Teriak Nathan kepada perempuan pemilik dari nama ini dengan begitu lantang. "Di mana kau!" Teriaknya lagi. [Apa yang dia ketahui tentang kami berdua, sampai dia melakukan sihir tingkat tinggi seperti ini?] Batin Nathan, saat dirinya sekarang merasakan sihir yang kuat.


Dan perlahan angin yang membawa kabut itu pelan-pelan menghilang. Sayangnya, menghilangnya kabut tersebut menjadi pengganti sebuah kegelapan yang teramat sangat gelap.


[Apa sekarang aku sendirian?] Nathan hanya memandangi kakinya dan kedua tangannya yang masih bisa Nathan lihat dengan mata kepalanya sendiri, sebagai fakta bahwa dirinya masih bisa dia lihat sekalipun berada di tengah kegelapan yang terasa hampa ini. "Ethan!" teriak Nathan lagi.


Dia tidak henti-hentinya celingukan ke sana kemari dan berjalan mengikuti langkah kakinya sendiri, sekalipun tidak bisa melihat apa pun.


[Sebenarnya aku sedang berada di mana?] Ethan mendongak ke atas, apa yang bisa dia lihat adalah warna hitamlah saja. [Aku tidak mengerti sama sekali. Dia membuat lingkaran sihir seperti itu, sebenarnya apa yang sedang dia coba lakukan kepada kami? Awas saja kalau dia ketemu, aku akan beri pelajaran sampai aku puas!] Sebuah kilatan akan kemarahan langsung terpancar di sepasang iris mata berwarna Violet.


Kedua tangannya mengepal dengan erat, membuat sebuah bogem yang bisa dia layangkan kapanpun dia mau, bahkan untuk memukul angin kosong saja Nathan tidak akan sungkan melakukan hal bodoh itu.


"Wajahmu, terlihat marah?" Lagi-lagi sebuah suara dari suatu pertanyaan menghampiri Nathan kembali, suara yang sama, namun terdengar sangat dekat.


"....................." Nathan, tanpa menoleh sedikit pun segera menjawab. "Tidak ada alasan lain, kecuali kau!"


"Memangnya kenapa denganku?" Satu suara yang terdengar sangat dekat, berhasil membuat Nathan menoleh ke arah belakang.


Seorang perempuan dengan wajah paling dia ingat dengan jelas, membuat Nathan menggertakkan giginya. 


Bagaimana tidak, jika perempuan yang ada di depannya ini sedang berekspresi dingin namun dengan senyuman sinis tersungging di bibirnya.


[Dia-] Semakin dilihat, Nathan semakin membenci trik terselubung apa yang sedang direncanakan perempuan di depannya itu.


"Aku menyelamatkan salah satu dari kalian, apa itu sebuah kesalahan?" Sebuah pertanyaan polos tanpa merasa bersalah sedikitpun, terlontar dari mulut mungilnya.


"Dari pada salah satu, lebih baik kami berdua menghilang bersama!" Nathan mempertegas jawabannya sendiri.


Bahwa ketimbang salah satu di antara mereka menghilang, dan salah satunya dituntut untuk menanggung beban bersalahnya, Nathan merasa lebih adil untuk menghilang bersama-sama. 


"Dan kau tidak layak mengatakan itu!" Ucap Ethan sekali lagi.


"Tidak layak? Di sini siapa yang mengatakan untuk menyerahkan nyawanya untuk saudaranya sendiri? Bukankah tadi, kau yang mengatakan itu? Agar kakak kamulah yang mengorbankan dirinya untukmu? Lalu kakakmu itu, dia sudah membuat keputusannya sendiri untuk menuruti permintaanmu. 


Di sini, aku hanya berperan untuk membantu kalian. Masih dibilang, tidak layak? 

__ADS_1


Nathan, kau adalah Iblis yang buruk. Lebih buruk dari saudaramu yang sering kau caci maki itu."


DEG…


"Maksudku, tidak ada yang menyuruhmu melakukan itu! Apa kau masih tidak paham apa yang aku ucapkan?!”


“Sebenarnya apa maumu? Dari melihat sorotan matamu petang tadi, aku sudah tahu kau menginginkan bantuan dariku, karena akulah satu-satunya orang yang masih mengingat segala peristiwa di antara kalian berdua, terutama nama 'Nathan' yang menghilang dari ingatan orang lain, tapi tidak denganku." Jelasnya.


"Aku tahu-" Nathan semakin mengepalkan tangannya. Dia memang menginginkan bantuannya untuk menemukan saudaranya, tetapi, "Tapi bukan seperti ini! Bukan ini yang aku inginkan Eldania! Awalnya aku menginginkan kau untuk membantuku mencarinya saja, bukan membuatnya menyerahkan nyawanya untukku!"


Nathan semakin kesal saja, dia semakin tidak menerima akan kenyataan bahwa kakaknya sudah menghilang dari dunia ini.


"Kau membuatku semakin bersalah. Dan kau membuatku terlihat jadi orang yang lebih jahat, untuk-" Ethan langsung mengatupkan mulutnya.


Dia mengutuk pada dirinya sendiri, berpikir bahwa Ethan adalah 'Kakak', padahal selama ini, dia sendiri yang menganggap saudaranya itu adalah adiknya.


Tapi pada akhirnya siapa yang melindungi siapa?


Peran dari seorang kakak disini sudah terlihat sangat terlihat jelas.


Dia tidak menginginkan perpisahan yang seperti ini untuk kakaknya.


Tidak, ini bahkan lebih jahat ketimbang dirinya yang berperilaku kasar dengan untaian kalimat saja.


Membuat Ethan.......sang kakak, menyerahkan nyawanya untuknya.


Dalam sekejap mata, Nathan sudah berpindah tempat kedepan Eldania, dan


GREEP...


"Arhh!" Sebuah cengkraman kuat langsung mencengkram di lehernya, membuatnya langsung merasakan sakit serta susah untuk mengambil nafas.


Itulah tindakan tercepat, membuat musuhnya terpojok. Nathan langsung mencekik dan menatap perempuan ini dengan tatapan tajamnya, lalu dengan nada paling dingin, Nathan menyela. "Diam! Kau tidak punya hak untuk membicarakan kedua orang tuaku!" Ucap Nathan dengan nada paling renda, dan mengintimidasi Eldania saat itu juga.


Namun Eldania justru mengumbar senyuman miring. “Apa kau tahu? Jika bukan karena kedua orang tuamu, ka...uhuk...kalian berdua ti..dak akan menemukan ma...salah seperti ini!" Ucap Eldania dengan nada terbata-bata dengan wajah tersiksa, karena rasa sakit di lehernya akibat sedang dicekik oleh Iblis ini. 


Apa lagi ketika mendapati iblis yang satu ini, justru mengangkatnya tubuhnya dengan cekikan sekaligus saat semua kukunya berubah menjadi hitam dan lebih panjang sedikit.


"Kau hanyalah orang luar. Tidak akan pernah mengerti kehidupan kami yang sebenarnya!"


"Disaat se...perti ini, baru me..ngatakan maksud...da..ri keluarga? Kau me..mang naif.” Jawab Eldania. Dia tetap memprovokasi emosi Iblis yang satu ini.


"Diam!" Semakin memancing emosinya, Nathan semakin mencengkramkan cekikannya.


"Na-...than!" panggilnya. Semakin tercekik, maka seiring waktu itu pula kesadarannya hampir menghilang.


"Jangan memanggil namaku! Aku jadi merasa jijik dipanggil oleh manusia sepertimu!" Sambil semakin menggertakkan giginya, Nathan kini mulai menusukkan jari-jari panjangnya ke dalam kulit leher perempuan ini.

__ADS_1


"Ugh!" Mengernyitkan matanya, semakin memberontak, cekikannya semakin luar biasa kuat. Kedua kakinya yang ingin menendang tubuh pria ini saja, tidak bisa terjangkau-jangkau.


"Memang seperti inilah, manusia....tidak akan pernah akur dengan seorang iblis, apalagi jika sudah berurusan denganku." Ucap Nathan sekali lagi.


Tetapi sebuah nama panggilan yang terus berulang mulai menghantuinya.


"Na...than" Panggilnya.


"Berisik!" Jawab Nathan dengan cepat.


"A...tau, Ethan!. Ugh!"


Nama yang dipanggil tiba-tiba berubah menjadi Ethan.


Nathan yang merasa tidak salah dengar, mengedipkan matanya beberapa kali, dan hasilnya.....


Sosok perempuan dengan rambut coklat juga mata berwarna Ruby, dalam waktu yang singkat, wujudnya berubah menjadi seorang pria dengan seragam merah, dan mempunyai semua ciri-cirinya sebagai saudaranya.


Yaitu...


Ethan yang asli.


[Ethan!] Secara Nathan langsung membelalakkan matanya. Karena yang dia cekik dengan sekuat tenaga bukannya Eldania, melainkan Ethan! 


Sang kakak....


"Ji..ka kau menyukai...nama itu, gunakan s-saja." Jawab Ethan dengan wajah tersiksa, menyedihkan, dan masih bisa membuat senyuman kecil di detik-detik itu. "K-kau lebih co..cok dengan nama i-tu. " Tambahnya lagi.


[K-kenapa aku mencekik kakakku?! Bukannya yang mengajakku bicara dan terus memprovokasi adalah perempuan itu?! K-kenapa jadi Ethan?!] Pikir Nathan dengan ekpresi terkejutnya, namun tangannya masih mencekik saudaranya ini. [Aku kira....dia sudah menghilang?!]


________________


[Kenapa di sini ada makhluk ada makhluk aneh?] Eldania, dia pun berhadapan dengan sesuatu yang juga baru pertama kali dia lihat seumur hidupnya setelah be reinkarnasi. [Lalu...apa-apaan dengan cahaya hijau cantik yang seperti kunang-kunang ini?!] Pikir Eldania lagi.


Dengan pedang yang masih berada di tangannya, dia kemudian mengayun-ayunkan pedangnya dari kanan dan ke kiri.


Kilauan hijau, berkelap-kelip seperti kunang-kunang menghiasi area hutan yang gelap itu. 


Cukup cantik, namun juga membawa dampak negatif.


Lalu, sebuah bunga berwarna putih, perlahan mulai muncul di atas kepalanya.


Eldania yang merasakan ada sesuatu yang tumbuh di atas kepalanya, langsung menyentuhnya dan mencoba meraba.


Apa dan....


[Ini?!] Eldania mengernyit, saat tangannya menyentuh apa yang sedang tumbuh di atas kepalanya itu.

__ADS_1


__ADS_2