
"K-kakak?" Kesatria Evan seketika memandang bocah di sampingnya dengan tatapan terkejutnya.
"Ah....tidak, pasti panggilan itu mengganggu. Jadi aku panggil Sir Evan saja, ya?" Tanya Eldania balik.
"Tidak...saya hanya terkejut saja. Banyak yang memanggil saya tuan kesatria dari pada kakak." Jelas Ksatria Evan. "Jadi tidak masalah, kalau anda mau panggil saya kakak."
[Hmph...dia berharap sekali aku memanggilmu kakak. Sayang sekali, akulah kakakmu!] kata Eldania di dalam hati. "Tapi mau bagaimanapun terdengar lebih sopan dengan panggilan Sir Evan." Ucapnya.
Mengalihkan kecanggungan dari Evan yang sadar kalau dirinya sendiri tiba-tiba mengharapkan kalimat kakak terucap dari mulutnya Eldania, Evan langsung berjalan pergi sambil berkata. "Ah...kita sudah sampai, nona tunggu di sini." Kata Evan.
Mereka berhenti tepat di depan sebuah bar yang lainnya. Ketika melihat kesatria Evan masuk ke dalam sana, Eldania yang ingin ikut masuk justru diberikan jelingan tajam oleh seseorang yang duduk di dalam sana.
[Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa aku tidak boleh masuk ke dalam sana juga?] Pikirnya. Dengan alasan seperti yang dia tebak, Eldania akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam bar karena tujuannya bisa mendapatkan pekerjaan sudah ada, maka dia tidak perlu lagi mencari tempat yang bernama Guild.
Sedangkan kesatria Evan, dia sudah di dalam bar. Namun tujuannya bukanlah minum-minum, melainkan datang menemui orang yang dia kenal. Kenalannya kebetulan sedang duduk sendirian di pojok ruangan.
"Oh...kesatria Evan, apa yang membuatmu datang kemari?" Tanya seorang wanita berambut merah, dengan satu puntung rokok terjepit diantara bibirnya, menghisapnya kemudian dia hembuskan.
"Saya ingin anda menyebarkan informasi ini ke semua guild." Jawab Evan sambil memberikan puluhan lembar kertas ke wanita itu.
"Hm......, bayarannya semakin tinggi juga. Tuanmu memang tidak pernah kehabisan uang ya dari awal kepemimpinannya di sini." Kata wanita ini, sembari membaca isi dari lembaran kertas yang dia terima dari kesatria Evan.
Wilayah Helion dipimpin oleh Duke Avrel dan sudah lebih dari dua belas tahun selama kepemimpinannya mengurus wilayah utara yang dipenuhi monster. Namun selama itulah, guild terus menerus menerima permintaan mencari prajurit bayaran, dengan bayaran yang kian naik. Dengan arti, bahwa harta dari Duke Helion tidak pernah menyusut padahal sudah digunakan selama itu.
"Ini bayarannya." Memberikan satu kantong berisi koin perak kepada wanita tersebut.
Melihat satu kantong tebal tapi isinya koin perak semua, wanita ini memberikan senyuman paling ramah-nya kepada kesatria Evan. "Aku akan segera mengurusnya." Dan melihat kesatria itu hendak pergi, wanita ini kembali bertanya. "Kenapa tidak duduk sebentar saja disini denganku? Sekali-kali luangkan waktumu untuk bersantai. Terakhir kali, kelihatannya empat minggu yang lalu."
"Maaf, sebaiknya lain kali saja. Saya masih ada urusan yang perlu diselesaikan." Jawab Evan dengan tegas.
"Ho...apa karena gadis yang tadi?" Tanya nya sambil memberikan senyuman penuh makna.
Evan hanya menjawab seadanya, dari isyarat senyuman yang dia terima dari wanita itu. "Begitulah."
"Hm...kalalu begitu semoga sukses."
__ADS_1
"..................." Mengerti maksud dari ucapan wanita ini, Evan langsung memalingkan wajahnya dan berlalu pergi keluar dari bar. [Dia pasti mengira aku punya suatu hubungan dengan gadis itu.] pikir Evan. [ Ngomong-ngomong, aku jadi tiba-tiba menjanjikan pekerjaan kepadanya, apa tuan mau menerima orang asing di dalam istananya?] Berpikir bahwa itu bisa dilakukan nanti saja, ketika Evan keluar dari Bar dan hendak menyapa kembali gadis itu, orangnya ternyata sudah tidak ada di tempatnya.
Kedua matanya langsung dirotasikan ke segala arah, dan satu-satunya orang yang masih berdiri di tengah jalan, rupanya gadis itu sudah berdiri di depan air mancur setinggi empat meter.
Eldania langsung berbalik, dan disitulah Evan tidak dapat berkata-kata.
KURR.........KURR........KURR..........
"I-itu..." Evan seketika terpana melihat ada satu ekor burung sedang duduk manis di atas kepala gadis itu dan sisa dua burung merpati lainnya duduk di kedua bahu sebelah kanan dan kirinya.
Ke tiga burung itu mulai bertingkah dengan memiringkan kepalanya, sebelum akhirnya terbang pergi karena gadis itu berjalan ke arahnya.
"Ayo, kita....pergi ke arah sana." Menunjuk ke arah sebelah kanan. Di sana adalah sebuah pasar, dan seperti namanya banyak pedagang yang berjualan menjualkan barang dagangan mereka.
Mungkin karena sebuah simpati setelah melewati beberapa kedai, Evan berhenti tepat di salah satu pedagang yang menjual roti.
"Ini dan ini." Evan menunjuk ke dua jenis roti dengan bentuk bulat.
"Dua perak." Kata si penjual.
Evan langsung memberikan dua keping uang logam jenis perak kepada penjual itu dan setelah mendapatkan kantong kertas yang berisi roti pesanannya, Evan memberikannya kepada gadis di belakangnya. "Nona Eld. Ini untukmu."
"Saya hanya ingin memberi anda ini, lagi pula anda juga sedang lapar kan?" Ucap Evan dengan ramah.
Diberikan kesempatan mendapatkan kebaikan dari orang lain, mana yang tidak mau. Maka dari itu dia segera menerima pemberian dari kesatria Evan ini, sambil berkata "Terima kasih."
Eldania menatap enam buah roti yang sekarang dia bawa itu dengan seksama, itu adalah roti pertama hasil pemberian seseorang khusus hari ini.
Lalu apa yang Eldania dapatkan dengan menerima roti itu?
Ketika dia makan dalam gigitan pertamanya, anehnya makanan yang sedang dia makan itu memiliki rasa yang cukup enak.
Apa yang membuatnya aneh, ada sedikit perbedaan ketika Eldania pernah memakan roti yang cukup mirip itu, waktu itu dia pernah membeli dan memakan semua roti sendiri, namun rasanya di bilang standar.
Tapi ketika roti yang saat ini dia makan adalah hasil pemberian orang lain, dia justru mendapatkan rasa yang cukup enak. Padahal dua waktu saat merasakan lapar sama-sama memakan roti, tapi perbedaannya cukup jelas.
__ADS_1
[Pemberian tulus dari seseorang, menjadikan rasa roti ini ikut berubah.] Itulah yang Eldania pikirkan. " Nyam~....nyam~...." Semakin menikmati roti yang dia terima dari kesatria Evan.
"Saya baru pertama kali melihat anda, sepertinya nona bukan berasal dari sini." Tebak Evan.
Penampilan Eldania di mata Evan tidaklah terlihat begitu lusuh tapi tidak rapi juga, namun dari wajahnya cukup memperlihatkan orang yang kelelahan seperti baru mengerjakan pekerjaan berat, ternyata sukses membuatnya memberikan simpati.
"Ya. Aku hanya singgah untuk mencari sedikit uang tambahan untuk biaya hidup." Jawabnya, ketika satu roti sudah habis dalam tiga lahap.
"Dengan kata lain, nona tidak akan tinggal lama di sini?"
Sebuah anggukan menjadi jawabannya. Eldania memang pada dasarnya sengaja mampir demi mendapatkan uang lagi sekaligus bisa istirahat di tempat yang layak meskipun dia tipe orang yang bisa tidur di mana pun. Tapi, jika bisa punya kemampuan untuk menghasilkan uang dan tinggal di tempat yang bagus, kenapa tidak dilakukan?
Itulah tujuannya.
"Oh ya....kira-kira pekerjaan apa yang bisa aku dapatkan?" Akhirnya Eldania mengutarakan pertanyaannya itu. Dia sangat menginginkan uang dalam jumlah besar untuk sekali pekerjaan, jadi dia harus tahu pekerjaan apa yang bisa didapat dalam waktu yang singkat itu?
Evan yang juga masih bingung karena awalnya ingin membawanya ke istana dan paling tidak akan membuat gadis ini menjadi seorang pelayan di sana, kali ini setelah mendapatkan alasan kenapa gadis ini membutuhkan pekerjaan, membuatnya semakin bingung.
Membuat Evan bertanya balik. "Itu tergantung. Apa yang bisa nona kerjakan atau kuasai?"
"Semuanya. Nyam.~........., nyam~......" Memakan kembali roti keduanya, Eldania kembali berkata. "Aku akan tinggal di sini paling lama satu minggu, tapi setidaknya bisa mendapatkan gaji yang lumayan. Apakah ada?"
Evan kemudian dibuat berpikir keras [ Dengan tubuh seperti itu, dia bilang bisa melakukan semuanya? Aku di tidak yakin itu. ] Tapi akhirnya, Evan bertanya lagi. "Apa nona bisa bersih-bersih?"
"Bagiku bersih-bersih adalah pekerjaan yang paling mudah. Tapi asal sir Evan tahu, aku tidak punya niat menjadi seorang pelayan." Jawabnya, tepat di detik itu juga.
[Sir Evan~?] Evan mengernyit, pada akhirnya dja dipanggil sir. "Bisa baca tulis?" Tanyanya lagi.
Eldania sejenak terdiam karena merasa sedang diremehkan oleh ksatria ini. [Dia tidak percaya? Apa tampangku seperti orang yang tidak bisa membaca dan menulis?] Maka dari itu Eldania langsung menjawab. "Katakan saja, aku bisa melakukan banyak hal."
"................, kalau begitu, apa anda bisa memasak?"
"Bisa."
"Jika nona memang bisa masak, maukah anda menjadi koki sementara?" Tanya Evan.
__ADS_1
Eldania lantas menatap wajah Evan dengan cukup lekat sambil berkata : "Apakah dengan begitu aku bisa makan gratis juga?"
"Tentu saja." Dengan senyuman paling ramah, Evan pun mengajak Eldania pergi ke suatu tempat, yang mengharuskannya pergi dengan menggunakan kuda.