Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
87 : Eldania


__ADS_3

Sambil berjalan pulang menuju asrama, Eldania sebenarnya tidak habis pikir, dalam momen sesaat tadi, tiba-tiba orang bernama Caster yang biasanya hanya mengumbar senyuman menghina, justru tadi dia memberikan sebuah pelukan tidak terduga disertai senyuman cerah. 


[Apa alasan dia melakukan itu kepadaku? Dia memang sok kenal dekat denganku, padahal aku sendiri sebenarnya tidak tahu siapa dia kecuali namanya.] Pikir Eldania, lalu mengingat kilas balik detik-detik saat Caster mengangkat sedikit rambutnya. Eldania jadi ikut menyentuh rambut yang tadi di sentuh oleh Caster. Dalam seketika Eldania membuat ekspresi wajah tersiksa. [Sebenarnya apa maksud dari perbuatannya? Itu seperti seolah dia sedang menggodaku.]


Eldania tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapi orang yang tidak diprediksi seperti Caster yang suka muncul dan menghilang sesuka hati.


______________


TAP.......TAP......TAP................


Caster yang memilih berjalan ke arah lain, mulai mengingat momen tadi di mana tangan kirinya langsung ditepis oleh wanita itu, siapa lagi kalau bukan Eldania.


Caster menatap tangan kirinya, tangan yang sempat menyentuh helaian rambut coklat yang lembut itu. Tapi kemudian tangannya itu dia gunakan untuk menutup mulutnya di sertai tatapan dari wajah berpikir.


[D**ia benar-benar tidak ingat sama sekali. ] Pikir Caster.


Masa lalunya, Caster benar-benar tidak berharap kepada Eldania yang akan bisa mengingat segala ingatan tentang masa lalunya.


Ingatan kisah lama yang lebih lama ketimbang era raja iblis ketika dunia ini masih berseteru dengan manusia, monster, siluman, dan dewa dewi.


Meskipun punya cara lain untuk memulihkan ingatan asli dari masa lalunya, Caster tidak mau memiliki kesan lebih buruk. Karena cara lain yang dimaksudnya itu adalah sesuatu yang tidak pernah Caster lakukan selama dia hidup di kehidupan masa lalunya ataupun masa kini.


[Apa aku harus mengingatkannya dengan cara itu?] Caster masih berpikir dengan metode lain yang disimpan dalam-dalam itu. 


Masih tetap mempertahankan langkah kakinya, Caster berniat untuk pergi ke suatu tempat.


Tapi tepat saat Caster melewati sebuah bangunan berlantai 3 dengan cat putih yang sudah mulai pudar, di dalam rumah kosong di lantai dua tersebut seorang wanita berambut panjang sedang berdiri tepat di dekat sebuah jendela, dengan ekspresi wajah datar yang tidak pernah berubah sedetik pun, wanita ini menatap Caster dari tempatnya itu.


Dan keberadaannya yang sedang mengawasi Caster dari dalam bangunan itu, lantas membuat Caster yang langsung merasakan keberadaannya, secara tiba-tiba berhenti berjalan lalu menatap gedung tersebut dengan tatapan penuh selidik. 


Wanita yang berhasil menarik perhatian Caster di jalan sana, akhirnya memutuskan berjalan pergi sebelum ketahuan.


Dan Caster pada akhirnya mengabaikan perasaan itu dan melanjutkan perjalanannya. 


Sambil berjalan pergi untuk keluar dari gedung terbengkalai ini, wanita ini sedikit memberikan satu senyuman kecil sambil bergumam. "Caster." 


Dia menyebut namanya dalam gumaman lirih. Dan dalam sekejap mata ketika wanita ini sudah ada diambang pintu, sosoknya dalam sekejap langsung menghilang.


____________


Di masa yang sama, Ethan berjalan seorang diri di tengah suasana yang sangat sepi itu.


[Benar-benar melelahkan. Baru juga satu hari di kelas itu, tapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan. Bagaimana dia bisa betah di tempat seperti itu?] Ethan yang kini sudah menyandang nama sebagai Nathan selama satu setengah hari, berhasil dibuat frustasi gara-gara di kelas barunya dia terus diganggu. Itu disebabkan punya kelas yang cukup berisik dan membuat Ethan masih belum terbiasa dengan keadaan kacau balau seperti di dalam medan perang.


Sebuah keadaan yang terpaksa harus Ethan  terima untuk menjadi Nathan untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Atau akan berlangsung selamanya? Ethan tidak tahu dan hanya berpikir untuk melewati masa hari-harinya di tahun terakhir dia sekolah di Academy.


Selagi berjalan pulang ke asrama, Ethan sempat menoleh ke samping kanan, terlihat ada sebuah kedai yaitu toko yang menyediakan segala jenis senjata. Itu adalah tempat dimana Nathan membuat pedangnya sendiri dan itu di sini. 


Ethan tahu betul alasan kenapa saudaranya membuat pedang sendiri adalah karena anggaran yang Nathan terima tidaklah sebanyak Ethan. Maka dari itu Nathan memilih mencari sendiri bahan untuk membuat pedang, alhasil Nathan membuat pedangnya sendiri di sini.


"Nathan." Dengan tatapan dinginnya Ethan memanggil nama saudaranya dengan nada lirih. Tidak ada yang bisa dia dapat kecuali kenangan masa lalu.


Ethan kembali menatap ke depan sebelum akhirnya tiba-tiba saat mengambil dua langkah pertama, hadiah kejutan langsung dia dapatkan.


JEDUG......


"Akh!" Rintih Ethan setelah dagunya di hantam sesuatu dengan begitu cepat. Sesuatu yang keras tiba-tiba muncul dari bawah dan karena datang secara mendadak, Ethan langsung terkena imbasnya dengan rasa sakit yang sangat lumayan tepat di dagunya.


"Lumayan" Sambil tersenyum getir.


Tiba-tiba suara dari seseorang itu segera menyadarkan Ethan untuk melirik ke bawah. Seorang perempuan yang sudah berjongkok sambil memegang kepalanya sendiri untuk beberapa waktu sebelum akhirnya kembali berdiri seolah rasa sakit di kepalanya sudah hilang dalam sekejap.


Karena hantaman tak terduga itulah penyebab dari semua sakit yang mereka berdua terima.


"Apa kau tidak lihat jalan?" Tanyanya, sedikit kesal dengan Ethan.


"Bukankah kau sendiri yang berjongkok sembarangan di tengah jalan?!" Balas Ethan dengan nada sedikit tinggi. 


Dagunya yang berharga jadi ternodai oleh hantaman yang keras gara-gara perempuan ini?


Setelah melihat perempuan di depannya menoleh ke arahnya, Ethan langsung berteriak. "Kau?!" 


Ethan langsung menunjuk pada seorang perempuan yang menjadi tersangka, ternyata adalah gadis yang kemarin sedang menonton pertandingannya dengan Nathan.


Dan itu adalah Eldania.

__ADS_1


Dengan ekspresi wajah masam, Eldania sedikit mundur ke belakang. Lagi-lagi dipertemukan dengan seseorang, tapi yang kini sedang berdiri di depannya adalah kembarannya Nathan. Padahal pagi tadi sudah bertemu, tapi kini dia bertemu dengannya lagi.


[Kenapa dia berjongkok di tengah jalan seperti ini?] Tatap Ethan dengan wajah curiga, sekaligus mendapati raut wajah masam dari perempuan ini. [Kenapa dia melihatku seperti aku adalah orang menjijikan?! Padahal wajahku tampan, banyak yang tertarik denganku, tapi kenapa dia justru terlihat sebaliknya?] 


"Padahal jelas sekali, jalanan sepi begini. Berarti yang salah itu kau. Apa matamu ditaruh di belakang kepala?" Gumam Eldania pada Ethan. Lalu langsung berbalik meninggalkannya begitu saja.


Dengan wajah tercengang setelah mendengar gumaman yang masih bisa Ethan dengar dengan jelas, Ethan segera memberi peringatan. "K-kau...berani juga ya? Aku itu seniormu!" Memberitahu bahwa perempuan di depannya ini harus bersikap sopan kepada seorang senior.


"Mau senior atau bukan bagiku orang yang salah, ya tetap salah." Jelas Eldania lagi, mengabaikan Ethan yang ada di belakangnya. 


[Apakah ini sifat aslinya?] Ethan langsung berteriak kepada Eldania yang pergi mengabaikannya. "Berhenti! Siapa yang menyuruhmu pergi?" ucap Ethan. 


Eldania menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke belakang. Namun Eldania hanya diam membisu sambil menatap wajah Ethan dengan begitu dalam.


"Dirikulah yang menyuruhku untuk segera pergi dari sini." Jawab Eldania, sambil menatap Ethan dengan begitu lekat.


JLEB........


Ethan yang terperangah dengan kata-kata perempuan ini yang masih saja bisa meladeni ucapannya, segera membalasnya lagi sebelum kembali di tinggal pergi. "Apa kau kemarin melihatnya?"


Ethan tetap masih menyimpan rasa penasarannya kepada perempuan ini, jadi dengan sengaja langsung bertanya pada poin utamanya, karena terlihat     Eldania sangat enggan untuk mendengar ucapan basa-basi.


"Ha?" Dengan wajah bingung, Eldania memutar tubuhnya lagi menghadap Ethan yang sudah membuat jarak sedikit jauh dengannya. "Apa maksud dari pertanyaanmu tadi?" Dengan kedua tangan bersilang di depan dada Eldania benar-benar penasaran apa maksud dari pertanyaannya Ethan, sekalipun dia sendiri sudah tahu permasalahan dari satu orang iblis ini.


"Apa kau yang kemarin menonton pertandinganku?"


[Dia langsung bicara ke poin intinya ya?] Pikirnya. Eldania akhirnya mengangguk sekaligus bertanya. "Kenapa?" Seolah masih tidak mengerti tujuan utama Ethan yang sedang bertanya ini.


Tetapi di satu sisi, Ethan di buat berpikir kembali akhirnya menyadari sesuatu. [Ah! Mana mungkin dia tahu siapa Nathan, bahkan aku sendiri belum memberitahu namaku padanya, apa yang sedang aku harapkan dari perempuan ini sih? ] Ethan benar-benar mengutuk dirinya sendiri, bertingkah sok kenal dengan perempuan yang faktanya baru bertemu 3 kali. 


Di titik ini Ethan belum memperkenalkan dirinya kepadanya dan dia sendiri juga belum tahu siapa perempuan ini.


".....................?" Hanya keterdiaman dengan raut wajah berpikir dari Ethan, Eldania langsung angkat suara. "Jika tidak ada lagi yang mau di bicarakan, aku pergi." Dengan nada yang sedikit dingin.


"Sebentar! Namamu! Namanu siapa?!" Tanya Ethan.


"Ha?" Eldania sedikit memiringkan kepalanya dengan ekspresi acuh tak acuh. "Apa hanya itu? Jangan tanya nama orang lain, jika yang tanya saja belum memperkenalkan di-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, satu suara keras langsung memotong ucapannya dengan sebuah teriakan.


" AARGHH...!" 


"Yang tadi itu!" Seketika Ethan langsung memasang wajah waspada.


"Teriakan?" Eldania melanjutkan, sambil celingukan mencari asal suara tadi.


Tapi Ethan yang merasa familiar dengan suara itu, segera berlari dari tempat dia berdiri. Ethan segera mengambil arah kanan menuju ke sebuah gang.


Eldania yang tidak mau ditinggal setelah mendengar teriakan tadi, langsung berusaha berlari mengekori Ethan yang berlari dengan langkah lebarnya itu.


DRAP...........DRAP.........DRAP..........


Ethan terus melewati gang sempit itu, ketika di depannya menemukan tembok yang merupakan sebuah jalan buntu, tidak kehilangan akal, Ethan berlari di dinding menuju ke atas. Tepat di ujung tembok pagar, Ethan langsung melompat.


Eldania yang tidak begitu mempermasalahkan pagar penghalang yang menjulang lumayan tinggi itu, segera naik ke bak sampah lalu melompat setelah memberikan sihir penguat untuk ke dua kakinya. Agar daya dorongnya untuk melesat dengan cepat, bisa membuatnya melompati dinding ini.


TAP.....


Di balik dinding, mereka berdua mendarat di atas rumput dengan begitu mulus. 


Tepat di jarak 50 meter di depan sana terlihat seorang perempuan tergeletak tepat di bawah sebuah pohon besar.


"Hah....hah...hah....., Angela?!" Ucap Ethan, sebagai orang pertama yang sampai terlebih dahulu dan menemukan seorang perempuan bernama Angela yang merupakan teman kelas Nathan yang sekarang adalah teman satu kelasnya sudah terbaring di atas rumput tepat di bawah pohon.


Eldania yang baru saja sampai, juga melihat kondisi Angela yang terlihat pingsan?


"Dia cuma pingsan." Ucap Ethan.


Eldania yang tidak terima dengan kesimpulan dari Ethan langsung menyangkal. "Ini, bukan sekedar pingsan! Kau kan punya mata iblis, apa kau tidak sadar kalau bagian dalam tubuhnya sudah kering?!" Jelas Eldania memperingatkan.


"Sudah kering?" Ethan yang tadi hanya melihat Angela dengan asal, segera mengaktifkan mata iblisnya. Kenyataan pahit tidak seperti yang terlihat, di dalam tubuh Angela, darah yang seharusnya mengalir, kini sudah seperti sungai yang kehilangan airnya.


Eldania kemudian berjalan lebih dekat dan ikut berjongkok di sebelah kiri Ethan sambil sedikit menjelaskan. "Prana......., atau lebih tepatnya, energi kehidupannya. Darah dalam tubuhnya sudah hampir habis. Kalau dibiarkan lebih lama, dia bisa mati." Jelasnya, dengan wajah serius. 


Baginya, ini adalah kasus pertama yang Eldania lihat dengan mata kepalanya sendiri. Cukup mengejutkan, tapi Eldania tidak bisa melakukan apa-apa.


"Apa! mati?!"

__ADS_1


"Hmm....., jika aku jadi kau, aku akan langsung menanganinya. Tapi masalah dasarnya aku manusia dan dia iblis. Karena kau iblis, harusnya bisa menolongnya." Jelasnya lagi. "Atau kau butuh batu perantara?" Eldania yang tidak berpikir panjang lagi, melepaskan sebuah bandul yang dipasang di ikat pinggang rok bagian samping kanan, dan memberikannya kepada Ethan secara cuma-cuma.


"Batu apa ini?" Ethan menerima bandul pendulum berwarna hitam dan ketika di perhatikan, Ethan mempunyai perasaan yang berbeda. Saat tangannya memegang batu itu ada sebuah energi yang tersimpan cukup kuat, padahal hanya batu kecil sepanjang jari kelingkingnya.


"Itu adalah batu 'mana'." Eldania memberitahu nama batu tersebut. Batu 'mana' yang dia berikan kepada Ethan adalah batu pemberian dari Everst. Dan karena untuk berjaga-jaga, sesekali saat punya waktu luang, dia akan merubah pecahan batu 'mana' menjadi aksesoris kecil. 


Aksesoris yang jika dilihat akan terlihat seperti batu biasa, namun saat menyentuh batu ini maka baru bisa diketahui bahwa batu yang terlihat seperti kristal hitam, ternyata menyimpan sebagian besar 'mana' yang biasanya diperlukan dalam tubuh seseorang untuk keadaan terdesak.


[Apa?! Batu 'mana' ? Batu seberharga ini, diberikan kepadaku?] Ethan jadi melirik perempuan di sampingnya ini dengan penuh rasa curiga.


Dalam hidupnya Ethan, yang dia ketahui tentang batu 'mana' maka itu adalah benda langka yang cukup berharga untuk kaum iblis, karena batu itu tidak bisa ditemukan di wilayah kaum iblis. Sekalipun ada, maka harganya cukup mahal. 


Menyadari Ethan meliriknya, Eldania jadi kembali memperingatkan. "Jika mau membiarkannya mati, sebaiknya kembalikan itu." Hendak merebut kembali batu 'mana' miliknya, Ethan segera menjauhkan batu yang ada di tangannya dari tangan Eldania yang hendak direbut.


Melihat Ethan bersikap demikian, Eldania mengurungkan niatnya itu dan membiarkan Ethan melakukan hal yang ingin Ethan lakukan kepada Angela dengan batu ‘mana’ itu.


"Nanti akan aku ganti." Jawab Ethan sembari mengepalkan kepalan tangan kanannya ke depan, tepat ke arah dimana Angela terbaring.


"Cuma batu, tidak perlu di ganti." Jawabnya. [Lagipula, aku mendapatkannya secara gratis dari Everst.]


Tapi lain hal yang di pikirkan Ethan. [Dia bilang cuma batu? Apa dia tidak tahu kalau batu ini sangat berharga bagi kaum iblis?] Ethan tahu apa yang harus dia lakukan, yaitu menyalurkan energi sihirnya ke dalam batu 'mana' yang Ethan genggam, setelah itu sebuah cahaya merah sedikit bersinar akhirnya memberikan sebuah hasil.


"Uhukk...! Uhuk....!" Angela terbatuk.


Eldania yang sedang melihat Ethan sedang menyembuhkan temannya itu mulai bernafas lega. [Jika aku yang melakukannya, artinya sama saja aku mempercepat kematiannya.] Batinnya.


Pasalnya di sini ada bom berjalan yang menghantui mereka. Itu karena Eldania punya kekuatan suci, si malapetaka untuk kaum bangsa iblis. 


Walaupun kehilangan satu aksesorisnya, itu lebih baik ketimbang melihat wajah pria di sebelahnya yang terlihat tidak enak dipandang itu.


SHAAA..!


"....................!" Merasakan sebuah kehadiran, Eldania segera menoleh ke arah kiri, tepat dimana sebuah halaman belakang kosong yang dipagari beberapa pohon. 


Eldania terus menatap ke arah sana selagi menunggu Ethan menyelesaikan penyembuhannya kepada perempuan iblis itu. Tapi itu hanya berlangsung sesaat sampai akhirnya Eldania menyadari sesuatu yang datang sangat cepat, sedang menuju ke arahnya.


"Itu........--, Awas!" Seketika Eldania berteriak memperingatkan Ethan yang masih jongkok itu agar menghindar. 


SYUHHT........


Ethan yang sedang menyembuhkan Angela, saat Eldania berteriak, dalam sekali kedip tepat Ethan menoleh ke arah kiri. Dan tepat di detik itu juga benda tak kasat mata sudah berada di depan matanya untuk membunuhnya?!


Tapi itu tidak terjadi sampai dalam detik yang sama satu tangan tiba-tiba terulur tepat di depan Ethan dan sebuah kilauan dari pedang yang tiba-tiba muncul langsung menghasilkan suara yang cukup keras.


CTANG......


Di detik berikutnya suara lain dari daging yang terdengar seperti dipotong, segera mengisi keheningan sesaat itu.


CRACTT.....


"...............!" Sepersekian detik itu, Ethan langsung melihat cipratan cairan merah yang merupakan darah membasahi rumput. "A-apa itu?!" Tanya Ethan dengan ekspresi tercengang.


Eldania membelalakkan matanya dengan sempurna, saat melihat tangan kanannya berdarah dan samar-samar terlihat sebuah senjata seperti rantai bertombak kecil menancap alias rantainya melilit lengannya, dan tombak itu berhasil menembus bagian pergelangan tangannya.


Ethan yang tidak percaya dengan apa yang sedang di lihatnya, refleks bertanya dengan wajah tercengang. " Kenapa kau....? Bukan! Tapi darahmu....! Kau berdarah hebat begitu!" Ucap Ethan dengan wajah panik. Ethan tidak begitu mengerti, tidak mengertinya adalah, [Kenapa dia menerjang senjata tadi untukku?] 


[Aku tidak menyangka......ujung senjatanya hanya bergesekkan dengan pedangku saja.] Eldania tidak tahu yang dia hadapi ternyata bukanlah sekedar tombak, tapi ada rantai yang langsung menjerat lengannya, dan hasilnya kini dia terluka.


Senjata yang berhasil melukai tangannya pun akhirnya menghilang begitu saja, tapi tidak dengan lukanya.


Eldania kemudian berdiri, menghadap ke arah dimana awal serangan tadi muncul.


"M-memangnya kau tidak merasa sakit?!" Tanya Ethan, mamandang tangan kanan dari perempuan ini sudah berlumuran darah seolah baru saja mencuci tangan dengan air darah.


"Sakit......., rasa sakitnya sangat parah" Jawab Eldania, tanpa merubah ekspresinya yang serius.


"..................." Tapi apa yang di lihat Ethan, wajahnya Eldania tidak seperti mengisyaratkan orang yang tidak merasakan rasa sakitnya. Tapi sebuah ekspresi marah, sampai-sampai sorotan matanya sudah memunculkan sebuah dendam, dendam untuk membalas apa yang baru saja diterimanya itu.


Pedang yang di pegangnya pun, ikut berlumur darahnya sampai darahnya mengalir dari gagang pedang ke ujung pedang. 


Jika dilihat dari jarak sudut pandang yang sedikit jauh, maka gadis ini terlihat baru saja membantai orang dengan membabi buta, tapi faktanya itu adalah darahnya sendiri.


Eldania lalu mengambil langkah pertamanya, dan langsung sedikit berteriak pada Ethan. "Ethan, kau rawat saja dia." Dalam seketika Eldania langsung berlari memburu orang yang sudah membuat perkara dengannya tepat di jam-jam santainya ini.


Sedangkan Ethan melamun melihat kepergian perempuan itu begitu saja dengan pesan terakhir yang Ethan terima adalah kalimat dengan satu kata paling menonjol, yaitu Eldania baru saja namanya. 

__ADS_1


 "Ethan?!" Pekik Ethan dalam gumaman yang di penuhi dengan nada penekanan yang kuat. [D-dia, memanggil namaku?! Tapi bagaimana? Bagaimana dia bisa tahu namaku?Tidak, justru bukan itu yang jadi pertanyaanku, bagaimana bisa dia ingat nama ' Ethan ', jika semua orang di sekelilingku saja, tidak mengingatnya itu?]


__ADS_2