Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
25 : Eldania


__ADS_3

Eldania lalu memakaikan sesuatu pada rambutnya, kemudian di detik berikutnya tubuhnya langsung berubah sedikit lebih tinggi, warna rambut yang awalnya berwarna coklat berubah menjadi warna hitam, dan saat berbalik, tangan kanannya sudah mengangkat senjatanya dan diarahkan ke wajah gadis itu, gadis berambut merah itu langsung terkesan dengan perubahan penampilan Eldania yang begitu drastis serta sempurna.


WUSHH……


Rambut hitam berkilau layaknya langit malam, berpadukan dengan iris mata berwarna biru, yang indah bagaikan biru samudra. “Warna matamu, ternyata bisa berubah menjadi lebih indah. Itu seperti warna air laut yang terakhir kali aku ingat.“ katanya, dengan senyuman lebar yang terukir indah. 


Di akhir hidupnya dia akhirnya bisa melihat seorang pria yang cukup mirip seperti pria sejati, karena tampangnya yang terlihat dingin, membuatnya apa yang dilihatnya semakin terlihat menawan, seakan dirinya terkena ilusi dengan penampilan Eldania.


“ …………….. “ Tanpa sepatah kata lagi, jari telunjuknya pun menarik pemicunya.


“Sampai jumpa lagi.“ kata terakhirnya, sebelum akhirnya dia memejamkan matanya. 


Sedangkan Eldania hanya berdehem dan tanpa rasa simpati ataupun rasa bersalah, akhirnya dia mengabulkan keinginan gadis kecil itu.


Sebuah cahaya biru dari laras pistol yang Dania gunakan, mengartikan sihirnya langsung aktif, dan ujung dari moncong pistol yang bercahaya itu langsung berubah menjadi kilatan kecil. Yang dalam sekejap membuat sosok gadis berambut merah itu segera lenyap dari pandangannya.


WUSHH……


Layaknya sebuah asap, sosoknya seketika menghilang dan rantai yang membelenggu kedua tangan gadis itu langsung terjatuh dalam kondisi yang masih terkunci.


Itu adalah senjata rahasianya, yang akan digunakan jika sudah dalam mode laki-laki. Senjata yang sudah dia kembangkan, bersamaan dengan sihir yang sudah dikombinasikan bersama dengan data pengetahuan yang mencangkup aktivasi sihir itu sendiri, membuat senjatanya bisa dikatakan adalah teknologi pertama yang pernah ada di dunia ini.


Tidak akan ada yang tahu tentang senjata yang dia miliki itu, karena sudah tertanam sihir yang membuat orang lain tidak dapat menganalisanya. 


Senjata yang bisa melenyapkan apa yang dilihatnya tanpa perlu turun tangan. Dan baru kali ini, dia menggunakan untuk melenyapkan makhluk hidup. 

__ADS_1


Penelitian yang dia kembangkan selama beberapa tahun terakhir, bahkan sebelum Eldania mengetahui dirinya mampu menggunakan sihir, dia sebenarnya sudah menelitinya lebih awal.


Karena dia adalah gadis yang menggemari sihir dan teknologi, membuatnya memadukan dua hal itu menjadi senjata paling mutakhir yang pernah ada.


[Kalau begini, memang tidak ada rasa mengancam yang memacu adrenalin, tapi apa boleh buat.] Eldania mengedikkan bahunya tidak peduli. [Hmm….aku bahkan tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan. Apa karena aku sudah terbiasa?] Dia menatap kedua tangannya dengan begitu serius. 


Dia pada akhirnya tetap melakukan kebiasaan dari pekerjaan lamanya.


[Tapi dia kan monster, yang hanya berwujud menyerupai manusia. Apa mungkin karena itu?] pikirnya lagi.  


____________


[Perasaan ini….] Wanita bertubuh separuh ular ini langsung menoleh ke belakang dengan wajah bengisnya. [Kekuatan dari kuil darah mulai menurun. Siapa yang melakukannya?!] Dengan wajah penuh amarah, wanita siluman ini kembali menatap tiga orang tersisa yang berhasil menghindari kekuatan dari mata mistiknya.


Kekuatan dari mata mistik nya adalah kekuatan yang mampu membuat apa yang dia lihat bisa menjadi batu. Tetapi dari sekian banyak orang yang sudah menjadi batu, tiga orang itu masih bertahan karena terbantu dari dinding sihir yang dibuat oleh seseorang yang tidak dapat diketahui, karena hawa keberadaannya disembunyikan.


Lalu keberadaan dari Durandal yang dalam sekejap menghilang, segera meninggalkan jejak lubang besar di depan mereka bertiga.


Durandal pergi lewat bawah tanah, dan tujuannya adalah kembali ke kuil darah, karena beberapa saat tadi dia sudah merasakan kejanggalan mengenai energi di kuilnya tiba-tiba saja langsung  menurun drastis. 


Sedangkan Duke Avrel dan Irine hanya menatap kekosongan dari tanah yang berubah menjadi lubang yang sangat dalam. 


“Kenapa dia tiba-tiba pergi?“ tanya Irine.


“Daripada itu, apa yang harus kita lakukan yang mulia, mereka sudah menjadi batu, gara-gara mata mistiknya.“ ucap Evan, melihat sekelilingnya. Para ksatria yang bertahan untuk menyerang wanita siluman tadi pada akhirnya berubah menjadi batu. 

__ADS_1


Padahal manusia biasa, tapi tekad mereka menanggapi musuh yang tidak sepadan tidak membuat mereka langsung menyerah. 


Tapi hasilnya?


Sebuah patung sempurna karena berasal dari tubuh manusia asli yang berubah menjadi batu dan berjejer rapi di depan mata mereka semua.


“Apa ada cara mengatasi perubahan mereka?" tanya Evan pada tuannya.


“ ………… “ Duke Avrel hanya terdiam, memandang puluhan patung dalam berbagai posisi. Dia sedang berpikir, tapi sedikit tidak mungkin dengan jalan keluar yang sudah dia temukan. Namun Avrel tetap mencoba memberitahunya. “Air suci yang sudah diberkati oleh pendeta agung.“


“Tapi ...kuil terdekat dari wilayah ini adalah kuil Arcande. Itu membutuhkan satu jam perjalanan, dan mereka-“ Evan tidak berani melanjutkan ucapannya.


Duke Avrel tahu, bahwa patung batu itu hanya bertahan kurang dari satu jam, dan jika sudah lewat, maka mereka akan hancur dan tidak bisa diselamatkan lagi. 


“Yah~....apa boleh buat. Kau jangan lupa Evan, tugas utama menjadi ksatria adalah melindungi apa yang mereka yakini. Mereka sudah bertaruh dengan nyawa mereka, berarti mereka adalah orang yang memang sudah tahu semua resiko menjadi seorang ksatria.


Lagipula ini bukan pertama kalinya melihat rekanmu mati di pertempuran kan? Aku akan memberikan lebih banyak uang santunan untuk ksatria yang gugur. Jadi bersiap lembur.“ Beritahu Avrel kepada Evan, agar Evan sadar diri dan tahu posisi sebenarnya menjadi orang yang berada di baris terdepan dalam sebuah pertarungan, memiliki resiko seperti kematian.


Sekilas Irine dan Evan terdiam, kali ini jumlah korban terbanyak dimenangkan hari ini.


[Tapi apa kita tidak bisa berbuat apapun?] Evan geram pada dirinya sendiri, dia tidak bisa melakukan banyak hal. Apalagi setelah melihat pemandangan rekan seperjuangannya sudah berubah menjadi batu.


Jika saja kuilnya dekat, maka ada harapan untuk menyelamatkan mereka. Tetapi Evan tahu, dia tidak akan bisa melakukannya sekalipun dia berkuda dengan kecepatan tinggi. Waktu tetap tidak memberikan kesempatan.


“Aku bisa membantu kalian.“ 

__ADS_1


“................!“ Tiga orang ini langsung menoleh kebelakang secara bersamaan, setelah mendengar tawaran dari pria berjubah hitam itu.


Terrian.


__ADS_2