Kesatria Eldania S2

Kesatria Eldania S2
42 : Eldania


__ADS_3

Setelah kepergiannya, Arga tetap berdiri dan menatap punggung gadis itu dari kejauhan. Punggung yang kian menjauh. 


WUSHH……


Sedangkan Everst dia merubah ukuran tubuhnya menjadi ukuran normal dan pergi mengekori Eldania dari atas.


“ Apa dia memang seperti itu?. “ tiba-tiba Arga bergumam. Ernald merasa kalau orang yang dia kenal, sedikit berbeda dari yang dipikirkan nya selama ini.


“ Siapa kamu sebenarnya?. “ Evan bertanya penasaran dengan sosok lain dari dalam tubuh Arga yang sedang dikuasai oleh roh lain.


“ Aku?. “ Arga atau lebih tepatnya Ernald, dia pun menoleh ke arah Evan dan menatapnya sesaat sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan Evan seadanya. “ Aku adalah seseorang yang dia kenal di masa lalu. " jawabnya, tanpa mengalihkan lirikannya kepada perempuan yang sudah pergi jauh darinya. 


“......................”


______________


Eldania.


Wajahnya tetap menampilkan ekspresi wajah seriusnya hanya karena gara-gara memikirkan Arga!?.


Dia bukan bersimpati atau apapun itu. Melainkan hanya terus terpikirkan karena ternyata ada juga dimana tubuh seseorang dirasuki oleh seorang yang Eldania kenali dari kehidupan lalunya?.


Eldania tertawa cekikikan.


" Ahahaha……., ada juga yang seperti ini?. " Eldania menggerutu pelan dengan wajah konyolnya sambil menanggalkan pakaiannya satu persatu. 


“...............” Ditemani dengan Everst, Everst terdiam duduk di atas bantalnya yang empuk sambil memperhatikan Eldania yang terlihat frustasi antara percaya dan tidak percaya.


Bahwa teman bicaranya beberapa waktu lalu, sosok yang Eldania kenal?!.

__ADS_1


“ Tapi kira-kira siapa?. Tidak mungkin juga dia. “ Eldania terus bergumam menerka siapa sebenarnya sosok yang ada di dalam tubuh Arga saat ini. 


Tidak memperdulikan bahwa Everst sudah ada di tempatnya, Eldania terus melepaskan satu persatu pakaian yang sudah digunakan selama seharian penuh.


Sampai saat hendak mengambil pakaian barunya yang ada di dalam tas dan tas itu sendiri tergeletak di sebelah Everst, Eldania dan Everst pun jadi saling menatap satu sama lain. 


“..............” Meskipun Everst hanya diam saja, tapi sayangnya sepasang matanya terus menatap Eldania dari bawah sampai atas. 


“ Ada apa?. “ Celetuk Eldania. 


Terkadang, dalam pikirannya tercetus ingin sekali mencongkel mata itu karena burung ini lebih banyak melihat hal dari dirinya.


“ Tidak. “ jawab Everst dengan nada ketusnya juga.


“ Tapi matamu terus menatap ke arahku. Aku mengerti tubuhku kurus kering, jadi jangan berharap sesuatu dariku. “ Eldania berkata memperingatkan, atau sebenarnya adalah memberitahu. 


“ Aku tidak mengharapkan apapun darimu. Aku juga tidak peduli tentang tubuhmu itu kurus atau gemuk. Tapi aku hanya peduli soal apa yang sedang kau pakai saat ini. “ ujar Everst. Dia tidak mempermasalahkan soal tubuh dari perempuan yang ada di depannya itu, karena yang menarik perhatiannya saat ini tidak lain adalah pakaian yang sedang dikenakan oleh Eldania.


Karena gemas ada burung yang bisa bicara di depannya, dengan sengaja Eldania memukul ringan kepala Everst dengan bogem tadi.


Lalu satu hal lain. Sayangnya, salah satu orang bodoh yang di maksud oleh Eldania tadi sebenarnya juga ada di depannya.


Yaitu Everst sendiri.


“...............!. “ Everst langsung memberikan tatapan datar kepada perempuan ini gara-gara tiba-tiba memukul kepalanya yang berharga, karena itu membuat dirinya seolah manggut-manggut seperti burung bodoh.


“ pftt….ini menyenangkan. Kenapa tidak membentakku seperti tadi?. “ Dengan senyuman cerah di wajahnya, Eldania memberikan empat kali pukulan ringan di kepala Everst. “ Itu pertama kalinya aku dibentak sampai aku sangat terkejut. Sebenarnya kesal juga, tapi karena itu kau, anehnya rasa kesalku langsung hilang begitu saja. “ jelas Eldania. 


Jika mengingat kejadian beberapa waktu lalu, dimana Everst tiba-tiba membentaknya dengan keras. Sejujurnya Eldania juga sangat ingin memarahinya juga. Tapi karena ada alasan lain dibalik kemarahan temannya itu, Eldania pun membalas ucapannya dengan alasan dari keberadaan Everst terus di sisinya adalah untuk melindunginya.

__ADS_1


Ah…


Dan mata cerah dengan senyumannya membuat Everst tidak bisa berkata apapun. [ Lagi-lagi dia seperti ini. ] Everst menghela nafas pelan, lalu menepis tangan Eldania yang dari tadi memukul-mukul kepalanya dengan pelan. 


Eldania langsung menarik tangannya karena sudah ditepis oleh burung elang ini. “ Jadi katakan, apa maksud dari ucapanmu yang mengatakan kalau dia adalah orang yang berbahaya?. “ tanya Eldania menuntut sebuah jawaban.


Meski Eldania tahu sekaligus beberapa kali mencurigai perilaku Everst dari segi sisi yang terlihat seperti manusia, tetapi Eldania, sekarang dia bersikap biasa saja walaupun sekarang dia hanya memakai pakaian minim di depannya. 


Dan Everst tiba-tiba saja memiringkan kepalanya, seolah menjadi burung bodoh yang tidak mengerti ucapannya Eldania barusan.


“................!. “ Senjata yang membuat Eldania semakin tidak tahan ingin memeluknya!.


Seketika logikanya mati, dan mengabaikan pertanyaan yang barusan dilontarkan kepada Everst. Dan dalam sekejap mata kedua tangan Eldania langsung menyambar tubuh burung itu dan mendekapnya erat dalam pelukannya. 


“ Ahh….!. Kenapa kau seperti ini?. Aku jadi tidak tahan karena ini. Bilang saja kalau ingin dipeluk, jangan bertingkah imut seperti itu. “ racau Eldania. Dia benar-benar sudah dalam kondisi menjadi seorang maniak.


Terobsesi dengan sesuatu yang berlebihan dan diantaranya adalah pada seekor burung.


“ ….…….!. ” Everst mendapatkan pelukan erat yang membuat tubuhnya terhimpit kuat antara kedua tangan dengan dadanya. [ Walaupun tidak begitu berisi, tapi yang namanya dipeluk oleh wanita, tetap saja seperti ini. ] Merasakan adanya keempukan di suatu tempat.


Dan kedua insan ini pun terlena untuk melepaskan perasaan mereka dalam pelukan hangat itu.


[ Benar-benar hubungan yang harmonis. ] pikir burung hantu ini. 


Setelah mengamatinya selama beberapa waktu ini, dia sering melihat perempuan bernama Eldania itu benar-benar memiliki ikatan hubungan yang cukup erat dengan Elang bernama Everst melebihi sebelumnya.


" Sini….aku berikan sampai puas. " Eldania langsung membawanya ke tempat tidur. Dia masih memeluknya seolah Everst adalah boneka peluk.


[ Ah….dia memang terobsesi denganku, atau karena wujudku?. ] Untuk pertama kalinya Everst berpikir demikian. Dan dalam diam jadi kesal sendiri, karena yang disukai oleh gadis yang sedang memeluknya ini justru terlihat menyukai wujudnya yang menjadi burung. [ Lain kali aku akan membuatmu memelukku dengan wujud asliku, wanita. ] Everst pun bersumpah serapah.

__ADS_1


Dia akan mengabaikan pemikiran tadi dengan sumpah kalau di masa mendatang, pelukan yang akan ia terima dari Eldania adalah pelukan saat ia menjadi sosok manusia.


__ADS_2