
Desi mengingat lagi kejadian sore tadi. Ia menghela nafas berat saat ia kembali ingat akan perkataan sang ayah.
Maafkan Papi. Papi janji akan mengurus semuanya. Berikan Papi waktu dua hari untuk membuat pernikahan semeriah mungkin. Kau dan Alex sudah Papi restui. Papi mohon jangan lakukan hal bodoh lagi.
Begitulah kata-kata yang di ingat Desi saat tadi sore ia mencoba untuk melakukan percobaan bunuh diri.
Dua hari?
Kenapa Papi akan menikahkan ku dalam waktu dua hari?
Batin Desi. Saat tadi ia mengingat akan perkataan sang ayah. Desi tak bisa menolak perkataan sang ayah. Karena jika ia menolak pasti pernikahannya akan batal lagi.
Sesaat ia mengambil ponselnya yang ada dia atas meja nakas. Sepertinya ia akan mengirimkan pesan pada seseorang.
Bukankah aku hebat?
Aku sudah melakukan satu pengorbanan agar kita bisa menikah.
Seharusnya kau berterimakasih padaku karena berkat pengorbanan ku, keluarga ku akhirnya merestui hubungan kita.
Desi mengetikkan pesan lewat via WhatsApp pada Alex. Saat ini ia sedang duduk di atas tempat tidurnya. Duduk bersila sambil memangku bantal. Setelah keluarga besar Wijaya tadi pulang, Desi di antar ke kamar oleh ibunya. Ia merasa lega saat ia dan Alex sudah mengantongi restu dari kedua orang tuanya terutama sang ayah.
Hampir sepuluh menit ia menunggu balasan dari Alex. Namun sepertinya Alex enggan menjawab pesan dari Desi. Padahal Alex telah membacanya. Terlihat dua centang biru telah diterima oleh Desi. "Hah..." Desi menghembuskan nafasnya kasar ke udara. "Apa dia tidak tau cara berterima kasih?" Katanya sendiri. Memaki Alex yang tak kunjung membalas pesannya. Lalu ia kembali mengetikkan pesan pada calon suami sandiwaranya.
Kau dimana sekarang hah?
Kenapa hanya membaca pesanku?
Apa kau tidak berniat untuk membalasnya?
Apa kau tidak tau cara berterima kasih dengan benar?
Seharusnya kau berterimakasih padaku.
Karena luka di tanganku membuat Papi merestui hubungan kita.
Pesan beruntun kembali ia kirimkan pada Alex. Pesan juga telah dibaca oleh sang penerima. Sesaat Desi mengembangkan senyum di wajahnya saat Alex sedang mengetikkan suatu pesan padanya. Namun sesaat juga senyum di wajahnya menghilang seketika saat ia membaca pesan yang dikirimkan Alex padanya.
Kenapa aku harus berterima kasih padamu?
Bukankah ini semua ide mu, untuk mengajakku menikah selama satu tahun?
Seharusnya kau lah yang berterima kasih dengan benar padaku.
__ADS_1
Karena jika tadi aku tidak mengobati lukamu pasti ayahmu tidak akan merestui hubungan sandiwara ini.
Desi tak percaya dengan pesan yang ia baca baru saja. Ia tak menyangka balasan pesan yang ia terima dari Alex. Ia kembali menghembuskan nafas kasar ke udara. Lalu kembali mengetikkan pesan pada Alex.
Apa ini sifat aslimu?
Kenapa kau sangat dingin sekali?
Aku tidak percaya akan menikah dengan orang seperti mu.
Pesan terkirim. Kini Desi mencoba menahan amarahnya saat Alex membalas pesan yang tak sesuai harapannya. Desi pikir, Alex akan berterima kasih atau sekedar mengucapkan kata-kata yang tak membuat emosinya memuncak. Namun sepertinya Alex benar-benar sudah membuat emosi wanita yang saat ini tengah duduk di atas tempat tidur seakan tak bisa mengontrol emosinya.
Desi kembali melihat pesannya yang terkirim ke Alex namun ia hanya bisa kembali menghela nafas berat saat lagi-lagi Alex hanya membaca pesannya dan sepertinya memang tak berniat untuk membalasnya. "Wah... Aku bahkan belum jadi istrinya. Namun sikapnya benar-benar acuh padaku," Desi sudah kesal dengan sikap Alex. Saking kesalnya ia langsung menelfon Alex namun ia sangat terkejut saat nomor Alex sudah tidak aktif lagi. "Aaa..." Teriak Desi. "Aku benar-benar akan membunuhmu..." Katanya sendiri di depan layar ponselnya. Seperti ia memaki Alex di depan wajahnya.
*
Sedangkan di rumah Alex. Ia kini juga sedang berada di atas tempat tidurnya. Ia menyelimuti dirinya hingga batas dada. Setelah tadi ia menonaktifkan ponselnya, kini ia malah sangat gelisah. Memutar badannya ke kanan dan ke kiri. Berharap dengan begitu ia bisa tidur dengan nyenyak. "Aaa..." Pekiknya pelan seraya duduk. Ia mengacak rambutnya kasar. "Kenapa dia bilang sikapku sangat dingin? Apa dia tidak melihat betapa khawatirnya sikap ku tadi saat ia melukai tangannya? Dasar perempuan aneh! Seharusnya dia yang harus berterima kasih padaku, karena berkat aktingku orang tuanya memberikan restunya." Ia kembali membaringkan tubuhnya keras di atas tempat tidur. Perlahan ia memejamkan matanya. Mengontrol nafasnya agar bisa setenang mungkin.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
***
Di waktu yang sama di kamar utama keluarga Wijaya. Alika duduk di atas kasur bulu. Ia masih mencari jawaban kenapa tiba-tiba Alex dan Desi akan melangsungkan pernikahan. Jilbabnya sudah ia lepas tadi, saat ia selesai mengganti pakaiannya dengan setelan piyama berwarna biru langit.
Sedangkan Farel baru keluar dari kamar mandi. Dia juga sudah memakai setelan piyama dengan warna yang sama dengan sang istri. Ia hanya melihat Alika sekilas. Ia tak langsung menghampiri Alika karena masih ada tugas yang lebih penting lagi sekarang. Tadi sore Bima menelfon jika ada data perusahaan yang akan ia kirimkan pada Farel.
Farel berjalan ke arah meja nakas. Ia mencari ponselnya namun ponsel yang ia taruh biasanya di atas meja nakas saat ini tengah tak ada. "Sayang kau tau dimana ponselku?" tanya Farel yang masih mencari ponselnya di semua laci meja nakas. Namun pencariannya sia-sia. Ia tak menemukan dimana ponselnya. "Sayang apa kau tau dimana ponselku?" Tanya Farel untuk yang kedua kalinya saat ia tak mendengar jawaban dari sang istri. Namun ia masih saja mencari ponselnya tanpa henti. "Sayang..." Ia sudah menyerah. Seluruh kamar sudah ia jelajahi namun ponselnya seakan raib. "Sayang kau mendengarku?" Tanya Farel yang melihat ke arah Alika yang masih duduk terdiam di atas kasur bulu. "Kenapa dengannya?" Gumam Farel yang kini menyadari bahwa Alika sedang termenung. "Sayang..." Perlahan mendekati Alika. Lalu ia duduk bersila di sebelah sang istri. "Sayang kau baik-baik saja?" Tanya Farel seraya memegang tangan Alika.
Dan saat itu pula Alika tersadar dari lamunannya. Ia menatap Farel lekat. "Ada apa? Ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya Alika yang secara spontan mengeluarkan pertanyaan tersebut dari mulutnya.
Farel terdiam sejenak. "Apa kau sedang sakit?" Tanyanya seraya memegang kening istrinya.
"Ahh aku baik-baik saja. Aku tidak sakit," jawab Alika sambil meraih tangan Farel yang masih berada di keningnya. "Aku hanya mengkhawatirkan Desi," kata Alika dengan mimik wajah khawatirnya.
Farel tak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya. "Kenapa mengkhawatirkan Desi yang sebentar lagi sudah mencapai kebahagiaannya dengan Alex?"
"Tapi..."
"Sudahlah. Jangan khawatirkan Desi. Dia pasti baik-baik saja. Lagipula bukannya kau sekarang harus fokus pada gaun pengantin yang akan dikenakan Desi dua hari lagi?" tanya Farel lagi. Ia bahkan tak menyangka jika teman Alika akan menyiksa sang istri dengan memberi pekerjaan membuat gaun pengantin yang akan selesai selama dua hari. "Aku rasa dia bukan teman yang baik," kata Farel dengan muka cemberut. "Mana ada orang yang menyiksa temannya dengan memberi pekerjaan yang selesai dalam waktu dua hari?" Kini raut wajahnya sudah berubah menjadi kesal.
__ADS_1
Apa lagi ini? Kenapa dia sepertinya sedang kesal sekali? Batin Alika
"Sayang..." Alika memegang kedua tangan Farel. Membawa dua tangan itu berada di dalam genggamannya. "Jangan berkata seperti itu. Dia temanku. Wajar kan kalau dia ingin memakai gaun pengantin buatanku?" Katanya mencoba meyakinkan Farel agar tak terlalu menyalahkan Desi.
"Ya tapi kan..." Farel terdiam saat mulutnya berhasil ditutup rapat oleh bibir Alika.
Sesaat Alika melepaskan ciumannya. "Jangan membahas Desi lagi. Sekarang katakan apa yang membuatmu kesal seperti ini?"
"Ahh benar. Kau melihat ponselku? Dari tadi aku mencarinya namun sampai saat ini aku tidak menemukannya," kata Farel sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya.
"Biar aku telfon ponselmu. Jika nanti masih aktif berarti ponsel kamu nanti akan berbunyi kan?" Kata Alika memberi solusi. Lalu ia meraih ponselnya yang tadi ia taruh di sebelah bantalnya.
"Kau memberi namaku apa di kontak ponselmu?" Tanya Farel yang sedikit melihat ke arah ponsel Alika ketika Alika sedang mengotak-atik ponselnya.
Alika tersenyum. "Kenapa kamu penasaran sekali? Memangnya di pikiran kamu, nama kamu di ponselku apa?" Tanya Alika.
"Aku tidak mau jawab. Mana sini aku mau lihat," kata Farel seraya meraih ponsel milik istrinya.
"Iya aku akan mencarinya," kata Alika yang kembali meraih ponselnya dari tangan Farel. Ia mencari nama imamku di kontak ponselnya. "Lihat ini namamu di kontak ponselku," kata Alika seraya mendekatkan layar ponselnya di depan wajah Farel.
Farel hanya terdiam saat ia tau kalau Alika menamainya dengan nama imamku di kontak ponsel milik Alika.
"Kenapa diam?" Tanya Alika sambil menjauhkan ponselnya dari wajah Farel. "Apa kamu sedang terharu saat tau aku menamai kamu dengan nama imamku di ponselku?" Tanya Alika namun di jawab kediaman oleh Farel. "Hem..." Alika menghembuskan nafas pelan. "Aku jadi penasaran dengan namaku yang kamu pakai di ponsel kamu sayang," lalu segera ia menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan pada ponsel suaminya.
Tak menunggu waktu lama. Ketika deringan pertama ada nada dering masuk di ponsel milik Farel. Ada getaran di bawah bantal. Alika lantas membuka bantal tersebut. Ia terdiam saat tau nama yang dipakai Farel untuk nomor ponsel miliknya.
"Kenapa? Kau terharu dengan namamu yang aku pakai di ponselku?" Tanya Farel yang mengulang pertanyaan Alika tadi padanya. Ia malah tertawa saat Alika tak menjawab pertanyaannya. "Memangnya kau pikir nama apa yang ku pakai untuk menamaimu di ponselku hah?"
Perlahan Alika menatap Farel. Tak terasa air matanya luluh begitu saja. Entah kenapa saat ini ia begitu emosional. Ia menaruh ponsel miliknya yang masih melakukan panggilan pada ponsel suaminya. Sesaat ia menghambur ke pelukan Farel. Ia menangis sampai sesegukan. Ia tak percaya bahwa Farel akan memberikan nama itu di ponselnya. "Dari kapan memberi nama itu di ponselmu?" Tanya Alika yang masih memeluk Farel erat.
"Dari pertama kali kau menjadi sekertaris ku," jawab Farel sambil mengusap punggung Alika.
Mendengar jawaban dari Farel, Alika langsung melepaskan pelukannya. "Benarkah?"
"Apa kau pikir aku seorang pembohong?"
Alika langsung menghambur ke pelukan suaminya lagi. Ia tak menyangka bahwa Farel begitu sangat mencintainya. "Terimakasih..."
"Bukankah sudah ku bilang kalau kau harus berterima kasih dengan benar."
Alika memukul sedikit keras punggung suaminya. Dan ditanggapi tawa oleh Farel. Farel masih saja mengusap penuh arti punggung Alika. Mencoba menenangkan tangisan Alika.
Sedangkan ponsel Alika masih saja dalam keadaan memanggil ponsel Farel. Alika benar-benar terharu saat tau kalau Farel menamai dirinya dengan nama Bidadari Surgaku di ponsel milik suaminya.
__ADS_1
Bersambung