
Enam polisi laki-laki dan tiga orang kepercayaan Alex di tambah lagi Bima kini sudah mengepung para penculik Desi. Semuanya kalap saat mereka diserbu tanpa persiapan apapun. Mereka pikir semuanya akan berjalan sesuai rencana Hendra dan Bu Dina. Namun sepertinya Alex kini bertindak selangkah lebih maju dari apa yang ayahnya pikirkan.
Senyum ejekan keluar dari bibir Alex ketika ia bisa melihat kekhawatiran yang nampak jelas di wajah ayah serta Bu Dina. "Terimalah apa yang seharusnya kalian dapatkan," lalu sesaat ia melepaskan diri dari empat orang yang dari tadi memegangnya. Menghajar satu persatu orang suruhan ayahnya.
Sedangkan orang suruhan Hendra lainnya sedang mengeluarkan senjata api dari balik baju mereka. Mencoba membela diri mereka masing-masing ketika para polisi maju ingin menangkap mereka. Adegan saling tembak dan adu pukul akhirnya tak terhindarkan.
Maya yang turut melangkah ke depan ingin membantu Alex kini langkah kakinya terhenti saat ia dihadang oleh salah satu orang suruhan Hendra. Maya memberikan tatapan tajamnya pada pria yang saat ini berdiri di hadapannya namun tatapan matanya seakan tak mempan mengusir pria tersebut. "Apa kau akan melawan seorang wanita?" Tanyanya yang di jawab tawa oleh pria didepannya.
"Disini bukanlah tempatmu. Seharusnya kau berada di rumah dan berlindung di bawah ketiak ibumu."
Perkataan pria tersebut berhasil memprovokasinya. Dengan nafas yang memburu kini ia menendang keras perut pria itu. Namun tendangannya membuat pria tersebut marah besar. Dan akhirnya perkelahian di antara keduanya tak terhindarkan.
"Sial!" Umpat Hendra yang melihat semua rencananya berantakan kini sudah bersiap melarikan diri. Jika ia tertangkap kembali oleh pihak polisi, ia pasti akan mendekam di balik jeruji besi lebih lama lagi. Ia bahkan tak berpikir akan menguasai perusahaan yang Alex tadi diberikan kepadanya. Dengan langkah setengah berlari ia menuju ke arah pintu yang tadi dilalui oleh Alex.
"Anda mau kemana tuan?"
Suara Bima berhasil membuat Hendra menghentikan langkahnya. "Kau..." Hendra menggantungkan kalimatnya saat ia sedikit teringat akan sosok pria dihadapannya. Ia bahkan sudah membelalakkan kedua matanya saat lagi-lagi ia teringat akan mantan sekertarisnya yang wajahnya hampir mirip dengan pria yang saat ini berdiri di hadapannya. "Apa kau... Bagas..."
"Benar. Anda masih mengingat saya?" Tanya Bima dengan nada mengejek. "Masalah kita belum selesai," katanya lagi yang mengangkat balok kayu ke udara. Membuat Hendra ketakutan setengah mati.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Bukankah seharusnya anda harus membayar kedua kaki anda untuk ayah saya," kata Bima dengan tatapan mengintimidasi. Lumpuhnya sang ayah hingga saat ini karena ulah Hendra yang menyuruh orang suruhannya untuk menghabisi nyawa ayahnya. Beruntung ayahnya masih diberi umur panjang hingga saat ini. Namun ketidakberuntungan ayahnya terletak pada kedua kakinya. Sampai saat ini kedua kaki ayahnya bahkan tak bisa digerakkan. "Bukankah sepadan jika kaki juga harus dibayar dengan kaki?"
Perkataan Bima lagi-lagi berhasil membuat Hendra ketakutan. Ia kembali berlari ke arah lain ketika ia dikejar oleh Bima. Namun lagi dan lagi langkah kakinya terhenti saat Bima memukul kaki Hendra dengan balok kayu yang dipegangnya.
Para polisi masih mengepung beberapa orang suruhan Hendra yang berlari keluar dari bangunan. Adegan saling tembak masih terdengar melengking di telinga.
Sedangkan Bu Dina yang melihat akan kekalahannya yang sudah di depan mata kini mengarahkan pandangannya pada wanita hamil yang masih duduk di kursi dengan kedua tangannya yang masih terikat. Tujuannya melakukan semua ini adalah ingin menyingkirkan Desi. Ia tak mau jika harus dirinya nanti tertangkap dan Desi akan bahagia. Semua ia lakukan demi keponakan perempuannya yakni Sandra. Ia ingin Sandra bahagia. Itu adalah prioritas utamanya. Dengan langkah pasti, kini Bu Dina berjalan mendekati Desi. Melepaskan ikatan pada wanita hamil itu.
"Apa yang anda lakukan Bu?" Desi sudah terlihat panik saat melihat Bu Dina yang melepas ikatan di tangannya.
__ADS_1
"Diam kau." Sudah terlihat geram saat Desi menolak pegangan tangannya. Sesekali ia melihat ke arah Alex, Maya, Bima, Adi, Rafi dan beberapa polisi yang masih melakukan perkelahian. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk membawa Desi keluar dari bangunan tua ini. Ia akan menghabisi Desi secara perlahan, agar ia tau bagaimana rasanya arti menderita yang sebenarnya.
"Lepaskan tangan saya Bu. Lepaskan..." Sudah mencoba memberontak. Namun kandungan yang memang sudah membesar membuatnya kesulitan untuk bergerak secara leluasa. Di samping menyelamatkan dirinya sendiri kini ia juga harus memikirkan nasib bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Aku bilang diam!" Perintah Bu Dina lagi seraya menarik secara paksa tangan Desi agar mengikuti langkahnya.
"Lepaskan Bu..." Sudah menangis dan memegang perutnya bagian bawah karena terasa nyeri yang sangat hebat. "Alex... Alex..."
Dan disaat Alex masih berusaha melumpuhkan musuhnya, kini telinganya menangkap suara sang istri yang sedang meronta-ronta menyebut namanya. Ia melihat kursi kayu yang tadi di duduki oleh Desi namun Desi tak ada disana. Dan disaat ia kembali mendengar sang istri yang menyebut kembali namanya membuat ia melihat ke asal suara. Matanya membulat sempurna saat Desi sudah berada di ambang pintu dengan ditarik oleh Bu Dina. "Sial..." Umpatnya. Namun sesaat ia dijatuhkan oleh pukulan pria suruhan Hendra. Segera ia mengambil senjata api yang ada di saku jasnya dan langsung menembak pria yang tadi sudah berduel dengannya.
Mendengar suara tembakan membuat Maya melihat ke asal suara. Ia juga mengambil senjata apinya dan memulai menembak juga. Ia harus memprioritaskan keselamatan atasannya. Berjalan sambil melepaskan beberapa tembakan saat ada orang suruhan Hendra yang akan melukai atasannya.
Alex yang sudah merasa dilindungi kini ia berdiri dan berlari ke arah pintu, dimana tadi Bu Dina telah membawa istrinya keluar.
Dan disaat Maya masih sibuk melepaskan tembakan, disaat itu pula ia tak sadar sedang diperhatikan oleh pria suruhan Hendra. Pria tersebut sedang membawa pisau. Berjalan dengan pasti ke arah Maya. Ia harus melenyapkan Maya, meski dia wanita namun sepertinya Maya adalah wanita tangguh. Dan disaat ia akan menancapkan pisau di pinggang Maya disaat itu pula Bima menghadang pria suruhan Hendra tersebut. Dan pada akhirnya ialah yang terkena luka tusukan pisau di bagian perutnya.
"Bima..." Teriak Maya saat tau Bima lah yang menyelamatkan dirinya. Matanya melihat darah segar yang keluar dari perut Bima dan sebilah pisau yang masih menancap di perut Bima. Sedangkan Adi dan Rafi langsung menghajar bergantian pria yang telah menusuk Bima dengan pisau.
"Ke-kenapa kau me-menangis?" Tanya Bima dengan nada terbata-bata. Menahan rasa sakit di bagian perutnya. "Bu-bukankah a-aku sudah me-menuhi jan-janjiku padamu."
"Jangan banyak bicara. Nanti..."
"A-aku sudah me-melindungi dirimu de-dengan nyawaku..."
"Bima..." Tangis Maya semakin pecah saat melihat wajah Bima semakin memucat.
"Ja-jangan me-menangis. Kau ter- terlihat sangat jelek..."
*
Sedangkan diluar bangunan tua tersebut Alex masih mencari keberadaan Desi yang dibawa oleh Bu Dina tadi. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh luar bangunan namun ia tak dapat menemukan Desi, sampai ia dikejutkan oleh suara tembakan yang mengarah padanya. Namun beruntung tembakan tersebut tak mengenainya. Alex buru-buru berlindung kebelakang mobil yang berwarna putih. Masih memegang senjata api yang ia bawa dari rumah. Mencoba mencari siapa tadi yang telah melepaskan tembakan padanya.
__ADS_1
"Bu Dina..." Teriak Alex yang sepertinya sudah tau siapa yang telah menembakkan peluru padanya. "Sebaiknya kau menyerah. Atau kalau tidak..."
"Kalau tidak apa?"
Perkataan Bu Dina membuat Alex membulatkan kedua matanya tak percaya. Dari balik mobil ia bisa melihat Bu Dina tengah menodongkan senjata api pada kepala sang istri. Kemudian ia keluar dari belakang mobil dan berdiri di samping mobil tersebut dan menodongkan senjata apinya pada wanita paruh baya di hadapannya. "Lepaskan istriku."
Bu Dina tertawa keras saat melihat Alex yang memang mati-matian membela istrinya. "Maafkan saya tuan muda. Tapi tekad saya sudah bulat. Jika saya memang tak bisa melenyapkan istri anda secara perlahan maka saya akan langsung membunuhnya saat ini juga," katanya dengan nada penuh ancaman.
Alex masih melihat istrinya yang wajahnya semakin memucat. Melihat tangan istrinya yang masih memegang perutnya bagian bawah. Sepertinya saat ini Desi sedang menahan sakit dengan perut yang sudah membesar seperti itu. Ia harus bertindak dengan cepat atau kalau tidak nyawa sang istri sebagai taruhannya. "Apa yang kau inginkan?" Tanyanya yang mengulur waktu saat melihat ada dua orang polisi yang akan menyergap Bu Dina dari belakang.
"Letakkan senjata anda di bawah."
Instruksi Bu Dina segera Alex laksanakan. Toh sebentar lagi Bu Dina juga akan di amankan oleh dua polisi yang saat ini sudah semakin dekat dengan kepala asisten rumah tangganya. Setelah berhasil menaruh senjata apinya di tanah, kini ia berdiri dan menaruh kedua tangannya di belakang kepala. "Jangan sakiti Desi," katanya yang membuat Bu Dina kembali tertawa. "Sandra pasti tidak akan senang jika melihat Bu Dina seperti ini."
Pernyataan Alex membuat tawa Bu Dina sirna seketika. Ia sudah merasa geram saat majikannya mengatakan nama Sandra. "Anda salah. Sandra pasti akan senang jika nona Desi lenyap."
"Kau salah," kata Alex yang menyanggah persepsi yang diberikan oleh Bu Dina. "Sandra sangat menyayangi Desi. Dia akan sangat murka jika tau kalau semua ini adalah ulah Bu Dina."
"Diam!" Teriak Bu Dina. Ia semakin mendekatkan senjata api yang ia pegang di kepala Desi. "Sandra pasti akan senang jika saya melenyapkan istri anda. Sandra pasti akan..."
Belum selesai Bu Dina menyampaikan pendapatnya kini ia dipukul di bagian leher bagian belakang oleh salah satu polisi yang dari tadi sedang mengintai dibelakangnya. Seketika itu pula Bu Dina tersungkur di tanah. Bahkan senjata api yang ia pegang tadi juga sempat jatuh ke tanah. Tangannya yang dari tadi menahan Desi kini sudah terlepas lantaran ia sudah di amankan oleh dua orang polisi tersebut. "Kurang ajar... Lepaskan aku..." Meronta-ronta meminta ingn segera dilepaskan agar ia bisa dengan segera menghabisi nyawa Desi. "Lepaskan aku..."
Merasa sudah aman kini Desi berjalan ke arah Alex dengan perasaan lega. Mereka hanya terpisah dengan jarak tiga meter. Dengan langkah sedikit pincang Desi masih berusaha berjalan mendekati Alex.
Sedangkan Alex juga sudah berjalan setengah berlari ke arah Desi. Ingin segera memeluk wanita yang sangat ia cintai. Namun sesaat langkah kakinya terhenti ketika Desi terkena tembakan di bagian punggungnya. "Desi..." Ia bisa melihat dengan jelas saat Bu Dina merebut senjata api di pinggang salah satu seorang polisi dan menarik pelatuknya ke arah Desi. "Sayang..." Alex mempercepat langkahnya saat Desi sudah mulai tersungkur ke tanah. Ia berhasil menangkap tubuh Desi sebelum benar-benar jatuh ke tanah. "Sayang..." Ia hanya bisa melihat Desi yang tersenyum padanya dan akhirnya menutup kedua matanya dengan sempurna. "Desi..."
Bersambung
__ADS_1