
Pagi ini Adi dan Rafi bertugas menyerahkan kembali pria misterius tersebut ke pihak berwajib. Entah bagaimana dia keluar dari sel tahanan, namun atas perintah Alex kini Adi dan Rafi sudah berjalan dengan memegangi pria misterius tersebut agar tak bisa lari kemana-mana. Namun belum juga mereka memasuki pintu kantor polisi, pria misterius tersebut sudah terkapar karena mendapat tembakan di bagian dadanya dari seseorang yang tak diketahui.
Semua orang yang berada di sekitar kantor polisi terkejut dengan suara tembakan apalagi ada seseorang yang mengeluarkan banyak darah di depan kantor polisi tersebut.
Polisi yang sedang bertugas juga langsung berlari ke arah suara tembakan. Mereka langsung memberikan pertolongan pertama pada korban namun sayang pria misterius tersebut tidak dapat diselamatkan.
Adi dah Rafi hanya bisa saling menatap satu sama lain saat kejadian yang tak diinginkan benar-benar terjadi di depan mata mereka.
*
Di waktu yang sama, di rumah sakit jiwa. Alex, Farel dan juga Bima sedang berjalan ke lorong rumah sakit. Mereka bertiga mengikuti langkah seorang perawat perempuan yang sudah ditugaskan merawat Hendra Wijaya.
Namun ke empatnya seakan tak percaya saat melihat kamar Hendra Wijaya tengah kosong. Tak ada jejak dari pasien. Bahkan sang perawat sudah kebingungan ketika ia tak mendapati sang pasien di seluruh kamar.
Alex sudah geram dengan tidak adanya ayahnya di kamar. "Aku mau melihat CCTV di rumah sakit ini!" Perintah Alex sudah dilayangkan. Ia bahkan tak ingin mencari kemana dulu sang ayah. Perawat perempuan tadi sudah bilang jika pada saat jam pagi seperti ini biasanya pasien masih berada di kamar. Namun sepertinya tidak dengan hari ini. Hendra Wijaya bahkan tak meninggalkan jejak sama sekali. Alex memang ingin bertindak cepat. Ia ingin semuanya cepat selesai. Saat ini ia begitu mengkhawatirkan keadaan sang istri yang tengah hamil besar. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada sang istri.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Alex ,Farel dan juga Bima bahkan tak percaya dengan CCTV yang mereka lihat. Disana terlihat jelas jika Hendra tengah meninggalkan rumah sakit dalam keadaan baik-baik saja dan menuju lorong yang sudah tak terpakai.
"Sial!" Umpat Alex kesal. Ia sudah kalah satu langkah saat ia benar-benar percaya ketika sang ayah memang tengah mengalami gangguan jiwa.
"Lex..." Tangan Farel sudah memegang pundak saudara sepupunya. Saat ini ia merasa sangat bersalah ketika dulu ia sangat mempercayai bahwa pamannya memang benar-benar gila. "Maaf..."
"Sudahlah. Ini bahkan bukan salahmu," jawab Alex yang memang tak berniat menyalahkan Farel. Ia dulu memang tak percaya jika sang ayah gila namun karena pendapat Farel yang meyakinkan dirinya bahwa ayahnya benar-benar gila membuatnya juga meyakini hal tersebut. Alex mengacak rambutnya frustasi. Ia sudah kehilangan sang istri dan sudah bisa ia yakini kalau ayahnya lah yang menculik Desi. Namun saat ini ia masih bingung akan mencari kemana sang istri. Namun disaat memikirkan sang istri kini dirinya teralihkan dengan deringan ponselnya tanda ada panggilan masuk. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Langsung menggeser icon berwarna hijau saat membaca nama Adi yang tengah menghubunginya. "Ada apa?" Alex mendengarkan apa yang saat ini dijelaskan oleh salah satu orang kepercayaannya. Namun lama-kelamaan ekspresi wajahnya seketika menjadi tegang saat ia mendengar penjelasan dari Adi. Tanpa mengakhiri panggilan telepon kini ponselnya sudah terjatuh ke lantai.
"Lex ada apa?" Farel dan Bima merasakan ada yang tidak beres dengan telepon yang Alex terima.
*
Alex baru menuruni mobil ketika Bima menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya. Ia akan memikirkan cara mencari keberadaan sang ayah yang sampai saat ini tak tau harus ia cari kemana.
Namun langkah kakinya terhenti di pintu utama rumahnya saat ia melihat ada beberapa orang yang tak ia kenal berada di dalam rumahnya beserta mertua laki-lakinya. "Papi..."
__ADS_1
Darmawan yang sangat mengenal panggilan tersebut kini pandangannya mengarah ke asal suara. Dengan wajah geram ia berjalan mendekati menantunya dan langsung melemparkan sebuah map yang tadi ia pegang. "Apa maksud semua ini?"
Alex tak langsung menjawab pertanyaan dari sang mertua. Ia mengambil berkas yang tadi dilemparkan mertua laki-lakinya yang kini tengah jatuh di lantai. Ia membuka map tersebut. Membaca dengan seksama isi map. Alex membulatkan kedua matanya sempurna saat ia dengan jelas membaca poin-poin yang pernah dulu ia tuliskan di dalam map tersebut. Ya benar, map itu adalah isi dari perjanjian pernikahan sandiwaranya dulu dengan Desi. "Pi... Dari mana Papi..."
"Aku menemukannya di apartemen Desi," Darmawan memotong perkataan Alex yang belum selesai di ucapkan. Nada suaranya sudah meninggi memenuhi seisi ruangan. Ia kembali melangkah mendekati sang menantu. "Apa selama ini kau sedang mempermainkan putriku?" Tanyanya dengan nada geram namun Alex masih tak menjawab pertanyaannya. "Apa kau yang sudah memaksa putriku untuk menikahimu?" Tanyanya yang masih dijawab kebungkaman oleh Alex. "Katakan padaku!" Perintahnya yang kini sudah memegangi kerah baju Alex. Bahkan semua anggota keluarga Alex sudah maju selangkah ketika sikap Darmawan yang begitu marah pada Alex.
"Pi..." Nada suara Alex bergetar saat ia sulit menjawab semua pertanyaan dari mertuanya. Dalam situasi seperti ini ia tak mungkin membeberkan peristiwa yang sebenarnya kurang lebih sepuluh bulan yang lalu. Desi, wanita yang dulu memaksanya untuk menikahinya karena semua perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya membuat Alex menyetujuinya. Namun seiring berjalannya waktu kini keduanya bahkan sudah saling mencintai. Dan Desi kini juga tengah mengandung calon buah cinta mereka berdua. Ia tak mau mengatakan yang sebenarnya saat keluarga mertuanya bahkan keluarganya pun tengah kebingungan akan keberadaan sang istri. Ia hanya tak mau memperkeruh suasana. Bicara yang sebenarnya pun sepertinya akan sulit diterima oleh mertua laki-lakinya. Kini ia hanya akan pasrah saat keluarga mertuanya akan memukulnya habis-habisan sekalipun.
Darmawan yang kembali geram karena pertanyaannya tak kunjung di jawab, membuatnya mengangkat tangan kanannya dan melayangkan tamparan keras di pipi kiri Alex. Sedangkan keluarga Alex hanya bisa diam saja saat Alex sudah mengangkat tangannya agar semua keluarganya tak berhak ikut campur dalam masalah ini. Perlahan ia menundukkan kepalanya. "Maafkan Alex Pi. Alex akan segera menemukan Desi."
"Kau tidak perlu mencarinya. Aku akan mencarinya sendiri," kata Darmawan dengan mata memerah. "Aku bahkan tidak butuh semua pengawalmu. Aku akan meminta bantuan dari polisi agar segera menemukan putriku. Dan setelah Desi ditemukan maka kau bersiaplah untuk mendapatkan surat gugatan cerai darinya," kata Darmawan penuh penekanan di setiap kalimatnya. Ia bahkan tak memberi waktu untuk Alex menjawab semua perkataannya. Kemudian ia berjalan keluar ke arah pintu utama. Namun sesaat langkahnya terhenti saat ia lupa mengatakan kalimat yang sudah ia susun di otaknya. "Kau masih ingat dulu saat aku menentang habis-habisan ketika kau dan putriku akan menikah karena kau adalah anak dari seorang narapidana?" Tanya Darmawan yang lagi-lagi tak dijawab oleh Alex. "Asal kau tau. Aku sangat menyesal telah merestui hubungan kalian berdua." Akhir kata Darmawan seraya berjalan keluar rumah diikuti beberapa anak buahnya yang ia bawa dari rumah.
Sedangkan anggota keluarganya yang saat sudah melangkah ke arah Alex tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat Alex berjalan ke arah tangga menuju kamarnya. Ada rasa sesak ketika ia sudah tak mendapatkan kepercayaan dari sang mertua untuk menjaga istrinya.
Bersambung
__ADS_1