
Bima sibuk dengan ponselnya. Mencoba menghubungi seseorang yang telah ditolongnya. Tepatnya seseorang yang berjenis kelamin wanita yang telah ditolongnya siang tadi. Ingin sekali ia bertemu dengan wanita tersebut. Saat ini dirinya sangat membutuhkan kehadirannya. Entah perasaan apa ini, ketika tak ada wanita tersebut di sisinya ia merasa sangat kehilangan.
Sudah banyak pesan yang ia kirimkan. Namun tak ada satu pesan pun yang di bacanya. Panggilan telepon juga sudah berkali-kali ia coba namun sampai saat ini tak ada respon dari wanita yang ia hubungi. Bima menatap layar ponselnya. Ingin sekali ia banting ponselnya saat semua pesan dan panggilan teleponnya sama sekali tak mendapatkan respon dari wanita yang entah dimana saat ini berada. "Apa dia tidak sedang membawa ponselnya?" Gumamnya lirih. Ia masih duduk bersila di atas pembaringannya. "Apa saat ini dia sedang sibuk?" Gumamnya lagi. Mencoba berpikir positif bahwa wanita yang ia hubungi saat ini sedang melakukan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. "Iya pasti begitu. Ia pasti sedang sibuk saat ini," katanya lagi sendiri sambil berkali-kali menganggukkan kepalanya. "Ia sudah meninggalkan kantor selama beberapa hari ini. Tuan muda Alex juga tak mungkin mengurusi urusan kantor. Dan kini Maya lah yang harus turun tangan sendiri." Berbagai spekulasi positif sudah ia rancang sendiri. Ia tak mau terintimidasi oleh rasa penasarannya sendiri ketika Maya tak kunjung menjawab ponselnya. Namun pandangan Bima sedikit teralihkan ke arah pintu saat ada orang yang membuka pintu ruang perawatannya dari luar.
"Bagaimana keadaanmu?"
Bima masih mematung di tempatnya duduk saat ia melihat atasannya sedang berjalan masuk dan menghampirinya. Mulutnya semakin kaku tak bisa menjawab pertanyaan dari Farel saat ia kembali memperhatikan seseorang yang masuk lagi dari pintu yang sama saat atasannya masuk tadi. Ia melihat atasan Maya yang kini juga berjalan menghampirinya.
"Bima..." Farel memegang pundak asisten pribadinya. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya lagi saat Bima tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Maafkan saya tuan muda," menundukkan kepalanya lalu melihat atasannya yang masih berdiri di samping pembaringannya. "Saya baik-baik saja," tambahnya lagi. Kemudian pandangannya kembali ke arah pintu. Berharap ada seseorang yang menjenguknya selain dua orang laki-laki yang selalu ia hormati di ruang perawatannya.
Alex dan Farel yang menangkap gelagat aneh dari Bima kini juga mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang tadi mereka lewati.
"Kau sedang menunggu seseorang?" Tanya Alex penasaran.
"Eh tidak tuan muda." Jawab Bima seraya menggelengkan kepalanya. Memainkan ponselnya yang masih ia pegang. Ia sangat berharap sekali jika wanita yang ia kirimi pesan saat ini sedang balik menelfonnya. "Tuan muda..." Melihat ke arah Alex sambil tak berhenti memainkan ponselnya. "Bagaimana keadaan nona Desi? Saya dengar dari..."
"Desi baik-baik saja," jawab Alex memotong cepat perkataan Bima. Ia masih menatap gelagat dari Bima yang sepertinya sedang gelisah saat ini. "Bima kau yakin baik-baik saja?" Tanyanya lagi memastikan.
"Saya baik-baik saja tuan." Jawabnya lagi yang sesekali melirik ke arah pintu dan ponselnya bergantian.
__ADS_1
"Bima..." Alex menjeda kalimatnya sebentar. Kedatangannya kesini bukanlah tanpa sebab. Ada hal yang akan ia sampaikan pada asisten pribadi sepupu laki-lakinya. "Aku sangat berterima kasih karena kau telah menyelamatkan Maya," katanya yang membuat Bima termangu di tempatnya duduk. "Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika Maya sampai terluka waktu itu. Di dunia ini Maya tidak mempunyai siapa-siapa. Jadi..."
"Saya tau tuan..." Kata Bima yang menyela perkataan Alex.
"Kau tau? Kau tau tentang apa?" Tanyanya yang nampak keheranan akan penuturan Bima.
"Iya, saya tau kalau Maya tidak mempunyai keluarga. Dia juga sudah bercerita tentang pertemuannya dengan anda dan keluarga anda. Saya tau bagaimana perasaan anda jika sampai kehilangan Maya."
Deg...
"Maksudmu Maya menceritakan semuanya tentang masalah pribadinya?" Tanya Alex memastikan dan di jawab anggukan kepala oleh Bima. Ia kenal dengan Maya sudah lama. Maya bukan tipe wanita yang mengumbar masalah pribadinya pada orang yang baru ia kenal. Alex bahkan tak menyangka dengan semua penuturan dari asisten pribadi sepupu laki-lakinya.
"Apa disini hanya aku saja yang tak tau siapa Maya sebenarnya?" Tanya Farel yang melihat bergantian antara Alex dan Bima. Namun ia tak mendapatkan jawaban dari dua laki-laki di depannya ini.
Sedangkan Alex dan Farel hanya bisa saling melirik satu sama lain. Mereka tau ada yang tidak beres dengan Bima. Farel yang memang lebih tau bagaimana sikap Bima, kini ia langsung merebut paksa ponsel asisten pribadinya.
"Tuan..." Ingin meraih ponsel yang sudah direbut oleh atasannya. Namun karena jangkauannya yang terlalu jauh karena saat ini ia masih duduk di pembaringannya membuatnya tak bisa merebut kembali apa yang menjadi miliknya.
"Kau pasti menyembunyikan sesuatu kan?" Tanya Farel yang masih memegang ponsel asisten pribadinya. Membawa ponsel tersebut di belakang punggungnya agar Bima tak bisa merebut kembali ponselnya.
"Benar... Kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Alex juga ikut penasaran akan sikap Bima yang tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Cepat katakan. Kau sedang menunggu siapa hah?" Farel sudah tak bisa menahan apa yang ada di pikirannya.
"Tuan saya...
"Dan ini..." Mengangkat ponsel Bima ke udara dengan tangannya. "Kau menunggu telepon dari siapa?" Tanyanya lagi dengan nada geram saat Bima lagi-lagi tak menjawab pertanyaannya.
"Coba ku lihat," Alex merebut ponsel Bima dari tangan Farel. Mengecek panggilan terakhir dari ponsel milik Bima. Seketika ia membelalakkan kedua matanya tak percaya saat nama Maya yang coba Bima hubungi. "Kau menghubungi Maya?" Tanyanya yang membuat Bima terdiam tak menjawab pertanyaan darinya. Lalu ia beralih ke aplikasi WhatsApp. Ia kembali dibuat tak percaya ketika Bima mengirimkan banyak pesan pada Maya namun tak ada satupun pesan Bima yang terbaca oleh Maya. Dari semua pesan yang Bima kirimkan pada Maya sudah Alex pastikan jika asisten pribadi Farel ini sedang menaruh hati pada Maya.
"Tuan... Saya mohon tolong maafkan saya. Saya benar-benar tak berniat buruk pada Maya. Saya hanya..."
Alex tak memedulikan apa yang dikatakan Bima. Ia mengambil ponsel miliknya yang berada di saku celana kirinya. Mencoba menghubungi wanita berambut panjang yang saat ini entah dimana ia berada. Tersambung. Baru satu kali bunyi 'tut' namun orang yang saat ini ia hubungi sudah menerima panggilannya. "Kau dimana?" Tanyanya pada orang di seberang sana. "Cepat ke ruang perawatan Bima sekarang." Diam. Sedang mendengarkan penjelasan wanita yang dari tadi coba Bima hubungi namun sampai saat ini Bima bahkan tak mendapatkan respon darinya. "Tidak ada tapi-tapian. Aku tunggu kau disini." Lalu menutup teleponnya secara sepihak. Ia tak mau lagi berdebat dengan sekertaris pribadinya saat ini.
"Tuan apa anda..."
"Kau tau..." Memotong perkataan Bima yang belum selesai. "Maya tidak pernah mengumbar masalah pribadinya pada sembarang orang. Dan sepertinya kau orang pertama yang tau siapa Maya sebenarnya. Dia wanita baik," lanjutnya lagi. Berusaha membantu kesalahpahaman yang tercipta antara sekertarisnya dan sekertaris sepupunya.
Bima diam. Tak menjawab semua penjelasan dari Alex. Seperti tau inti dari penjelasan Alex.
"Jika kau memang sungguh-sungguh berniat baik padanya maka aku hanya bisa memberikan sedikit bantuan padamu."
Perkataan Alex membuat Bima masih terdiam di atas pembaringannya. Ia memang berniat baik pada Maya. Dan sepertinya ia mendapat bantuan dari atasan Maya akan niatan baiknya.
__ADS_1
Bersambung