
Hari ini benar-benar sangat melelahkan bagi sepasang pengantin baru yakni Alex dan Desi. Dari pagi mereka harus menyiapkan hati untuk prosesi akad nikah dan dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan yang memang digabungkan menjadi satu hari.
Setelah acara berakhir kini keduanya pulang ke rumah Alex. Marisa menyarankan Desi untuk segera beristirahat karena Desi sudah terlihat lelah sepanjang hari ini. Kemudian Marisa berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai satu. Sedangkan Sandra sudah menaiki tangga terlebih dahulu.
Dengan tangan kanannya Desi menarik koper berwarna merah maroon yang berisi barang-barang pribadinya. Sedangkan tangan kirinya sedang membawa tas miliknya. Selangkah demi selangkah ia menaiki tangga menuju lantai dua. Mengikuti langkah Alex yang sudah di depannya. Wajahnya sudah berubah menjadi masam ketika melihat Alex yang berjalan di depannya tak menawarkan sedikitpun bantuan untuk membawa koper miliknya. Padahal koper yang ia bawa lumayan berat. Ditambah lagi ia harus menaiki tangga untuk sampai di kamar pria yang kini sudah berstatus sebagai suaminya.
Dengan perjuangan yang keras akhirnya Desi bisa menarik kopernya sampai lantai dua. Namun rasa kesal sudah menyusup dalam dirinya saat ia berharap pria yang berjalan di depannya akan membantunya. Desi menghentakkan koper miliknya di lantai dengan sedikit keras, berharap dengan begitu ia bisa mendapatkan perhatian Alex.
Benar saja. Alex berbalik karena mendengar suara hentakan di belakangnya. "Ada apa?" Tanyanya yang sudah berbalik badan menghadap Desi.
Wah dia memang tidak memiliki perasaan. Bisa-bisanya dia bertanya ada apa pada diriku. Jelas-jelas kalau aku sangat kesulitan membawa koper ini. Tapi dia malah tak merasa bersalah sama sekali. Ya Allah... Kenapa aku harus menikah dengan laki-laki seperti dia?
Batin Desi. Ia semakin merasa kesal saat Alex tak menawarkan sedikitpun bantuan untuk membawa koper miliknya. "Tidak pa-pa," jawab Desi ketus. "Sekarang cepat katakan dimana kamarmu, aku sudah sangat lelah." Kata Desi seraya berjalan ke arah kiri sambil menarik kembali kopernya.
"Kau mau kemana?" Tanya Alex yang masih berdiri dan memperhatikan Desi yang sudah berjalan di depannya.
__ADS_1
Desi menghentikan langkahnya. Kemudian ia berbalik dengan wajah geram. "Memangnya mau kemana lagi? Aku mau ke kamarmu," ujar Desi lagi. Lalu dirinya kembali berjalan ke arah yang tadi ia tuju.
"Tapi kamarku ada di sebelah sini," kata Alex seraya menunjuk ke arah kanan. Arah yang berlawanan dimana Desi berjalan saat ini.
Desi menghentikan langkahnya saat ia kembali kesal dengan tingkah Alex. Ia memejamkan matanya lalu mengambil nafas panjang dan perlahan menghembuskannya.
”Kemarilah... Akan ku tunjukkan kamarku padamu,” kata Alex seraya berjalan ke arah kanan. Dan Desi hanya bisa mengikuti langkah Alex dari belakang dengan tatapan tajamnya.
Alex membuka pintu kamarnya. Menghidupkan sakelar lampu yang berada di sebelah pintu kamarnya. Kemudian ia berjalan memasuki kamar yang sudah satu tahun ia tempati. Ia melepaskan jas yang dari tadi melekat di tubuhnya. Lalu melempar jas tersebut di sofa panjang yang berada di kamarnya. "Kau tidak mau masuk?" Tanya Alex saat melihat Desi yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Disini kamar mandinya..." Kata Alex yang membuyarkan perhatian Desi yang tengah memperhatikan setiap sudut kamarnya.
Sedangkan Desi langsung melihat ke arah Alex. Ia meninggalkan koper tersebut dan berjalan ke arah Alex yang sudah membuka pintu kamar mandinya. Desi sedikit melongok ke dalam. "Luas juga..." Gumam Desi yang kembali memperhatikan setiap sudut kamar mandi suaminya.
"Kenapa? Apa kau pikir kamar mandiku berukuran kecil?" Tanya Alex yang masih memegang gagang pintu kamar mandi. Saat ini ia masih berhadapan dengan Desi.
__ADS_1
"Tidak..." Jawab Desi seraya menggelengkan kepalanya cepat.
"Lalu kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Alex yang menyandarkan badannya di dinding luar kamar mandi. Melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku hanya..." Desi menggantungkan kalimatnya saat ia tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Alex.
Alex tertawa sinis. "Lihatlah. Sepertinya kau tidak bisa jika harus hidup menjadi orang miskin. Kau..."
"Sudah cukup!" Kata Desi yang berhasil membungkam mulut Alex dengan kalimatnya. "Aku lelah. Aku tidak mau berdebat dengan mu. Sekarang minggirlah..." Katanya lagi seraya mendorong tubuh Alex agar menjauh dari pintu kamar mandi. "Aku mau ke kamar mandi dulu," tambahnya lagi seraya masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras.
Alex tersenyum miring melihat tingkah laku Desi. Entah kenapa ia tak bisa marah saat Desi melakukan hal tersebut. Namun di depan Desi ia berusaha keras untuk tak menunjukkan sikap baiknya. Selama satu tahun ia akan menjalani kesepakatannya dengan Desi. Selama itu pula ia akan mencari wanita yang benar-benar mencintainya.
Saat ia memikirkan kesepakatannya dengan Desi. Ia kembali teringat akan sikap Desi yang baru saja menaiki tangga. Ia tau Desi merasa kesal padanya lantaran ia tak membantunya membawa koper milik Desi namun ia pura-pura tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Desi. Lima hari ia mengenal Desi dan selama itu pula ia seakan tau apa yang membuat Desi kesal atau tidak. Ia juga perlahan mencari tau apa yang di sukai Desi dan apa yang tidak di sukai olehnya. Alex kembali tersenyum puas saat ia kembali mengingat momen saat Desi merasa kesal. Entah kenapa itu sangat menghibur dirinya. Dan tanpa ia sadari perasaan yang tak ia harapkan perlahan muncul di dalam hatinya.
Bersambung
__ADS_1