
"Apa ini?" Tanya Alika yang berhasil membawa Desi ke dalam rumah.
"Memangnya ada apa?" Tanya Desi kikuk. Dia tak tau harus menanggapi pertanyaan Alika bagaimana lagi. Ia tau pasti Alika akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Dan salah satunya pasti Alika akan menanyakan bagaimana ia akan menikah dengan Alex. Namun bagai orang bodoh. Desi bahkan tak mau menanggapi pertanyaan sahabat karibnya itu dengan jawaban yang sebenarnya.
"Apa kau sudah gila?" Tanya Alika lagi seraya mendorong pelan kening temannya sampai terdorong ke belakang.
Namun Desi seakan tak punya kekuatan untuk menghentikan aksi Alika. Ia hanya melihat Alika dengan mata sedikit berkaca-kaca. Namun ia tak mau sampai air matanya keluar. Ia sedikit tersenyum untuk menutupi kabut putih yang sudah menutupi kedua matanya. Lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. Berharap dengan begitu air matanya tak tumpah.
"Apa ini karena orang tuamu? Karena mereka sering menjodohkan mu, makanya kau mengambil jalan pintas seperti ini. Kau bahkan tak mengenal siapa Alex sebenarnya, tapi..."
Desi memegang kedua pundak Alika. Entah kenapa berbagai spekulasi yang dikatakan oleh Alika benar adanya. Namun sesuai janjinya pada Alex bahwa tak ada satupun orang yang berhak tau tentang apa yang di sepakati oleh mereka berdua. "Jika saatnya tiba aku akan menceritakan semuanya padamu," kata Desi yang membuat Alika diam seketika.
Alika memang tidak tau apa yang membuat Desi tiba-tiba saja akan melangsungkan pernikahan. Namun entah kenapa dadanya serasa sesak melihat Desi yang tak menceritakan apapun tentang pernikahannya yang datang tiba-tiba. Alika langsung memeluk Desi, mencoba menyalurkan tenaga yang ia miliki agar hati Desi tenang. Ia tau sahabatnya saat ini sedang tak baik-baik saja. Namun Alika akan menunggu sampai Desi menceritakan apa yang membuat dirinya tiba-tiba menikah.
"Aku punya satu permintaan..." Kata Desi yang masih berada dalam pelukan Alika.
Alika langsung melepaskan pelukannya. Menatap sahabatnya yang mempunyai satu permintaan untuknya. "Apa? Katakan apa yang kau mau," tanya Alika pasti.
"Aku mau kau membuat gaun pengantin untukku," jawab Desi yang membuat wajah Alika diam seketika.
*
__ADS_1
Sedangkan di taman depan para keluarga Wijaya berkumpul. Mereka sedang membicarakan mengenai pernikahan Alex. Sore nanti Herlambang menyarankan untuk segera menemui keluarga Darmawan, guna menentukan hari baik untuk pernikahan Alex dan Desi.
Jika semua orang tengah membahas pernikahan Alex dan Desi maka lain halnya dengan Farel. Dari tadi ia sepertinya sudah terlihat menyimpan banyak pertanyaan yang akan ia tanyakan pada Alex. Tanpa ada yang tau Farel menarik tangan Alex agar mengikuti langkahnya.
Mereka berjalan menyusuri taman depan. Alex sesekali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sedangkan Farel hanya melirik Alex yang dari tadi terlihat sedang gelisah.
Kenapa Desi dan Alika lama sekali?
Apa yang sedang mereka bicarakan?
Apa Desi bisa menjawab semua pertanyaan yang Alika ajukan?
Aaa... Dimana mereka sekarang?
"Lu kenapa? Kenapa terlihat sedang gelisah dari tadi?" Tanya Farel yang melihat gelagat aneh dari Alex.
"Gue..." Alex menggantungkan kalimatnya. Sesaat ia kembali menoleh ke arah rumah Farel namun lagi-lagi ia kembali kecewa saat wanita yang dinantinya tak kunjung keluar. "Apa dia baik-baik saja?" Gumam Alex lirih sambil tak berhenti berjalan.
"Desi pasti baik-baik saja," ucap Farel seraya menghentikan langkah kakinya. Ia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Alex.
Sedangkan Alex sedikit terkejut dengan penuturan Farel. Perlahan ia menghembuskan nafas pelan sembari menundukkan kepalanya dalam.
__ADS_1
"Gue gak tau apa yang lu rencanain. Tapi kalau boleh gue kasih saran, pikirkan baik-baik apa yang lu rencanakan," kata Farel mencoba menebak apa yang Alex pikirkan. Dan perkataannya berhasil membuat Alex melihat dirinya. "Pernikahan adalah ikatan yang sakral. Dan jangan sampai lu mempermainkan sebuah pernikahan. Cukup sekali seumur kita menikah dengan orang yang paling kita cintai," kata Farel lagi mencoba menasehati saudara sepupu laki-lakinya. Tangannya kini sudah memegang pundak Alex. "Gue hanya mau bilang. Semoga lu dan Desi bahagia selamanya," lanjutnya lagi yang berhasil membuat Alex tak bisa berkata apa-apa.
***
Sore harinya terjadi kegaduhan di rumah Desi. Saat orang tuanya tiba-tiba saja murka akan kebenaran yang di dapatkan oleh orang kepercayaan keluarga Darmawan.
"Pokoknya Papi gak mau tau. Kamu dan Alex tidak boleh menikah," kata Darmawan dengan emosi yang meledak-ledak.
Sebenarnya semua perjamuan telah disiapkan oleh keluarga Darmawan saat keluarga Wijaya akan datang bermaksud melamar dan meminta ijin mempersunting Desi. Namun saat semua telah siap, orang kepercayaan Darmawan datang menyampaikan pesan yang tak bisa diterima oleh ayah Desi.
Orang kepercayaan tersebut memang di tugaskan oleh Darmawan untuk mencari tau siapa sebenarnya Alex Candra Wijaya. Dan saat itu pula Darmawan mendapat info yang sama sekali tak ia sangka. Alex adalah putra dari Hendra Wijaya. Orang yang kini mendekam dalam penjara lantaran ingin merebut kekuasaan yang dimiliki oleh kakaknya yakni Herlambang Wijaya. Orang yang di penjara karena banyaknya kejahatan yang ia lakukan. Kejahatan yang membuat Darmawan benar-benar murka saat mendengarnya. Kejahatan yang membuat menantu keluarga Wijaya yakni Alika sampai akan meninggal pada waktu itu. Bahkan saat itu Darmawan tidak tahu jika Alika teman dari putri tunggalnya sedang dalam masa kritis. Desi memang tak pernah cerita apapun perihal Alika pada orang tuanya. Hingga kedua orang tua Desi tak mengerti siapa keluarga Wijaya sebenarnya.
"Tapi Pi..." Desi yang sedang duduk di sofa mencoba protes saat tiba-tiba saja sang ayah menyuruhnya untuk membatalkan rencana pernikahannya.
"Tidak ada tapi-tapian," jawab Darmawan memotong perkataan Desi. Ia masih berdiri di samping sang istri. "Jika ayah Alex bisa melakukan kejahatan pada menantu keluarga Wijaya. Lantas apa yang akan ia lakukan padamu? Papi gak mau tau. Kamu dan Alex tidak boleh menikah. Titik!" Perintah sudah keluar dari mulut Darmawan.
Tanpa terasa air mata yang tadi Desi tahan keluar juga. Ia bahkan tak menyangka akan terjadi seperti ini. Padahal ini hanyalah pernikahan sandiwaranya. Namun entah kenapa ia bahkan tak ingin jika pernikahannya dibatalkan. "Papi gak boleh kayak gini. Papi..."
"Apanya yang gak boleh?" Bentak Darmawan yang membuat Desi kaget. Matanya sudah memerah lantaran menahan geram. "Papi adalah ayah kamu. Kamu mau menikah dengan siapa itu urusan Papi. Papi akan mencarikan kamu suami yang tepat. Dan yang pasti suami kamu bukanlah Alex..."
"Desi hanya akan menikah dengan saya om..."
__ADS_1
Perkataan tersebut berhasil membuat keluarga Darmawan melihat ke asal suara. Di pintu masuk, keluarga Darmawan melihat keluarga besar Wijaya yang sudah berdiri disana entah dari kapan.
Bersambung