Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kebenaran


__ADS_3

Alex segera menuruni mobilnya saat Adi telah menghentikan mobil majikannya di halaman rumah Paulina Desi Darmawan yakni istri sah dari Alex Candra Wijaya. Satu mobil dibelakang Alex yang memuat para pengawal juga ikut berhenti.


Alex sudah menangkap hal aneh di halaman depan rumah mertuanya. Ia sudah menugaskan beberapa pengawal untuk menjaga rumah mertuanya. Namun tak ada satu orangpun yang terlihat di halaman sang mertua. Ia lalu berlari ke arah dalam rumah disusul Adi dan Rafi yang pintunya sudah terbuka lebar. Sedangkan para pengawal lainnya sedang berkeliling ke arah sekitar rumah.


Alex terkejut saat mendapati kedua mertuanya sedang dalam keadaan terikat di ruang tamu sambil mulutnya tertutup dengan lakban. Bahkan ada beberapa luka memar di bagian wajah kedua mertuanya. Alex dengan dibantu Adi dan Rafi segera membuka penutup mulut dan melepas ikatan di badan kedua mertuanya. "Sebenarnya ada apa Pi-Mi?" Tanya Alex yang kini menjadi tegang saat melihat kedua mertuanya.


"Desi... Desi..." Tanpa bisa menjelaskan kini ibu Desi sudah menangis histeris. "Desi... Anakku..." Teriakan histeris kembali menggema di setiap sudut ruangan.


Sedangkan sang ayah hanya bisa merangkul dan menenangkan wanita yang sudah puluhan tahun menjadi istrinya.


"Sebenarnya ada apa Pi?"


"Desi di culik Lex," Darmawan memberi penjelasan singkat pada menantunya.


"Sial!" Umpat Alex seraya melemparkan pukulannya ke udara. Melampiaskan rasa kesalnya akan semua kejadian yang tak pernah ia kira. Antisipasinya ternyata salah besar. Ia pikir dengan membawa sang istri ke rumah orang tuanya sendiri akan menjadikan Desi lebih aman. Namun sepertinya persepsinya benar-benar salah. Kini ia harus menelan pil pahit akan permasalahan yang semakin membuatnya lebih sulit. Keadaan Desi yang sedang hamil besar membuat pikiran Alex benar-benar kacau. Ia sudah menyelidiki akan siapa yang diam-diam telah menjadi musuhnya. Namun semua usahanya sia-sia. Ia tak menemukan siapa yang telah berani mengganggu kehidupan keluarganya.


*


Pukul satu dini hari. Alex sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk menjaga penuh rumahnya dan rumah mertuanya. Ia sudah kehilangan sang istri. Ia tak mau keluarganya juga terancam dengan masalah ini.


Beberapa saat kemudian Farel dan juga Bima datang ke rumah Alex. Mereka benar-benar terkejut dengan kabar yang mereka terima saat tengah malam begini.


"Dimana Alex?" Tanya Farel yang baru saja memasuki kediaman sepupu laki-lakinya yakni Alex.


"Mari saya antarkan tuan," jawab Adi yang langsung berjalan di depan Farel dan Bima. Mengantarkan orang yang juga ia hormati selain keluarga Alex. Adi masih berjalan ke arah gudang rumah majikannya yang terdapat dibelakang rumah. Kemudian ia membuka pintu gudang tersebut.

__ADS_1


Farel dan Bima membelalakkan kedua matanya saat mereka tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Alex. Suami sah dari Paulina Desi Darmawan itu saat ini tengah memukul habis-habisan pria berjenggot yang usianya hampir empat puluh tahunan.


"Apa yang lu lakuin Lex?" Farel sudah menarik tangan Alex. Berusaha mencegah saudara sepupunya melakukan tindakan kriminal.


"Lepasin gue!" Sudah mendorong tubuh Farel agar tak lagi memegang tangannya. Ia akan menyelesaikan masalahnya malam ini juga. Dari tadi ia sudah frustasi saat pria misterius yang tengah dipukulnya tak mengatakan yang sebenarnya perihal dimana saat ini istrinya disembunyikan.


"Apa lu udah gila?" Teriak Farel yang lagi-lagi memegang lengan Alex ketika saudaranya akan melayangkan kembali pukulannya pada pria misterius tadi. "Jika sampai dia meninggal, maka lu yang akan dijebloskan ke dalam penjara karena bertindak main hukum sendiri."


Saat perdebatan kedua sepupu itu tak kunjung usai. Kini mereka malah mendengar pria misterius itu merintih kesakitan lantaran wajahnya telah dipukul oleh Bima.


"Bima!" Keduanya terkejut saat Bima yang dari tadi diam malah melayangkan kepalan tangan kanannya ke pipi kiri pria misterius tersebut. Dan dengan sigap Farel memegang tangan kanan Bima yang kembali akan menyerang pria tersebut. "Apa yang kau lakukan?"


"Tuan muda, dia adalah orang yang dulu telah membuat ayah saya babak belur." Jelas Bima yang membuat empat orang yakni Alex, Farel Adi dan Rafi kembali terkejut.


"Tuan muda, dia adalah orang yang sama yang dulu telah melakukan penusukan pada nona Alika."


Pernyataan Bima benar-benar membuat Farel dan Alex tak percaya. Mereka berdua kini mendekati pria misterius yang kini wajahnya sudah babak belur.


Sedangkan pria tersebut kini malah tertawa keras saat Bima berhasil mengenalinya. "Kau masih ingat padaku?" Tanyanya dengan seringai licik.


Farel yang menajamkan penglihatannya saat ini benar-benar mengenali siapa laki-laki tersebut. Ia memang tak begitu mengenalinya ketika wajah laki-laki itu ditumbuhi bulu-bulu yang sangat lebat. "Kau..." Farel menggantungkan kalimatnya saat ia sudah geram dengan laki-laki yang masih mengeluarkan tawa memenuhi sudut ruangan. "Bukankah kau seharusnya berada dalam penjara? Bagaimana kau bisa keluar dari sana?" Suara Farel tak kalah kerasnya dengan tawa pria misterius tersebut.


"Apa kau sangat penasaran?"


Kini pukulan tangan Farel yang menempel pada pipi pria misterius itu. Bahkan kini amarahnya melebihi amarah Alex. Farel mencengkeram kerah baju pria itu. "Siapa yang menyuruhmu? Cepat katakan!"

__ADS_1


Pria itu kembali tertawa. "Memangnya siapa lagi?" Kini pandangannya mengarah pada Alex.


Alex semakin terkejut dengan penuturan pria itu. Pasalnya ia sangat ingat sekali bahwa dulu kejahatan yang pria itu lakukan atas perintah dari ayah kandungnya. Dengan cepat Alex menarik dan mencengkeram kerah baju pria tersebut yang tadinya di pegang oleh Farel. "Apa yang kau maksud? Kau..." Alex menggantungkan kalimatnya saat ia mengingat akan keadaan ayahnya yang saat ini sedang menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa. "Papa tidak mungkin..."


"Apa kau pikir dia benar-benar gila?" Tanya pria tersebut yang sekali lagi menyeringai licik.


"Tidak..." Alex mengendurkan tangannya dari kerah baju pria tersebut. Ia semakin tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Ia mundur beberapa langkah. Ketidakpercayaannya benar-benar salah langkah kali ini.


"Asal kau tau, aku akan melakukan apapun asal menghasilkan uang." Katanya yang sekali lagi melepaskan tawa liciknya. Namun tawa tersebut seketika terhenti saat Alex lagi-lagi melayangkan pukulan padanya.


"Alex..." Farel sudah menahan badan Alex yang kembali akan melakukan pukulannya.


"Sekarang katakan dimana Desi berada?" Tanya Alex dengan nada keras. Kedua matanya sudah memerah menahan geram. Jika Farel tak menahannya mungkin ia akan kalap menghabisi pria tersebut.


"Kenapa kau tidak bertanya saja pada ayahmu?"


"Kurang ajar!" Alex kembali diselimuti emosi. Pegangan Farel pun terlepas saat ia memberontak dan berjalan ke arah pria tersebut. Namun tubuhnya kembali tertahan saat Adi dan Rafi memegangnya.


"Tenang tuan muda. Sebaiknya kita serahkan dia pada polisi," kata Adi mencoba memberi pengarahan pada majikannya. "Jika terjadi sesuatu padanya, saya takut anda yang akan menjadi tersangkanya."


"Benar tuan muda. Saat ini kita harus fokus pada pencarian nona Desi," kata Rafi yang ikut menimpali.


Mau tidak mau Alex harus menuruti nasehat kedua orang kepercayaannya. Benar, saat ini keselamatan Desi yang terpenting. Ia harus segera menemukan Desi sebelum semuanya terlambat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2