
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Hari dimana pernikahan sandiwara di mulai dalam babak pertama.
Bertempat di sebuah gedung yang memang di sewakan untuk acara pernikahan. Disinilah Alex dan Desi mengikat janji. Janji yang menurut mereka hanya bertahan selama satu tahun. Janji yang tak akan bertahan lama karena mereka sudah menandatangani surat perjanjian yang Desi bikin beberapa hari yang lalu.
Semua undangan telah berkumpul di gedung tersebut. Mereka ingin menyaksikan sendiri bagaimana Alex dan Desi menjalani proses pernikahan dari akad nikah hingga resepsi.
Alex sudah duduk di depan penghulu. Dengan di dampingi Herlambang sebagai saksi dan ayah Desi sebagai wali dari putrinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Paulina Desi Darmawan binti Dicky Darmawan dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai," Alex menyerukan suaranya dengan sangat lantang di depan semua orang yang menghadiri akad pernikahannya. Gugup. Ia pasti gugup. Namun entah kenapa ia merasa sangat bahagia saat semua saksi mengatakan kata sah sebagai kata yang merupakan pengikat antara dirinya dan Desi.
Semua orang mengucapkan hamdalah dan seorang penghulu meneruskan dengan membaca doa agar kedua pengantin mendapat rahmat dan barokah dalam pernikahan suci ini.
Beberapa saat kemudian Desi keluar dari ruangan yang tadi sempat memisahkannya dengan Alex saat prosesi akad nikah. Balutan kebaya yang melekat di tubuhnya benar-benar sangat pas. Kebaya yang ia pakai adalah rancangan dari hasil tangan Alika, sabahat perempuan Desi. Make up yang natural pun juga terlihat menawan di wajahnya. Desi berjalan dengan di dampingi Alika dan Nadia. Perlahan tapi pasti Alika dan Nadia mengantarkan Desi hingga berdiri di depan Alex. Pria yang sudah sah menjadi suaminya. Ia mencium telapak tangan kanan Alex lalu Alex pun mencium kening sang istri.
Acara pun dilanjutkan dengan resepsi. Saat ini Desi tengah di bantu Alika mengganti kebayanya dengan gaun pengantin yang di rancang juga oleh Alika.
Desi menatap dirinya di cermin besar di ruang gantinya. Ia memegang balutan gaun pengantin yang berwarna putih itu. Gaun pengantin dengan payet benang sutra dan manik-manik yang di rancang khusus oleh Alika benar-benar sangat di sukai olehnya. Namun nyaris tak ada senyum di wajahnya sedikitpun. Setelah sah menjadi istri dari Alex Candra Wijaya, entah kenapa ia kini malah merasa bersalah pada kedua orangtuanya. Bersalah karena telah menciptakan kebohongan besar. Kebohongan yang hanya ia dan Alex saja yang tau.
Aku tau aku telah melakukan dosa besar. Dosa yang pasti akan aku sesali seumur hidupku. Tapi aku melakukan semua ini karena aku tak ingin Papi dan Mami selalu mendesak ku untuk segera menikah.
Papi... Mami... Maafkan Desi...
__ADS_1
Maafkan Desi yang telah berbohong pada kalian berdua...
Kata Desi dalam hati. Sungguh ia sangat menyesal karena telah berbohong pada kedua orangtuanya. Namun keputusan ini ia ambil secara sadar. Dan tanpa adanya paksaan dari Alex. Sebenarnya jika di pikir, Alex lah yang ia jebak dalam pernikahan sandiwara ini. Namun saat ini ia tak mau memikirkan kesalahan yang ia lakukan. Toh Alex juga menyetujui kesepakatan ini.
Alika masuk ke dalam ruang ganti yang digunakan Desi untuk mengganti pakaiannya. Ia memperhatikan Desi yang masih berdiri melihat wajahnya di cermin. Jika ia kembali perhatikan sepertinya Desi sedang melamun. Karena Desi tak bergerak sama sekali atau menunjukkan respon pada Alika. Padahal Alika sudah berada di sebelahnya.
Ada apa denganmu?
Sepertinya kau menyimpan banyak rahasia dalam pernikahan ini?
Batin Alika yang memang merasakan ada gerak gerik mencurigakan di pernikahan Alex dan sahabat perempuannya yakni Desi. Perlahan ia memegang pundak Desi. Dan saat itu pula Desi terkejut dengan kehadiran Alika yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya.
Alika tersenyum. Lalu ia memasangkan bros cantik pada gaun pengantin Desi. Bros yang tadi ia ambil di mobil karena tertinggal disana. "Kau sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Alika yang masih berusaha mengaitkan bros tersebut. "Sampai-sampai kau tidak menyadari keberadaan ku di samping mu," tambahnya lagi. Ia merapikan bros yang sudah ia kaitkan di gaun pengantin temannya.
"Nggak..." Jawab Desi cepat. "Gue..." Desi menggantungkan kalimatnya saat ia tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Alika.
Alika kembali tersenyum melihat tingkah Desi yang selalu menggantungkan kalimatnya jika ia bertanya sesuatu yang sepertinya sulit sekali dijawab oleh Desi. "Baiklah, jangan jawab pertanyaanku." Kata Alika yang berusaha menenangkan hati Desi yang sedang gelisah. "Sekarang saatnya kau keluar. Alex dari tadi sudah menunggumu diluar pintu. Dia tak berani masuk ke dalam. Dia bilang takut jika kamu belum selesai mengganti bajumu," kata Alika panjang lebar
Desi hanya diam saja mendengar nama Alex disebutkan oleh Alika.
*
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Desi keluar dari ruang ganti. Benar saja, di depan pintu ia mendapati Alex yang sudah memakai setelan jas berwarna putih. Warna yang senada dengan gaun pengantinnya.
Alex mengulurkan tangan kanannya. Dan perlahan Desi menggapai uluran tangan Alex. Mereka berdua berjalan di altar. Dengan bergandengan tangan keduanya menuju tempat yang sudah di dekorasi khusus untuk mereka berdua.
Para tamu bergantian bersalaman dengan sepasang pengantin baru yang kini tengah sama-sama berdiri di atas dekorasi yang bernuansa blue and white.
Senyum terus mengembang di bibir Alex saat ia menyalami semua tamu yang hadir di resepsi pernikahannya. Namun tidak dengan Desi, ia seakan tak bisa menutupi perasaan bersalahnya pada kedua orangtuanya karena telah membohongi dua orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Dari tadi ia tak melepaskan pandangannya dari ayah dan ibunya yang juga berdiri di sampingnya dengan jarak dua meter.
"Ada apa?" Tanya Alex berkata sambil berbisik. Dari tadi ia juga sedang memperhatikan wajah Desi yang nampak murung.
"Aku merasa bersalah pada Papi dan Mami karena telah membohongi mereka dengan adanya pernikahan sandiwara ini," jawabnya sambil tak terasa ia menitikkan air matanya.
Alex terdiam mendengar penuturan dari Desi. Namun ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya jika ini adalah pernikahan sandiwara yang ia jalani dengan Desi. "Jangan menangis..." Kata Alex seraya mengusap air mata Desi dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya terulur memeluk pinggang wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Mendapati perilaku Alex yang melanggar perjanjiannya untuk tak menyentuhnya, membuat Desi membelalakkan kedua matanya.
"Jangan memelototi ku seperti itu. Disini bahkan masih banyak tamu. Kau mau pernikahan sandiwara ini terbongkar begitu saja?" Tanya Alex yang dijawab kediaman oleh Desi. "Sekarang berhentilah menangis. Seharusnya kau harus sadar jika ini semua berawal dari ide mu," kata Alex lagi yang sudah kembali menghadap ke depan. Tangan kirinya masih saja memeluk pinggang Desi dari samping.
Desi hanya bisa terdiam mendengar penuturan dari Alex. Benar, kini ia kembali sadar jika pernikahan ini adalah karena idenya untuk mencegah kedua orangtuanya berhenti menjodohkannya.
Bersambung
__ADS_1