
Alex berlari keluar dari ruang kerjanya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan lantai satu. "Dimana Desi?" Tanya Alex yang melihat Bu Dina sedang berjalan ke arahnya.
"Nona baru saja naik ke atas tuan. Sepertinya..." Bu Dina menggantungkan kalimatnya saat ia tau ada yang tidak beres dengan kedua majikannya.
"Ada apa?" Tanya Alex khawatir.
"Sebaiknya anda segera menyusul nona Desi tuan."
Alex berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Sesaat ia langsung membuka pintu kamarnya. Masuk ke dalam lalu menutup pintu kembali. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Namun ia tak bisa menemukan Desi. Kakinya yang akan melangkah mencari Desi saat ini sedang tersandung sesuatu di lantai. Alex melihat sebuah buku yang ia beli dua bulan yang lalu. Buku dengan judul kama sutra tertulis jelas di sampul depan. Alex mengambil buku tersebut. "Desi..." Katanya lirih sambil menaruh buku tersebut di atas meja.
Alex berjalan cepat ke arah kamar mandi saat ia mendengar gemericik air kran yang terdengar begitu keras di telinganya. Kemudian ia langsung meraih gagang pintu kamar mandi dan langsung membukanya.
Alex membulatkan kedua matanya saat ia melihat Desi sedang berdiri di bawah guyuran dingin air shower. Alex kembali berjalan cepat dan langsung menarik tangan Desi agar terhindar dari air yang masih saja menetes dengan begitu derasnya. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Alex seraya memegang kedua lengan Desi. Tadi ia sudah merasa curiga saat Desi tak mau masuk ke dalam ruang kerjanya. Bahkan ia sangat yakin kalau sang istri masih menyimpan rasa cemburunya terhadap sekertaris pribadinya. Ia bahkan bisa membaca dari raut wajah Desi ketika meninggalkan ruang kerjanya.
Anda harus menyusul nona Desi, pak. Sepertinya nona Desi masih merasa curiga akan hubungan di antara kita. Maaf kalau saya lancang, namun sepertinya anda harus segera menyelesaikan masalah ini dengan segera. Daripada nanti nona akan makin bertambah salah paham.
Begitulah kata Maya mencoba menjelaskan pada sang atasan kalau iapun bisa melihat akan kesalahpahaman yang tercipta di hati istri atasannya.
__ADS_1
Perlahan Desi mengangkat wajahnya. Menatap wajah tampan sang suami yang tergambar jelas sedang mengkhawatirkan sesuatu. Tetapi ia tak berharap banyak padanya. Namun lambat laun kerutan di dahi suaminya makin terlihat lebih jelas saat ia tak menjawab pertanyaan dari Alex. "Aku baik-baik saja," jawabnya seraya tersenyum. "Aku hanya..." Menggantungkan kalimatnya sendiri saat ia tak mempunyai jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Alex. "Sudahlah... Aku akan ganti baju dulu," katanya lagi seraya melangkah pergi meninggalkan Alex. Namun langkah kakinya seketika berhenti saat tangan kanannya di tarik paksa oleh Alex.
Alex menyerang bibir Desi dengan brutal. Melampiaskan kekesalannya saat Desi tak ingin mengatakan yang sebenarnya. Ia yakin sikap Desi hanyalah karena kesalahpahaman yang ia ciptakan sendiri. Sedangkan Desi yang terkejut dengan sikap Alex, segera mendorong dada Alex untuk melepaskan pagutan bibirnya. Namun Alex tak kehabisan akal. Ia melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Desi dan menekan tekuk leher Desi bagian belakang dengan tangan kanannya. Ia tak ingin melepaskan Desi begitu saja.
Sesaat Alex melepaskan ciumannya. Deru nafasnya bahkan terdengar menggebu-gebu. Ia menatap mata Desi yang memerah. Mengusap pipi kanan Desi dengan tangannya. "Aku mohon jangan salah paham padaku lagi," kata Alex yang mengusap air mata Desi yang sudah terjatuh. "Harus aku jelaskan dengan cara apa lagi agar kau percaya bahwa aku sangat mencintaimu," tambahnya lagi. "Kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Kau..."
Desi membungkam mulut Alex dengan bibirnya. Satu kecupan benar-benar membuat Alex berhenti bicara. "Maafkan aku... Aku bahkan tidak mempunyai keberanian berkata jujur padamu saat aku lagi-lagi cemburu ketika kau dan Maya berada di ruangan yang sama," jelas Desi.
"Sayang..." Alex menangkup kedua pipi Desi dengan kedua tangannya. "Tadi Maya baru pulang dari Amerika, ketika aku meninggalkan dirinya sendiri disana untuk mengurus semua bisnisku. Aku bahkan pulang terlebih dahulu dua hari yang lalu karena aku terlalu mengkhawatirkan dirimu saat aku menerima banyak pesanmu. Aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali, tapi kau bahkan tidak mengangkatnya. Aku pikir..."
Alex mengelus punggung Desi. Mencoba menenangkan wanita yang sangat ia cintai.
"Detik ini juga aku akan minta maaf pada Maya," kata Desi seraya melepaskan pelukannya dari sang suami dan berjalan keluar dari kamar mandi namun lagi-lagi langkahnya tertahan saat Alex kembali menarik tangannya dengan paksa.
"Kau bisa meminta maaf padanya lain waktu," kata Alex seraya menyelipkan rambut yang terurai di wajah sang istri ke belakang telinganya. "Saat ini kau harus meminta maaf padaku terlebih dahulu karena sudah membuatku khawatir untuk yang kesekian kalinya."
"Apa yang..."
__ADS_1
Alex membungkam mulut Desi dengan bibirnya. Mengelus pipi sang istri dan melingkarkan tangannya di pinggang Desi. Sesaat Alex melepaskan ciuman di bibir Desi saat Desi tak menolak sama sekali pagutan bibirnya. Lalu ia kembali menyerang Desi dengan penuh kelembutan. Menarik ke atas kaos yang tengah Desi kenakan saat ini.
Desi memegang tangan Alex yang mencoba membuka pakaian basahnya. Nafasnya sudah naik turun saat ciumannya kembali terlepas. Ia tau kejadian apa selanjutnya jika Alex sampai berhasil melepas pakaiannya.
Alex tersenyum. "Jika belum siap, kita coba lain waktu." Kata Alex seraya berlalu. Namun kini tiba-tiba badannya menghantam dinding kamar mandi dengan pelan saat Desi mendorongnya. Kedua matanya membulat sempurna saat Desi kini memegang kendali ciuman yang mereka lakukan di kamar mandi.
Perlahan tapi pasti. Pagutan bibir keduanya kini semakin dalam. Kedua tangan Desi saat ini tengah memegang leher belakang Alex. Sedangkan Alex tengah melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. Pelan-pelan Alex menaikkan kaos yang tengah di kenakan oleh Desi hingga terlepas. Bahkan ciuman mereka tak ada jeda sekalipun. Hanya sekali ciuman mereka terlepas saat keduanya berhasil menanggalkan satu persatu pakaian yang mereka kenakan.
Alex menggendong tubuh Desi keluar dari kamar mandi. Berjalan ke arah tempat tidur. Perlahan ia menidurkan Desi di atas ranjang. Kembali ia melakukan serangan lembut di bibir sang istri. Kini ia memegang kendali penuh saat ia berhasil mengunci Desi dengan kedua lengan kekarnya.
Alex menghentikan ciumannya. Menatap Desi yang sudah tak mengenakan pakaian sehelai benang pun. Dirinya menatap sayu wajah cantik yang berada di bawahnya. Perlahan ia mencium kening Desi. Lalu ke kedua pipinya secara bergantian kemudian lanjut di bibir sang istri. Kini bibirnya menyusuri leher jenjang sang istri. Mengirimkan rangsangan pada wanita yang dari tadi mendesah tak karuan. Entah kenapa suara payau Desi begitu sangat seksi di telinganya.
"Pelan-pelan..." Kata Desi mengingatkan Alex agar berhati-hati menjamah tubuhnya. Sedangkan Alex tak menjawab perkataan Desi, saat ini ia sedang sibuk dengan aktifitas barunya. Dan malam panjang pun baru saja di mulai.
Kabooorrrr.... 🏃🏃🏃
Bersambung
__ADS_1