Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Perkara Baju


__ADS_3

Alex menggendong Desi yang sudah tertidur di sofa tadi. Memindahkannya di kamar agar Desi bisa istirahat dengan leluasa. Sepertinya obat yang tadi ia minum mengandung cetirizine yang mengakibatkan rasa kantuk menyerangnya. Perlahan Alex menidurkan Desi di tempat tidur. Menyelimuti tubuh Desi sampai batas dada. Tangan kanannya dengan lembut mengelus puncak kepala Desi. Lalu mencium kening Desi. Ia merasai tubuh Desi yang sudah tak lagi demam. Memegang dari kening, pipi dan juga leher. Sepertinya dokter Roni memang memberikan obat yang bagus.


Alex menarik kursi di sebelah ranjang. Ia mendudukkan dirinya di kursi tersebut. Entah kenapa ia tak tega jika harus meninggalkan Desi sendirian. Alex meraih tangan Desi. Membawa tangan sang istri ke dalam genggamannya. Mencium tangan tersebut penuh makna. Saat ia masih sibuk menatap wajah pucat Desi yang kini sudah berangsur membaik, kini perhatiannya teralihkan pada bel apartemen Desi yang berbunyi. Alex berdiri lalu melangkah keluar dari kamar, berniat membukakan pintu.


Alex membuka pintu apartemen, sesaat ia terkejut ketika melihat sang ibu dan juga Bu Dina sedang berdiri di depan pintu apartemen. "Mama... Ada apa?"


"Mama sangat khawatir dengan keadaan Desi. Mama mau melihat menantu Mama," kata Marisa seraya melangkah masuk ke apartemen.


"Maafkan saya tuan muda," kata Bu Dina seraya membungkukkan badan saat ia mendapat tatapan tajam dari Alex. "Nyonya memaksa saya agar di antar kesini. Nyonya besar sangat khawatir dengan keadaan nona Desi. Jadi..."


"Sudahlah," ucap Alex yang masih menahan pintu agar tak tertutup. "Masuklah..." Katanya kemudian. Lalu dirinya menutup pintu setelah Bu Dina juga masuk kedalam apartemen.


"Mama mau melihat keadaan Desi. Dimana dia?" tanya Marisa yang memang sangat mengkhawatirkan akan kesehatan menantunya.


"Desi sedang tidur Ma. Dia baik-baik saja kok," jawab Alex.


"Tapi sayang, Mama tetap mau melihat keadaannya," Marisa sudah bersikeras untuk datang kemari. Dan ia tak ingin pulang jika tak bisa melihat keadaan Desi yang baik-baik saja.


"Ya sudah. Tapi jangan sampai membuat Desi terbangun ya. Dia baru saja tidur," jelas Alex. Lalu ia berjalan di depan. Mengarahkan ibunya ke kamar. Setelahnya ia membuka pintu saat sudah berdiri di depan pintu kamar Desi. Ia melangkah selembut mungkin agar tak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia hanya tak ingin mengganggu waktu istirahat sang istri dengan kehadiran keluarganya disini. "Lihatlah, dia baik-baik saja kan?" Alex berkata selirih mungkin agar Desi tak bisa mendengar suaranya.


Marisa menganggukkan kepalanya pelan. Ia menatap iba pada menantunya. Sampai saat ini ia masih belum tau kenapa Desi tiba-tiba pulang ke apartemen dan bukan ke rumahnya. Tadi malam ia sudah diyakinkan oleh Alex lewat sambungan telepon kalau Desi baik-baik saja. Namun rasa khawatir masih menyerangnya dikala ia tak melihat sendiri bagaimana keadaan menantunya. Ia hanya harus memastikan kalau Desi benar-benar baik-baik saja. Karena di samping menjadi ibu yang baik dia juga harus menjadi mertua yang baik. "Ya sudah ayo kita keluar," kata Marisa seraya melangkah keluar dari kamar menantunya.


***

__ADS_1


Desi mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Entah berapa lama ia tertidur namun setelah bangun ia sudah tak merasakan pusing di kepalanya. Ia duduk. Mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya. "Dimana dia?" gumamnya lirih. Mencari seseorang yang saat ini sudah bukan lagi menjadi suami sandiwaranya. Desi menurunkan kakinya terlebih dahulu. Lalu ia berjalan keluar dari kamar. "Alex..." Panggilnya dengan nada sedikit keras. Namun sesaat ia terkejut ketika melihat Alex sedang duduk di sofa ruang tamu dengan ibunya. "Mama..."


"Sayang..." Marisa berjalan mendekati Desi. Tadi ia memang tak berencana untuk pulang sebelum Desi bangun. "Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya sambil menangkup kedua pipi menantunya.


"Aku baik-baik saja Ma. Maaf aku sudah merepotkan Mama," kata Desi sambil mencoba tersenyum. Ia bahkan sangat tak enak hati ketika mertuanya kemari hanya karena mengkhawatirkannya. Padahal jika di pikir dirinya yang salah karena tidak mengabari sang mertua akan kepulangannya ke apartemen.


"Gak pa-pa sayang. Mama ngerti kok. Oh iya Mama udah masakin sesuatu untuk kamu. Kamu makan ya," pintanya seraya memegang tangan Desi.


"Lebih baik aku mandi dulu," kata Desi yang menahan tangan sang mertua yang akan menariknya ke meja makan. "Dari kemarin aku gak mandi Ma. Baju aku..." Kata Desi terhenti saat ia melihat bajunya yang sudah ganti dengan setelan piyama. Seingatnya kemarin ia masih memakai baju kerja. Dan ia juga tak ingat jika ia sudah mengganti pakaiannya. Dan hingga tadi pagi ia juga masih tak sadar jika bajunya sudah ganti dengan setelan piyama.


Aku sangat ingat sekali jika aku memang tak pernah mengganti pakaianku dari kemarin. Tapi...


Kata Desi menggantungkan kalimatnya sendiri di dalam hati. Lalu pandangannya tertuju pada Alex. Seingatnya tadi malam ia memang hanya berdua dengan Alex. "Ma, aku ke kamar dulu dengan Alex ya?" Pintanya. Lalu dengan cepat ia berjalan ke arah Alex dan langsung menarik Alex ke kamar.


Sedangkan Marisa dan Bu Dina hanya bisa menatap kepergian Alex dan Desi yang sudah memasuki kamar.


Kini Alex mengerti apa yang dimaksud Desi sampai ia ditarik ke kamar. Sesaat senyumannya muncul saat ia memikirkan sebuah cara untuk mengerjai sang istri. "Memangnya kenapa? Bukankah kita sudah sah? Mengganti pakaianmu bukankah sebuah dosa bagiku." Jelas Alex yang menahan tawanya dalam hati saat ia melihat wajah Desi yang tegang.


Desi geram dengan penjelasan Alex. "Kau..." Menunjuk Alex dengan jari telunjuk kanannya.


"Kenapa?" Tangan Alex sudah memegang jari telunjuk Desi. Ia berjalan ke arah Desi sampai Desi terbentur di pintu kamar. "Kau takut? Takut apa?" Memberikan Desi tatapan intimidasi. Perlahan ia menempelkan bibirnya ke telinga Desi. "Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang suami yang baik," bisiknya.


Seketika Desi langsung mendorong tubuh Alex dengan kuat, hingga Alex mundur beberapa langkah. "Kau benar-benar tega!" Matanya sudah berkaca-kaca. "Kita bahkan baru berbaikan tadi pagi. Tapi kau..." Menggantungkan kalimatnya sendiri saat ia sudah tak bisa menahan air matanya.

__ADS_1


Kenapa dia menangis? Aku kan hanya bercanda dengannya.


Batin Alex yang tak tega melihat sang istri menangis. Lalu ia melangkah mendekati sang istri. "Sayang..." Memegang kedua tangan Desi yang menutupi wajahnya.


"Jangan panggil aku sayang..." Katanya sambil terisak.


"Sayang aku cuma bercanda," kata Alex yang memaksa agar tangan Desi terbuka. "Tadi malam Bu Dina yang mengganti pakaianmu." Jelasnya.


Sesaat Desi berhenti menangis. Menatap kedua mata Alex yang memancarkan rasa ibanya. "Benarkah?" Tanya Desi kemudian.


"Benar," jawab Alex seraya mengusap air mata uang sudah jatuh di pipi sang istri. "Aku meminta bantuan Bu Dina untuk mengganti pakaianmu yang basah. Kalau kau tidak percaya. Aku bisa memanggilnya, bukankah dia ada di luar." Alex sudah akan meraih gagang pintu kamarnya.


"Tidak usah," kata Desi seraya memegang tangan Alex yang akan membuka pintu kamar. "Aku percaya," katanya kemudian. "Aku juga ingin menanyakan satu hal padamu lagi."


"Apa?"


"Bagaimana kau tau aku ada disini? Kau juga tau darimana nomor pin apartemen ku?"


"Dari Alika dan Nadia. Mereka sangat mengkhawatirkan dirimu. Nanti segera hubungi mereka kalau kau baik-baik saja. Oke!" Perintah Alex.


"Hem..." Jawab Desi seraya menganggukkan kepalanya. "Ya sudah aku akan mandi dulu," katanya yang berlalu ke arah kamar mandi.


"Kau butuh bantuan?" Tanya Alex yang kembali menggoda sang istri.

__ADS_1


Desi menghentikan langkahnya saat sudah berada di ambang pintu kamar mandi. "Kau tunggu saja diluar. Itu akan sangat membantuku," katanya lagi yang langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci rapat pintu tersebut. Ia masih bisa mendengar tawa Alex dari luar. Desi menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar mandi. Ia tak menyangka jika Alex harus meminta bantuan Bu Dina untuk mengganti pakaiannya. Sesaat sebersit senyuman manis muncul di sudut bibirnya. "Dia laki-laki baik..." Gumam Desi lirih.


Bersambung


__ADS_2