Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Rencana


__ADS_3

Maya mengatakan apa yang semua ia tau dari ayah Bima. Setelah mendengar semua percakapan atasannya dan Hendra Wijaya lewat via telepon membuatnya harus bertindak cepat. Esok pagi atasannya harus dihadapkan dengan Hendra Wijaya untuk menyelamatkan nona Desi. Ia ingin semua apa yang direncanakan oleh Hendra Wijaya diketahui olehnya sebelum semuanya terlambat.


"Apa kau sedang mencurigai seseorang disini?"


"Maaf Pak... Saya..." Maya menggantungkan kalimatnya seraya menundukkan kepalanya. Ia bahkan tak bisa berbicara saat ia sedang mencurigai Sandra saat ini.


"Katakan saja." Alex masih berdiri di balkon kamarnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Menyandarkan badannya di pembatas besi.


"Sandra..." Kembali menggantungkan kalimatnya. Dirinya bahkan tak sanggup menatap wajah atasannya saat orang yang ia curigai adalah adik dari atasannya.


Alex terdengar menghela nafas berat saat ia tau akan maksud Maya. Matanya kini mengarah pada hamparan luas halaman depan rumahnya. Memegang erat pembatas besi balkon kamarnya.


"Maafkan saya Pak Alex. Saya hanya..."


"Sudahlah." Kata Alex yang lagi-lagi menghela nafas berat. Memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan menghembuskannya. Jika benar apa yang di curigai oleh Maya maka ia tak tau lagi harus berbuat apa. Jika di pikir-pikir semua tindakan yang pernah dilakukan oleh Sandra pada Desi memang sangat keterlaluan. Bahkan tindakan saat terakhir kali ketika Sandra dengan sengaja memesan makanan yang sangat di pantang oleh sang istri membuat Alex semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. "Lalu menurutmu aku harus melakukan apa?"


"Saya mempunyai satu ide Pak."


Perkataan Maya membuat Alex berbalik dan melihat Maya yang masih berdiri di belakangnya.


*


Keesokan harinya di rumah Alex Candra Wijaya...


Pagi-pagi sekali Alex sudah mendapatkan pesan dari nomor yang sama. Nomor yang kemarin menelfonnya. Ia membaca alamat dari pesan tersebut. Alamat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.


Alex berjalan ke arah ruang pakaian setelah ia memasukkan ponselnya di saku jas kanannya. Membuka lemari pakaiannya yang terpisah dengan pakaian sang istri. Ia membuka sebuah laci di dalam lemari pakaiannya. Ada banyak tumpukan berkas di dalam laci tersebut. Menyingkirkan beberapa berkas dan mengambil sebuah senjata api di bawah tumpukan berkas tersebut. Alex memandangi senjata api yang ia peroleh beberapa tahun lalu. Dulu ia memang laki-laki bejat, ia sangat sering mengunjungi tempat hiburan malam dan minum-minuman keras. Namun seiring berjalannya waktu entah mengapa sikapnya berubah.

__ADS_1


Alex masih memandangi senjata api yang di pegang dengan tangan kanannya. Jenis senjata api pistol ini merupakan senjata buatan Austria. Pistol Glock digunakan oleh angkatan bersenjata dan lembaga penegak hukum di seluruh dunia, termasuk sebagian besar lembaga penegak hukum di Amerika Serikat. Glock 22 memiliki panjang 204 mm/8,03 inci dan lebar 32 mm/1,26 inci. Glock 22 merupakan versi .40 S&W. Kapasitas tempat mesiu sebanyak 15 putaran. Glock 22 juga termasuk senapan semi otomatis dan senapan mesin. 


Kini Alex memasukkan senjata api itu di saku kiri jasnya, setelah mengecek semua isi peluru terisi penuh. Entah ia akan membutuhkannya nanti atau tidak, tapi ia akan membawanya untuk keselamatannya.


Alex keluar dari kamarnya dan melangkah menuruni anak tangga. Di bawah ia bisa melihat keluarga dan beberapa orang kepercayaannya sedang menunggunya di ruang tamu. Ada ibu, adik perempuannya, Adi, Rafi, Bu Dina dan juga Maya.


Alex bisa melihat raut kekhawatiran dalam wajah semua orang, terutama ibu dan adik perempuannya. Kini ia berdiri di hadapan ibu dan Sandra. Memegang kedua tangan orang yang paling ia sayangi. "Doakan yang terbaik untukku," kata Alex yang menatap bergantian wajah dua perempuan yang berdiri di hadapannya.


"Alex..." Marisa memegang pipi kanan anak laki-lakinya. Menitikkan air matanya. "Jangan pergi sendirian. Bawalah beberapa polisi untuk melindungimu."


Alex menggelengkan kepalanya pelan. "Apa dengan begitu Papa akan melepaskan Desi tanpa lecet sedikitpun?" Tanya Alex yang dijawab kebisuan oleh ibunya. "Jika aku membawa orang yang melindungiku, maka sudah aku pastikan kalau Papa tak akan membiarkan Desi hidup."


"Kakak..." Sandra meremas tangan kakak laki-lakinya. "Jangan bicara seperti itu. Kak Alex dan kakak ipar pasti akan selamat." Sandra juga turut menangis mendengar penuturan dari Alex.


Kini pandangan Alex mengarah pada adik perempuannya. Lebih tepatnya adik tirinya. Bibirnya tersenyum kecut mendengar semua yang Sandra katakan padanya. "Sandra..." Kini dua saudara itu bersitatap. "Apa kau menyayangi kakak?"


"Apa kau juga sangat menyayangi kakak ipar?"


"Tentu saja," jawab Sandra lagi. "Sebenarnya apa yang ingin kakak katakan?"


Alex menghela nafas sebentar seraya menundukkan kepalanya. Lalu ia menatap lekat-lekat wajah adiknya. Menangkup kedua pipi adik perempuannya. "Jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakak ataupun kakak ipar..."


"Jangan berkata seperti itu," potong Sandra cepat. Ia sudah memegang kedua telapak tangan Alex yang masih menempel di pipinya.


"Alex..." Marisa sudah maju selangkah. Menahan semua apa yang akan Alex katakan.


"Tuan muda..."

__ADS_1


"Dengarkan kakak baik-baik," mencoba menjelaskan apa yang akan ia katakan secara baik-baik. "Jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakak dan kakak ipar. Kakak mohon jadilah anak baik untuk Mama. Kau mengerti?"


"Tidak..." Sandra menggelengkan kepalanya pelan seraya menangis histeris. "Kakak pasti akan baik-baik saja. Aku akan ikut dengan kakak kesana," sudah memegang erat tangan Alex.


"Kakak harus pergi..."


"Tidak... Kakak..." Tangis Sandra semakin pecah.


Sementara itu Bu Dina berjalan mendekati Sandra. Memegang kedua lengan Sandra sambil beberapa kali mengusapnya. "Anda tenang saja tuan muda. Saya pasti akan menjaga nona Sandra dengan baik."


Alex menganggukkan kepalanya. Lalu dirinya berjalan keluar rumah.


"Tuan muda ijinkan kami berdua ikut," kata Adi yang sudah berdiri di hadapan majikannya bersama Rafi.


"Kalian harus tetap berada di rumah menjaga Mama dan Sandra. Aku akan pergi sendiri."


"Tapi..."


"Tuan muda benar," Bu Dina menyela perkataan Adi yang belum selesai. "Jika kalian ikut maka aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada nona Desi. Tuan besar pasti akan murka. Dia tidak akan segan-segan menyakiti nona Desi nantinya jika tuan muda membawa bala bantuan. Bukankah tuan besar sudah berkata jika tuan muda harus pergi kesana sendirian?"


Kata-kata Bu Dina membuat semua orang terdiam. Sementara Alex membalikkan badannya. Menatap wanita paruh baya yang berdiri di belakangnya sambil mendekap adik perempuannya dengan lembut. "Semua yang dikatakan Bu Dina benar. Lebih baik aku pergi sendirian."


*


Beberapa saat kemudian Alex sudah berada di kursi kemudi. Ia akan melakukan sesuai perintah ayah kandungnya. Pergi sendirian ke alamat yang sudah ia dapatkan tadi pagi. "Awasi dia..." Ucap Alex pada Maya yang berdiri di sebelah mobilnya. Setelah melihat Maya menganggukkan kepalanya kini Alex menancap pedal gas dengan kecepatan sedang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2