Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kantor Polisi


__ADS_3

Alex sudah berada di ruang kerja kantornya. Duduk sambil memperhatikan beberapa berkas yang tadi diberikan oleh Maya, sekertaris pribadinya. Satu persatu ia membalikkan kertas yang akan ia tandatangani. Meneliti kembali jika terjadi kesalahan pada berkas tersebut.


Sesaat ia menyandarkan punggungnya di bantalan kursi kebesarannya. Menengadahkan kepalanya ke atas. Menatap langit-langit ruangannya. Selang beberapa saat senyum tipis di bibirnya muncul ketika ia mengingat kembali perkataan Desi tadi pagi sebelum berangkat ke kantor.


Flashback on


Alex dan Desi masih berada di balkon kamarnya. Berdiri saling menghadap satu sama lain. Kedua tangan Desi melingkar di leher Alex. Sedangkan kedua tangan Alex sedang melingkar di pinggang sang istri.


"Kenapa semudah itu kau memaafkan seseorang yang telah jahat padamu?" Tanya Alex yang ingin mendengar langsung jawaban dari sang istri. Pasalnya kejahatan yang Sandra lakukan sudah teramat besar baginya. Ia hampir kehilangan wanita yang ia cintai dan terlebih lagi janin yang belum sama sekali ia ketahui akan terenggut juga.


"Bukankah lebih baik memaafkan seseorang daripada kita memusuhinya?" Jawab Desi menjeda kalimatnya sebentar. "Dan yang paling penting dia adalah saudara kita," lanjutnya lagi yang membuat Alex terdiam tak bisa menjawab pernyataan dari Desi. Sesaat ia menyandarkan kepalanya di dada Alex. Mengelus perlahan dada Alex. "Aku mohon maafkan Sandra. Selain dirimu dan Mama, dia tidak punya siapa-siapa lagi disini." Membujuk sang suami agar memaafkan adik perempuannya. "Kau tidak mau terjadi apa-apa kan pada Sandra?" Tanya Desi yang masih menyandarkan kepalanya di dada Alex.


"Apa maksudmu?" Tanya Alex yang kini pikirannya melayang kemana-mana saat Desi mengatakan hal tersebut.


Desi melihat wajah Alex yang sudah nampak gurat kekhawatiran. "Kau tau kemana Sandra pergi?" Tanya Desi yang di jawab gelengan kepala oleh Alex. "Dunia luar sangat berbahaya. Apalagi Sandra adalah seorang wanita. Bagaimana jika Sandra..."


"Tidak akan terjadi apa-apa pada Sandra," kata Alex memotong perkataan dari Desi. "Dia akan baik-baik saja," tambahnya yang lagi-lagi membelakangi Desi. Aku harus segera mencarinya. Aku tidak mau terjadi hal buruk pada Sandra. Kata Alex dalam hati seraya mencengkeram erat pembatas besi di balkon kamarnya.


Sedangkan Desi terlihat tersenyum tipis saat mendengar penuturan dari Alex. Ia yakin kalau saat ini sang suami merasa khawatir saat Sandra tak ada di dekatnya. Desi kembali memeluk Alex dari belakang. "Sayang bolehkah aku mengajukan satu permintaan padamu?" Tanyanya sambil mengeratkan pelukannya pada Alex.

__ADS_1


"Apa?"


"Jika aku memang harus resign dari perusahaan. Bolehkah aku setiap hari mengantarkan makan siang ke kantormu?" Tanya Desi yang sedikit takut. Takut jika Alex menolak permintaannya. "Aku akan bosan jika harus menunggumu seharian di rumah."


Alex membalikkan badannya ke belakang. Menatap lekat wajah Desi. "Baiklah. Tapi setelah itu kau harus kembali ke rumah. Oke!"


Desi menganggukkan kepalanya. Ia sangat senang saat Alex mengijinkannya untuk keluar rumah. Setidaknya ia bisa setiap hari bisa keluar rumah.


Flashback off


Alex menghembuskan nafasnya pelan. Ia melihat jam dinding di ruang kerjanya. Saat ini jam dinding tengah menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Itu artinya sebentar lagi Desi akan tiba di kantor membawakan makan siangnya.


"Pak..." Maya masih kesulitan mengatur nafasnya yang terengah-engah. "Ada telfon dari kantor polisi..."


Seketika Alex berdiri dari duduknya. Ia kembali dikejutkan dengan penuturan sekertaris pribadinya akan telfon yang harus ia terima dari kantor polisi. Jika sudah mendengar kantor polisi, Alex tau ada yang tidak beres dengan anggota keluarganya yang saat ini tengah ditahan disana.


***


Alex berdiri di depan sel tahanan yang menahan ayah kandungnya. Dengan didampingi oleh seorang polisi, Alex tak berhenti menatap pria paruh baya yang saat ini tengah memasuki usia hampir lima puluh dua tahun itu.

__ADS_1


Tadi ia mendapat telepon dari kantor polisi memalui sekertaris pribadinya kalau dirinya harus segera datang ke kantor polisi, lantaran ada masalah serius dengan narapidana tersebut. Masalah yang membuat Alex bahkan tak percaya sama sekali. Ia mendapat telepon bahwa ayahnya saat ini tengah mengalami gangguan kejiwaan.


"Ayah anda sudah lima hari seperti itu," jelas seorang polisi laki-laki yang bertugas di kantor polisi tersebut.


Alex kembali melihat ayahnya yang terlihat memprihatinkan. Hendra Wijaya sedang tertawa sendiri sambil memainkan tangannya. Satu persatu ia menghitung jarinya sambil tak berhenti tertawa.


"Kami pikir dia sedang berhalusinasi. Namun lama-kelamaan ia semakin menunjukkan bahwa dirinya memang seperti ada gangguan kejiwaan," jelas seorang polisi laki-laki yang bernama Agung Pratama yang tertera di name tag di baju kebesarannya.


"Lalu apa yang harus saya lakukan?" Tanya Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari sang ayah.


"Kita tunggu sampai beberapa hari ke depan. Jika memang masih seperti ini, maka kami terpaksa membawanya ke rumah sakit jiwa." Jelas polisi yang masih berdiri di samping Alex.


Sedangkan Alex hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia masih berdiri di depan sel ayah kandungnya. Memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Memikirkan cara bagaimana ia bisa membuat sang ayah kembali seperti semula. Ia bahkan tak pernah menyangka jika sang ayah akan menjadi seperti ini.


Ini adalah bulan ke lima belas dimana ayah Alex di tahan atas banyaknya kasus yang dilakukannya. Dari penggelapan dana yang dilakukan oleh Hendra Wijaya di perusahaan Wijaya Group. Pencemaran nama baik kakak kandungnya, penyekapan terhadap keluarganya sendiri, percobaan pembunuhan pada keponakannya sendiri yakni Farel dan yang terakhir adalah pemberian racun pada selang infus Alika kurang lebih enam belas bulan yang lalu. Semua kasus yang dilakukan oleh ayah Alex membuat ayah Alex yakni Hendra Wijaya mendekam di sel tahanan untuk waktu yang cukup lama.


Meski dirinya sangat membenci sang ayah lantaran banyaknya kejahatan yang di lakukan pada anggota keluarganya namun ia masih menyimpan rasa sayang di hati terdalamnya. Setiap satu bulan sekali tanpa diketahui oleh keluarganya, ia selalu menyempatkan mengunjungi sang ayah di sel tahanan. Meskipun ia tak berinteraksi dengan sang ayah atau bisa di bilang ia hanya memantau kesehatan sang ayah dari jauh. Ia tak pernah menemui ayahnya secara langsung, mengingat semua kejahatan yang dilakukan oleh Hendra Wijaya. Dengan bantuan seorang polisi yang bernama Agung Pratama membuatnya bisa mengetahui keadaan sang ayah. Tadi juga Agung Pratama lah yang menghubungi Alex agar segera menemui sang ayah di kantor polisi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2