Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Mual


__ADS_3

Desi sudah menunggu Alex hampir satu jam di ruangannya. Tadi ia di antar oleh Adi dan Rafi untuk sampai di kantor suaminya. Ia bahkan tak tau kalau Alex pergi ke kantor polisi. Karena Alex sudah berpesan pada Maya untuk mengatakan kalau dirinya hanya pergi sebentar untuk urusan pekerjaannya.


Desi melihat jam tangan yang ia pakai di pergelangan tangan kirinya. Sesekali ia berdecak sebal saat Alex tak kunjung datang. Ia sudah berkali-kali mencoba menghubungi ponsel suaminya namun sampai saat ini ponsel suaminya masih saja tak aktif. "Sebenarnya dia kemana? Kenapa lama sekali?" Gumam Desi lirih. Ia sudah jenuh saat ia sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang.


Desi melirik kotak makanan yang ia taruh di meja dekat sofa. Makanan yang ia siapkan sendiri ketika ia sudah berniat untuk datang mengantarkan makan siang khusus buat suaminya.


Ia berdiri dari sofa. Berjalan ke arah meja kerja Alex yang berjarak dua meter dari sofa yang tadi ia duduki. Meneliti apa saja yang ada di atas meja kerja suaminya. Beberapa tumpukan berkas, laptop yang selalu tertutup saat Alex tak ada, dua foto yang terpampang jelas di atas meja kerja Alex kini menjadi sorotan mata Desi. Ada dua foto disana, di sebelah kanan terdapat foto keluarga suaminya yang menampakkan suaminya, Sandra dan juga ibu mertuanya. Di sebelah kiri menampakkan foto pernikahannya. Desi mengambil foto yang menampakkan dirinya dan juga Alex yang sedang melangsungkan pernikahan beberapa bulan yang lalu. Senyum di bibirnya mengembang saat ia teringat kembali, ketika pertama kali ia menjalani pernikahan sandiwaranya dengan Alex. Laki-laki yang ia ajak untuk menjalin hubungan rumah tangga dalam setahun itu kini berakhir dengan hubungan rumah tangga selamanya.


Sesaat mata Desi kembali tertuju pada foto pernikahannya. Ia memandangi wajah Alex dengan seksama. Satu detik, dua detik, ia merasa ada perasaan aneh di hatinya. Namun dalam detik ketiga ia merasakan mual di perutnya. Ia sudah menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari toilet di ruang kerja suaminya. Menaruh sembarang foto pernikahannya di atas meja kerja suaminya. Sesaat ia menemukan satu pintu di pojok kiri ruang kerja Alex. Ia berlari ke pintu tersebut lalu memuntahkan semua apa yang tadi pagi ia makan di wastafel. Nafasnya tersengal saat ia selesai memuntahkan apa yang membuatnya mual tadi.


Desi mengambil air kran dan menggunakan telapak tangannya untuk memadai air tersebut. Membersihkan mulutnya dan mengelap beberapa kali wajahnya menggunakan air tersebut. Ia melihat wajahnya di cermin toilet ruang kerja suaminya. Wajahnya terlihat pucat setelah baru saja muntah. Peluh keringat dingin terlihat jelas di keningnya. Perlahan Desi mundur ke belakang. Menyandarkan punggungnya di dinding toilet.


"Anda baik-baik saja?"


Desi di kejutkan dengan kedatangan Maya yang sudah ada di belakangnya. Ia kembali mengatur nafasnya agar bisa tenang. "Aku..." Desi menggantungkan kalimatnya saat ia kesulitan bernafas.


Ada gurat kekhawatiran di wajah Maya saat ia mendapati istri dari atasannya berada di toilet dengan wajah pucat. "Nona anda kenapa?"

__ADS_1


"Aku... Mual..." Jawab Desi dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Anda mau ke dokter? Saya sendiri yang akan mengantarkan anda. Saya..."


"Aku baik-baik saja," jawab Desi yang memotong perkataan Maya. Ia berharap rasa mualnya hanya datang saat ini saja. Ia mencoba berdiri tegap. Mengusap peluh keringat dingin yang masih mengucur deras di dahinya. Menghembuskan nafasnya sedikit kasar ke udara. "Sepertinya aku harus pulang," kata Desi yang menjeda kalimatnya sebentar. Kembali mencoba mengatur nafasnya agar bisa bernafas dengan normal. "Jika Alex datang, bilang padanya aku sedang istirahat di rumah."


"Baik nona..." Jawab Maya sambil menundukkan kepalanya. Kemudian ia merangkul pinggang istri dari atasannya yang sedang berjalan keluar dari toilet.


"Aku pusing..." Kata Desi sambil memegang kepalanya.


Desi memejamkan matanya sambil memijat pelan keningnya. Berharap dengan begitu rasa pusing di kepalanya bisa sembuh.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit nona. Atau kalau tidak..."


"Aku baik-baik saja," jawab Desi yang kembali memotong perkataan Maya. Ia mencoba menguatkan dirinya agar tak terlihat lemah di mata sekertaris pribadi suaminya. Atau kalau tidak ia tak bisa menjalankan rencananya untuk keluar rumah saat ia sudah resign dari perusahaan.


Ya benar. Ia hanya beralasan mengantarkan makan siang ke kantor Alex. Alasan sebenarnya adalah ia akan mencari keberadaan Sandra setelah ia pulang dari kantor Alex. Dari tadi pagi ia sudah mencoba menghubungi ponsel milik Sandra. Namun ponsel Sandra tidak aktif. Entah Sandra sudah mengganti nomor ponselnya atau Sandra tengah menonaktifkan ponselnya. Desi masih belum menemukan jawaban semua itu. Kini ia harus berjuang menyatukan kembali Alex dan Sandra dalam rumah yang saat ini ia huni. Dan salah satu caranya adalah menemukan dimana keberadaan Sandra.

__ADS_1


"Saya akan memanggil dokter Elena ke kantor ini," kata Maya yang membuyarkan lamunan Desi. Ia bahkan akan berjalan meninggalkan Desi dari ruang kerja atasannya agar ia bisa menelepon dokter kandungan yang biasa memeriksa kehamilan Desi. Namun langkahnya terhenti saat tangannya di tarik oleh istri dari atasannya.


"Aku baik-baik saja. Bukankah wanita hamil selalu mengalami hal ini. Mual dan muntah sudah menjadi kebiasaan ibu hamil," ujar Desi yang secara tidak langsung mencegah Maya untuk tidak menghubungi dokter Elena.


Maya mendekati Desi. Mengelus lengan Desi supaya istri dari atasannya menjadi lebih baik. "Saya hanya khawatir nona."


Desi menghembuskan nafas pelan. "Aku baik-baik saja," kata Desi yang kembali melihat ke arah foto pernikahannya. "Tadi aku hanya..." Desi kembali merasa mual saat matanya tertuju pada wajah Alex.


"Nona..." Maya sudah panik.


Desi kembali berlari ke arah toilet. Ia kembali muntah-muntah. Namun kali ini ia hanya memuntahkan cairan. Keningnya kembali meneteskan keringat dingin.


Sedangkan Maya semakin panik saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika istri dari atasannya berwajah pucat. "Nona saya akan..."


"Aku mohon..." Desi memegang tangan Maya yang berusaha keluar. Ia tau pasti, Maya akan menghubungi dokter Elena. Dan jika dokter Elena datang untuk memeriksanya maka semua rencananya hancur. Ia takkan boleh keluar rumah lagi oleh Alex. Dan rencananya mencari keberadaan Sandra sudah pasti akan gagal.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2