Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Hal Romantis


__ADS_3

Setelah kepulangan Marisa dan Bu Dina, kini Desi tengah mencuci piring. Tadi ia sudah akan di bantu oleh Bu Dina namun dengan sigap Desi melarangnya. Ia tak ingin rasa sakitnya menahannya untuk tidak beraktifitas.


Jika Desi sedang sibuk mencuci piring namun lain halnya dengan Alex. Ia malah sibuk memeluk Desi dari belakang. Kemanapun Desi bergerak, Alex selalu membuntutinya. Seakan menjadi anak ayam yang tak bisa ditinggal oleh induknya. Begitulah Alex mengikuti langkah Desi kemanapun Desi beraktifitas.


"Lepaskan aku," kata Desi yang sebenarnya ia sangat kesulitan bergerak saat Alex masih memeluknya dari belakang.


"Bukankah ini hal yang kau suka?"


Desi menghentikan aktivitasnya. Keningnya berkerut mendengar penuturan Alex yang sama sekali ia tak mengerti. "Apa maksudmu? Aku tidak pernah mengatakan hal itu?" Tanya Desi sampai memiringkan kepalanya agar ia bisa melihat Alex yang masih sibuk melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya.


"Kau memang tidak pernah mengatakannya. Tapi aku tau dari buku," jelas Alex yang juga menatap wajah Desi dari samping.


"Dari buku?"


"Hem..." Jawab Alex seraya menganggukkan kepalanya. "Aku pernah membaca kumpulan hal romantis yang sangat disukai oleh seorang wanita. Dan ini adalah salah satunya."


"Melihatku mencuci piring?"


"Bukan sayang. Tapi melakukan apa yang kulakukan saat ini," jelas Alex lagi.


"Oh aku tau. Memberi tahuku kalau kau sudah membaca buku itu?"


Alex menepuk jidatnya dengan keras seraya memejamkan matanya. "Apa kau pura-pura bodoh hah?" Sudah kehilangan kesabaran saat Desi sudah dua kali menjawab apa yang ia maksud dengan salah.


"Kenapa kau jadi marah? Aku memang tidak mengerti apa yang kau maksud," ujarnya seraya berbalik menghadap sang suami. Ia menjaga tangannya yang masih penuh dengan busa sabun cuci piring agar tak menempel pada Alex.


Alex menundukkan kepalanya dalam. Menghembuskan nafasnya panjang. Lalu sesaat ia menatap kembali wajah Desi dengan senyum sejuta wattnya. "Sayang..." Sudah menangkup kedua pipi Desi. "Maksud aku..."


"Ah aku tau," kata Desi cepat. Ia bahkan memotong perkataan Alex sebelum Alex menyelesaikan kalimatnya. "Maksud kamu, hal romantis yang disukai banyak wanita adalah kau akan membantuku mencuci piring, begitu?"


Alex menggigit bibir bawahnya. Ia sudah gemas dengan penuturan Desi. Ingin sekali ia memukul kepala sang istri jika itu bisa membuatnya sedikit pintar. Sesaat ia kembali menghembuskan nafas panjang. "Sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu lagi," kata Alex yang mengalah jika harus beradu argument dengan sang istri. Lalu ia membalikkan badan Desi. Kembali memeluk Desi dari belakang. Dan menaruh kepalanya di pundak sang istri. "Sebaiknya kau menyelesaikan pekerjaanmu," kata Alex menyuruh Desi kembali mencuci piring melalui ekor matanya.

__ADS_1


"Kenapa, apa kau salah?" Tanya Desi yang kembali melakukan aktifitasnya. Dari satu piring yang ia cuci pindah ke piring yang lain. "Beritahu aku hal romantis apa saja yang dilakukan pasangan di buku yang kau baca," kata Desi yang memang penasaran akan hal romantis yang di maksud sang suami.


"Nanti kau bacalah sendiri saat ada di rumah," kata Alex yang makin mengeratkan pelukannya di pinggang Desi.


***


Malam harinya di tempat tidur. Alex kembali melakukan hal romantis yang ia baca dari buku. Ia menarik Desi ke dalam dekapannya. Sedangkan Desi yang merasa bahwa itu adalah pertama kali baginya, ia seakan risih. Padahal saat ia mengatakan kalau dirinya harus seranjang dengan Alex, kurang lebih dua bulan yang lalu. Setiap malam tanpa di ketahui oleh Desi, Alex selalu menarik Desi ke dalam pelukannya.


Sedikit demi sedikit Desi menjauh dari Alex. Namun saat ia bisa melepaskan pelukannya dari Alex, Alex kembali menariknya ke dalam dekapannya. "Aku mau tidur. Jangan memelukku lagi," pinta Desi yang kembali membuat jarak aman dengan sang suami.


Alex kembali menghela nafas pasrah saat Desi menjauhi dirinya. Namun ia tak kehabisan akal. Ia menyingkirkan semua bantal dan guling saat Desi membuat jarak aman dengannya. Menggeser tubuhnya hingga menempel lagi pada sang istri. "Aku mau tidur sambil memelukmu," katanya yang lagi-lagi melingkarkan tangannya di atas perut Desi dan menaruh kepalanya di dada sang istri.


"Tapi..."


"Kau tidak mau belajar?" Tanya Alex yang mengangkat kepalanya hingga ia bisa melihat wajah Desi


"Belajar apa?" Tanya Desi penasaran.


Desi seperti memikirkan sesuatu. Memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri. Mencari tau hal romantis apa yang akan di ajarkan Alex padanya. "Belajar hal romantis apa? Yang kau lakukan dari tadi hanya tidur di dadaku?"


"Ini adalah salah satu hal romantis," jawab Alex yang makin mengeratkan pelukannya pada Desi sambil memejamkan matanya. Senyum di bibirnya merekah saat Desi juga membalas pelukannya. Ia bahkan merasakan saat tangan Desi mengelus punggungnya beberapa kali.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Desi yang membuka percakapan saat mereka terdiam sekitar sepuluh menit.


"Tanya apa?" Kata Alex yang masih setia memejamkan kedua matanya.


"Dari kapan kau mencintaiku?"


Alex membuka matanya. Mengangkat kepalanya dan menyandarkan ke tangannya. Kini ia dengan jelas bisa menatap wajah ayu sang istri. "Kalau kau, dari kapan kau mencintaiku?"


"Kenapa malah melemparkan pertanyaan yang sama padaku? Sekarang cepat jawab pertanyaanku, aku mau mendengarkan jawaban darimu dulu."

__ADS_1


"Benarkah kau ingin mendengar jawaban dariku?" Tanya Alex yang di jawab anggukan kepala oleh Desi. "Saat kau mengajakku menikah denganmu."


"Bohong..." Desi berkata dengan suara lantang. "Kau tidak mungkin jatuh cinta padaku saat itu. Aku sangat tau kepribadianmu. Saat itu aku ingat sekali kalau kau marah besar padaku lantaran aku tiba-tiba mengajakmu menikah terlebih dahulu."


"Dan kau tau kenapa saat itu aku menerima kesepakatan denganmu?" Tanya Alex yang di jawab gelengan kepala oleh Desi. "Mungkin saat itu aku tidak bisa merasakannya. Tapi setelah kita berada di rumah yang sama, melakukan aktifitas bersama-sama, pulang pergi kerja bersama. Saat itu aku tau bahwa aku tidak bisa kehilangan dirimu. Kau tidak akan tau segila apa saat aku tidak bisa menemukanmu ketika aku kembali dari Amerika. Dan dari situ aku sadar bahwa kau adalah wanita yang sudah berada dalam hatiku selain Mama dan Sandra. Kau adalah cinta pertama dan terakhirku," jelas Alex panjang lebar. Keduanya hanya saling menatap saat hampir lima menit yang lalu Alex menjelaskan semuanya. "Kau tidak akan mengatakan sesuatu padaku? Aku bahkan sudah mengatakan semuanya padamu tentang isi hatiku."


"Aku hanya penasaran," kata Desi.


"Soal apa?"


"Benarkah aku cinta pertamamu?" Tanyanya memastikan. "Kau sudah lama hidup di Amerika. Dan kau mengatakan kalau aku adalah cinta pertamamu."


"Kau tidak percaya? Kau bisa menanyakannya pada Sandra."


"Tidak perlu," jawab Desi sambil menggelengkan kepalanya. "Aku percaya padamu." Lalu ia menidurkan Alex, kemudian dirinya memeluk dan menaruh kepalanya di atas dada Alex.


"Apa yang kau lakukan?"


"Melakukan hal romantis padamu."


"Apa?"


Desi mengangkat kepalanya dan menatap wajah Alex. "Bukankah memelukku dari belakang saat aku cuci piring tadi dan tidur dengan memelukku adalah hal romantis yang kau baca di buku?" Ujarnya seraya menahan tawanya.


"Kau..." Alex menggantungkan kalimatnya.


"Aku hanya pura-pura bodoh," kata Desi yang kembali menaruh kepalanya di atas dada Alex. "Maafkan aku. Aku hanya ingin menguji kesabaranmu menghadapi diriku. Kau tidak marah kan?" Desi kembali menatap wajah Alex.


Alex yang kembali gemas dengan sikap Desi langsung menerkam bibir lembut wanita yang kini sudah tak terjalin kesepakatan dengannya. Meletakkan pelan kepala Desi di bantal. Kini ia melampiaskan rasa gemasnya saat Desi mengakui sikap bodohnya tadi siang saat di dapur. Kini Desi sudah berada di bawah kungkungannya. Mengunci Desi dengan kedua lengan kekarnya agar tak bisa lepas darinya.


Jika biasannya Alex hanya memberikan satu kecupan, sepertinya tidak untuk kali ini. Alex menyerang bibir Desi dengan brutal. Hingga Desi terkadang kesulitan untuk bernafas. Sesekali Alex melepaskan pagutan bibirnya agar Desi bisa kembali bernafas. Namun setelah itu, Alex kembali melancarkan serangannya pada bibir Desi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2