
Desi mengerjapkan matanya beberapa kali saat ada suara dari ponselnya yang menandakan ada pesan masuk. Ia melihat Alex yang masih tertidur dengan cara mendekapnya. Melepaskan perlahan tangan Alex yang melingkar di atas perutnya. Lalu dirinya duduk dan menahan selimut yang hampir terjatuh. Selimut yang tadinya menutupi tubuh polosnya. Karena setelah makan malam romantis tadi malam, ia dan Alex menghabiskan waktu berdua di dalam kamar. Melakukan hal yang membuat keduanya kelelahan dan akhirnya tertidur tanpa memakai busana sama sekali.
Tangan kiri Desi masih menahan selimutnya. Sedangkan tangan kanannya tengah mengambil ponsel yang ia taruh di atas meja nakas. Membuka pesan yang dikirimkan oleh ibunya.
Bersenang-senanglah disana sayang...
Kami disini akan menjaga Alessia dengan baik...
Isi pesan sekaligus foto baby Alessia yang di kirimkan oleh ibu kandungnya membuat matanya berkaca-kaca. Ia sangat merindukan sang buah hati tercinta. Padahal jika di hitung ia belum sehari penuh berada di villa milik suaminya. "Alessia... Bunda kangen..." katanya lirih seraya mengusap air matanya yang terlanjur jatuh di pipinya. Berusaha tak membuat suara saat dirinya tengah menangis. Perlahan ia turun dari ranjang. Menaruh ponselnya kembali di atas meja nakas. Kemudian ia berlari kecil ke arah kamar mandi. Menangis disana sambil menutup mulutnya agar suara tangisannya tak terdengar oleh Alex.
*
Mata Alex masih terpejam namun tangannya sedang mencari keberadaan sang istri yang tadi malam tengah tidur di sampingnya. Namun tangannya tak menemukan seseorang yang ia cari. Dengan segera ia membuka kedua matanya. Sedikit terkejut saat ia tak menemukan wanita yang ia cari. "Sayang..." Panggilnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya. "Sayang..." Panggilnya lagi. Namun tak ada sahutan dari wanita yang berstatus sebagai istrinya. Ia turun dari ranjang. Memakai ****** ***** dan celana pendeknya yang tercecer di lantai. Berjalan ke arah kamar mandi. Berpikir jika sang istri tengah berada disana. "Sayang kau di dalam?" Mengetuk pintu kamar mandi sambil mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi. Namun sepertinya tak ada suara apapun yang ia dengar dari dalam. "Sayang..." Membuka pintu kamar mandi yang tak terkunci. Kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar mandi. Namun lagi-lagi ia tak dapat menemukan wanita yang ia cintai. "Kemana dia?" Sudah sedikit panik saat ia tak menemukan Desi di seluruh kamarnya. Berjalan ke arah meja nakas. Berniat mengambil ponselnya untuk menghubungi ponsel sang istri. Namun lagi-lagi ia dikejutkan dengan ponsel Desi yang di tinggalkan di atas meja nakas.
__ADS_1
Alex sudah terserang rasa panik saat ia harus dihadapkan dengan ketidakadaan Desi di dalam kamar. Mengambil kaos oblong polos berwarna putih yang ada di dalam lemari dan langsung berlari keluar kamar. Berniat mencari sang istri. Ia menyusuri sepanjang ruangan di villanya namun ia tak bisa menemukan sang istri. Lalu dirinya berlari keluar villa. Mencari sang istri di luar villa. Namun sesampainya di depan villa ia juga tak menemukan sang istri. Ia lanjutkan berlari ke arah pantai. Masih berpikir positif jika Desi sedang berada disana. Sesaat langkah kakinya terhenti saat ia menangkap siluet wanita yang tengah mengenakan gaun pink tanpa lengan sebatas lutut.
Alex menghembuskan nafas lega saat ia bisa menemukan sang istri yang berdiri di tepi pantai. Kemudian ia berjalan menghampiri sang istri. Memeluknya dari belakang. Membuat wanita yang dipeluk olehnya sedikit terkejut. "Aku mencari mu kemana-mana," katanya yang mengeratkan pelukannya dari belakang. Menyandarkan dagunya di pundak sang istri.
"Benarkah?" jawab Desi yang memegang tangan Alex yang melingkar di perutnya. "Tadi ku lihat kau tidur cukup pulas, jadi aku tidak membangunkan mu."
Alex sudah menangkap gelagat tak enak dari suara Desi. Suara serak Desi membuatnya harus melihat wajah sang istri saat ini juga. Ia melepaskan tangannya yang melingkar di perut sang istri. Lalu dirinya berputar dan berdiri di hadapan Desi. Sudah terkejut bukan main saat melihat mata Desi yang sembab. "Kau kenapa?" Menangkup kedua pipi Desi. "Kau habis menangis?" Tanyanya cemas. "Apa kau sedang sakit?" Memegang kening, pipi dan leher sang istri. Berniat merasai suhu tubuh Desi.
"Tapi kau terlihat..." Menggantungkan kalimatnya. Kembali menangkup kedua pipi Desi. "Katakan padaku ada apa sebenarnya? Jangan membuatku cemas seperti ini!"
Desi memegang tangan Alex. Menggenggam kedua tangan sang suaminya. Menundukkan kepalanya. Menatap tangan tersebut seraya mengelusnya berkali-kali. "Sayang..."
"Katakan ada apa?" sudah tak sabar dengan penjelasan yang akan ia dengarkan.
__ADS_1
"Apa kau akan marah jika aku meminta pulang hari ini juga?" Masih menundukkan kepalanya dalam. Takut jika Alex tak menyetujui permintaannya. Ia dan Alex sudah sepakat jika akan berada di villa ini selama tiga sampai empat hari. Namun kerinduan pada sang buah hati tak bisa ia bendung. Suara tangis baby Alessia selalu terngiang-ngiang di telinganya. Sehingga ia tak mempunyai semangat lagi jika harus di pisahkan oleh putri kecilnya.
"Apa kau merindukan Alessia?"
Pertanyaan Alex berhasil membuat Desi mengangkat kepalanya. Menatap Alex dengan mata berkaca-kaca. "Apa sangat jelas tertulis di keningku jika aku sedang merindukan Alessia? Atau karena aku terlalu bodoh menyembunyikan rasa rinduku pada putri kecilku?"
Alex menarik senyuman di kedua sudut bibirnya. Kembali menangkup kedua pipi Desi. "Kau adalah istriku. Wanita yang sangat aku cintai. Aku sangat tau apa yang sedang ada dipikiranmu saat ini. Aku juga tau bagaimana kau sangat merindukan Alessia."
"Sayang... Maafkan aku..." Memegang kedua tangan Alex yang masih berada di kedua pipinya. "Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengan Alessia lebih lama lagi. Aku tidak bisa..."
"Aku tau." Kata Alex yang memotong perkataan Desi. "Aku juga tidak sanggup jika harus berpisah dengan inces kita," kini tangannya beralih memegang kedua tangan Desi. Mengelus perlahan punggung tangan Desi. "Kau tidak perlu khawatir. Sebentar lagi kita akan pulang ke rumah dan berkumpul lagi dengan baby Alessia."
"Benarkah? Kau tidak marah?" Tanyanya lagi dengan nada antusias. Dan gelengan kepala Alex membuatnya tersenyum bahagia. "Terimakasih..." Katanya seraya memeluk sang suami dengan erat. "Terimakasih karena telah mengerti perasaanku."
Alex tersenyum mendengar penuturan dari Desi. Ia juga membalas pelukan sang istri. Mengusap punggung Desi berkali-kali. Dari kemarin tiba di di villa ia sudah bisa menebak jika sang istri memang tengah memikirkan sesuatu. Dan kini setelah melihat Desi menangis ia sudah bisa menebak akan kerinduan sang istri pada baby Alessia.
__ADS_1
Bersambung