Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Bertemu Farel


__ADS_3

Desi mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengumpulkan kesadarannya saat matahari sudah masuk lewat celah-celah jendela kamarnya. Namun sesaat badannya tak bisa di gerakkan saat ia merasa ada di seseorang yang tengah memeluknya dengan sangat erat dari samping. Desi kembali mual saat ia melihat Alex yang kini tengah tidur dengan mendekapnya sangat erat. Dengan tergesa-gesa ia menyingkirkan tangan Alex yang melingkar di atas perutnya. Lalu ia turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi.


Sedangkan Alex yang baru saja bangun langsung segera mengumpulkan kesadarannya saat ia mendengar suara muntah-muntah dari kamar mandi. "Sayang..." Ia bergegas menuruni ranjang dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Ia memutar kenop pintu kamar mandi namun pintu kamar mandi sedang terkunci dari dalam. "Sayang..." Panggilnya pada sang istri yang masih berada dalam kamar mandi dengan nada setengah berteriak. "Sayang kau baik-baik saja?" tanyanya lagi yang masih belum di jawab oleh sang istri. Ia makin panik saat suara Desi sudah tak terdengar lagi. Ia menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Memastikan kalau Desi baik-baik saja. Namun saat ia menunggu sampai beberapa menit sang istri masih belum menjawab panggilannya. Sesaat ia panik. Rasanya ingin sekali ia mendobrak pintu tersebut. Namun saat ia sudah memasang kuda-kuda untuk mendobrak pintu kamar mandi, saat itu pula pintu kamar mandi terbuka dari dalam. "Sayang..." Alex memanggil istrinya lirih saat Desi masih belum menunjukkan dirinya. Alex melangkahkan kakinya ke depan satu langkah. Ia ingin melihat keadaan Desi yang memang baik-baik saja. Namun sesaat langkahnya terhenti saat ia melihat Desi sudah melangkah keluar dari kamar mandi dan menggunakan handuk untuk menutupi wajahnya. "Sayang kau..."


"Jangan mendekat!" Kata Desi penuh penekanan. Nafasnya sudah naik turun saat ia baru menyelesaikan aktifitasnya yang melelahkan yakni mual dan muntah.


Alex sudah frustasi saat ia harus dihadapkan dengan ngidam aneh yang di alami sang istri. Kesal. Mungkin itu satu kata yang tepat untuk mewakili perasaan Alex. Ia harus kesusahan saat ia tak bisa mendekati Desi. "Aku tidak mau tau. Hari ini juga kita harus pergi ke dokter," kata Alex dengan nada geram.


"Aku baik-baik saja. Kenapa harus pergi ke dokter," jawab Desi yang masih menutupi wajahnya dengan handuk. Ia harus pintar-pintar menyembunyikan matanya dari Alex.


"Mual muntah yang kau alami sangat tidak lazim sayang..." Mencoba memberi pengertian Desi bahwa ia harus pergi ke dokter hari ini juga. "Kenapa kau harus mengalami ngidam seperti itu saat melihat wajahku?"


"Mana aku tau!" Sudah membuka penutup handuk yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya. "Lagipula..." Namun lagi-lagi rasa mual kembali menyerangnya saat ia harus melihat wajah Alex. Buru-buru ia berlari kembali ke dalam kamar mandi.


"Sayang kau baik-baik saja?" Tanya Alex seraya menggedor pintu kamar mandi. Ia menghembuskan nafas kasar saat ia masih mendengar dengan jelas suara mual Desi dari kamar mandi. "Ahh... Aku bisa gila jika seperti ini!" Kata Alex lagi sambil melemparkan pukulannya ke udara.


*


Siang ini Alex benar-benar membawa Desi ke rumah sakit milik pamannya. Dokter Elena yang bertugas sebagai dokter kandungan di rumah sakit Herlambang Wijaya sudah kehabisan kata-kata menjelaskan pada Alex mengenai gejala yang di alami oleh menantu keluarga Wijaya yakni Desi.


Kenapa Desi mengalaminya?


Kenapa harus mengalami ngidam seperti itu?

__ADS_1


Apa tidak ada obat agar ia tak mual lagi saat melihat diriku?


Berapa lama Desi akan mengalami hal itu?


Aku tidak mau tau. Anda harus mencari cara agar Desi tak mual lagi saat melihatku.


Berbagai pertanyaan sekaligus perintah sudah Alex utarakan pada dokter Elena. Ia tak mau jika terus-menerus harus menjauh dari Desi. Sudah cukup rasanya tersiksa saat ia tak bisa bersitatap dengan sang istri.


Dengan sebuah majalah yang ada di tangannya, demi melindungi matanya yang akan melihat ke arah Alex. Desi melangkah keluar dari ruangan dokter Elena, disusul Alex yang mengekor di belakangnya. Namun sesaat langkah Desi terhenti saat ia bertemu dengan sahabatnya Alika beserta suami dan anaknya yang tengah tidur di kereta dorong.


"Alika..."


"Desi..."


"Kamu ngapain disini?" Tanya Alika yang memang sangat penasaran akan pertemuannya yang tiba-tiba dengan sahabatnya.


"Aku dan Alex..." Kalimat Desi terhenti saat matanya secara tak sengaja menatap Alex. Saat bertemu dengan Alika tadi majalah yang ada di tangannya tak ia pakai untuk menutupi matanya dari sang suami. Dan alhasil kini rasa mual kembali menyerangnya. Dengan langkah tergesa-gesa ia mencari toilet yang ada di rumah sakit.


"Hah... Mulai lagi..." Desah Alex seraya membuang nafasnya kasar.


"Kenapa dengannya?" Tanya Alika yang masih tak mengerti saat sahabatnya tiba-tiba merasa mual.


"Sebaiknya kau susul dia. Nanti aku akan ceritakan semuanya," Alex berkata sambil memperhatikan sang istri yang sudah memasuki toilet rumah sakit.

__ADS_1


*


Farel tertawa keras saat ia mendengar cerita dari sepupu laki-lakinya Alex. Ia tak menyangka jika masa ngidam yang dialami oleh Desi akan separah ini.


"Jangan menertawakan diriku," celetuk Alex dengan nada kasar. "Kau sama saja seperti Sandra."


Tawa Farel terhenti saat ia mendengar nama Sandra di sebut oleh Alex. "Kau sudah membawa pulang Sandra?" Tanya Farel. Tangannya masih mendorong pelan kereta bayi yang sedang ia bawa untuk menidurkan Agam.


Perlahan Alex menatap Farel yang duduk di sebelahnya. "Kenapa kau tidak bilang jika Sandra ada di rumahmu?"


"Apa kau akan langsung menjemputnya jika aku bilang padamu kalau Sandra berada di rumahku?" Tanya Farel yang tak di jawab sepatah katapun oleh Alex. "Aku hanya ingin kau dan Sandra sama-sama tenang. Aku memang tak berniat mencampuri urusan keluarga mu. Karena aku tau kau akan menyelesaikan masalah ini dengan baik." jelas Farel panjang lebar. "Aku bersyukur kau menikah dengan Desi. Karena Desi adalah wanita yang sangat baik."


Alex tersenyum mendengar semua penjelasan dari Farel. Ia memang beruntung memiliki Desi sebagai istrinya. Wanita yang sangat dicintainya.


"Bukankah seharusnya kau sekarang sudah bisa bernafas lega. Semua masalahmu sudah beres. Dan itu semua berkat Desi," kata Farel lagi seraya tersenyum. Namun senyum di bibirnya tatkala memudar saat melihat wajah Alex yang kini sedang tegang. "Ada apa?" tanya Farel seraya memegang pundak Alex. Ia bahkan sudah bisa menebak jika Alex sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Kau ada masalah?"


"Aku khawatir."


"Khawatir soal apa?" Tanya Farel lagi yang sudah bisa membaca akan ketegangan yang Alex rasakan.


Perlahan Alex menatap Farel. "Ini soal Papa."


Kalimat tersebut berhasil membuat Farel terkejut setengah mati. Pasalnya ia bahkan tak mendengar bagaimana kabar ayah Alex sudah lebih dari setahun. Ia bahkan tak pernah menyangka jika Alex akan membahas masalah adik dari ayahnya yang saat ini masih mendekam di dalam penjara. Rasa khawatir tiba-tiba menyusup di dalam dirinya ketika Alex perlahan menceritakan bagaimana keadaan pamannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2