Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Dua Sekertaris


__ADS_3

Maya berjalan cepat di bandara dengan menggeret koper miliknya. Baru saja pesawatnya mendarat dengan mulus di bandar udara Soekarno-Hatta. Setelah menyelesaikan tugasnya di Amerika ia memang berencana mengambil penerbangan pertama dari sana. Semua yang ia lakukan bukanlah tanpa sebab. Tiga hari yang lalu atasannya sudah pulang lebih dulu ke Indonesia lantaran sangat mengkhawatirkan nona mudanya. Dan kini setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, Maya akan menyelesaikan permasalahan atasannya.


Perasaan mengenai atasannya yang tiba-tiba melakukan perjalanan pulang, membuatnya tak bisa tenang. Pasalnya atasannya sudah mendapatkan telepon dari orang rumah jika nona mudanya tengah pingsan di balkon kamarnya. Perasaannya makin tak enak dikala ia mendapat kabar dari dua orang kepercayaan atasannya yakni Adi dan Rafi jika istri dari atasannya saat ini tengah menjadi korban penculikan. Dan yang paling mencengangkan dirinya adalah saat ia mengetahui siapa dalang dari aksi penculikan istri dari atasannya.


Selagi di Amerika, Maya sudah mencari tau tentang siapa sebenarnya Hendra Wijaya. Ia memang ayah dari atasannya. Namun Maya tak pernah berjumpa secara langsung ataupun mengenal secara pribadi siapa Hendra Wijaya. Namun ia menemukan satu nama yang dulu tau akan seluk beluk Hendra Wijaya. Satu nama yang sepertinya akan menghubungkan dirinya dan orang tersebut. Satu nama yakni mantan sekertaris Hendra Wijaya yang tak lain adalah Bagas, ayah dari sekertaris Farel Adiputra Wijaya yakni Bima.


*


Bima membukakan pintu belakang sebelah kiri mobil atasannya. Setelah Farel keluar dari mobil, Bima lantas berjalan di belakangnya. Setelah kejadian satu jam lalu di rumah Alex, Farel memang menyuruh Bima untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


"Hari ini begitu sangat melelahkan. Pulanglah," perintah Farel tanpa menoleh ke belakang. "Kau juga butuh istirahat," lanjut Farel yang sekilas melihat kebelakang.


"Baik tuan muda," Bima berkata sambil menundukkan kepalanya. "Anda juga harus segera beristirahat," akhir kata Bima membuat Farel melangkah masuk ke rumahnya. Setelah melihat atasannya benar-benar memasuki rumah, lantas Bima berjalan ke arah mobilnya. Tangannya sudah memegang handle pintu mobil. Namun sesaat ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil tersebut ketika ada nada panggilan masuk di ponselnya. Ia mengeluarkan ponsel android berwarna hitam keluaran negara Tiongkok. Ia tak mengenali nomor yang sedang menghubunginya saat ini. Namun tanpa berpikir panjang ia menggeser icon berwarna hijau untuk terhubung dengan si penelepon. Ia sudah terbiasa mendapatkan telepon tanpa nama. Biasanya telepon tersebut dari seorang client. "Hallo..."


"Dengan Bima Aryanda Putra?"


Bima sesaat terdiam ketika ada suara perempuan yang kini tengah menelfonnya. Tidak biasanya ada seseorang yang menyebutkan nama lengkapnya. "Siapa kau?"


"Tiga puluh menit lagi kau akan tau siapa aku. Temui aku di JJ cafe dekat..."


"Aku tidak akan datang," jawab Bima cepat. Ia memang sudah mempunyai prinsip jika tak akan bertemu dengan orang yang baru ia kenal atau bisa dibilang bahwa orang tersebut memaksanya untuk datang menemuinya.


Sedangkan di bandar udara Soekarno-Hatta. Maya berhenti berjalan saat mendapat penolakan dari Bima. Ia menarik kacamata yang ia pakai ke atas kepala. Bibirnya tersenyum miring saat ada seseorang yang dengan beraninya menolak ajakannya untuk bertemu. "Aku akan pastikan kalau kau akan menyesal jika kau tidak bertemu denganku. Jadi sekarang cepat keluar dari rumah atasanmu. Dan pergi ke JJ cafe dekat bandar udara Soekarno-Hatta. Aku akan menunggumu disana." Maya menutup teleponnya secara sepihak. Ia bahkan tak butuh lagi jawaban dari Bima. Memakai lagi kacamata hitamnya. Lalu kembali berjalan dengan menarik kopernya.

__ADS_1


Sedangkan di depan rumah Farel. Bima masih berdiri di dekat mobil. Matanya masih tertuju pada ponselnya. Ia bahkan tak bisa menebak siapa wanita yang telah menghubunginya. Namun satu yang menjadi pertanyaannya. "Bagaimana dia bisa tau kalau aku berada di rumah tuan muda Farel?" gumamnya lirih. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman depan rumah atasannya. Tak ada yang aneh. Ia melihat beberapa pekerja yang sedang melakukan pekerjaannya di halaman depan rumah atasannya. "Apa aku sedang di mata-matai?" Katanya lagi yang masih tak beranjak di tempatnya berdiri.


*


Bima baru memasuki JJ cafe tempat dimana wanita yang tadi menelfonnya mengadakan janji temu dengannya. Atau bisa di bilang kalau ia terpaksa datang ke cafe ini karena entah mengapa ia merasa terancam saat wanita tersebut bisa dengan jelas dimana tadi ia berada.


Bima mengedarkan pandangannya ke seluruh cafe. Jarak rumah atasannya dan cafe ini terbilang cukup jauh. Bima bahkan sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang sudah ditentukan. Entah wanita yang tadi menelfonnya akan menunggu kedatangannya atau tidak namun ia akan tetap akan berada disini. Ia akan menunggu selama lima belas menit. Jika wanita itu tak menampakkan dirinya maka ia akan pergi dari cafe ini.


Bima terdiam cukup lama di tempatnya berdiri saat ia mendapati ada seorang wanita yang sedang memanggilnya dengan isyarat tangan dengan jarak tiga meter dari tempatnya berdiri. Ia tak langsung mendekati wanita tersebut. Ia hanya takut jika bukan dia yang di panggil oleh wanita yang kini sudah berdiri. Bima menoleh kebelakang. Mencari seseorang yang mungkin di panggil oleh wanita tersebut. Namun suara wanita tersebut yang tengah memanggil namanya membuat ia sadar bahwa memang dirinyalah yang sedang di panggil oleh wanita tersebut.


Perlahan Bima berjalan ke arah wanita tersebut. Ia memang tak pernah bertemu dengan wanita yang ada di depannya saat ini. Ia menatap wanita tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kau yang menelfonku?" Tanya Bima dengan nada datar.


"Benar." Lagi-lagi Maya menarik kacamata yang ia pakai ke atas kepalanya. "Perkenalkan aku Maya," kata Maya yang mengulurkan tangan kanannya.


"Bima Aryanda Putra," potong Maya cepat. Tangannya bahkan masih bersalaman dengan Bima. "Putra satu-satunya dari Pak Bagas. Mantan sekertaris Hendra Wijaya beberapa tahun yang lalu. Kau dibesarkan sendiri oleh ayahmu karena ibumu telah meninggal dunia. Selama tujuh tahun kau bekerja pada Pak Herlambang Wijaya namun setelah insiden penusukan pada menantu keluarga Wijaya kau dijadikan sekertaris pribadi oleh Pak Farel Adiputra Wijaya. Benar begitu?" Jelas Maya yang kini melepaskan tangannya dari tangan Bima.


Bima terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh wanita di depannya. Entah mengapa ia merasa dimata-matai oleh wanita tersebut. Hanya satu orang yang tau akan identitasnya. Dan dia adalah atasannya sendiri. Atasan yang selalu ia hormati yakni Farel Adiputra Wijaya. "Dari mana kau tau tentang diriku. Siapa kau sebenarnya?" Tanya Bima dengan nada geram.


"Duduklah," kata Maya sesantai mungkin. Ia sudah duduk di kursi yang tadi ia duduki. "Aku ingin membahas sesuatu denganmu."


"Aku tanya siapa kau?" Tanya Bima seraya menggebrak meja. Ia tak pernah semarah ini jika berhadapan dengan seseorang. Apalagi orang yang berusaha mengancamnya.


Maya tersenyum miring melihat reaksi Bima. "Kenapa kau marah sekali? Padahal aku sudah menunggumu selama empat puluh lima menit yang lalu tanpa protes sekalipun," tambahnya lagi yang membuat wajah Bima semakin geram. "Duduklah dulu, aku hanya ingin meminta bantuanmu."

__ADS_1


Tanpa di suruh untuk kedua kalinya akhirnya Bima duduk di kursi depan Maya. Menatap tajam wanita di hadapannya.


"Kau mau pesan sesuatu?"


"Tidak usah basa-basi," potong Bima cepat. "Sekarang cepat katakan. Apa maumu?"


Maya kembali tersenyum miring. Menaruh kedua tangannya di atas meja. "Aku adalah sekertaris pribadi Pak Alex Candra Wijaya. Sepupu dari atasanmu."


"Apa?" Bima tak percaya dengan pernyataan yang diberikan oleh wanita di depannya. Ia memang tak pernah bertemu sama sekali dengan sekertaris pribadi sepupu dari atasannya.


Maya menganggukkan kepalanya pelan. "Aku ingin meminta satu bantuan darimu," kata Maya yang membuat Bima mengerutkan dahi. "Aku ingin bertemu dengan ayahmu."


Penuturan Maya benar-benar membuat Bima kembali tak percaya. Setelah insiden Hendra Wijaya di penjara. Ia sudah mati-matian menutup rapat akan status ayahnya. Ia tak mau jika ayahnya kembali di seret dalam intrik keluarga besar Wijaya. "Tapi maaf aku tidak bisa membawa orang asing bertemu dengan ayahku," kata Bima pasti. Sampai kapanpun ia akan berusaha melindungi ayahnya dari siapapun.


Maya menyenderkan punggungnya ke kursi kayu dimana saat ia ia duduk. Melipat kedua tangannya di depan dada. "Jika boleh aku ingatkan. Kau mempunyai satu hutang pada atasanku," kata Maya dengan tatapan intimidasi.


"Apa maksudmu?"


"Kau lupa, siapa yang dulu telah menyelamatkan ayahmu dari pemukulan pria misterius yang tadi pagi telah terbunuh di depan kantor polisi?"


Perkataan Maya membuat Bima menganga tak percaya. Pasalnya, entah mengapa penjelasan wanita di depannya ini sangat sekali mendetail. Potongan slide yang hilang di otaknya kini kembali menyatu satu persatu. Benar, dulu Alex lah yang membawa ayahnya ke rumah sakit akibat pemukulan dari pria misterius yang sama sekali ia tak tau. Alex juga yang membawa ayahnya untuk menghindar dari pembunuh bayaran yang ditugaskan oleh Hendra Wijaya untuk menghabisi nyawa ayahnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2