
Pov Alex
Saat ini Alex tengah berada di ruang kerjanya. Ada rasa cemas yang menyusup dalam dirinya. Kepergian istri dan adik perempuannya membuatnya tak tenang. Beruntung hari ini Maya menemani kepergian adiknya ke mall namun Alex masih harus memastikan kalau Desi akan baik-baik saja bersama Sandra.
Alex meraih ponselnya yang ada di atas meja kerjanya. Menelfon seseorang yang harus menjadi matanya saat Desi berada diluar rumah. Setelah menekan tombol berwarna hijau Alex mendekatkan ponselnya di telinganya. Baru deringan pertama seseorang yang ia telfon langsung menjawab panggilannya. "Hallo Maya. Kau sudah tau apa yang harus kau lakukan?" Tanya Alex memastikan.
'Anda tenang saja Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin melindungi istri anda dari apapun yang akan Sandra lakukan.' Jawab Maya di seberang sana.
"Bagus. Selalu kabari aku apa yang dilakukan Desi dan Sandra disana. Kau mengerti?" Alex sudah memberi perintah pada sekertaris pribadinya. Ia tak mau kejadian yang tak ia inginkan terjadi. Setelah mendapat jawaban dari Maya, Alex pun menutup teleponnya. Menaruh ponselnya disamping laptopnya.
Hari libur ini ia isi waktunya dengan berada di ruang kerja rumahnya. Namun saat otaknya ingin mencerna semua isi berkas yang ada dihadapannya, pikirannya malah tertuju pada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Ada rasa khawatir yang amat besar saat ia harus melepaskan Desi keluar dengan Sandra. Kini matanya tertuju pada ponsel yang ada di atas meja kerjanya. Ponselnya bahkan tak berbunyi sama sekali saat tadi Alex menutup panggilannya dengan sekertarisnya Maya.
*
Dua jam sudah ia menatap ponselnya. Dua jam juga, ia tak mengerjakan berkas yang ada dihadapannya. Punggungnya ia sandarkan di bantalan kursi kerjanya. Melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia benar-benar menantikan pesan yang akan dikirimkan Maya padanya. Namun sampai dua jam berlalu Maya tak mengabarinya. "Apa dia baik-baik saja?" Gumam Alex lirih. Ia menghembuskan nafas pelan. "Mungkin dia baik-baik saja. Ada Maya disana yang menjaganya," gumamnya lagi lirih. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas. Meregangkan otot-otot tubuhnya karena sudah dua jam ia duduk tanpa melakukan apapun. Kemudian ia beranjak dari duduknya. Kakinya akan melangkah namun bunyi pesan yang masuk ke ponselnya membuat ia mengurungkan langkahnya. Buru-buru ia membuka pesan yang sudah terlihat jelas disana ada nama Maya. Saat membuka pesan Maya, sesaat Alex terdiam. Lalu selang tiga detik ia menyambar kunci mobil yang ada di atas meja kerjanya. Kemudian berlari keluar dari ruang kerjanya menuju mobilnya yang terparkir di garasi.
__ADS_1
"Alex mau kemana?" Tanya Marisa yang berteriak karena putra satu-satunya tengah berlari keluar rumah.
"Nyusul Desi..." Jawab Alex dengan teriakan juga. Ia bahkan tak menghentikan langkahnya saat ibunya bertanya padanya.
"Benar-benar tuh anak. Gak bisa pisah barang sedetik aja sama istrinya," ucap Marisa sambil geleng-geleng kepala.
"Itu karena tuan muda sangat mencintai nona Desi, nyonya. Begitu pula sebaliknya..." Kata Bu Dina menimpali.
"Benar. Alex dan Desi pasti saling mencintai. Lihatlah perjuangan Desi saat keluarga ini melamarnya dan ayah Desi tidak menyetujuinya. Desi bahkan akan bunuh diri jika dirinya tidak mendapatkan restu dari orang tuanya," kata Marisa yang mengingat kembali saat keluarga besarnya berniat melamar Desi untuk dijadikan menantunya namun ayah Desi menentangnya habis-habisan.
*
Dua puluh menit kemudian Alex sampai di parkiran mall yang alamatnya tadi sempat dikirimkan oleh Maya. Ia berlari menuju mall tersebut. Ia berhenti tepat setelah memasuki pintu utama mall. Nafasnya sudah naik turun saat tadi ia berlari. Alex mengedarkan pandangannya ke seluruh mall. Ia mencari di lantai berapa bioskop berada.
Alex kembali berlari. Bertanya pada salah satu karyawan mall letak bioskop berada. Mata Alex mengarah pada lantai yang ditunjuk oleh salah satu karyawan mall. Setelah mengucapkan terimakasih, Alex kembali berlari menuju lift. Menekan tombol lift dengan angka empat seperti yang dibilang oleh karyawan mall tadi. Setelah pintu lift terbuka, Alex lantas kembali berlari keluar. Mengedarkan pandangannya ke seluruh mall di lantai empat. Mencari letak dimana bioskop berada.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, ia menemukan bioskop tersebut. Berjalan dengan langkah setengah berlari. Ia segera membeli tiket yang menayangkan film horor dan langsung masuk kedalam bioskop tersebut.
Setelah melewati pintu masuk, Alex mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan bioskop. Mencari sesosok wanita yang dari tadi ia khawatirkan. Maya sudah memberi pesan padanya untuk segera datang ke bioskop yang sedang ia singgahi dengan dua wanita lainnya. Yakni Sandra dan Desi.
Setelah belanja kami berencana untuk menonton di bioskop. Dan Sandra memilih film bergenre horor. Namun sepertinya nona Desi sangat tidak menyukai film tersebut. Karena dua hari yang lalu saya sudah mencari tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh istri anda. Dan nona Desi sangat membenci film horor. Jika anda mau, anda bisa kemari menemani nona Desi. Saya akan mengirimkan alamat mall pada anda.
Begitulah pesan singkat yang dikirim Maya pada atasannya Alex. Setiap apa yang membuat istri atasannya tak suka, Maya selalu mengirimkan pesan pada Alex.
Seperti halnya sekarang, Alex sudah berdiri di pintu masuk bioskop. Dengan nafas tersengal-sengal ia masih mencari sosok wanita yang ia cari. Ketemu. Ia melihat tiga wanita yang sedang duduk berdampingan. Maya duduk disebelah kiri, Sandra di tengah dan Desi berada di bangku sebelah kanan.
Perlahan Alex mencari kursi yang dekat dengan Desi. Ia mendudukkan dirinya tepat di belakang Desi. Ia melihat Desi dari belakang yang sepertinya sedang gusar. Sedangkan Sandra dan Maya terlihat sedang fokus menonton film horor tersebut. Sesekali bibir Alex tersenyum penuh makna saat melihat sang istri gelisah. Memperhatikan lagi saat Desi menoleh ke kanan dan ke kiri. Alex memang tak bisa melihat wajah Desi namun sudah bisa ia pastikan kalau Desi saat ini sedang ketakutan. Badan Alex sudah maju ke depan ketika ia merasa Desi makin terlihat gelisah. Rasanya tak tega saat Alex membiarkan Desi yang semakin tegang menonton film yang diputar di bioskop tersebut.
Saat Desi berteriak ketakutan saat itu pula Alex langsung pindah duduk disebelah kanan Desi. Tangannya sudah merangkul tubuh Desi. Berharap dengan begitu Desi tak lagi ketakutan. Namun sesaat ia makin mengeratkan pelukannya ketika ia merasai tubuh Desi penuh dengan keringat dingin. Perlahan ia bisa menatap wajah wanita yang membuatnya khawatir dari tadi siang saat Desi keluar dari rumah.
"Alex..." Kata Desi dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tenanglah... Ada aku disini..." Ucap Alex sambil mengeratkan pelukannya pada Desi.
Bersambung