
Apa yang terjadi?
Kenapa dengan tanganmu?
Kau berkelahi?
Atau ada orang yang jahat padamu?
Berbagai pertanyaan sudah di luncurkan oleh Desi pada Alex saat sang suami baru pulang di jam sepuluh malam.
Alex yang beralasan lembur membuat Desi makin tambah panik saat melihat sang suami pulang dalam keadaan tangan yang terluka.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir," jawab Alex seraya memeluk erat sang istri. Di saat seperti ini, ia memang membutuhkan dukungan agar dirinya tak kembali terpuruk saat harus memikirkan sang ayah. Beruntung tadi Farel mengajaknya untuk pergi ke rumah sakit untuk mengobati lukanya. Di samping ia bisa mengobati luka di tangannya dari dokter Roni, tadi ia juga bisa di buat tertawa oleh teman kuliah Farel yakni dokter gila yang kini sudah menjadi temannya.
*
Sesekali Alex mengecup kening sang istri yang sudah terlelap dalam tidurnya. Setelah melakukan aktifitas melelahkan yang hampir setiap hari ia lakukan kini dirinya malah tak bisa tidur. Dari tadi ia masih saja sibuk memandangi wajah yang semakin hari semakin memiliki pipi yang tembem. Kandungan sang istri yang sudah memasuki bulan ke tujuh kini membuat perut sang istri membuncit. Mungkin ia harus merasa bersyukur ketika rasa mual Desi hilang beriringan dengan perutnya yang semakin membesar. Rasa mual yang dulu di derita sang istri membuat Alex mau tau mau selalu melakukan kucing-kucingan ketika ia harus secara tak sengaja saling bertatap muka dengan sang istri.
Tangan Alex terulur mengelus perut Desi saat sang istri masih terlelap. Ia bisa merasakan saat ada pergerakan dari perut sang istri. Senyum di bibirnya seketika mengembang saat ia bisa merasakan tendangan dari dalam perut sang istri. Kemudian ia mencium perut istrinya. "Baik-baik di dalam sana. Jangan buat bunda kelelahan seiring kamu bertambah besar. Kau mengerti!" Kata Alex yang berbicara sendiri dengan perut sang istri. Beberapa hari yang lalu ia mendapatkan buku yang ia pesan dari Maya perihal bayi yang masih dalam kandungan sangat bisa di ajak bicara atau berkomunikasi. Dengan buku itu Alex ingin mencoba menjalin komunikasi dengan sang anak. Ia ingin menciptakan chemistry yang biasanya sangat mustahil di dapat oleh seorang ayah lantaran banyak studi yang menyebutkan bahwa sang ibu lah yang selalu mendapat perhatian lebih dari sang anak. Ia ingin membantah semua buku yang ia baca perihal chemistry antara ibu dan anak. Ia ingin menjadi ayah pertama yang memiliki hubungan yang baik meski anaknya nanti baru lahir.
__ADS_1
Perlahan Alex turun dari ranjang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia tak ingin membangunkan sang istri yang sudah sedari tadi terlelap dalam tidurnya. Ia melirik jam dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Setelah kepulangannya dari rumah sakit jiwa tadi sore membuatnya kembali memikirkan sang ayah yang sampai saat ini bahkan belum menunjukkan tanda-tanda akan membaik.
Ia berjalan menuju balkon kamarnya. Berdiri seraya memegang pembatas besi disana. Menghembuskan nafasnya perlahan. Ketika rasa sesak kembali menghampiri dadanya.
*
Alex saat ini sudah berada di bandara. Dia sedang duduk di kursi tunggu bersama sang istri yang tengah mengantarkan dirinya sampai benar-benar masuk ke dalam pesawat.
Dua hari yang lalu ia sudah meminta ijin pada istrinya Desi untuk melakukan perjalanan keluar negeri demi pekerjaan yang sudah menantinya disana. Ia memang sedang membuka cabang perusahaannya di tempat yang dulu ia tinggali yakni Amerika. Disana cabang perusahaannya di pegang oleh teman semasa kecilnya. Pertemanan mereka tercipta lantaran keduanya memasuki sekolah yang sama. Dan sampai saat ini, meski Alex tinggal di Jakarta namun pertemanan antara keduanya masih terjalin erat.
Tangan keduanya saling bertautan saat pandangan Alex dan Desi mengarah pada Maya yang saat ini tengah berdiri di samping Alex. Sepertinya ia telah selesai mengurus e-tiket dan segala kebutuhan yang Alex perlukan.
"Semuanya telah selesai Pak. Dua puluh menit lagi kita akan take off," kata Maya yang kemudian pergi ke arah Adi dan Rafi setelah atasannya menganggukkan kepala pelan.
"Hati-hati di rumah," kata Alex seraya mengecup telapak tangan sang istri yang dari tadi di genggamannya.
"Kau yang harus hati-hati disana."
__ADS_1
Alex hanya tersenyum menanggapi perkataan Desi. Kini ia berjongkok di hadapan sang istri, hingga kepalanya sejajar dengan perut Desi yang menonjol ke depan. "Jaga bunda baik-baik di rumah," katanya seraya mengelus perut sang istri.
"Dia tidak mendengar suaramu," kata Desi sambil tersenyum melihat tingkah laku sang suami yang sering kali mengajak bicara buah hatinya yang masih berada dalam kandungan.
"Kau yakin?" tanyanya seraya memegang perut sang istri. "Lihatlah, dia bergerak." Kata Alex lagi yang merasakan gerakan dari dalam perut sang istri.
"Benar..." Kata Desi seraya tersenyum. Dan kebahagiaannya kini seolah lengkap saat ia melihat wajah Alex yang sedang tersenyum bahagia dan sesekali menempelkan telinganya di perutnya.
Beberapa saat kemudian Desi melambaikan tangan ke arah Alex yang sudah berdiri di terminal untuk penerbangan internasional. Dengan di dampingi Adi dan Rafi untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Sesaat ia berbalik saat ia sudah melihat Alex dan sekertarisnya Maya sudah benar-benar hilang ke ruangan yang akan mengantarkan suaminya naik pesawat.
*
Sedangkan di rumah sakit jiwa kini Hendra yang berada di taman rumah sakit tengah duduk di kursi taman. Ia masih tak berhenti menghitung jari-jarinya sambil tertawa. Ia berdiri lalu berjalan. Sesekali ia berpapasan dengan teman sesamanya yang juga mengalami gangguan kejiwaan. Sesekali ia juga berpapasan dengan dokter dan perawat di rumah sakit tersebut. Ia masih saja berjalan sampai di lorong dimana tak ada seorang pun disana. Tawa yang dari tadi menghiasi kegilaannya kini seketika memudar. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh lorong, sesekali ia juga menghadap ke belakang. Kegilaan yang selama ini ia perankan hanyalah kebohongan belaka. Karena dengan kegilaan ini ia bisa keluar dari sel tahanan. Ia terus berjalan dan semakin mempercepat langkahnya dan kemudian berlari menuju lorong tersebut. Hingga lorong panjang tersebut membawanya ke sebuah pintu. Dan pintu tersebut adalah pintu keluar yang sudah lama tak digunakan.
*
Desi berjalan dengan di dampingi oleh Adi dan Rafi yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Namun sesaat langkahnya terhenti saat ada seseorang yang tengah memeluknya erat dari belakang. Perlahan ia menoleh ke arah orang yang sedang memeluknya. "Sayang... Kenapa kembali?" tanyanya seraya berbalik.
Sedangkan Alex tak menjawab pertanyaan dari Desi. Ia kembali memeluk Desi dengan erat setelah sang istri sudah berbalik menghadapnya. Saat tadi ia sudah memasuki terminal gate, entah kenapa tiba-tiba saja ada perasaan khawatir yang teramat dalam di hatinya.
__ADS_1
Bersambung