
"Kandungan anda masih berusia lima minggu. Mungkin di usia dini seperti ini anda akan mengalami banyak keluhan seperti morning sicknes, makan dengan porsi yang tidak benar, pusing atau gejala-gejala lainnya. Namun anda tidak perlu khawatir. Karena itu adalah gejala awal wanita hamil," jelas dokter Elena yang tadi di panggil oleh perawat lantaran sadarnya Desi.
"Tapi aku tidak mengalami semua yang dokter bilang," jawab Desi yang sudah duduk di tempat pembaringannya.
"Gejala yang dirasakan ibu hamil memang berbeda-beda. Kandungan anda juga masih berusia lima minggu." Kata dokter Elena lagi.
"Dia memang tidak merasakan apa yang tadi anda jelaskan, tapi setiap hari dia selalu merengek tidak jelas. Dia bilang dia selalu merindukanku, padahal kami berada dalam satu rumah yang sama. Dia juga tidak bisa pernah ku tinggal keluar barang sedetikpun. Dia cegeng!" Jelas Alex. Kini ia tau kalau kemanjaan yang Desi lakukan setiap hari karena kehamilan sang istri.
"Umumnya peningkatan hormon pada wanita hamil memang sangat signifikan. Saat ini peran calon ayah sangat di butuhkan ketika seorang ibu membutuhkan perhatian lebih," jelas dokter Elena lagi. Dan di tanggapi oleh Alex dengan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Lalu kapan Desi di perbolehkan untuk pulang?" Tanya Alex kemudian.
"Jika kondisi istri anda segera membaik maka besok istri anda sudah bisa pulang," tambahnya lagi. Beberapa saat kemudian dokter Elena pamit keluar setelah menjelaskan apa yang ingin diketahui oleh sepasang suami istri ini.
Setelah kepergian dokter Elena, Alex duduk di ranjang. Tangannya lagi-lagi menggenggam erat tangan sang istri. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya yang memastikan kalau sang istri memang sedang baik-baik saja. Dan pertanyaan Alex di jawab anggukan kepala oleh Desi. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Alex yang masih menggenggam erat tangan Desi. "Kau pasti salah makan kan?" Tanyanya sekali lagi. Sejenak ia menjeda kalimatnya sendiri saat tak ada jawaban dari mulut Desi. "Siapa yang memesan makanan tadi di kedai makanan?" Tanyanya lagi yang memang penasaran akan jawaban sang istri.
__ADS_1
Desi diam seribu bahasa ketika Alex memberinya pertanyaan yang sangat sulit ia jawab. Namun apa yang di tanyakan oleh Alex semuanya benar. Kesalahan makanan yang ia makan itulah yang menjadi sebab utama dirinya pingsan dan bisa sampai di kondisi seperti ini. Kejadian tadi sore di kedai makanan juga pernah ia alami saat kecil. Ketika dirinya pertama kali tau akan alergi yang ia derita. Sesaat pikirannya langsung tertuju pada Sandra yang memesan makanannya tadi.
Sandra tidak mungkin ingin mencelakai ku. Memang dia yang memesan makanan untukku, tapi aku yakin bukan dia yang sengaja memesan makanan yang membuatku alergi seperti ini. Ini semua pasti karena karyawan disana yang salah memberikan makanan padaku.
Kata Desi dalam hati. Ia tak mungkin bilang pada Alex jika Sandra lah yang memesan makanan untuknya. Atau kalau tidak suaminya akan murka pada Sandra. "Aku tidak tau. Tiba-tiba saja aku pingsan. Mungkin pihak restorannya yang salah memberikan menu pesananku," jawab Desi yang memberi jawaban pada suaminya setelah lama ia terdiam. "Sudahlah... Aku tidak mau membahas masalah itu lagi. Yang penting sekarang aku dan calon bayi kita dalam keadaan baik-baik saja," kata Desi sambil mengelus perutnya yang masih rata. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan saat Alex masih ingin membahas masalah makanan yang tadi ia makan.
***
Maya, Rafi dan Adi terlihat memasuki sebuah mall yang di kunjungi oleh Desi dan Sandra tadi sore. Mereka dengan mudah menemukan mall mana yang tadi di kunjungi oleh dua wanita yang berarti dalam hidup atasan mereka.
"Nona... Sa- saya bi-bisa je-jelaskan..." Nada bicara karyawan laki-laki yang berdiri di hadapan Maya sudah tak jelas. Membuat Maya, Adi dan Rafi mengernyit heran. Sehingga mereka semakin curiga atas kejadian sore hari tadi.
*
Maya sudah duduk di ruangan sang pemilik kedai makanan yang berukuran dua kali tiga meter ini. Ia menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Melipat kedua tangannya di depan dada. Lagi-lagi ia memberikan tatapan intimidasi pada pemilik kedai makanan yang berjenis kelamin laki-laki. "Maksudmu tiga puluh menit sebelum aku datang. Sudah ada wanita yang kemari?" Tanya Maya yang tadi sempat mendengar pernyataan dari pemilik kedai.
__ADS_1
"Benar nona," jawab pemilik kedai sambil menganggukkan kepalanya pasti. "Dia adalah wanita yang datang dengan wanita yang tadi pingsan di kedai kami," lanjutnya lagi. Saat ini ia menaruh tangannya di atas meja yang memisahkannya dengan wanita yang berkebangsaan Amerika di depannya. "Dia memberikan kami sejumlah uang agar kami menutup mulut atas kejadian sore tadi disini," tambahnya lagi membuat kening Maya mengerut. "Dia tidak ingin menjadi tersangka atas kejadian yang menimpa kakak iparnya atau kalau tidak..."
"Tunggu sebentar..." Kata Maya memotong perkataan dari laki-laki yang mencoba menjelaskan akan kejadian di kedai makanannya tadi sore. "Maksudmu, Sandra yang memesan makanan untuk wanita yang tadi pingsan?" Tanyanya memastikan.
"Anda benar sekali nona."
Maya sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Saking terkejutnya ia sampai menutup mulutnya yang menganga lantaran penjelasan yang ia dengarkan dari pemilik kedai makanan yang beroperasi di salah satu mall terbesar di kota Jakarta.
*
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Maya langsung masuk ke dalam ruang perawatan istri dari atasannya.
Sedangkan Alex sangat terkejut dengan kedatangan Maya yang tiba-tiba. Baru saja ia berhasil menidurkan sang istri yang dari tadi merengek tak jelas. "Ada apa? Kau terburu-buru sekali?" Tanyanya yang ingin sekali tau maksud kedatangan Maya. Namun kediaman Maya sudah bisa ia tebak kalau Maya tengah membawa berita yang sangat ingin ia dengarkan. Perlahan Alex melepaskan tangannya dari genggaman sang istri. Lalu ia melangkah mendekati sekertaris pribadinya Maya. "Kau sudah mendapatkan apa yang ku minta?" Tanyanya yang membuat Maya menatap ke arahnya.
Bersambung
__ADS_1