Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kejanggalan


__ADS_3

Alex membukakan pintu mobil sebelah kiri agar sang istri bisa keluar. Waktu sudah menunjukkan sore hari ketika Desi di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Di depan pintu utama terlihat Bu Dina, Adi dan Rafi dan beberapa pelayan wanita sedang berdiri menyambut kedatangan majikannya.


"Sedang apa mereka diluar rumah?" Tanya Desi saat ia sudah berdiri di samping mobilnya.


"Untuk menyambutmu," jawab Alex singkat.


"Kenapa juga harus di sambut? Aku kan bukan ratu?" Gerutu Desi seraya melangkah menuju rumahnya.


"Kau pantas di sambut seperti ini. Kau kan ratu di hatiku," goda Alex sambil berbisik. Jemari tangannya ia selipkan di sela-sela jemari sang istri.


"Apa kau sedang belajar?"


"Belajar apa?" Tanya Alex seraya mengerutkan keningnya.


"Belajar menggodaku..." Tawa Desi pecah saat ia berhasil membuat wajah Alex terdiam dengan penuturannya.


"Selamat datang kembali di rumah nona Desi..." Ucap semua orang yang bekerja di rumah Alex.


"Terimakasih..." Sesaat Desi mengedarkan pandangannya. Ia tak melihat sang mertua maupun Sandra. Lalu ia dan Alex berjalan ke dalam rumah. Di dalam rumah pun nampak tak banyak aktifitas. Biasanya disaat sore hari seperti ini banyak sekali aktifitas yang dikerjakan oleh mertuanya. "Mama dimana?" Tanya Desi yang sudah melangkah menaiki tangga.


"Dia mungkin sedang istirahat," jawab Alex lagi singkat. Saat ini ia tak mau membahas mengenai Mama dan juga Sandra.


"Lalu dimana..."


"Jangan banyak bertanya," kata Alex yang memotong perkataan Desi. Ia menghentikan langkah saat sudah berada di depan pintu kamarnya. Memegang kedua lengan istrinya saat mereka tengah berhadapan. "Lebih baik kau istirahat. Aku akan kembali membawa air putih untukmu," kata Alex yang sudah membuka pintu kamarnya. Menyuruh Desi untuk masuk lebih dulu.

__ADS_1


Alex menuruni tangga menuju dapur. Menemui Bu Dina yang sudah berkutat di dapur setelah menyambut kedatangan istrinya. "Dimana Mama?" Tanya Alex yang mengedarkan pandangannya ke seluruh lantai satu.


Seketika Bu Dina menghentikan pekerjaannya saat Alex sudah ada di depannya. "Nyonya masih di kamar tuan. Ada yang anda butuhkan?"


Mata Alex kini tertuju pada pintu kamar sang ibu yang masih tertutup rapat. "Ambilkan saja aku air putih di botol. Aku akan membawanya ke kamar," jawab Alex tanpa mengalihkan pandangannya pada kamar sang ibu.


*


Malam harinya Alex dan Desi turun dari kamar. Makan malam yang biasanya di lakukan pukul tujuh malam kini terlambat hingga pukul setengah delapan malam. Di karenakan Alex dan Desi sedang menunggu kedatangan sang ibu di meja makan.


Marisa terlihat berjalan ke arah meja makan sambil sesekali merapikan rambutnya yang berantakan. Ia tersenyum pada Desi ketika dia sudah duduk di kursi yang biasa ia duduki. "Maaf Mama terlambat," kata Marisa sambil menundukkan kepalanya. Menyembunyikan mata sembabnya dari menantunya.


Desi yang tau ada yang tidak beres dengan mertuanya kini makin mencari kejanggalan yang sepertinya disembunyikan oleh sang mertua. "Mama baik-baik saja?" Tanya Desi sambil sesekali menatap wajah sang mertua yang dari tadi sibuk menundukkan kepala.


Desi menganggukkan kepalanya. Ia makin merasa ada kejanggalan ketika sang suami sepertinya acuh pada ibu mertuanya.


"Sebaiknya kita mulai makan malamnya. Kau juga harus segera istirahat kan," kata Alex seraya meminum air putih dalam gelas kaca.


"Bukankah kita juga harus menunggu Sandra," kata Desi yang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Membuat Alex dan Marisa diam tak bersuara akan penuturan dari Desi. "Dimana dia? Aku tidak melihatnya dari tadi. Sayang apa kau..."


"Dia tidak ada disini," jawab Alex cepat membuat Desi dan ibunya kini berbalik menatapnya.


"Tidak ada disini? Lalu kemana Sandra?"


Saat Alex diam saja tak menjawab pertanyaan dari Desi kini dada Marisa yang merasa sakit saat menantunya menanyakan keberadaan putrinya. Perlahan Marisa menundukkan kepalanya saat ia berusaha menahan air matanya yang akan jatuh. Ia mengedipkan matanya beberapa kali agar air matanya tak jatuh saat ia harus berhadapan dengan Desi. "Sayang... Sandra sedang mengikuti internship dari kampusnya. Sepertinya dia tidak akan pulang untuk beberapa hari ini."

__ADS_1


"Ahh begitu rupanya..." Desi menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya.


"Sudahlah, sebaiknya cepat makan. Lalu kau segera istirahat," perintah Alex yang di tanggapi anggukan kepala oleh Desi.


Sedangkan Alex sesekali melirik ke arah sang ibu yang makan dalam diam. Ia dapat melihat jelas jika sang ibu sangat terpukul akan kejadian semalam. Entah perlakuannya tadi malam benar atau salah tapi ia sangat merasa kecewa akan sikap Sandra pada istrinya.


*


Tengah malam Desi terbangun dari tidurnya. Ia segera menyalakan lampu tidur di atas meja nakas saat rasa haus begitu mengeringkan tenggorokannya. Ia bangkit dari tempat tidurnya kemudian duduk. Lalu ia menuangkan air putih dari botol kaca yang dibawakan oleh Alex tadi. Kemudian ia meminumnya sampai tandas tak bersisa. Setelahnya meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja nakas.


Desi melihat sisi ranjang sebelah kiri. Ia terkejut saat tak mendapati Alex di sampingnya. Ia berjalan ke arah sakelar lampu yang berada di sebelah pintu kamarnya, lalu menghidupkannya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya namun ia tak bisa menemukan Alex di kamar. "Sayang..." Panggil Desi. Kemudian ia berjalan ke arah kamar mandi dan segera membukanya. Namun lagi-lagi ia tak bisa menemukan Alex disana.


Perasaannya tak enak ketika Desi tak bisa menemukan suaminya di seluruh kamarnya. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. Tak biasanya Alex pergi tengah malam begini. "Dimana dia?" Kata Desi sendiri. Namun keinginannya untuk menemukan Alex tak bisa ia hindari.


Desi melangkah keluar kamar. Semuanya gelap. Hanya lampu di dinding saja yang menyala. Ia berjalan ke arah tangga namun ia bisa melihat di bawah tak ada aktifitas sedikitpun melihat lampu di bawah juga padam.


Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke bawah. Entah kenapa saat ini pikirannya malah melayang ke kamar Sandra yang juga berada di lantai dua. Dari kamar yang saat ini ia tempati, kamar Sandra hanya berjarak enam meter saja. Kamarnya dan kamar Sandra hanya di pisahkan oleh ruangan keluarga yang memang di desain lebih privat jika berada di lantai dua.


Perlahan Desi melangkah ke kamar Sandra. Ia bisa melihat bahwa kamar Sandra tidak menutup sempurna. Ada celah sekitar dua jengkal di pintunya.


Bukankah Sandra tidak ada? Tapi kenapa lampu di kamarnya menyala?


Kata Desi dalam hati saat ia bisa melihat jelas bahwa lampu di kamar Sandra sedang menyala terang dari celah pintu tersebut. Perlahan Desi mendorong ke dalam pintu tersebut, namun ia tak sepenuhnya membukanya. Tanpa mencari seseorang yang tengah ia cari, ia bisa melihat keberadaan suaminya yang tengah berdiri di sebelah tempat tidur Sandra sambil memegang foto. Sesaat Desi bahkan tau kalau suaminya saat ini sedang tak baik-baik saja ketika ia melihat getaran di tubuh Alex. Ia juga bisa menangkap suara tangisan lirih dari mulut suaminya. Sesaat ia teringat akan kejadian tadi pagi di rumah sakit ketika ia bertanya pada Alex apakah ada masalah di rumah namun sampai saat ini ia tak mendapatkan jawaban dari Alex. Ia juga teringat saat tadi makan malam ketika Alex mencuri pandang pada ibu mertuanya. Di saat itu ia sadar bahwa keluarga suaminya memang sedang tak baik-baik saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2