Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Inces


__ADS_3

Seminggu berlalu. Kini Desi sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ia hanya perlu melakukan pemeriksaan tujuh hari sekali untuk mengetahui perkembangan akan luka tembak di punggungnya. Saat ini Alex tengah menyetir mobil miliknya. Sedangkan Desi sedang duduk bersandar di bantalan jok mobil. Ada kesedihan di raut wajahnya saat ia tak bisa membawa pulang putri kecilnya. Lahir dengan kondisi prematur membuat bayinya saat ini tengah menjalani perawatan khusus di rumah sakit.


"Sayang... Jika aku tidak bisa membawa inces pulang ke rumah. Lebih baik aku yang menginap di rumah sakit," kata Desi yang saat ini tengah sedikit menghadap ke arah Alex yang sedang fokus menyetir.


"Siapa si inces?" Tanya Alex sambil mengerutkan keningnya.


"Inces sayang... Putri kita," jelas Desi seraya menepuk pelan dadanya. Menjelaskan bahwa inces yang ia maksud adalah putri kecilnya.


"Inces? Apa kau sudah memberinya nama?"


"Belum," menundukkan kepalanya sedih. "Aku bahkan belum sempat memikirkan nama untuknya."


"Tapi inces..." Alex menggantungkan kalimatnya seraya sesekali melihat sang istri yang tengah menundukkan kepala.


"Inces itu sebutan untuk putri kecil kita sayang..."Jawab Desi. Mencoba menjelaskan kenapa ia memanggil putri kecilnya dengan sebutan inces. "Bukankah dia little princess kita? Karena dia belum kita kasih nama makanya aku panggil dia princess. Tapi aku lebih suka lagi jika memanggilnya inces," jelasnya yang membuat Alex berkali-kali menganggukkan kepalanya tanda mengerti akan semua penuturan sang istri.


"Inces..." Kata Alex yang lagi-lagi menganggukkan kepalanya. "Lucu juga. Inces..." katanya lagi seraya tersenyum bahagia.


"Sayang..."


"Apa?"


"Aku ingin bertemu dengan inces," katanya dengan nada memanja. Berharap dengan begitu Alex akan mengabulkan permintaannya.


"Sayang... Bukannya aku gak mau. Tapi kamu harus istirahat," jelas Alex. Mencoba menolak permintaan Desi secara halus. Ia tau sang istri pasti akan melakukan segala macam cara agar bisa menemui putri kecil mereka. Namun ia harus memberi pengertian pada Desi agar wanita yang dicintainya tak kembali lagi ke rumah sakit lantaran selalu ingin berada di samping putri kecil mereka. Dokter Elena sudah berpesan padanya agar tak membawa Desi ke rumah sakit jika Desi tak sedang ada jadwal kontrol. Bayinya saat ini tengah melakukan perawatan. Bayinya akan baik-baik saja di rumah sakit. Dokter Elena hanya takut jika Desi kembali lagi ke rumah sakit maka Desi tak akan bisa istirahat dengan baik. Luka tembak dan luka pasca operasi caesar membuat Desi harus beristirahat banyak. Dokter Elena tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Desi jika Desi keras kepala untuk pergi ke rumah sakit.


"Tapi..."

__ADS_1


"Sayang..." Kembali menjelaskan selembut mungkin pada Desi. Meraih tangan kanan sang istri lalu menciumnya. Namun matanya masih saja fokus ke depan. Ia kembali mencari cara agar Desi berhenti merengek meminta antar ke rumah sakit. Ia sudah pasti tau jelas akan terjadi hal ini. Ia juga tak mau menekan Desi untuk tak pergi ke rumah sakit. Karena naluri seorang ibu sangatlah sensitif. Ia hanya harus sesabar mungkin ketika menghadapi sang istri. "Percayalah padaku. Putri kita akan baik-baik saja disana."


Dan benar saja, Desi terdiam dengan kalimat tersebut. Kini pandangannya mengarah ke depan. Wajahnya masih saja cemberut saat Alex tak bisa mengabulkan permintaannya.


*


Alex tengah duduk di atas ranjang sambil memangku laptopnya. Mengerjakan pekerjaan yang dikirimkan oleh Maya melalui via email. Tujuh hari lebih tak ada di kantor membuat pekerjaannya menumpuk. Di tambah lagi ia saat ini harus fokus pada kesehatan sang istri yang masih menjalani masa penyembuhan.


Sedangkan Desi baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan setelan piyama berwarna hijau muda. Berjalan ke arah ranjang dimana saat ini suaminya tengah berada. Kemudian melepaskan sandal bulu berwarna merah maroon setelah ia berada di sisi ranjang sebelah kiri. Menaiki ranjang tersebut dan langsung menghambur ke pelukan suaminya. Kepalanya ia letakkan di dada Alex seraya tangannya ia lingkarkan di atas perut suaminya. "Sayang..." Dengan nada suara manja.


"Hem..." Mencium kepala sang istri. Namun tangannya masih sibuk mengetik sesuatu di laptop miliknya.


"Aku merindukan little princess ku..."


"Bukankah kita baru berpisah dengannya tadi siang?" Masih berkutat dengan laptopnya. Namun pelukan sang istri membuatnya enggan meneruskan pekerjaannya.


Alex menghentikan aktifitasnya. Melihat sang istri yang masih dalam dekapannya. Kemudian ia menutup laptopnya dan menaruh laptop tersebut di atas meja nakas. Membalas pelukan sang istri. Dan sesekali mencium kepala Desi. "Aku juga ingin dia ada disini bersama kita. Tapi kau tau sendiri kondisinya kan?" Tanyanya yang hanya dijawab kediaman oleh sang istri. "Bukankah inces kita sudah di tangani oleh para dokter terbaik di rumah sakit milik om Herlambang Wijaya?" Katanya yang di jawab anggukan kepala oleh Desi. "Kita tunggu sampai dia sehat. Setelah itu kau, aku dan inces kita akan berkumpul bersama." Katanya lagi seraya mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Kau juga memanggilnya inces?"


"Bukankah itu panggilan sayangmu padanya?"


Desi kembali menganggukkan kepalanya. "Aku sangat menyayanginya."


"Aku pun juga sangat menyayanginya."


Desi menengadahkan kepalanya ke atas. Menatap wajah Alex. Tangannya masih melingkar di atas perut sang suami. "Kau lebih sayang mana, aku atau inces?"

__ADS_1


"Jangan membuatku memilih antara kalian berdua."


Desi melepaskan pelukannya. Duduk bersila dengan punggung sedikit tegak di samping suaminya . "Memangnya kenapa? Aku hanya ingin tau. Rasa sayangmu lebih banyak aku atau inces?"


"Sudah ku bilang, jangan membuatku memilih antara kalian berdua." Kata Alex yang masih menyandarkan punggungnya di dipan tempat tidur miliknya.


"Setelah aku melahirkan inces. Kau pasti lebih sayang padanya kan?"


"Aku tidak bilang begitu."


"Berarti kau lebih sayang padaku?"


"Aku juga tidak bilang begitu."


Desi memukul lengan Alex sedikit keras sampai Alex mengaduh kesakitan. "Kenapa kau tidak bisa memilih antara aku dan dia?"


Alex yang masih mengelus lengannya karena pukulan sang istri kini malah tertawa keras saat mendengar penuturan dari sang istri. Lalu ia memegang kedua tangan Desi. Mencium bergantian tangan sang istri. "Kau tau. Aku tidak bisa memilih antara kalian berdua," katanya yang menjelaskan secara perlahan pada sang istri. "Kalian berdua adalah belahan jiwaku," katanya lagi yang membuat wajah Desi sedikit sumringah. "Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan hatiku. Aku juga mencintai inces kita dengan segenap jiwa dan hatiku. Kalian berdua adalah harta paling berharga dalam hidupku. Jadi jangan lagi membuatku memilih antara kalian berdua. Karena kau dan dia adalah dua orang yang tak bisa ku pilih jika aku harus memilih antara kalian berdua." Jelas Alex.


"Tapi..."


Alex langsung menutup mulut Desi dengan mulutnya. Sekilas ciuman itu berhasil membuat mata Desi membulat sempurna. "Kenapa lama-kelamaan kau terlalu banyak bicara?"


Pertanyaan Alex hanya membuat mata Desi berkedip berkali-kali. Ia hanya tak menyangka jika Alex akan melakukan serangannya secara tiba-tiba seperti ini. "Tapi kau..."


Alex kembali menutup mulut Desi dengan mulutnya. Bukan dengan satu kecupan. Namun dengan kecupan yang panjang. Tangan kanannya memegang tengkuk leher Desi bagian belakang dan tangan kirinya ia lingkarkan di pinggang sang istri. Ia tak ingin ciuman tersebut lepas begitu saja. Ia sudah merasakan gairahnya yang memuncak namun sepertinya ia harus menahannya lantaran sang istri yang memang belum sembuh total dari operasi yang dijalaninya. Ditambah lagi Desi saat ini masih dalam masa nifas.


Namun entah kenapa Alex tak ingin melepaskan ciuman itu dengan mudah. Perlahan ia menidurkan sang istri perlahan sambil bibir mereka tak berhenti bertautan. Mengirimkan gelenyar masing-masing pada Alex dan Desi tentunya. Desi sudah berada di bawah kungkungannya. Jika tak sedang dalam masa nifas mungkin Alex sudah mengeksekusi sang istri. Namun sepertinya pikirannya masih berpikir jernih. Ia melepaskan ******* bibirnya. Menatap wajah sang istri yang ada di bawahnya. Lalu perlahan ia mencium kening sang istri dengan lembut. "Istirahatlah..." Katanya yang kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh Desi sampai batas dada. Kemudian ia juga membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Menyuruh Desi agar mendekat dan memeluknya dalam dekapannya saat tidur.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2