Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Pengintaian


__ADS_3

Alex menganggukkan kepalanya. Lalu dirinya berjalan keluar rumah.


"Tuan muda ijinkan kami berdua ikut," kata Adi yang sudah berdiri di hadapan majikannya bersama Rafi.


"Kalian harus tetap berada di rumah menjaga Mama dan Sandra. Aku akan pergi sendiri."


"Tapi..."


"Tuan muda benar," Bu Dina menyela perkataan Adi yang belum selesai. "Jika kalian ikut maka aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada nona Desi. Tuan besar pasti akan murka. Dia tidak akan segan-segan menyakiti nona Desi nantinya jika tuan muda membawa bala bantuan. Bukankah tuan besar sudah berkata jika tuan muda harus pergi kesana sendirian?"


Kata-kata Bu Dina membuat semua orang terdiam. Sementara Alex membalikkan badannya. Menatap wanita paruh baya yang berdiri di belakangnya sambil mendekap adik perempuannya dengan lembut. "Semua yang dikatakan Bu Dina benar. Lebih baik aku pergi sendirian." Kata Alex yang tak melepaskan pandangannya dari adik perempuannya yang di rangkul oleh Bu Dina saat ini.


Setelah beberapa saat Alex berjalan keluar dengan Maya berada di belakangnya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil. Sementara Maya berdiri diluar mobil. "Apa dengan kejadian tadi kau sudah tau siapa pelakunya?" Tanyanya sambil memasang seat belt di badannya.


"Sepertinya..." Maya menggantungkan kalimatnya. "Apakah Bu Dina..."


"Ternyata pikiran kita sama," kata Alex yang kini memandang Sandra yang masih di rangkul oleh Bu Dina dari dalam mobil. Mereka berdiri di ambang pintu mengantarkan kepergian Alex untuk menyelamatkan istrinya. Saat ini Alex sudah berada di kursi kemudi. Ia akan melakukan sesuai perintah ayah kandungnya. Pergi sendirian ke alamat yang sudah ia dapatkan tadi pagi. "Awasi dia..." Ucap Alex pada Maya yang berdiri di sebelah mobilnya. Setelah melihat Maya menganggukkan kepalanya kini Alex menancap pedal gas dengan kecepatan sedang.


*


Maya melangkah ke dalam rumah setelah ia melihat kepergian atasannya. Mendekati Sandra yang masih dirangkul penuh kasih oleh Bu Dina. "Sebaiknya kamu istirahat," kata Maya seraya mengelus lengan Sandra. Berusaha menenangkan Sandra yang dari tadi menangis lantaran melihat kepergian kakak laki-lakinya.


"Benar non. Mari saya antarkan nona Sandra ke kamar," ajak Bu Dina yang di iyakan oleh Sandra.


Sedangkan Maya masih melihat kepergian Bu Dina dan Sandra yang berjalan ke arah tangga.


"Kau sudah siap?"


Kalimat tersebut berhasil membuat Maya terkejut. Ia bahkan sampai terlonjak kaget dan memegang dadanya lantaran Bima sudah berdiri di sampingnya entah dari kapan. "Kau membuatku terkejut," kata Maya seraya memukul lengan Bima sedikit keras hingga Bima mengaduh kesakitan dan mengelus lengannya.


"Kau memang wanita kejam. Kenapa harus memukulku sekuat itu," masih mengelus lengannya yang terasa sakit. Pandangannya masih menuju wanita yang dikenalnya kemarin siang. Namun kedekatan mereka bahkan lebih dari teman dekat.


"Salahmu sendiri," jawabnya acuh. "Kenapa kau harus mengagetkan ku," kemudian melipat tangannya di depan dada. Ia bahkan tak merasa bersalah karena sudah memukul lengan Bima dengan cukup keras.

__ADS_1


*


Adi dan Rafi berjalan menuju mobil yang didalamnya sudah ada Maya dan Bima. Maya sudah memastikan sendiri bahwa Adi dan Rafi adalah orang yang benar-benar orang yang setia pada atasannya. Kedua laki-laki yang berstatus sebagai orang kepercayaan Alex itu kini sedang membungkuk disisi jendela mobil Maya.


"Bagaimana?" Tanya Maya yang kini pandangannya mengarah pada Adi yang berdiri diluar mobilnya.


"Bu Dina baru saja keluar dari rumah. Dan baru saja dia menumpangi mobil yang sudah terparkir diluar rumah tuan muda Alex. Dan kami masih belum tau mobil itu berasal dari mana."


"Bagaimana dengan para polisi?"


"Mereka sudah mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Bu Dina," lanjut Adi.


"Baiklah. Kita langsung saja mengikuti Bu Dina," perintah Maya. "Tapi ingat kalian berdua harus tetap hati-hati."


"Baik." Jawab keduanya sambil menundukkan kepalanya lalu segera pergi menuju mobil yang terparkir di belakang mobil Maya.


Tanpa disuruh Bima langsung menjalankan mobilnya. Mengikuti arahan dari Maya. Rencana Maya adalah mengikuti apa yang akan dilakukan oleh Bu Dina. Mereka juga sudah meminta bantuan polisi untuk membantu mereka menangkap pelaku kejahatan pada keluarga atasannya.


"Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?"


Pertanyaan Maya berhasil membuat Bima kembali memperhatikan jalanan di depan. "Siapa yang menatapmu?"


Maya menarik sudut bibirnya tersenyum miring. "Apa kau tidak tau kalau aku mempunyai mata lebih dari dua?" masih memperhatikan jalanan.


"Wah kau benar-benar wanita yang menakutkan," jawabnya sambil sesekali melirik ke arah Maya. Dia sangat cantik. Batinnya sambil tersenyum penuh arti.


"Apa kau juga tau kalau aku bisa mendengar apa yang kau bicarakan di dalam hatimu?"


"Apa?" Sudah tersentak kaget ketika lagi-lagi Maya bisa membuatnya terkejut. "Kau benar-benar wanita yang menakutkan." Kembali memperhatikan jalanan. Terkadang ia memberi jarak pada mobil polisi di depannya yang saat ini masih membuntuti kemana mobil Bu Dina akan berhenti.


Maya kemudian mengeluarkan sebuah senjata api dari balik jaket jeans nya yang membuat Bima untuk kesekian kalinya terkejut. Ia tak menyangka bahwa Maya benar-benar wanita yang sangat menakutkan. Sedangkan Maya sedang mengecek sekali lagi apakah peluru di senjata api miliknya sudah terisi penuh atau tidak.


"Ke-kenapa ka-kau mem-membawa barang itu?" Tanya Bima dengan nada terbata-bata. Seumur-umur ia bahkan tak pernah melihat secara nyata benda yang saat ini di pegang oleh Maya. Biasanya ia hanya melihat benda itu dari film action yang biasa ditontonnya.

__ADS_1


"Untuk apa lagi? Aku akan menggunakan barang ini untuk melindungi Pak Alex dari segala kemungkinan yang akan terjadi nanti," jawabnya dengan nada santai.


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Bima yang sedikit menggeser duduknya menepi hingga menempel pada pintu mobil.


"Memangnya kenapa denganku?" Balik bertanya dengan kening yang berkerut pasalnya ia tak mengerti dengan apa yang Bima katakan.


"Jika kau pergi kesana hanya untuk melindungi Pak Alex. Lalu bagaimana dengan keselamatan mu?"


Maya tertawa sedikit keras. "Bukankah ada dirimu."


"Apa?" Masih berusaha fokus menyetir meski ia sudah berkali-kali dibuat tak mengerti dengan apa yang Maya katakan.


"Bukankah kemarin kau pernah bilang kalau semua mantan sekertaris keluarga Wijaya akan berakhir akur seperti ayahmu dan om Doni? Mereka juga menghabiskan waktu tua mereka bersama saat ini." Sekali lagi tertawa dengan pernyataan yang ia berikan. "Jadi sudah aku pastikan kalau kau pasti akan melindungiku dari segala kemungkinan yang akan terjadi padaku nanti saat aku berusaha menyelamatkan Pak Alex." Tertawa lagi. Ia bahkan tak bisa melihat wajah Bima yang sudah pias akibat semua apa yang tadi ia katakan.


"Aku memang akan melakukan apapun agar semua keluarga Wijaya selamat. Tapi aku bahkan tak menyangka jika aku harus berhadapan dengan wanita menakutkan seperti dirimu."


Perkataan Bima kembali membuat Maya tertawa keras. Ia juga sesekali melirik ke arah Bima yang saat ini sedang fokus menyetir.


*


Alex memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sepi dari kendaraan. Ia sudah sampai di tempat tujuan. Alamat yang tadi dikirim oleh nomer yang tak ia kenal. Dari dalam mobilnya ia bisa melihat ada satu bangunan tua. Di depan bangunan tua itu ada dua mobil yang terparkir disana. Satu mobil berwarna putih dan satu lagi mobil berwarna hitam. Alex menatap wajahnya di kaca spion tengah. Ia bukanlah memperhatikan wajahnya namun ia sedang melihat mobil yang terparkir agak jauh dari mobilnya saat ini. Sudah ia pastikan kalau itu adalah mobil yang biasa digunakan Maya. Setelahnya ia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam bangunan tua tersebut.


Beberapa polisi yang menyamarkan identitasnya saat ini tengah memakai pakaiannya non formal. Sekitar ada enam polisi dari mobil yang berbeda sudah keluar dan mengintai bangunan yang telah dimasuki oleh Alex tadi. Kemudian disusul Maya, Bima, Adi dan juga Rafi yang turut keluar dari mobil dan mengikuti langkah para polisi.


Mereka berpencar di bangunan tua tersebut. Seperti tak bisa dipisahkan Adi dan Rafi selalu pergi berdua mengintai bangunan itu. Sedangkan Maya dan Bima juga turut mengintai dalam posisi yang berbeda. Seorang polisi sudah berhasil merekam apa yang terjadi di dalam bangunan tua tersebut. Mereka sudah berencana untuk menangkap semua orang yang melakukan tindakan kriminal di dalam ruangan tersebut saat ada aba-aba dari Alex


"Dengarkan aku."


"Apa?" Tanya Maya yang masih memperhatikan keadaan di dalam bangunan dari celah kecil yang menampakkan atasannya sedang di pegang oleh empat orang pria dan sedangkan istri dari atasannya masih duduk di kursi kayu dengan kedua tangannya masih terikat.


Bima lantas memegang pergelangan tangan kanan Maya. Dan pegangan tangannya berhasil menyita perhatian Maya padanya. "Apapun nanti yang akan terjadi di dalam. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu." Perkataan Bima berhasil membuat Maya terdiam sejenak. Mereka berdua bahkan melakukan adegan saling tatap beberapa detik. Namun tatapan itu seketika buyar saat ada aba-aba dari Alex untuk menangkap pada kriminal yang ada di bangunan tua tersebut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2