Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Mall


__ADS_3

Desi dan Sandra sudah berada di mall yang kemarin mereka sepakati bersama. Saat ini mereka berdua sedang menunggu kedatangan Maya. Wanita yang sudah membuat Desi merasa sangat cemas dari tadi malam. Pasalnya Alex sudah mengatakan padanya kalau Maya adalah salah satu wanita yang spesial dalam hidupnya.


"Masih lama?" Tanya Desi yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Maya. Rasa penasaran tatkala menghinggapi dirinya saat ini.


"Katanya dia sudah ada di parkiran. Bentar lagi pasti nyampe," jawab Sandra. Matanya sudah tertuju pada pintu masuk utama mall. "Itu dia..." Kata Sandra seraya menunjuk ke arah pintu mall.


Desi yang penasaran sejak tadi malam bagaimana wanita yang bernama Maya kini pandangan langsung ke arah pintu mall. "Yang mana?" Tanya Desi. Banyaknya pengunjung mall yang baru datang membuat Desi kesulitan mengetahui wanita yang Alex sebut sebagai salah satu wanita spesial dalam hidupnya.


"Itu kak. Yang pakai kacamata hitam," jelas Sandra yang tangannya tak berhenti menunjuk ke arah orang yang ia maksud.


Desi masih mencari wanita yang memakai kacamata hitam. Ketemu. Tak ada wanita lain yang memasuki pintu utama mall selain wanita yang memakai kacamata hitam yang Sandra maksud. Kedua matanya membelalak tak percaya. Mulutnya yang menganga seraya ia tutupi dengan telapak kanan tangannya. Jika benar dia Maya yang di maksud oleh Sandra maka seharusnya Desi mundur. "Maksud kamu cewek bule itu?" Tanya Desi memastikan.


"He'em... Dia kak Maya," jawab Sandra lagi yang melambaikan tangannya agar Maya tau tentang keberadaannya.


"Hah..." Desi membuang nafas berat. Ia tak percaya sama sekali kalau selera Alex memang benar-benar tinggi. Wanita bule yang tengah berjalan ke arahnya memiliki penampilan yang sempurna. Badan tinggi, tubuh langsing, kulit putih, stylenya saja sudah menunjukkan bahwa wanita yang bernama Maya itu memiliki modis yang tinggi. Memakai blazer berwarna putih dan bawahan rok pendek sebatas lutut berwarna hitam.


"Hai Sandra..." Sapa Maya yang sudah berdiri di depan Sandra dan Desi. Kacamata hitam yang ia gunakan ia lepas.


"Hai kak Maya..." Jawab Sandra. Adegan cium pipi kanan dan kiri sudah menjadi tradisi bagi Sandra dan Maya saat berjumpa. Setelah kepindahannya di Indonesia Sandra memang tak pernah sekalipun bertemu dengan Maya. Karena memang biasanya Sandra lebih banyak menghabiskan waktu di rumah jika sedang hari libur. Tapi entah kenapa hari libur ini dia mengajak Desi dan Maya keluar. "Kenalin ini kak Desi," kata Sandra pada Maya.


"Hai aku Maya..." Ucap Maya sambil mengulurkan tangan kanannya. Bibirnya tak berhenti tersenyum dari tadi.

__ADS_1


"Aku Desi. Kakak ipar Sandra. Istri dari Alex," jawab Desi lengkap seraya meraih uluran tangan Maya.


Sandra melihatnya. Melihat bagaimana sang kakak ipar melihat Maya dengan tatapan tak suka. Sepertinya rencananya kali ini berhasil. Benar. Rencananya kali ini adalah mempertemukan Maya dengan Desi. Berharap dengan begitu Desi menjadi cemburu dan meninggalkan kakak laki-lakinya. Namun ia tak berharap banyak karena ia tau bagaimana setianya Maya terhadap kakak laki-lakinya sebagai sekertaris di perusahaan kakaknya. Jika memang ini tak berhasil maka ia bisa mencari wanita lain untuk membuat Desi cemburu dan meninggalkan saudara laki-lakinya dengan begitu ia tak perlu melakukan cara yang lain lagi. "Ayo kita pergi. Kita harus belanja..." Kata Sandra seraya menggandeng kedua tangan wanita yang dari tadi hanya melakukan adegan saling tatap.


Belanja adalah salah satu kegiatan para wanita yang menjadi tujuan utama. Jika Sandra dan Maya sedang asik memilih gaun dan berbagai macam pakaian. Beda halnya dengan Desi, ia malah sibuk memilih jubah mandi. Ada sekitar empat jubah mandi yang ia pilih. Mengingat kejadian pagi hari tadi membuatnya mau tak mau harus membeli jubah mandi. Cukup tadi pagi saja ia memakai handuk sebatas lutut. Ia tak akan memakainya lagi dalam keadaan apapun. Jubah mandi memang sudah menjadi tujuan utamanya saat tadi pagi ia lupa tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.


"Kakak ipar, kau mau membeli jubah mandi sebanyak ini?" Tanya Sandra yang melihat tangan Desi sudah memegang sekitar empat buah jubah mandi.


"Ehm..." Ia tak mempunyai alasan pada Sandra. Ia juga tak mungkin menjawab alasannya membeli jubah mandi ini karena kejadian tadi pagi. "Jubah mandi di rumah sudah rusak. Jadi aku membelinya sebagai cadangan saja," jawabnya yang sedikit terbata-bata.


"Oh begitu..." Kata Sandra sambil menganggukkan kepalanya. "Ya sudah terserah kakak ipar," katanya lagi seraya berjalan meninggalkan Desi. Ia lebih memilih mencari gaun untuknya.


"Sepertinya anda sangat menyukai warna merah?"


"Lebih dari enam tahun," jawab Maya yang memang tak terintimidasi oleh tatapan yang Desi berikan padanya. Sesuai perintah Alex tadi malam saat di telfon kalau dirinya harus bersikap baik pada Desi. Alex tak mau Sandra menyakiti Desi. Tugas Maya hanyalah sebagai mata Alex jika tiba-tiba Sandra melakukan hal yang tidak di inginkan. Karena Alex tau adik perempuannya masih tidak menyukai Desi. Sandra memang tak pernah berkata kalau dirinya tak menyukai Desi namun sepertinya Alex memang mempunyai kekuatan untuk melihat kalau sikap Sandra selama ini pada Desi hanyalah kebohongan belaka.


Lama juga ternyata. Sebenarnya mereka berdua ada hubungan apa? Kalau Maya adalah kekasih Alex kenapa saat aku memintanya untuk melakukan pernikahan sandiwara ini Alex tak menolak. Enam tahun bukanlah waktu sebentar. Kedekatan Sandra dan Maya juga melebihi seorang teman. Tapi kenapa Alex tak menolak menikah denganku? Batin Desi berperang dengan pikirannya sendiri. Entah kenapa ia malah merasa sakit hati saat Maya bilang kalau perkenalannya dengan Alex sudah lama.


"Kakak ayo kita kesana..." Sandra menarik tangan Desi dan Maya.


*

__ADS_1


Menonton bioskop juga sudah menjadi rutinitas para wanita yang tengah berkunjung ke mall. Hari ini banyak sekali film yang keluar di bioskop. Namun Sandra lebih memilih menonton film dengan genre horor. Karena ia dan Maya sangat menyukai sekali film tersebut. Saat Sandra bertanya pada Desi apakah Desi menyukai film horor Desi bahkan tak menjawabnya. Sandra pikir Desi juga menyukai film yang akan ia tonton.


Ketiganya memasuki ruang bioskop yang gelap. Dalam film horor biasannya peminatnya sangat banyak namun sepertinya hari ini berbeda, hanya segelintir orang yang terlihat duduk di dalam bioskop.


Kenapa Sandra memilih film ini?


Aaa Mami... Aku takut...


Teriak Desi dalam hati. Namun ia tak bilang jika ia sangat membenci film horor karena itu akan menurunkan reputasinya. Karena seperti yang ia lihat Sandra dan Maya terlihat antusias saat akan memasuki ruang bioskop.


Film dimulai. Dengan jantung yang berdetak cepat Desi berusaha duduk tenang. Ia tak ingin rasa takutnya akan membuat ia malu. Namun lama-kelamaan film horor tersebut makin menyeramkan. Beberapa kali ia memejamkan matanya. Rasa takut makin menghinggapi dirinya.


Satu menit...


Dua menit...


Tiga menit...


Ia mencoba mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ada yang saling peluk. Ada yang saling memejamkan mata. Ada juga yang tak takut sedikitpun. Sesaat ia melirik ke arah Sandra dan Maya yang duduk disebelah kirinya dan mereka tak ketakutan sedikitpun. Ia melirik ke bangku sebelah kanannya namun tak ada orang disana. Semakin lama ketakutannya semakin menjadi. Ia tak mungkin bilang pada Sandra dan Maya kalau dirinya sedang ketakutan atau reputasinya akan hancur.


Bertahanlah sebentar lagi Desi...

__ADS_1


Kata Desi dalam hati. Namun lama-kelamaan ia sudah tak kuat lagi saat adegan seram kembali muncul di layar. "Aaa..." Teriaknya seraya memeluk seseorang disebelah kanannya. Ia memejamkan kedua matanya. Nafasnya sudah naik turun. Sejenak ia sadar bahwa seseorang yang ia peluk juga membalas pelukannya. Sudah pasti bukan Sandra dan Maya karena dua wanita itu sedang duduk disebelah kirinya. Perlahan Desi mengangkat wajahnya. Ia terkejut saat tangan orang yang berada disebelahnya makin mengeratkan pelukan. Kedua bola matanya kini membulat sempurna saat tau siapa yang tengah memeluk dirinya "Alex..."


Bersambung


__ADS_2