Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Satu Ranjang


__ADS_3

Desi mondar-mandir di kamarnya. Ia masih merasa kesal saat Alex bilang Maya adalah salah satu wanita spesial dalam hidupnya. Ia membuang nafasnya kasar ke udara. Kedua tangannya berkacak pinggang. "Bagaimana mungkin dia bilang kalau Maya salah satu wanita yang yang spesial dalam hidupnya saat aku masih berstatus sebagai istrinya. Apa dia sudah gila?" Kata Desi sendiri. Ia benar-benar masih merasa kesal. "Aku jadi penasaran bagaimana penampilan wanita bernama Maya itu?" Katanya lagi dengan nada geram.


Selang lima belas menit kemudian Alex masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Desi yang berjalan mondar-mandir. "Kau sedang apa?" Tanya Alex yang baru saja menutup pintu kamarnya.


"Memangnya kau melihat aku sedang apa?" tanya Desi ketus. Ia masih saja berjalan mondar-mandir sambil melirik ke arah Alex yang masih berdiri di samping pintu.


Alex tertawa melihat tingkah laku Desi yang memang sudah terlihat sedang kesal. Hentakan demi hentakan yang Desi lakukan saat melangkah di tambah lagi lirikan yang Desi berikan padanya sudah bisa Alex pastikan kalau Desi memang sedang marah. Satu minggu hidup bersama Desi di satu atap membuat Alex mengerti akan sikap yang Desi berikan. "Apa kau sedang kesal?" Tanyanya seraya berjalan mendekati Desi.


Desi menghentikan langkahnya saat Alex tau bagaimana perasaannya saat ini. Kini ia menghadap ke arah Alex yang sudah ada di hadapannya. "Memangnya siapa yang kesal? Aku hanya..."


"Kalau kau memang penasaran dengan wanita yang bernama Maya. Aku bisa membawamu malam ini juga ke rumahnya jika kau mau?" Ujar Alex yang memotong perkataan Desi. Dan ucapannya benar-benar membuat wanita yang berada di hadapannya makin geram.


"Kenapa berkata seperti itu? Aku bahkan tidak peduli siapa Maya." Kata Desi seraya menunjuk dada Alex dengan jari telunjuknya. "Jadi kau tidak perlu..."


"Desi..."


Alex langsung mendekap erat tubuh Desi saat ada suara yang memanggil Desi dari luar. Ia juga melihat sekilas kalau pintu kamarnya sedang terbuka. Desi hanya bisa diam saja saat Alex tiba-tiba memeluknya.


Marisa mematung di pintu kamar putranya. Tangannya masih saja memegang gagang pintu sambil mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia melihat putra dan menantunya sedang berpelukan erat. Rasa malu tatkala menghinggapinya ketika ia tak mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Mama... Ada apa?" Tanya Alex seraya mengendurkan pelukannya pada Desi.


"Sepertinya Mama mengganggu waktu kalian berdua. Sebaiknya Mama..." Marisa sudah akan keluar. Ia tak mau mengganggu waktu berdua antara putra dan menantunya.

__ADS_1


"Mama masuklah..." Kata Desi yang mencegah ibu mertuanya keluar. Ia langsung melepaskan pelukan Alex. "Mama sama sekali tidak menggangu waktu kami. Ayo Ma masuk..." Kini Desi sudah berjalan mendekati ibu mertuanya. Menggandeng tangan sang ibu mertua untuk masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia menyuruh ibu mertuanya duduk di sofa yang biasa ditiduri Alex saat malam hari. "Ada apa? Mama butuh sesuatu?" Tanya Desi yang juga duduk di sofa yang sama.


"Maaf pasti Mama mengganggu kalian," kata Marisa yang memang tak enak hati saat ia tiba-tiba masuk ke dalam kamar putranya. "Mama pikir Alex masih di ruang kerjanya. Jadi Mama langsung masuk aja tadi," jelas Marisa.


"Gak pa-pa Ma. Tadi aku dan Alex..." Desi menggantungkan kalimatnya saat ia tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan sedang apa ia dan Alex tadi.


Sedangkan Alex yang dari tadi berdiri sambil tangannya bersedekap hanya bisa menahan tawanya saat Desi kesulitan mencari kalimat yang tepat.


"Ah gak usah di jelaskan. Mama sudah melihatnya tadi..." Kata Marisa yang melihat Alex dan Desi sedang berpelukan.


"Memangnya Mama tadi melihat apa?" Tanya Alex yang masih menahan tawanya saat sang ibu berkata sudah melihatnya tadi.


Marisa tersenyum malu. "Mama..." Marisa menggantungkan kalimatnya saat ia memegang bantal yang terdapat di sofa yang saat ini ia duduki. Lalu pandangannya mengarah pada selimut yang berada di sebelah Desi. Ia tau betul kalau bantal yang saat ini ia pegang adalah bantal yang biasa Alex gunakan untuk tidur. "Bantal ini..." Marisa kembali menggantungkan kalimatnya sendiri. Ia terlihat tegang saat ia menemukan bantal Alex sedang berada di sofa. Lalu ia mengarahkan lagi pandangannya ke ranjang. Disana ia juga melihat satu bantal di atas tempat tidur. "Kalian..."


Alex dan Desi terkejut dengan kalimat yang digantungkan oleh Marisa. Mereka juga menyadari kalau wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa saat ini tengah mencurigai mereka berdua. Keduanya hanya bisa saling tatap. Mereka seakan sulit untuk menjelaskan pada Marisa akan apa yang mereka lakukan saat ini.


"Jadi..."


"Benar Ma," kata Desi seraya mengambil bantal yang ada di tangan ibu mertuanya. Ia juga mengambil selimut yang masih terlipat rapi disampingnya. Kemudian ia membawanya ke atas tempat tidur. "Sebelum tidur aku biasa merapikan ranjang terlebih dahulu."


"Oh jadi gitu..." Kata Marisa seraya berdiri. Ia tersenyum lega saat apa yang ada dipikirannya tak seperti dugaannya. "Mama kira kalian..."


"Bukankah ini sudah malam?" Kata Alex yang berjalan mendekati sang ibu. "Sebaiknya Mama istirahat," katanya lagi sambil menuntun ibunda tercinta menuju pintu kamarnya. "Lagipula aku sudah lelah," lanjutnya lagi yang sudah membukakan pintu agar ibunya bisa keluar.

__ADS_1


"Ya sudah. Kalian istirahat juga ya..."


*


Alex menutup pintu kamarnya saat ibunya sudah keluar dari kamarnya. "Hampir saja..." Katanya lirih sambil mengelus dadanya.


"Hah..." Desi membuang nafas beratnya ke udara. "Sudahlah aku mau istirahat..." Katanya yang memasuki ruang pakaian yang berada di samping pintu kamar mandi. Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama yang berwarna hijau muda. Desi kini langsung berjalan menuju ranjangnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Kini gantian Alex yang berjalan ke arah ruang pakaian. Ia juga sudah mengganti pakaiannya dengan setelan piyama berwarna hitam. Setelah beberapa menit ia keluar dari ruang pakaian dan mengambil bantal dan selimut yang tadi dipindahkan oleh Desi di ranjang.


"Kau mau kemana?" Tanya Desi seraya duduk dan dirinya juga sudah memegang bantal Alex.


"Memangnya mau kemana lagi? Kau tidak lihat aku sudah memakan piyama. Aku mau tidur..." Kata Alex seraya mengambil paksa bantalnya yang di pegang oleh Desi.


"Tidurlah disini," kata Desi sambil menepuk pelan tempat tidur di sampingnya.


"Apa?" Tanya Alex seraya mengernyit heran. Kedua tangannya sudah memegang bantal dan selimut. Ia sudah bersiap untuk kembali tidur di sofa.


"Aku hanya tidak mau Mama melihat kita tidur secara terpisah. Entah apa yang akan terjadi padanya jika tau kalau kita melakukan sandiwara ini?"


Alex masih berdiri mendengar penuturan dari Desi. Jika di cermati perkataan Desi ada benarnya juga. Ia juga tak ingin kalau anggota keluarganya sampai tau akan pernikahan sandiwara ini. "Tapi..."


"Sudahlah. Kau hanya harus tidur di sebelah sana dan aku tidur di sebelah sini," kata Desi yang menunjuk dimana Alex harus tidur. "Kita hanya harus membuat pembatas di tengah ranjang," kata Desi lagi yang menaruh dua guling antara dirinya dan Alex. "Jangan banyak bertanya. Aku sudah lelah. Aku mau tidur," kata Desi yang kembali membaringkan tubuhnya. Ia membelakangi Alex kemudian memejamkan matanya.

__ADS_1


Sedangkan Alex masih saja berdiri. Ia masih belum naik ke tempat tidur. Namun ia juga tak ingin jika ibunya tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya seperti tadi. Perlahan ia naik ke atas ranjang. Menata bantalnya lalu membaringkan tubuhnya. Ia menatap punggung Desi. Hanya dua guling yang memisahkan mereka berdua. Kemudian ia memiringkan tubuhnya menghadap ke Desi yang tidur membelakangi. Menaruh telapak tangannya sebagai bantal. Ia masih saja memperhatikan punggung Desi. Sesaat muncul sebersit senyuman bahagia dari mulutnya.


Bersambung


__ADS_2