Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Pulang


__ADS_3

Saat ini Alex, Desi, Sandra dan juga Maya sudah berada di cafe yang masih berada di mall. Ke empatnya sudah memesan makanan sesuai pilihan masing-masing. Alex dan Desi duduk berdampingan sedangkan Maya dan Sandra duduk didepan mereka.


"Kakak, kenapa kakak tiba-tiba ada disini?" Tanya Sandra yang memang penasaran akan kedatangan Alex yang tiba-tiba saja ada di sebelah kakak iparnya saat tadi di dalam bioskop.


"Iya, aku juga penasaran." Kata Desi menimpali pertanyaan Sandra. Saking terkejutnya ia bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi tadi di dalam bioskop.


"Aku ada meeting disini." Jawab Alex cepat. Ia memang tak mempunyai alasan lain selain alasan yang ia jawab. Jawaban yang menurutnya paling masuk akal.


"Bukankah hari ini hari libur? Kau meeting pada hari libur?" Tanya Desi lagi yang memang tak merasa puas dengan jawaban Alex.


"Iya. Memangnya kenapa? Apa itu masalah buatmu?" Alex sudah sedikit gusar dengan berbagai pertanyaan yang Desi berikan.


"Tidak." Jawab Desi seraya menggelengkan kepalanya. "Tapi aku masih penasaran kenapa kau tiba-tiba kau ada disamping ku?" Tanya Desi lagi. "Lagipula..." Desi menggantungkan kalimatnya seraya memperhatikan penampilan Alex yang tengah duduk di sebelahnya. "Kau meeting dengan memakai celana pendek?"


Seketika Alex terdiam. Ia tak tau harus menjawab apa. Bahkan ia tak sadar kalau ia masih menggunakan pakaian santai. Ia juga memperhatikan baju yang ia kenakan di tubuhnya. Ia memakai kaos oblong berwarna putih dan celana jeans pendek. Pertanyaan Desi yang satu ini benar-benar membuatnya kehabisan jawaban. Sedangkan Maya hanya bisa menahan tawa saat atasannya diberi berbagai pertanyaan oleh istrinya. Namun sepertinya nyawa Alex sedikit terselamatkan dengan kedatangan menu yang sudah datang. "Sudahlah jangan banyak tanya. Lebih baik kita makan dulu," kata Alex yang meneliti kembali semua pesanan makanan. Ia harus menjaga penuh pesanan makanan yang mereka pesan. Apalagi ia harus memperhatikan makanan yang di pesan oleh Desi. Alex tak mau Desi sampai kenapa-kenapa jika memakan makanan yang salah. "Benar ini pesananmu?" Tanya Alex yang kembali memperhatikan makanan Desi.


"He'em..." Jawab Desi seraya menganggukkan kepalanya.


Lalu ke empatnya memakan makan siangnya di sebuah cafe yang terdapat di mall tersebut.

__ADS_1


*


Setelah makan siang selesai Alex mengajak Desi untuk pulang menaiki mobilnya. Sedangkan Sandra dan Maya pulang menggunakan mobil masing-masing.


Hening. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka berdua. Alex sedang fokus menyetir sedangkan Desi terlihat menatap jendela kaca mobil.


Alex melirik tas belanjaan Desi yang di taruh di bangku belakang mobil. Ada dua tas disana. Saat tadi menaruhnya di bangku belakang, ia tak sengaja melihat barang yang di beli Desi di mall tadi. "Kau membeli jubah mandi?" Tanya Alex yang masih memperhatikan padatnya jalanan Ibukota di kala hari libur seperti ini.


"He'em..." Jawab Desi yang masih tak mengalihkan pandangannya dari jendela kaca mobil yang saat ini ia tumpangi.


"Untuk apa? Bukankah di rumah handukmu masih bagus?"


Alex tersenyum miring mendengar jawaban dari Desi. Namun perhatiannya sedikit teralihkan pada Desi saat wanita yang kini duduk di sebelahnya menjawab pertanyaan darinya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela kaca. "Kau mau kemana setelah ini?"


"Pulang." Jawab Desi dengan kata singkat. Ia menghela nafas pelan sambil menyandarkan kepalanya di bantalan jok mobil. Ini adalah hari ke delapan Desi menjadi istri dari Alex Candra Wijaya. Delapan hari juga ia tak bertemu kedua orangtuanya. Ada rasa rindu yang amat dalam ketika ia tak melihat dua sosok orang yang telah merawatnya hingga ia sebesar ini. Perlahan ia memejamkan matanya. Rasa lelah tatkala menghinggapi dirinya ketika tadi ia harus menguras sebagian tenaganya saat menonton bioskop.


Setengah jam kemudian...


Alex menatap wajah Desi yang tengah tertidur pulas di bangku sebelahnya. Ia menghentikan mobilnya saat ia sudah sampai di tujuannya. Ia ingin membangunkan Desi namun tangannya seakan terhenti saat ia akan memegang lengan wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.

__ADS_1


"Desi..."


Suara teriakan yang memanggil nama Desi berhasil membuat Desi terbangun dari tidurnya. Sedangkan Alex hanya bisa menahan senyum saat sang istri sedang terkejut dengan suara teriakan dari luar mobil.


"Desi..."


Desi membelalakkan kedua matanya saat tau siapa yang tengah berdiri diluar mobil yang kini ia tumpangi. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya sambil berkali-kali mengucek kedua matanya, saat seorang wanita paruh baya kini mengetuk pintu mobilnya. "Mami...?" Desi masih tak percaya dengan keberadaan wanita yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan kini sudah berdiri diluar mobilnya. "Alex..." Kini pandangannya mengarah pada pria yang dari tadi masih duduk di kursi kemudi.


"Apa kau tidak mau turun saat orang tuamu sedang menunggumu diluar mobil?" Tanya Alex seraya membuka pintu mobil miliknya dan ia pun segera keluar dari mobil. Ia berjalan menghampiri sang ayah mertua lalu menyalaminya.


Desi masih tak percaya dengan penuturan Alex. Ia tak langsung turun dari mobil. Ia hanya berpikir jika dirinya bermimpi saat melihat sang ibu dari luar mobilnya dan melihat sang ayah yang tengah berdiri berdampingan bersama Alex. Namun teriakan sang ibu untuk menyuruh dirinya turun dari mobil benar-benar sangat nyata ditelinganya. Buru-buru ia membuka pintu mobilnya dan segera turun. Matanya sudah dipenuhi dengan kabut putih saat kerinduannya pada kedua orangtuanya kini sudah terbayar.


"Desi..." Teriak Siska, wanita yang berusia empat puluh sembilan tahun itu kini tengah memeluk putri satu-satunya. Kerinduan juga sudah menyusup dalam hatinya ketika ia tak bisa melihat Desi selama delapan hari penuh. Ia juga tak berniat menelfon putri kesayangannya karena ia takut akan merasakan rindu yang teramat sangat jika ia terlalu sering menghubungi putri semata wayangnya.


"Mami..." Desi sudah terisak penuh haru di pelukan ibu kandungnya. Dirinya bahkan masih tak percaya dengan apa yang ia alami saat ini. Saat ia begitu merindukan kedua orang tuanya saat itu pula ia merasa bersyukur ketika Alex tiba-tiba saja mengantarnya di rumah yang sudah dari kecil ia tinggali.


Senyum di bibir Alex kembali merekah saat ia melihat Desi yang kini tengah berbahagia bersama keluarganya setelah delapan harinya tak berjumpa. Kini ia sudah melakukan hal yang benar saat ia tadi memutar balik mobilnya ketika Desi sedang terlelap dalam tidurnya. Ini sudah kedua kalinya saat Desi menjawab pertanyaannya dengan nada malas saat di mobil. Seperti sudah bisa membaca apa kata hati Desi, saat Desi tak bersemangat untuk pulang dan lebih menyandarkan punggungnya di bantalan jok mobil sambil menghela nafas berat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2