
Bima dan Maya saat ini sedang berdiri di depan pria paruh baya yang duduk di kursi roda di taman belakang. Bima sudah menceritakan akan kedatangan mereka berdua. Sedangkan ayah Bima hanya memandangi wanita yang dibawa oleh putra satu-satunya yakni Maya. Melihat Maya dari atas sampai bawah. Mencoba membaca pikiran Maya, apakah Bima memang membawa wanita baik-baik untuk bertemu dengannya.
Sudah menjadi keseharian Bagas ayah dari Bima, duduk di taman belakang di waktu sore seperti ini. Sebenarnya saat ini ia tengah menunggu teman sesama mantan sekertarisnya untuk melakukan kegiatan kesehariannya, yakni bermain catur. "Apa yang ingin kau ketahui?" Tanya Bagas yang membuka suara setelah selesai memperhatikan wanita yang dibawa oleh Bima.
"Semuanya..." Jawab Maya pasti. "Semuanya tentang Hendra Wijaya."
Jawaban Maya membuat Bagas tertawa. Sehingga Maya dan Bima hanya bisa saling menatap. "Kau yakin akan melawannya?"
"Kenapa? Anda meragukan kemampuan saya? Apa karena saya perempuan?"
Jawaban Maya membuat Bagas seketika berhenti tertawa. "Kau tau, dia bisa melakukan ini padaku." Bagas menunjuk kursi roda yang kini sedang didudukinya. Kedua kakinya masih terlihat utuh namun kedua kakinya bahkan tak bisa digerakkan. Akibat siksaan yang diberikan orang suruhan mantan atasannya kini Bagas harus menerima kelumpuhan pada kedua kakinya.
"Apa anda pikir saya takut akan hal semacam itu?" Tanya Maya dengan nada ejekan. Rencananya untuk membantu atasannya bukanlah hal main-main. Dengan niatan pasti ia memang akan melakukan apapun untuk atasannya. Bahkan jika taruhannya nyawa sekalipun.
Bagas kembali tertawa keras mendengar nada ejekan yang Maya berikan padanya. "Harus aku akui, kau memang sungguh sangat berani. Tuan muda Alex sangat beruntung memiliki sekertaris pribadi seperti dirimu," lalu sesaat ia berhenti tertawa. "Ingatlah baik-baik, tuan besar Hendra Wijaya tidak pernah mengotori tangannya sendiri." Jelas Bagas yang membuat kening Maya berkerut. Sesaat pandangan laki-laki paruh baya ini mengarah pada putra satu-satunya. Ia menunggu respon Bima apakah wanita ini berhak tau akan seluk beluk Hendra Wijaya ataukah tidak. Namun senyum di bibir Bagas mengembang saat Bima menganggukkan kepalanya. Tanda bahwa Bima pun menyetujui akan apa yang akan ia katakan selanjutnya mengenai mantan atasannya beberapa tahun dulu. "Sepertinya ada orang suruhan tuan besar Hendra Wijaya yang tinggal di rumah tuan muda Alex."
Kalimat terakhir Bagas membuat Maya dan Bima lagi-lagi tak percaya. Mereka kembali menatap satu sama lain saat mereka dikejutkan dengan penjelasan yang benar-benar tak bisa mereka percaya.
"Kau hanya harus mencari siapa orang suruhan tuan besar Hendra Wijaya. Dengan begitu kau akan menemukan semua permasalahan tuan muda Alex."
"Apa maksud anda? Siapa orang yang telah berani memasukkan mata-mata dalam keluarga Pak Alex?"
__ADS_1
"Seperti yang tadi aku bilang," Bagas menjeda kalimatnya sebentar. "Tuan besar Hendra Wijaya tidak pernah mengotori tangannya sendiri dalam kejahatan apapun," lanjut Bagas yang kembali menatap wanita yang seumuran dengan putranya. Bagas kembali mengingat akan kejadian beberapa tahun yang lalu, saat ia dengan sadar membela atasannya untuk merebut perusahaan Wijaya Group dari tangan Herlambang Wijaya. Dulu ia memang gila akan uang. Iming-iming gaji besar yang ditawarkan Hendra Wijaya padanya membuatnya melakukan apapun untuk meluruskan aksi jahat atasannya. Penusukan pada menantu keluarga Wijaya yakni Alika juga tak luput dari orang suruhan Hendra Wijaya. Bahkan keadaannya yang saat ini tengah lumpuh juga karena Hendra Wijaya menyuruh seseorang untuk menghabisinya. Dan yang terakhir saat Hendra Wijaya ingin meracuni Alika lewat selang infus, mantan atasannya bahkan memanfaatkan pekerjaan seorang perawat wanita untuk melaksanakan kejahatannya. Hendra Wijaya tak pernah turun tangan sendiri akan kejahatan yang dilakukannya. Sama halnya seperti saat ini. Bagas yakin semua yang dilakukan oleh mantan atasannya juga bukan seratus persen hasil dari tangannya sendiri.
"Apa ayah yakin dengan semua yang ayah katakan?" Bima yang ikut penasaran akan perkataan sang ayah membuatnya juga turut mengajukan pertanyaan.
"Cobalah kalian pikir. Kenapa para penculik itu bisa mengetahui akan keberadaan nona Desi di rumah orangtuanya? Disaat tuan muda Alex akan menangkap sosok misterius yang selalu mengancam nona Desi saat malam hari," penjelasan Bagas kembali membuat Maya dan Bima saling menatap satu sama lain untuk yang kesekian kalinya. "Sosok misterius yang selalu berdiri di depan gerbang saat malam hari hanyalah sebuah gertakan untuk keluarga tuan muda Alex. Dan sepertinya disini memang nona Desi yang menjadi incarannya. Disaat tuan muda Alex berfikir menyembunyikan nona Desi di rumah orangtuanya. Di saat itu pula tuan besar Hendra Wijaya melancarkan aksinya. Tuan besar Hendra Wijaya tidak akan mengetahui dimana nona Desi berada jika tak ada laporan dari orang dalam rumah tuan muda Alex."
"Ja-jadi... Mak-maksud anda..." Maya sudah tak bisa berkata apa-apa lagi saat penjelasan ayah Bima memang sangat masuk akal. Penculikan istri atasannya terbilang cukup mudah bagi lawan, karena memang penjagaan di rumah mertua atasannya tak begitu ketat seperti di rumah atasannya. Dan bisa Maya simpulkan kalau pasti memang ada orang suruhan Hendra Wijaya yang masuk dalam rumah atasannya.
"Benar sekali. Jadi sekarang tugasmu adalah mencari siapa orang yang berkhianat di dalam rumah tuan muda Alex," akhir kata Bagas memberi penjelasan.
*
Maya dan Bima berjalan keluar rumah berlantai dua tersebut. Setelah mendapatkan titik terang akan penjelasan ayah Bima kini tugas Maya sepertinya akan bertambah berat. Ia harus mencari siapa orang yang memang berkhianat pada keluarga atasannya.
Bima memegang pundak Maya. "Saat ini semuanya tergantung padamu. Alangkah lebih baik jika kau mencari sendiri siapa orang yang berkhianat dalam keluarga atasanmu. Dengan begitu kau bisa menemukan dalang di balik semua kejadian di rumah tuan muda Alex."
Nasehat Bima membuat Maya memikirkannya dengan matang. Dan apa yang dikatakan oleh Bima ada benarnya. Jika ia mencari bantuan pada orang lain akan masalah ini maka ia tak akan bisa menemukan orang yang dimaksud oleh ayah Bima. Kini perannya sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Dan disaat ia memikirkan sesuatu yang akan ia lakukan setelah ini, kini pandangannya teralihkan pada sebuah mobil yang baru datang. Seorang supir membukakan pintu mobil bagian belakang dan menampakkan ada seorang paruh baya yang keluar dari mobil tersebut.
Bima yang memang sudah tau siapa tamu ayahnya, kini dirinya membungkukkan badan dan mempersilahkan masuk pada pria paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Siapa dia?" Tanya Maya yang penasaran akan kedatangan pria paruh baya tersebut. Melihat dengan seksama pria paruh baya yang sudah masuk ke dalam rumah ayah Bima.
"Dia adalah mantan sekertaris pribadi tuan besar Herlambang Wijaya."
"Ayah dari atasanmu?" Tanya Maya memastikan.
"Iya," jawab Bima sambil menganggukkan kepalanya. "Sudah kebiasaan ayahku dan om Doni bertemu setelah mereka pensiun menjadi sekertaris keluarga Wijaya."
"Benarkah?" Kini Maya berjalan ke arah mobil. "Bukankah rumor yang ku dengar kalau kedua sekertaris keluarga Wijaya tidak akur?"
"Itu dulu, tapi sekarang mereka sering menghabiskan waktu berdua."
Maya berhenti sejenak mendengar penuturan dari Bima. Seakan tak percaya jika dua orang yang bermusuhan dulu kini bisa menjalin pertemanan sampai tua. "Aku benar-benar salut dengan mereka."
"Bukankah kita juga bisa seperti mereka? Kita juga sama-sama menjadi sekertaris pribadi keluarga Wijaya."
"Apa maksudmu?" Tanya Maya seraya mengerutkan dahi.
"Mungkin pertemuan pertama kita tidak berjalan mulus. Tapi aku berharap jika suatu saat nanti kita akan bisa menghabiskan waktu berdua seperti mereka berdua," jawab Bima mencoba menggoda Maya seraya tersenyum miring.
"Kau..." Menggantungkan kalimatnya saat ia tak bisa menjawab godaan dari Bima. "Sudahlah sekarang antarkan aku ke rumah atasanku," kata Maya yang sudah membuka pintu mobil dan masuk ke mobil Bima.
__ADS_1
Sedangkan Bima hanya bisa menahan tawa saat melihat tingkah laku Maya yang bahkan tak bisa menjawab godaannya.
Bersambung