
"Nona anda jangan seperti ini," kata Maya yang mencoba menasehati Desi agar ia berhenti mencari keberadaan Sandra.
Saat ini Desi dan Maya tengah duduk di kursi belakang dalam mobil. Sedangkan Adi dan Rafi berada di kursi depan dalam mobil yang sama. Desi sudah menceritakan akan pencariannya terhadap Sandra. Rasa mualnya benar-benar tak bisa ia tahan ketika ia kembali melihat foto Alex. Jika terus seperti ini maka ia tak akan bisa keluar dari rumah saat Alex melihatnya mual dan muntah. Hari ini ia sudah memutuskan untuk mencari keberadaan Sandra dengan meminta bantuan dari tiga orang kepercayaan suaminya.
"Maya benar nona Desi," kini Adi ikut menyahut. Ia tak mau disalahkan jika nanti terjadi sesuatu pada istri dari majikannya. "Biarkan tuan muda Alex yang..."
"Jadi kalian tidak mau membantuku?" Desi memotong perkataan Adi yang belum selesai. Ia bahkan menatap satu persatu orang kepercayaan suaminya dengan tatapan tajam. Setelah beristirahat beberapa menit tadi di dalam ruang kerja suaminya, kini Desi mengajak paksa ketiga orang kepercayaan suaminya agar segera bisa menemukan Sandra. "Kalau kalian tidak mau membantuku, lebih baik aku cari sendiri keberadaan Sandra." Mencoba mengancam sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Perkataan Desi berhasil membuat Adi, Rafi dan Maya menatap satu sama lain. Pasalnya mereka hanya setia pada atasannya yakni Alex Candra Wijaya. Jika Alex berkata A maka mereka juga akan melaksanakan sesuai perkataan Alex. Dan jika Alex berkata B maka mereka bertiga juga akan melaksanakan apa yang Alex katakan. Dalam hidup mereka tak ada sejarah mereka menentang sang atasan. Perintah Alex adalah perintah paling utama bagi mereka. Namun saat ini mereka bertiga dilanda kebingungan ketika sang istri dari atasannya memberi perintah yang jelas-jelas akan di tentang oleh Alex.
Desi melirik satu persatu orang yang memiliki kendali penuh selain Alex di rumah maupun di kantor. Sepertinya ancamannya tak mempan bagi ketiga orang yang kini masih berada dalam satu mobil dengannya. "Baiklah kalau begitu. Aku benar-benar akan mencarinya sendiri..." Kata Desi seraya memegang gagang pintu mobil.
"Nona..." Panggil ketiganya.
Desi tersenyum dalam hati saat Adi, Rafi dan Maya memanggilnya secara bersamaan. Desi melepaskan pegangan pintu mobil. Kemudian ia berbalik menghadap ketiga orang kepercayaan suaminya.
*
Adi menghentikan mobilnya di depan kampus, tempat dimana Sandra menimba ilmu. Ia bahkan sudah bercerita pada Desi perihal Sandra yang saat ini tengah tinggal di rumah keluarga Farel suami dari sahabat istri atasannya. Namun sampai saat ini ia bahkan tak berani memberitahu pada atasannya perihal dimana Sandra berada.
Sedangkan Desi yang sudah tidak sabar bertemu dengan Sandra lantas langsung membuka pintu mobilnya dan berjalan memasuki halaman kampus Sandra.
Adi dan Rafi juga langsung menyusul keluar mobil setelah melihat istri atasannya keluar lebih dulu. Maya tak bisa ikut menemani Desi karena memang ia tengah ditugaskan menjaga kantor ketika Alex tak ada.
Sesaat Desi menghentikan langkahnya saat ia berpikir harus mencari dari mana dulu posisi Sandra saat ini. "Kalian tau dimana kelas Sandra?" Tanya Desi pada dua orang yang dari tadi mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Tidak nona..." Jawab keduanya sambil menundukkan kepala.
"Hah..." Desi menghembuskan nafas kesal saat ia harus mencari tau dulu dimana kelas Sandra. "Tapi apa kalian yakin kalau hari ini Sandra ada kuliah?" tanya Desi sekali lagi dan di jawab anggukan kepala oleh Adi dan Rafi.
Baiklah...
Haruskah aku ke kantor dekan untuk mencari tau soal Sandra?
Kata Desi dalam hati sambil memperhatikan keadaan sekitar kampus. Banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang sekitar area kampus. Namun pandangannya saat ini mengarah pada empat mahasiswa yang sedang duduk di taman kampus. Mahasiswa yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan itu menyita perhatian Desi. Dirinya tergelitik untuk menanyakan pada empat anak yang sepertinya sedang asik bercengkrama.
Dengan langkah sedikit cepat, Desi akhirnya memutuskan untuk menyapa empat mahasiswa tersebut. "Permisi..." Sapa Desi yang sudah berdiri di sekitar empat mahasiswa tersebut. Benar saja, kini perhatian mereka tertuju pada Desi. "Apa kalian mengenal Sandra?" Tanya Desi yang di tanggapi adegan saling tatap satu sama lain dari ke empat mahasiswa tersebut. "Ah aku lupa. Aku mempunyai fotonya," jelas Desi seraya mengeluarkan ponsel dari tas miliknya yang berwarna merah maroon. Warna kesukaannya. Ia tau biasanya dalam satu kampus banyak sekali nama yang sama. Seperti halnya Sandra. Dari tatapan ke empat mahasiswa tersebut, Desi sudah bisa pastikan kalau mereka terlihat bingung dengan nama Sandra yang ia tanyakan.
Ia mencari foto Sandra yang ia dapatkan tadi dari Maya. Benar kata Alex, Maya adalah sekertaris yang bisa di andalkan. Dia seakan tau jika Desi memerlukan foto Sandra seperti sekarang ini. "Lihatlah dia Sandra," kata Desi seraya menunjukkan foto adik iparnya.
Sedangkan Desi, Adi dan Rafi sangat terkejut dengan penuturan teman kampus Sandra.
"Benar. Untuk apa mencarinya? Dia bahkan tidak pantas kuliah disini," kata perempuan satunya yang ikut menimpali.
"Apa maksud kalian?" Desi bahkan tak percaya dengan pernyataan yang ia terima dari teman kampus adik iparnya.
"Sebaiknya jaga bicara kalian. Kalian tidak tau sedang berhadapan dengan siapa?" Kini Rafi sudah tersulut emosi saat ia mendengar secara langsung akan sikap teman kampus Sandra.
"Memangnya kami sedang berurusan dengan siapa hah?" Kini salah satu laki-laki yang tepat berdiri di depan Desi ikut berbicara. "Bukankah kami benar. Sandra adalah anak seorang narapidana. Kalau kalian tidak percaya tanya saja pada yang lainnya," tambahnya lagi yang mengedarkan pandangannya ke seluruh taman kampus. Mencari seseorang yang akan ia tanyai. "Hei kau kemarilah..." Panggilnya pada dua mahasiswa yang sedang berjalan. Seketika itu pula dua mahasiswa yang ia panggil mendekati dirinya. "Apa kau kenal dengan mahasiswi yang ada di foto ini?" Tanyanya yang merebut paksa ponsel Desi dari tangannya.
"Dia Sandra," jawab seorang mahasiswa tersebut.
__ADS_1
"Dia anak seorang narapidana kan?" Tanyanya lagi yang membuat mahasiswa yang di panggilnya diam tak bersuara. "Kau lihat... Dari kediamannya sudah bisa kau pastikan kalau apa yang ku bilang semuanya benar. Semua mahasiswa disini sangat mengenal siapa dia sebenarnya. Kalau dia adalah mahasiswi dari anak seorang narapidana," ujarnya seraya tertawa bersama teman-teman lainnya.
Namun tawa yang dari tadi menghiasi mulut mahasiswa tersebut seketika terhenti saat tamparan keras yang Desi berikan pada laki-laki yang baru saja memberikan pernyataan menyakitkan baginya. Sedangkan semua orang terkejut dengan reaksi yang Desi berikan. "Kau sudah puas?" Tanya Desi dengan mata berkaca-kaca.
Adi dan Rafi memegang pundak istri dari majikannya. "Nona..."
"Berani sekali kau menamparku?" Teriak seorang laki-laki yang telah di tampar oleh Desi.
"Dan kau..." Desi menunjuk mahasiswa tersebut dengan jari telunjuknya. "Berani sekali kau mengatakan hal itu pada adik iparku?" Teriak Desi dengan perasaan yang menggebu-gebu. Ia bahkan tak bisa menahan air matanya.
"Kakak ipar apa yang kau lakukan disini?" Entah dari mana Sandra datang namun saat ini ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada istri dari kakaknya.
"Wah ternyata dia adik iparmu?" Tanyanya sambil tertawa mengejek.
"Sudahlah kakak ipar sebaiknya kita pergi," kata Sandra yang menggandeng tangan Desi agar pergi dari sekumpulan mahasiswa yang sudah sering kali mengejeknya. Adi dan Rafi pun turut serta mengikuti langkah Desi dan Sandra dari belakang setelah mengambil ponsel Desi dari mahasiswa tersebut.
"Kini aku tau pasti kenapa baru saja kau menamparku..." Kata mahasiswa tersebut yang menghentikan langkah Desi dan Sandra. "Karena kau terlihat lebih rendah darinya..."
Pukulan keras melayang di pipi kanan mahasiswa tersebut yang sontak membuat geger sekitar area kampus.
"Berani sekali kau merendahkan istri dan adikku!"
Suara tersebut berhasil membuat Desi, Sandra, Adi dan Rafi membalikkan badan. Bahkan air mata yang dari tadi Desi tahan kini mengalir begitu saja.
Bersambung
__ADS_1