Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kama Sutra part 1


__ADS_3

Malam hari di rumah Alex...


Setelah tiga hari istirahat di apartemen miliknya. Kini Desi kembali lagi ke rumah mertuanya. Badannya sudah kembali sehat. Entah berkat obat yang diberikan oleh dokter Roni atau karena saat ia sakit Alex mengurusnya dengan baik. Atau mungkin karena hal romantis yang Alex terapkan sepanjang waktu saat mereka dengan bebas melakukan dimana saja kegiatan romantis saat masih di apartemen Desi.


Selesai makan malam, Alex tadi sudah meminta ijin pada Desi untuk mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya. Tiga hari tak masuk ke kantor membuat pekerjaannya makin menumpuk. Namun, di lain sisi Alex sangat bersyukur karena dengan sakitnya Desi, ia bisa berbaikan dengan sang istri.


*


Desi tengah berada di kamar. Ia sedang berdiri sambil berkacak pinggang di depan dua rak kayu tempat koleksi buku-buku Alex. Setelah pulang kerja tadi ia teringat akan kata-kata Alex kemarin, ketika Alex bilang membaca hal romantis dari buku yang ada di rumah. Dan kini ia bersiap untuk membaca buku yang Alex katakan padanya.


Desi mengambil kursi kayu di sebelah rak buku. Dan menaruh tepat di depan salah satu rak buku. Kemudian ia menaiki kursi kayu tersebut. Membaca satu persatu judul buku yang di koleksi oleh suaminya. Hampir separuh ia membaca semua judul buku tersebut namun tak ada satupun buku yang Alex maksud. "Apa dia sedang membohongiku? Semua ini adalah buku karya sastra," gumamnya lirih. Sebenarnya ia sudah lelah namun ia sangat penasaran dengan buku yang Alex maksud. Ia melirik rak di sebelahnya. Disana juga masih banyak buku koleksi suaminya. Sesaat Desi turun dari kursi kayu tersebut lalu menariknya ke rak sebelahnya. Menaiki kembali kursi tersebut dan memulai mencari lagi buku yang Alex katakan kemarin.


Hampir dua jam Desi mencari buku yang ia cari. Namun ia tak bisa menemukannya. "Dia pasti sedang berbohong padaku tentang buku itu," katanya sendiri seraya turun dari kursi kayu yang tadi ia naiki. Ia sudah kesal lantaran tak bisa menemukan buku itu. Dua rak buku sudah ia jelajahi. Semuanya buku tentang karya sastra. Namun saat dirinya sedang kesal saat itu pula matanya tertuju pada tumpukan buku yang terselip di bawah rak. Perlahan ia berjongkok dan mengambil buku-buku tersebut yang sudah berada di lantai. "Wah... Buku-buku ini benar-benar ada," katanya lirih sambil membaca satu persatu judul buku yang ia temukan di bawah rak. Semuanya memuat tentang hal romantis. Ada juga novel yang bergenre romantis. Namun sesaat Desi membulatkan kedua matanya saat ia membaca judul buku yang berada di tumpukan terakhir. Mulutnya menganga tak percaya, saat itu pula ia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. "Kama sutra...?" Katanya lagi lirih. Namun sesaat juga ia tertawa keras. Ia hanya berpikir bagaimana bisa Alex membeli buku ini. Rasa penasaran yang dari kemarin menghantuinya atas buku yang Alex bicarakan saat berada di apartemennya kini malah jadi bahan tertawaan baginya.

__ADS_1


Desi sudah menaruh sebagian buku yang ia temukan di bawah rak tadi. Ia hanya mengambil satu buku di tumpukan terakhir. Berniat ke ruang kerja suaminya dan bertanya kenapa Alex bisa-bisanya membeli buku tentang ini.


Ia sudah berjalan keluar dari kamar. Melipat buku yang ia ambil dari bawah rak buku milik suaminya. Senyum terus mengembang di bibirnya. Menuruni tangga dengan sedikit melompat layaknya anak kecil.


"Hati-hati nona, anda bisa terjatuh nanti." Kata Bu Dina menasehati istri dari majikannya ketika sudah berada di tangga terakhir.


"Anda tenang saja Bu Dina. Aku sudah besar," jawab Desi seraya tersenyum. Ia bahkan tak menghentikan langkahnya menjawab nasehat dari kepala asisten rumah tangga suaminya. Karena ia sudah tidak sabar untuk bertanya langsung tentang buku yang ia pegang saat ini. Sesaat ia membuka pintu ruang kerja suaminya. "Sayang aku..." Desi menggantungkan kalimatnya saat ia melihat Alex sedang bersama wanita yang menjabat sebagai sekertaris pribadi suaminya. Senyum yang dari tadi mengembang di bibirnya seketika sirna begitu saja.


"Selamat malam nona..." Sapa Maya seraya berdiri dan membungkukkan badan. Ia tau, ia harus menghormati Desi layaknya ia menghormati sang atasan.


Desi tak menjawab perkataan dari Maya. Ia hanya mengulum senyuman saat ia harus bertemu dengan Maya untuk kedua kalinya.


"Ada apa? Kau perlu sesuatu?" Tanya Alex yang masih setia mengarahkan pandangannya pada Desi.

__ADS_1


Desi sedikit terkejut dengan pertanyaan Alex. Kini pandangannya hanya tertuju pada Alex. "Tidak..." Jawab Desi seraya menggelengkan kepalanya cepat. Kini ia kembali mengarahkan pandangannya pada Maya. Entah kenapa hatinya terasa sakit saat ia melihat Alex dan Maya sedang berduaan di ruangan yang sama. Ia bahkan tak tau sama sekali saat Maya datang. Alex hanya bilang kalau ia akan mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja. Alex tak bilang kalau ia akan bekerja dengan Maya.


"Sayang..." Panggilan Alex kembali mengalihkan perhatian Desi yang dari tadi sibuk memperhatikan Maya. "Kemarilah..." Kata Alex lagi memanggil sang istri dengan isyarat tangannya. Menyuruh Desi untuk mendekat padanya.


"Tidak..." Desi kembali menggelengkan kepalanya cepat. Ia menolak untuk masuk ke dalam. Dari tadi ia masih berdiri di ambang pintu ruang kerja suaminya. Ia meremas buku yang ia pegang dari tadi. Melampiaskan rasa kecewanya pada buku tersebut. "Selesaikan saja pekerjaan kalian. Aku akan kembali ke kamar," katanya cepat sambil melangkah pergi dari ruang kerja suaminya. Kedua matanya sudah di penuhi kabut putih saat tadi ia memutuskan untuk pergi dari ruang kerja suaminya. Mencoba menahan dengan segala upayanya agar air matanya tak jatuh sebelum ia berada di kamar. Dengan langkah setengah berlari Desi menaiki tangga.


"Nona hati-hati, nanti anda terjatuh." Teriak Bu Dina dari lantai bawah. Ia hanya takut jika istri dari majikannya akan terjatuh.


Sesaat Desi menghentikan langkahnya saat ia tepat di tengah tangga. Apa Alex juga akan mengkhawatirkan diriku saat aku menaiki tangga dengan berlari. Kata Desi dalam hati. "Jangan khawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri," jawab Desi. Lalu dirinya kembali menaiki tangga dengan setengah berlari.


Desi membuka pintu kamarnya dan langsung menutupnya dengan sedikit keras. Menyandarkan punggungnya di pintu tersebut. Saat sudah di kamar air mata yang dari tadi ia tahan sudah keluar begitu saja. Perlahan ia terduduk di lantai. Rasa cemburu masih terus menghantuinya saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Alex berduaan dengan Maya di ruang kerja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2