Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kebun Binatang


__ADS_3

"Kau yakin mau kesana?" Tanya Alex yang saat ini sedang fokus menyetir. Siang ini Desi memang sudah diperbolehkan pulang. Menurut dokter tak ada masalah yang serius pada Desi maupun sang bayi. Desi hanya perlu beristirahat dengan baik.


"Iya. Aku mau kesana. Ayo sayang cepat antarkan aku kesana," rengek Desi seraya menggoyangkan lengan kiri Alex.


"Tapi..." Alex menggantungkan kalimatnya saat ia mencari kalimat yang tepat untuk menolak keinginan Desi. "Kau benar-benar mau ke kebun binatang?" Tanya Alex sekali lagi. Mencoba memastikan kalau pendengarannya tak salah saat Desi mengajaknya.


"Iya sayang..." Jawab Desi dengan nada penuh penekanan. Pasalnya ia memang sudah menginginkan untuk pergi kesana. Ia tak mau menundanya lagi. Atau kalau tidak, pasti Alex tak akan mau jika di ajak pergi kesana.


"Tapi kau baru keluar dari rumah sakit sayang..."


"Tapi aku tidak sakit sayang..."


"Apanya yang tidak sakit? Lihatlah keningmu berdarah," masih mencoba mencegah agar Desi tak pergi ke kebun binatang tersebut.


Desi tak percaya dengan perkataan Alex yang membesar-besarkan masalah keningnya yang hanya lecet satu goresan saja. "Sebenarnya kau mau atau tidak pergi kesana?" Nada suara Desi sudah sedikit meninggi. Ia sudah lelah karena dari tadi ia sibuk meyakinkan Alex untuk mengantarnya ke tempat yang ia inginkan.


Alex hanya bisa menghela nafas pasrah saat keinginan Desi sepertinya tak bisa di ganggu gugat. "Baiklah..." Suara Alex sudah terdengar pasrah saat ia mau tak mau harus mengantarkan Desi ke tempat yang diinginkannya. Saat ini yang ada di pikirannya adalah memenuhi semua keinginan Desi. Ia tak mau Desi tambah stress jika ia tak mengantarkannya kesana. Namun entah kenapa untuk hal yang satu ini ia sangat sulit menerimanya. Entah karena Desi sedang hamil atau mungkin karena Desi baru keluar dari rumah sakit. Hanya Alex lah yang tau.


*


Dua jam lebih sepuluh menit Alex menghentikan mobilnya di parkiran khusus kendaraan beroda empat. Jarak rumah sakit dan tempat tujuannya saat ini memang terlampau sangat jauh. Namun demi sang istri, ia rela mengendarai mobilnya sendiri sampai di tempat tujuan. Alex tak langsung turun melihat banyaknya orang yang sepertinya sedang berlibur di tempat ini. "Kau benar-benar serius mau masuk ke dalam?"


Desi tak menjawab pertanyaan dari Alex. Ia hanya melemparkan lirikan mata tajam pada sang suami. Setelahnya ia melepaskan seat belt yang melingkar di depan tubuhnya. Kemudian ia membuka pintu mobil dan langsung keluar dari mobil tersebut. Senyum di wajahnya seketika mengembang ketika keinginannya saat ini benar-benar terpenuhi.


Alex juga menyusul Desi yang keluar lebih dulu dari mobil pribadinya. Ia memakai kacamata hitam yang tadi ia taruh di atas dasbor mobil.


"Sayang ayo kita kesana," ajak Desi yang sudah melangkah lebih dulu ke arah loket pembayaran.


"Hati-hati," kata Alex seraya memegang lengan sang istri yang akan berlari ke arah loket pembayaran. Di tempat ramai seperti ini, ia harus menjaga sang istri dengan segala kemampuannya. Ia ingin Desi dan calon bayinya baik-baik saja.


Ini adalah tempat wisata yang terlampau sangat jauh dari rumah sakit. Meski Alex harus menempuh perjalanan lebih dari dua jam namun sepertinya ia bisa bernafas lega saat ia melihat senyum Desi yang terus mengembang. Desi bahkan sudah hampir satu jam duduk bersama salah satu hewan yang sepertinya sangat ingin ia sambangi yakni kelinci. Sedari masuk ke pintu utama tadi ia hanya sibuk mencari keberadaan hewan yang mempunyai dua telinga panjang.


Alex banyak mengabadikan foto Desi bersama seekor kelinci. Ia bahkan tak bisa berkata apa-apa saat ia melihat keceriaan Desi. Senyum lepas yang Desi keluarkan membuat Alex bersyukur karena telah membawa sang istri ke tempat wisata ini.

__ADS_1



"Kau sudah puas?" Tanya Alex yang menggenggam erat tangan sang istri sambil berjalan beriringan.


Desi menganggukkan kepalanya cepat. "Terimakasih..." Ucap Desi membisikkan sesuatu ke telinga sang suami.


"Kau tidak mau melihat hewan lain?"


"Tidak!" Jawab Desi seraya menggelengkan kepalanya. "Kedatangan ku kesini karena aku hanya ingin melihat kelinci saja."


Jawaban Desi membuat Alex menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu kau hanya ingin melihat kelinci saja?"


Kini Desi menghadap ke arah Alex yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. "Iya sayang. Kedatangan ku kesini karena aku memang sangat ingin memegang seekor kelinci. Bisa dibilang kalau ini adalah keinginan bayi kita."


Duaarr...


Kata-kata Desi membuat Alex membeku di tempatnya berdiri. Ia tak menyangka jika kedatangannya kesini karena keinginan sang bayi yang ingin melihat seekor kelinci. Dan bisa dibilang kalau Desi tengah mengalami ngidam yang lagi-lagi tak masuk akal.


Jadi jauh-jauh aku mengendarai mobil kesini hanya untuk melihat seekor kelinci?


Jika aku tau seperti ini. Aku bisa membelikannya ratusan kelinci. Bahkan aku bisa membelikannya ribuan kelinci sekalian. Bisa-bisanya dia tak bilang padaku terlebih dahulu.


Batin Alex yang sepertinya sudah terlihat kesal. Namun ia harus menahan rasa kesalnya agar Desi tak kembali dilanda rasa stress seperti yang dikatakan oleh dokter Elena.


"Sayang ayo aku mau beli minum disana," kata Desi seraya menarik tangan Alex dan melangkah ke arah kedai minuman.


*


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Desi setelah kembali dari toilet. Dari jauh ia sudah melihat kalau Alex sedang sibuk dengan ponselnya. Namun ia pikir kalau Alex sedang mengerjakan pekerjaannya sembari menunggu kedatangannya dari toilet. Tapi ia dikejutkan dengan Alex yang sepertinya sedang berpose di depan kamera ponselnya.



Alex terkejut dengan kedatangan Desi yang tiba-tiba. Ia bahkan melirik ponsel kamera depannya yang sudah menampakkan wajah istrinya. "Sayang... Kau sudah datang..." Kata Alex kikuk. Ia memang berencana untuk berselfie saat Desi sedang berada dalam toilet. Namun sepertinya keinginannya untuk berselfie sirna dengan kedatangan Desi.

__ADS_1


"Kau sedang foto?" Tanya Desi sambil mengerutkan dahi. Pasalnya ia tak pernah sekalipun melihat Alex berfoto sendirian.


Mendengar pertanyaan Desi membuatnya semakin kikuk. "Sayang ayo kita foto bersama. Cium aku sayang..." Perintah Alex seraya menunjuk pipi kirinya agar dicium oleh sang istri.



"Kau sudah gila!" Kata Desi seraya menyentil kening sang suami. Lalu setelahnya ia duduk di depan Alex.


"Memangnya kenapa?" Alex sudah cemberut dengan perlakuan Desi. Ia menaruh ponselnya di atas meja.


"Disini banyak orang," jelas Desi sambil memperhatikan sekitar. "Kau mau aku menciummu disini? Apa kau sudah gila?" Tanya Desi. Kemudian ia meneguk minuman yang tadi ia pesan.


Alex memperhatikan sekitar. Benar. Disini banyak orang. Ini memang tempat umum. Rasanya akan sangat memalukan jika ia berciuman dengan Desi meski Desi adalah istri sahnya.


*


Desi sudah terlelap di bangku sebelah kemudi. Sedangkan Alex masih sibuk memperhatikan jalanan yang terbilang cukup padat. Perlahan Alex menghentikan mobilnya saat ia sudah sampai di tujuan keduanya. Yakni mengantarkan Desi pulang.


Alex melihat wajah Desi yang teduh saat tertidur. Sepertinya Desi terlalu kelelahan dengan aktifitas diluar. Ya meskipun hanya melihat seekor kelinci di kebun binatang namun dengan kondisi perut Desi yang sudah membuncit, membuat wanita yang memiliki nama belakang Darmawan itu kelelahan.


Desi menggeliat pelan saat ia merasakan mobil yang tak berjalan. Ia membuka matanya saat ia bisa mengumpulkan kesadarannya. "Sayang sudah sampai?" Tanya Desi yang dijawab anggukan kepala oleh Alex. Ia mengedarkan pandangannya ke depan. Namun sesaat ia terdiam ketika ia melihat rumah orang tuanya. "Sayang..." Desi menggantungkan kalimatnya. Lalu ia melihat ke arah suaminya. "Kenapa kita..."


"Dengarkan aku," kata Alex yang memotong perkataan Desi. Tangannya sudah memegang kedua tangan Desi. "Untuk beberapa hari ke depan, aku ingin kau tinggal disini."


"Apa?" Perkataan Alex berhasil membuat kedua mata Desi berkaca-kaca. "Tapi kenapa? Kenapa kau..."


"Sayang dengarkan aku," kata Alex yang lagi-lagi memotong perkataan Desi. Perlahan tangannya mengelus kepala sang istri. "Aku sudah bicara dengan Papi dan Mami. Dalam beberapa hari ke depan aku ingin kau tinggal disini," jelas Alex yang berhasil membuat air mata Desi jatuh. "Sementara aku akan menyelidiki siapa orang yang telah mengganggumu setiap malam selama aku tidak ada di rumah. Kau mengerti!"


"Tapi..."


"Sayang aku mohon..." Kata Alex seraya mengusap air mata Desi yang terlanjur jatuh. "Aku janji akan segera menemukan orang itu. Dan kita akan bersama-sama lagi. Oke!"


Tangis Desi semakin pecah saat ia harus berpisah dengan Alex. Ia bahkan tak berfikir jika Alex akan melakukan hal ini. Ia langsung menghambur ke pelukan sang suami saat ia harus berpisah dengan laki-laki yang sangat dicintainya. "Aku akan sangat merindukanmu..."

__ADS_1


"Aku juga akan sangat merindukanmu..." Kata Alex seraya mengeratkan pelukannya. Ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa mencari tau siapa orang yang telah berani membuat sang istri hingga dilanda kesetressan. Menitipkan Desi ke orang tuanya juga adalah satu-satunya cara agar ia bisa leluasa menangkap dengan mudah sosok yang biasa berdiri di depan gerbang pintu rumahnya.


Bersambung


__ADS_2