
Alex dan Farel sedang duduk di depan ruang perawatan Desi. Di dalam Desi sedang bersama dua sahabat karibnya yakni Alika dan Nadia. Setelah mendengar kabar bahwa Desi sudah sadar, keduanya langsung berencana berangkat ke rumah sakit dengan di antar oleh suami Alika yakni Farel.
Sedangkan Farel yang menangkap gelagat aneh dari saudara sepupu laki-lakinya yang dari tadi diam saja, membuatnya membuka suara untuk menanyakan perihal tersebut. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Tanya Farel yang memang penasaran akan tingkah laku saudara sepupu laki-lakinya.
Alex tak langsung menjawab pertanyaan dari Farel. Pandangannya masih saja lurus ke depan. "Ada sesuatu yang aneh," jawab Alex yang membuat Farel mengerutkan keningnya. Dan kini dirinya sudah melihat ke arah Farel yang sedang duduk di samping kanannya. "Rel, bagaimana jika..."
"Tuan muda..."
Perkataan Alex tertahan saat Adi dan Rafi sudah berdiri di hadapannya. "Ada apa?"
"Kami sudah melihat CCTV disekitar rumah," kata Adi yang membuka tab yang ia pegang. Lalu menunjukkannya pada sang majikan. "Dan kami berdua menemukan seseorang yang berdiri di depan gerbang saat malam tiba."
Kini mata Alex dan Farel tertuju pada tab yang diberikan oleh Adi. Rekaman CCTV yang diminta Alex tadi sudah Adi dan Rafi rangkum. CCTV tersebut menunjukkan memang ada seseorang yang berdiri di depan gerbang rumah Alex selama dua hari berturut-turut. Sama seperti penuturan yang Desi katakan.
Dari rekaman CCTV tersebut, keduanya membelalakkan matanya sama-sama saat mereka menyaksikan sendiri di rekaman yang kedua orang yang berdiri di depan gerbang tersebut tengah mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya. Orang tersebut tengah melihat ke arah dalam rumah Alex. Yang sudah Alex pastikan kalau orang tersebut memang berniat meneror istrinya.
"Kau mengenalnya?" Tanya Farel yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tidak..." Jawab Alex seraya menggelengkan kepalanya. Memperhatikan dengan seksama pada orang yang telah mengancam sang istri. Mencoba memperbesar gambar CCTV, namun ia masih tak mengenali orang tersebut lantaran orang tersebut memakai pakaian serba hitam dan menggunakan topi yang berhasil menyamarkan wajahnya. "Siapa dia?" Gumamnya lirih.
"Apa kau mempunyai musuh?" Tanya Farel memastikan. "Atau... Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau tidak mempunyai saingan dalam perusahaan mu kan?" Tanya Farel lagi yang berusaha mencari tahu akan sosok seseorang yang berusaha mengancam keluarga saudara sepupunya.
__ADS_1
"Pekerjaanku baik-baik saja." Jawab Alex pasti. Ia memang tak mempunyai saingan dalam berbisnis. "Rel... Atau jangan-jangan..." Alex menggantungkan kalimatnya saat ia mencurigai satu orang yang memang membuatnya tak tenang selama ini.
"Jangan-jangan apa?" Tanya Farel penasaran. Jika ini memang masalah yang serius maka ia akan membantu keluarga sepupunya. Ia tak akan membiarkan masalah ini berlangsung lama.
"Papa..."
"Aduh Alex..." Farel sudah berdiri dihadapan saudara sepupu laki-lakinya. Menggeser tempat Adi dan Rafi tadi yang sempat berdiri di depan Alex. "Om Hendra itu gila. Dia tidak mungkin bisa keluar dari rumah sakit jiwa," jelas Farel. "Bukannya lu denger sendiri akan penjelasan dokter Fahmi? Bokap lu akan dijaga selama dua puluh empat jam."
"Tapi..."
"Ah sudahlah..." Kini Farel duduk di bangku yang tadi ia duduki. "Jika lu emang masih gak percaya. Lebih baik lu besok datang sendiri ke rumah sakit," lanjut Farel lagi namun Alex bahkan tak menjawabnya.
*
Desi menganggukkan kepalanya pelan. "Kau tau, aku masih tidak percaya jika kau sudah pulang." Kata Desi yang ditanggapi senyuman oleh Alex.
"Apa kau masih berpikir kalau ini sebuah mimpi?"
Desi tersenyum lebar. Namun sesaat senyum tersebut sirna ketika ia teringat akan mimpi buruk beberapa hari yang lalu. Kini kedua tangannya memegang tangan Alex. "Kau sudah menemukan siapa seseorang yang selalu berdiri di depan gerbang rumah saat malam hari tiba?"
"Aku sudah menyelidikinya. Kau tenang saja. Semuanya pasti akan baik-baik saja," jawab Alex seraya mengelus pipi kiri sang istri. "Sekarang tidurlah. Ini sudah malam."
__ADS_1
"Aku tidak mau," ucap Desi sambil menggelengkan kepalanya. "Aku sudah terlalu banyak tertidur."
Benar. Sebelum membuka mata dari pingsannya, Desi memang sudah tak sadarkan diri selama sehari dua malam. Tadi sebelum teman-temannya datang, Desi juga sudah tertidur. "Baiklah jika kau tidak mau tidur. Sekarang katakan padaku, apa kau menginginkan sesuatu?"
Desi menggelengkan kepala tandanya ia memang tak membutuhkan sesuatu saat ini.
Kini Alex beralih duduk di atas pembaringan sang istri. Ia ingin lebih dekat lagi dengan Desi. Kini keduanya saling berhadapan. "Kalau begitu... Sekarang coba ceritakan. Apa ada yang tak ku ketahui sebelum kau menjadi istriku?" Tanya Alex yang mencoba membicarakan hal yang tak membuat Desi stress. Ia sudah di wanti-wanti oleh dokter Elena agar bisa menjaga kestabilan pikiran Desi. Karena saat ini, itu adalah hal yang terpenting.
"Aku..." Desi menggantungkan kalimatnya. Ia sedang memikirkan sesuatu atas pertanyaan Alex. "Sebenarnya dulu aku ingin sekali menjadi istri dari seorang tentara."
Jawaban Desi benar-benar membuat Alex tertawa keras. Sebenarnya pertanyaannya bukanlah membahas apa yang Desi inginkan dulu. Apalagi masalah suami. Ia hanya ingin mengetahui akan hal yang tak ia tau sebelum Desi menjadi istrinya. Namun jawaban Desi membuatnya seperti lelucon. Pasalnya saat ini ia adalah suami Desi. Dan dia bukanlah seorang tentara seperti yang diinginkan Desi. "Kau... Menginginkan suami tentara?" Tanya Alex yang masih diselingi tawa renyahnya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Desi dengan wajah cemberut. Tangannya sudah memukul dada Alex agak keras, hingga Alex mengaduh kesakitan.
"Sepertinya itu adalah cita-citamu yang tak bisa tercapai," kata Alex yang masih tak bisa berhenti tertawa.
"Tapi asal kau tau. Aku tetap bersyukur meski aku bukanlah istri dari seorang tentara," kata-kata Desi berhasil membuat Alex berhenti tertawa. Sedari tadi tangannya tak berhenti mengelus tangan suaminya. "Aku mencintaimu..."
Perkataan Desi berhasil membuat Alex terdiam cukup lama. Pikirannya kini sudah memunculkan beberapa slide terindah yang ia jalani bersama sang istri. Dari pertemuannya yang tiba-tiba dengan Desi. Sampai akhirnya Desi mengajaknya menikah. Percobaan bunuh diri yang sering dulu Desi lakukan. Hingga akhirnya perlahan ada perasaan tumbuh diantara keduanya. Terkadang Alex masih tak menyangka dengan apa yang ia alami saat ini. Jangan tanyakan ia mencintai Desi atau tidak. Jika Desi menginginkan nyawanya, maka saat ini juga ia akan memberikannya.
"Kenapa kau tak menjawab perkataanku?" Desi kembali memukul dada Alex. Dirinya kesal saat ia tak menerima ucapan balasan dari sang suami. "Aku bahkan sudah mulai duluan mengatakannya. Kau..." Perkataan Desi tertahan saat sekilas Alex mencium bibirnya.
__ADS_1
"Kau terlalu banyak bicara..." Kata Alex seraya mengusap bibir Desi yang basah akibat ciumannya. Namun sekali lagi ia kembali memberikan kecupan di bibir Desi. Ia berhenti sejenak. Tangannya sudah memegang tengkuk leher Desi bagian belakang. Dan setelah itu ia kembali memberikan ciuman yang panjang pada sang istri.
Bersambung