
Saat ini keluarga besar Wijaya yang terdiri dari Herlambang, Farel, Alika, Lala, Marisa, Sandra serta Abi dan Umi telah duduk di ruang tamu keluarga Darmawan. Kedatangan mereka ke rumah Desi memang berniat untuk melamar dan meminta ijin untuk menjadikan Desi sebagai istri dari Alex Candra Wijaya. Kedatangan mereka pun akan di sambut hangat oleh keluarga Darmawan namun sepertinya sambutan hangat itu berubah menjadi sambutan yang tak menyenangkan.
Ketidaksetujuan Darmawan sangat jelas di wajahnya. Ketidaksetujuan itu ia lakukan hanya untuk melindungi putri semata wayangnya. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap Desi jika ia membiarkan Desi akan menikah dengan Alex.
"Keputusan ku sudah bulat. Sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan kalian berdua!" Darmawan berkata penuh penekanan. Ia memang sangat menjaga kebahagiaan keluarganya. Dan jika keluarganya sedang dalam terancam bahaya maka ia tak akan segan-segan untuk melindungi serta menyerang siapa saja yang membahayakan keselamatan keluarganya. Desi adalah putri satu-satunya keluarga Darmawan. Jika ia tetap menikahkan Desi dengan Alex maka sama saja ia menjerumuskan Desi ke dalam lubang harimau. Menurutnya kejahatan yang dilakukan ayah Alex sangatlah besar. Ia tak mungkin menerima menantu yang ayahnya seorang narapidana.
"Kita bisa jelaskan..." Herlambang mencoba menengahi permasalahan yang tiba-tiba muncul saat ia beserta keluarganya berniat melamar Desi.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" Kata Darmawan yang kembali penuh penekanan. "Sudah ku bilang kalau keputusan ku sudah bulat."
"Om saya mohon..." Kini Alex mencoba untuk membicarakan semuanya baik-baik. Ia tak ingin ada kesalahpahaman antara keluarganya dan keluarga Desi. "Papa saya memang telah melakukan kejahatan yang sangat fatal. Tapi om Darmawan bisa buktikan bahwa saya sangat jauh berbeda dengan sifat yang di miliki oleh Papa saya. Bahkan saya sendiri yang menyerahkan Papa saya pada pihak berwajib. Om bisa pastikan kalau saya pasti bisa membahagiakan Desi. Saya sangat mencintai Desi. Saya..."
Darmawan tertawa keras saat mendengar pernyataan dari Alex. "Kau berkata seperti itu karena kau ingin melindungi kejahatan ayahmu kan?" Sarkas Darmawan dengan berbagai spekulasi dari dalam dirinya.
"Bukan seperti itu. Saya memang mencintai Desi. Saya..."
__ADS_1
"Aku tidak mau mendengar ucapan mu lagi. Sebaiknya kalian keluar dari sini..." Usir Darmawan. Penolakan yang ia lakukan hanya karena ia ingin melindungi keluarganya.
Terkejut. Keluarga besar Wijaya terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Darmawan. Keluarga Wijaya adalah salah satu keluarga terhormat di kota ini. Tak ada satupun yang berani main-main dengan keluarga Wijaya. Apalagi setelah perusahaan yang di pegang oleh Farel nama keluarga Wijaya semakin melambung tinggi. Alex yang juga menjadi salah satu keluarga Wijaya juga tak kalah luput tenar di kalangan pebisnis. Dirinya juga tak pernah merasa sehina ini saat ia akan melamar seorang gadis namun keluarga sang wanita yang sudah melakukan kesepakatan dengannya malah tak menerima lamarannya. Di tambah lagi keluarga Darmawan mengusir keluarganya.
"Papi..." Dada Desi sudah merasa sesak saat pernikahan yang ia rencanakan tiba-tiba saja akan berakhir menjadi sebuah keputusan yang sama sekali tak bisa ia bayangkan. Dari tadi air matanya sudah tak bisa ia hentikan saat ia mendengar berkali-kali sang ayah berteriak untuk tak menyetujui pernikahannya.
Emosi Darmawan makin meledak saat Desi yang dari tadi duduk kembali memrotes pendapatnya. "Tutup mulutmu!" Bentak Darmawan pada Desi. "Papi akan mencarikan suami yang pantas untukmu. Papi akan..."
"Sudah cukup!" Kata Desi yang memotong perkataan sang ayah seraya berdiri dan menutup kedua telinganya.
Hening...
Perlahan Desi mengusap air matanya kasar. Lalu ia berjalan ke arah tangga. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat akan menginjakkan kakinya di anak tangga pertama. Kemudian ia berbalik pada semua orang yang masih berada di ruang tamu. Ia mengambil vas kaca yang berisi bunga di meja dekat tangga. Dengan cepat ia menumpahkan bunga tersebut dan memecahkan vas bunga itu di meja. Lalu dengan cepat pula ia menempelkan pecahan vas tersebut ke bagian lehernya.
"Desi..." Teriak semua orang seraya berdiri akan menghampiri Desi yang mencoba melakukan percobaan bunuh diri.
__ADS_1
"Berhenti!" Kata Desi yang masih menempelkan pecahan vas bunga yang terbuat dari kaca itu di lehernya. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan agar semua orang tak berjalan mendekatinya. "Bukankah Papi menginginkan hal ini?" Tanya Desi yang kembali mengeluarkan air matanya.
"Desi sayang... Ini..." Dengan langkah hati-hati Darmawan mencoba menenangkan Desi.
"Berhenti disana!" Kata Desi lagi seraya berteriak. Tangannya sampai berdarah saat ia memegang pecahan kaca itu dengan erat. "Jika memang aku tak bisa menikah dengan Alex. Untuk apa lagi aku hidup," kata Desi mengancam sang ayah.
"Desi ini bukan..." Darmawan kembali melangkahkan kakinya. Sedangkan ibu Desi yakni Siska sudah menangis melihat Desi yang mencoba bunuh diri di depan kepalanya sendiri.
"Aku bilang berhenti disana!" Teriak Desi lagi yang memotong perkataan sang ayah. "Jika kalian berani mendekat maka..."
"Sayang..." Ucap Alex yang mencoba menenangkan Desi. Semua orang pun juga melihat ke arahnya. Tangannya terulur ke arah Desi. Perlahan ia berjalan sambil tak henti-hentinya memberikan sorotan mata berkaca-kaca. "Hentikan... Tolong hentikan semua ini..." Kata Alex yang berjalan perlahan ke arah Desi. Sampai akhirnya ia bisa menggapai tangan Desi yang terluka akibat pecahan kaca yang dipegangnya. Semua orang takjub dengan sikap Desi yang diam saja saat Alex mendekatinya dan mengambil pecahan kaca dari tangan Desi. Alex membuang pecahan kaca tersebut lalu menarik Desi supaya mengikuti langkahnya ke sofa ruang tamu. Mendudukkan Desi disana dan menyuruh asisten rumah tangga untuk membawa kotak obat untuk mengobati luka di tangan Desi. Dengan cekatan Alex mengobati luka Desi.
Semua orang diam. Bahkan Darmawan yang menentang habis-habisan pernikahan putrinya seakan tak punya kekuatan untuk memberikan penolakan lagi. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika ia berusaha keras memisahkan mereka berdua maka pasti Desi juga akan kembali memberikan ancaman untuk melakukan percobaan bunuh diri yang mungkin bisa fatal terhadap putri satu-satunya. Darmawan tak mau itu kembali terjadi. Ia tak mau kehilangan putrinya jika sampai ia berusaha keras memisahkannya dengan Alex. "Menikahlah kalian berdua. Kalian sudah mendapatkan restu dari Papi," kata Darmawan yang berhasil mengejutkan semua orang yang kini sedang memperhatikan Alex dan Desi. Perlahan ia berjalan mendekati Desi dan duduk di sebelahnya. Memegang tangan putrinya yang terluka saat sudah selesai dibalut perban dengan baik oleh Alex. "Papi gak mau kamu melakukan hal ini lagi jika Papi tak memberikan restu padamu."
Hah akhirnya... Rencanaku benar-benar berhasil membuat Papi merestui pernikahan ini. Kenapa aku bodoh sekali sampai melukai tanganku sendiri.
__ADS_1
Batin Desi yang tertawa dalam hati karena rencananya benar-benar berhasil mengelabui orang tuanya.
Bersambung