Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Rasa Terimakasih


__ADS_3

Alex mengerjapkan kedua matanya saat ia merasai ada seseorang yang tengah menciumi pipinya. Ia terkejut saat istrinya sedang berkali-kali mencium pipinya. Ia juga melihat sang buah hati yang terbaring di sebelahnya. "Hei sayang..." Mengelus pipi baby Alessia.


"Selamat pagi ayah..." Kata Desi yang menirukan suara anak kecil sembari mengangkat tangan putrinya untuk menyapa sang ayah yang baru bangun dari tidurnya.


"Kalian sudah bangun?" Tanya Alex dengan suara khas orang bangun tidur. Mencium semua wajah baby Alessia. Dan mendekapnya dalam pelukannya.


"Sudah siang. Ayo bangun. Apa kau tidak berangkat ke kantor?" Tanya Desi yang berada di samping sang suami sambil tengkurap. Menopang dagunya dengan kedua tangannya.


"Aku akan libur hari ini. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian berdua," kata Alex yang sekali lagi mencium pipi buah hatinya.


"Benarkah? Apa tidak apa-apa jika kau libur?" Seketika antusias saat mendengar suaminya libur kerja dan akan menghabiskan waktu bersama dirinya dan putrinya.


"Tentu saja. Aku pemilik perusahaan. Memangnya siapa yang akan melarangku untuk libur bekerja?" Tanya Alex seraya mencubit pipi kanan sang istri.


"Baiklah cepat mandi. Aku akan menitipkan Alessia ke mama. Dan aku akan memasak masakan kesukaan mu." Sudah beranjak dari tidur dan menggendong Alessia.


*


Empat puluh lima menit kemudian Alex berjalan menuruni tangga. Memakai pakaian santai rumah. Ia memang sudah meniatkan akan libur dari kantor sehari ini. Ia akan menghabiskan waktu seharian ini bersama keluarganya. Setelah berada di lantai bawah, ia bergegas berjalan ke arah meja makan. Meneliti semua masakan yang istrinya hidangkan di atas meja makan. "Kau yang memasak ini semua?" Tanya Alex yang masih menatap lapar masakan kesukaannya, yakni makanan khas laut.


"Tentu saja. Tapi..." Menjeda kalimatnya sebentar. "Aku mendapat bantuan dari kepala asisten rumah tangga," sudah menunjuk orang yang dari tadi sibuk menyiapkan sarapan di meja makan.


"Kepala asisten rumah tangga?" Tanya Alex seraya mengerutkan keningnya. Menatap wanita paruh baya yang di tunjuk oleh sang istri. Wanita paruh baya tersebut tengah berdiri tak jauh darinya. Ia teringat akan kepala asisten rumah tangga dulu yakni Bu Dina. "Kau..."


"Saya Ratna, tuan muda." Kata wanita paruh baya tersebut, mengenalkan diri pada majikannya. Membungkukkan badan, memberi hormat pada laki-laki yang sudah seharusnya ia hormati.


"Sebelum menikah Maya merekrut kepala asisten rumah tangga baru. Ia sendiri yang turun tangan," lanjut Desi menjelaskan.


"Tapi dia tak bilang sama sekali padaku."

__ADS_1


"Kau terlalu sibuk menyiapkan pernikahan Maya," kata Desi yang kini berjalan ke arah sang suami. Merangkul lengan Alex dan menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. "Maya bilang harus segera merekrut kepala asisten rumah tangga yang baru. Agar ada yang membantuku mengurus baby Alessia. Begitu katanya."


Tatapan mata Alex masih tertuju pada kepala asisten rumah tangga yang baru. Masih tak mempercayai pada wanita paruh baya yang masih menundukkan kepalanya padanya. Ia sudah trauma akan sikap Bu Dina dulu padanya. "Tapi dia..."


"Saya bisa menjamin kalau Bu Ratna adalah orang yang baik Pak."


Kalimat tersebut berhasil menyita perhatian semua keluarga Alex yang tengah berada di ruang makan.


"Maya kau..."


"Selamat pagi semuanya..." Sapa Maya sambil membungkukkan badan. Lalu ia kembali berdiri tegak di hadapan atasannya.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Alex yang memang tak menyangka akan kedatangan asisten pribadinya yang tiba-tiba saja pagi-pagi sudah ada di rumahnya. "Tunggu..." Alex kembali memperhatikan pakaian yang dipakai Maya. Pakaian yang biasa digunakan Maya saat pergi ke kantor. "Kau mau kemana dengan berpakaian seperti ini?" tanya Alex lagi. Ia sudah membicarakan perihal apa yang akan dilakukan Maya dan Bima setelah menikah. Alex sudah merencanakan semua ini. Pada hari kedua setelah menikah Maya dan Bima akan pergi berbulan madu ke Maldives. Tempat yang sudah Alex pesankan untuk sepasang pengantin baru ini. Namun Alex dikejutkan oleh kedatangan Maya pagi ini.


"Saya akan pergi bekerja Pak," jawab Maya yang membuat Alex membulatkan kedua matanya.


"Tapi kau..."


"Apa?" Penjelasan ringkas dari Maya benar-benar membuat keluarga Alex tak percaya. Pasalnya mereka memang tak mengetahui siapa Bu Ratna sebenarnya. Mereka juga tak pernah menanyakan siapa keluarga Bu Ratna sebenarnya. Mereka hanya tau kalau Bu Ratna adalah asisten rumah tangga yang dibawa Maya setelah lulus seleksi.


"Adi..." Alex mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mencari salah satu orang kepercayaannya selain Rafi. Dan kini matanya tertuju pada dua orang laki-laki yakni Adi dan Rafi yang berdiri di sebelah kanan Maya.


Adi dan Rafi membungkukkan badan. "Maafkan saya tuan muda. Saya masih belum sempat bilang jika Bu Ratna adalah ibu saya. Maya bilang dia tengah mencari seorang perempuan yang bisa dipercaya untuk keluarga anda. Jadi saya pikir..."


"Aku mengerti." Kata Alex memotong perkataan Adi. "Bu Ratna, kami menantikan kerja kerasmu." Sambung Alex lagi yang kini pandangannya mengarah pada wanita paruh baya yang diketahui adalah ibu dari Adi.


"Terimakasih tuan muda," kata Bu Ratna sambil membungkukkan badan. "Saya pasti akan bekerja keras pada keluarga anda."


"Lalu jelaskan dengan pakaian mu. Kau mau kemana hah?" sudah menangkap gelagat Maya yang sepertinya akan pergi ke kantor. Kedua tangannya sudah berkacak pinggang agar Maya merasa kalau dirinya memang benar-benar marah akan kelakuan Maya saat ini.

__ADS_1


"Hari ini saya memang harus ke kantor Pak. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan."


"Lalu bagaimana dengan bulan madu mu. Aku sudah menyiapkan..."


"Saya dan Bima bisa menundanya lain waktu," kata Maya yang memotong perkataan Alex. Seperti tak ada takutnya saat ia sudah berkali-kali memotong perkataan atasannya. Namun ini memang sudah rencananya. Rencana yang sudah ia susun bahkan sebelum pernikahannya dan Bima terlaksana. Lalu dirinya berjalan beberapa langkah ke depan. "Saya ingin anda dan nona Desi yang akan pergi berbulan madu hari ini juga."


"Apa?" Alex dan Desi berkata bersamaan. Masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Maya saat ini.


"Benar. Sebaiknya kalian pergilah berbulan madu. Bukankah setelah menikah dulu kalian belum sama sekali berbulan madu?" Sandra yang dari tadi duduk di meja makan membuka suara.


"Kau..." Jari telunjuk Alex sudah menunjuk Sandra agar menghentikan semua omong kosongnya.


"Benar, cepatlah pergi berbulan madu. Mama pasti akan menjaga Alessia dengan baik," kini Marisa yang dari tadi menggendong cucu perempuannya juga tengah membuka suara.


"Tapi..." Ingin sekali Desi protes akan rencana Maya yang datang secara tiba-tiba. Ia bahkan tak ingin meninggalkan baby Alessia barang sejam.


"Mama gak mau tau. Kalian harus segera pergi berbulan madu. Alessia akan baik-baik saja bersama Mama disini tentunya."


"Apa kalian sedang bersekongkol?" Tanya Alex yang membuat semua orang saat ini sedang memandangnya. "Apa kalian sudah membuat rencana agar aku dan Desi..."


"Tidak!" Teriak Sandra sambil menggoyangkan kedua tangannya. Berusaha membantah semua tuduhan yang Alex berikan pada keluarganya.


Alex tersenyum kecut mendengar teriakan dari Sandra. "Rupanya benar," kini dirinya tersenyum sambil menundukkan kepalanya ke bawah. "Kenapa kalian melakukan ini padaku?" Sudah bisa membaca apa yang direncakan oleh keluarga besarnya. "Apa ini ulahmu?" Menatap asisten pribadinya dengan tatapan tajam.


"Anggap saja ini ucapan terimakasih dari saya," jawab Maya seraya tersenyum penuh makna. "Anda sudah bekerja keras dalam pernikahan saya. Menyiapkan semuanya dan turun tangan langsung dalam semua hal." Maya menjeda kalimatnya sebentar. Berusaha tak menitikkan air mata yang sudah terlanjur membasahi sudut matanya. "Saya berterima kasih atas semuanya. Atas semua yang anda berikan pada saya."


Suasana seketika hening. Tak ada yang berani membuka suara ataupun bergerak sedikitpun. Tatapan mata Alex yang diberikan pada Maya, membuat semua orang kaku di tempatnya berdiri.


"Apa kau berusaha membuatku menangis?" Tanya Alex dengan mata berkaca-kaca. "Kemarilah..." Memanggil Maya dengan isyarat tangannya. Dan tanpa disuruh untuk yang kedua kalinya kini Maya sudah berada dalam pelukannya. Mengelus punggung wanita yang sudah ia anggap adik sendiri. "Kau pantas mendapatkan semuanya..." Kata Alex seraya menitikkan air matanya. "Karena kau adalah adikku," lanjutnya lagi yang membuat Maya semakin menangis dalam pelukannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2