Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Mengatakan Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Apa? Resign?" Tanya Desi dengan nada setengah berteriak. Ia tak percaya dengan penuturan Alex yang menyuruhnya resign dari perusahaan. Ia bahkan tak pernah membayangkan jika ia harus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Setelah kepulangannya dari rumah sakit tiga hari yang lalu sudah membuatnya merasa gerah di rumah. Apalagi tanpa melakukan aktifitas sama sekali. Karena Alex sudah berpesan pada semua penghuni rumah agar menjaga Desi dengan hati-hati. Bahkan Desi tak di perbolehkan berjalan terlalu lama dengan alasan untuk menjaga kesehatan dan calon bayinya. Sebenarnya tiga hari itu pula orang tua Desi datang menyambangi putrinya yang sedang dalam masa penyembuhan. Namun perasaan ingin keluar rumah sudah ia impikan di hari ke empat saat ia sudah melakukan apa yang Alex mau.


Bosan. Mungkin itu satu kata yang tepat untuk menjabarkan isi hati Desi. Selama tiga hari ini yang ia lakukan hanyalah makan dan tidur saja. Ia mencoba bersikap baik karena kata Alex jika ia tak melakukan aktifitas yang berlebihan maka di hari ke empat ia bisa kembali berkerja. Namun di saat ia sudah mengenakan pakaian lengkap untuk berangkat ke kantor, pagi ini ia di kejutkan dengan pernyataan bahwa ia harus resign dari perusahaan yang sudah mempekerjakannya selama kurang lebih sembilan tahun. Rasanya sesak di dadanya selama tiga hari ini berada di rumah kini sudah menjadi cairan bening yang terlihat jelas di pelupuk matanya.


"Kau harus banyak istirahat. Kau sedang mengandung. Aku tidak ingin kau kelelahan saat kau terlalu banyak pekerjaan. Jika..."


"Kau jahat!" Kata Desi memotong perkataan Alex. Ia bahkan sampai berani memukul keras dada Alex dengan kedua tangannya.


"Sayang...."


"Jangan panggil aku sayang!" Teriak Desi lagi sambil menolak pegangan tangan Alex yang akan memegang pundaknya. "Kenapa aku harus resign? Aku baik-baik saja. Kandunganku juga baik-baik saja. Aku tidak suka di kekang seperti ini. Kau..." Desi menghentikan omelannya saat Alex berhasil membungkam mulutnya dengan bibirnya.


Perlahan Alex melepaskan ciumannya. Menangkup kedua pipi Desi dengan kedua telapak tangannya. Menatap lekat wajah Desi yang semakin hari membuatnya semakin tak ingin meninggalkan Desi meski hanya berangkat ke kantor. "Dengarkan aku. Aku sangat mengkhawatirkan tentang kesehatan mu. Kandungan mu semakin lama juga semakin membesar."


"Tapi kan..."


Lagi-lagi Alex mengecup bibir sang istri saat ucapannya belum selesai ia katakan. Dan satu kecupan yang ia berikan pada Desi benar-benar membungkam bibir tipis sang istri. Alex menghembuskan nafasnya pelan. "Kenapa kau suka sekali memotong perkataan ku saat aku belum selesai berbicara padamu?"

__ADS_1


Desi hanya menanggapi pertanyaan sang suami dengan wajah cemberut. Memajukan bibirnya tanda protes. Melirik sang suami dengan kedua matanya.


Alex kembali tertawa melihat ekspresi wajah Desi. "Aku melarang mu bekerja bukanlah tanpa alasan. Aku hanya ingin kau dan calon bayi kita tak kelelahan. Kesehatan dirimu dan dia sangat berarti untukku."


"Tapi aku akan bosan berada di rumah sepanjang waktu," sudah merengek sambil menghentakkan kakinya beberapa kali di lantai. Jangan tanya dengan wajahnya. Alex sampai gemas melihat tingkah sang istri yang bersikap seperti anak kecil saat ia harus membujuk Desi agar berhenti dari pekerjaannya.


Namun benar kata Desi, seharian berada di rumah dan tak melakukan pekerjaan apapun akan sangat membosankan. Ia memikirkan sesuatu yang akan menjadi aktifitas Desi ke depannya. Namun ia kesulitan memilih aktifitas apa yang akan Desi kerjakan.


"Di rumah juga tidak ada Sandra," kembali menghentakkan kakinya di lantai. "Suruh Sandra pulang. Aku mau Sandra pulang."


Perkataan Desi berhasil membuat Alex diam tak bersuara. Pasalnya ia sudah mengusir adiknya dan sampai saat ini ia bahkan tak tau dimana Sandra berada.


Alex menundukkan kepalanya dalam di hadapan Desi. Sedangkan Desi juga menundukkan kepalanya, mencoba melihat Alex yang tengah menyembunyikan wajahnya. Perlahan Desi memegang tangan Alex. "Kau masih tidak mau cerita padaku mengenai apa yang terjadi di rumah ini?"


Perlahan Alex mengangkat kepalanya. Menatap lekat wajah sang istri. Mengelus tangan Desi yang juga sedang memegang tangannya. "Aku tidak bisa membawa Sandra pulang."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena dia sudah jahat padamu."


"Maksudmu?"


"Saat alergimu kambuh di mall beberapa hari yang lalu. Sandra lah yang melakukan hal itu," jelas Alex dengan mata berkaca-kaca.


Desi menganga tak percaya. Ia pikir pihak kedai lah yang melakukan kesalahan akan pesanan yang di pesan oleh Sandra. "Sayang kamu pasti salah. Mungkin pihak kedai lah..."


"Maya sudah mencari tau semuanya," kata Alex memotong perkataan Desi. "Bahkan pihak kedai juga mengiyakan pesanan apa yang di pilih oleh Sandra. Dan apa kau tau apa yang dilakukan Sandra. Dia mencoba menyuap pihak kedai makanan agar mereka tutup mulut dengan apa yang telah dilakukannya," tambah Alex dengan perasaan yang menggebu-gebu. Rasa marah di hatinya kembali terlihat jelas di wajahnya ketika ia kembali membicarakan tentang Sandra.


Sedangkan Desi makin tak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya.


"Jadi kau jangan pernah pertanyakan dimana Sandra saat ini berada. Karena aku sudah mengusirnya dari sini," jelas Alex yang kemudian melangkahkan kakinya ke arah balkon kamarnya.


Desi masih mematung di tempatnya berdiri saat ia mengetahui semua apa yang telah di tuturkan oleh Alex. Alasan kenapa semua anggota keluarga mertuanya seperti menyembunyikan sesuatu kini bisa ia pastikan kalau semuanya perihal Sandra.


Kini pandangan Desi mengarah pada sang suami yang tengah berdiri di balkon kamarnya. Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati Alex. Memeluk Alex dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung sang suami. "Kenapa kau sangat marah padanya?" Tanya Desi yang masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang suami dari belakang. "Dia adalah adikmu. Dia juga adikku. Dia melakukan semua itu pasti karena sebuah alasan," kata Desi yang mencoba menasehati Alex. "Aku mohon maafkan dia. Aku bahkan tidak marah padanya."

__ADS_1


Mendengar penuturan dari Desi membuat hati Alex terenyuh. Ia tak menyangka jika hati Desi seperti malaikat. Memaafkan seseorang yang sudah jahat padamu bukanlah perihal mudah. Apalagi kejahatan itu sudah akan merenggut nyawa seseorang. Entah ia merasa sangat bersyukur atau tidak, namun menjadi suami Desi sudah menjadi anugrah besar baginya.


Bersambung


__ADS_2