Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Perintah Alex


__ADS_3

Farel turun dari mobil setelah sekertarisnya Bima membuka pintu mobil bagian belakang. Dengan langkah cepat ia pergi memasuki rumah sakit jiwa. Tiga puluh menit yang lalu, ia mendapat telepon dari sepupu laki-lakinya, Alex. Ia mendapat perintah langsung dari Alex untuk melihat langsung apakah Hendra Wijaya ayah dari Alex Candra Wijaya masih berada di rumah sakit jiwa, karena secara tak sengaja Alex telah melihat ayahnya berada di mall yang sama dimana sang istri berada di mall tersebut lewat panggilan video call.


Farel bertanya pada salah satu perawat perempuan yang sudah ditugaskan menjaga ayah Alex di rumah sakit jiwa ini. Setelah berbicara beberapa saat Farel dan Bima diantarkan ke kamar Hendra Wijaya. Perawat perempuan itu bilang kalau Hendra Wijaya saat ini tengah tidur.


Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit, sang perawat membuka pintu kamar Hendra Wijaya. Benar saja, saat ini Hendra Wijaya sedang tidur di kamar khusus untuk dirinya. Farel dan Bima hanya bisa saling menatap satu sama lain saat mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri kalau Hendra sedang tidur atau lebih tepatnya Hendra tak akan bisa keluar dalam keadaan seperti ini.


*


"Pak Hendra Wijaya dalam pantauan kami. Rasanya sangat tidak mungkin jika Pak Hendra Wijaya bisa keluar dari rumah sakit jiwa ini," jelas salah satu dokter yang menangani kasus Hendra Wijaya.


Farel sedang duduk di depan dokter laki-laki yang bertugas menangani kasus pamannya. Setelah melihat keadaan sang paman yang tengah tertidur tadi. Farel sudah berencana menemui dokter Fahmi, yakni dokter yang sudah di percaya oleh Alex untuk menyembuhkan sang ayah. Kedatangan Farel ke ruangan dokter Fahmi bukanlah tanpa alasan. Ia ingin dokter Fahmi menjelaskan sendiri secara langsung pada Alex lewat sambungan telepon. Saat tengah makan siang tadi, ia mendapatkan telepon dari Alex agar pergi ke rumah sakit jiwa tempat dimana Hendra Wijaya sedang di rawat. Karena menurut penuturan Alex bahwa Hendra Wijaya tengah berada di mall yang sama dengan Desi.

__ADS_1


"Mungkin tadi anda salah lihat," kata dokter Fahmi yang menjeda kalimatnya saat ia mendengarkan penuturan dari Alex lewat via telepon. "Anda tenang saja Pak Alex. Kami akan memantau Pak Hendra Wijaya dua puluh empat jam. Lagipula rumah sakit ini dilengkapi dengan CCTV. Jadi anda tidak perlu khawatir," jelas dokter Fahmi panjang lebar. Ia harus meyakinkan Alex agar tak perlu cemas akan hal yang dilihatnya di mall siang ini.


Setelah penjelasan panjang lebar, akhirnya dokter Fahmi berhasil meyakinkan Alex. Namun dokter Fahmi juga mendapat peringatan keras dari Alex agar memantau lebih ayahnya.


Beberapa saat kemudian Farel melangkah keluar dari ruangan dokter Fahmi. Ponselnya masih terhubung dengan ponsel Alex. "Bukankah gue udah bilang kalau lu pasti salah lihat," kata Farel yang masih menempelkan ponselnya di telinganya. Wajahnya bahkan sudah terlihat kesal lantaran ia harus buru-buru pergi ke rumah sakit jiwa karena perintah Alex yang tak ingin mengundur waktu. "Iya Lex gue tau..." Farel berhenti berjalan saat ia mendengar penuturan Alex yang tak bisa ia yakinkan. Bima yang dari tadi juga berjalan di belakangnya juga ikut berhenti saat ia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Sesaat ia menjeda kalimatnya saat ia dengan pasrah mendengar apa yang Alex bicarakan. "Iya-iya gue tau. Udah ah gue harus balik lagi ke kantor," kata Farel seraya kembali melangkah meninggalkan rumah sakit tersebut.


Sedangkan di balik dinding, Hendra menampakkan dirinya saat tadi ia mendengar sendiri bagaimana ia sedang di cari oleh Farel atas perintah anak laki-lakinya sendiri. "Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi," gumam Hendra sembari masih melirik Farel dan Bima keluar dari rumah sakit dimana ia dirawat sekarang. "Aku tidak mau sampai tertangkap lagi. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa membalas dendam pada Farel," kata Hendra sekali lagi sambil tersenyum licik. "Ah tapi sepertinya sekarang aku mempunyai dua pekerjaan. Pekerjaan selain melenyapkan Farel," senyum licik kembali keluar dari mulut Hendra saat ia kembali mengingat akan kejadian semalam saat ia secara tak sengaja melihat Desi keluar dari balkon kamar putranya. "Sepertinya Alex sudah menikah. Dan saat ini sepertinya istrinya sedang hamil besar," ingatannya kembali pada saat ia mengintai Sandra waktu di mall dan secara tak sengaja pula ia kembali melihat wanita yang sama saat makan siang bersama Sandra adalah wanita yang sama dengan wanita tadi malam yang keluar dari balkon kamar putranya. "Dan sepertinya aku pernah melihat wanita itu. Tapi dimana...?" Hendra menggantungkan kalimatnya sendiri saat ia berusaha mengingat-ingat kembali akan wanita yang sepertinya pernah bertemu dengannya.


*


Desi menghentikan langkahnya. Mengusap peluh keringat dingin yang tiba-tiba saja keluar di keningnya. Ia mencoba mengontrol nafasnya agar rasa tenang bisa ia dapatkan.

__ADS_1


Dengan langkah pelan Desi berjalan ke arah meja nakas sambil memegang perutnya bagian bawah. Selalu saja, perutnya terasa nyeri jika ia sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya merasa cemas.


Perlahan Desi mengambil foto dirinya bersama Alex yang terletak di atas meja nakas. Ia memandangi foto tersebut cukup lama. Foto yang menampakkan dirinya menggunakan atasan kotak-kotak dan Alex sedang menggunakan jaket berwarna hitam membuat matanya berkaca-kaca.



"Kamu kapan pulang?" Kata Desi sendiri sambil menitikkan air mata. Entah karena ia rindu pada sang suami atau karena hormon kehamilannya. Akhir-akhir ini ia sering sekali menangis tanpa sebab. Jika seperti ini, bayinya selalu melakukan kontraksi. Desi kembali menahan perutnya bagian bawah saat rasa nyeri kembali menyerangnya. Saat ini usia kandungannya masih tujuh bulan. Jika sesuai jadwal, maka ia akan melahirkan buah hatinya dua bulan lagi.


Desi kembali menarik nafasnya dalam-dalam lalu perlahan mengeluarkannya. Ini adalah salah satu cara ampuh yang sering di ajarkan oleh dokter Elena pada dirinya saat perutnya terasa nyeri.


Perlahan tapi pasti, rasa nyeri di perutnya berangsur membaik. Ia mengusap air matanya perlahan. "Aku tidak boleh begini," katanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Kembali mengelus perutnya yang sudah membuncit. "Maafin Bunda ya sayang... Bunda terlalu merindukan ayah kamu," katanya lagi yang masih mengelus perutnya.

__ADS_1


Desi menaruh kembali foto yang masih ada di tangannya di atas meja nakas. Ia menaikkan kakinya ke atas ranjang. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak setelah tadi ia sudah menguras tenaganya untuk pergi ke mall bersama Sandra.


Bersambung


__ADS_2