Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Level Permainan


__ADS_3

"Kakak ipar..." Panggil Sandra pada Desi yang akan melangkahkan kakinya naik ke atas tangga.


Sejam yang lalu Alex dan Desi sudah sampai di rumah setelah pulang dari rumah sakit. Weekend yang sering di dambakan oleh Alex kini seperti hari biasa yang sering dilaluinya. Pasalnya meski saat ini hari libur kerja, Alex tak bisa menyentuh sang istri sedikitpun. Seperti saat ini. Desi selalu menunggu Alex untuk naik kamar terlebih dahulu agar mereka bisa melakukan aktivitas bergantian tanpa adegan saling tatap tentunya.


Desi mengurungkan niatnya yang akan menaiki tangga. Ia berbalik dan berjalan ke arah Sandra yang tak jauh berdiri di belakangnya. "Ada apa?" Tanyanya. Setelah kepulangan Sandra kemarin ke rumah, ia tak sempat mengobrol ataupun betegur sapa dengan adik iparnya. Karena ia harus menghindari sang suami agar tak terlihat olehnya.


"Kakak ipar, aku..." Sandra menggantungkan kalimatnya saat merasa malu akan mengatakan apa yang seharusnya ia katakan.


"Katakan saja, ada apa?"


"Aku mau minta maaf padamu kakak ipar," ucap Sandra yang di tanggapi senyuman oleh Desi. "Kau pasti sangat membenciku saat tau aku melakukan hal bodoh padamu," jelasnya sambil menundukkan kepalanya dalam. "Aku benar-benar tidak tau jika alergi yang kakak ipar derita sangat serius. Aku..."


"Sudahlah," kata Desi yang memotong penjelasan Sandra. "Aku sudah memaafkan dirimu," lanjutnya seraya mengelus lengan kanan adik iparnya. "Jangan merasa bersalah lagi. Anggap saja peristiwa beberapa hari yang lalu tak pernah terjadi. Kau mengerti!" Kata Desi yang di tanggapi anggukan kepala oleh Sandra. "Kau tau, aku adalah anak tunggal di keluargaku. Aku tidak mempunyai saudara. Tapi setelah menikah dengan kakak laki-lakimu kini aku sangat bersyukur karena saat ini aku telah mempunyai adik perempuan secantik dirimu."


Kak Alika benar. Kakak ipar adalah wanita baik. Dia bahkan tak menyimpan dendam padaku. Padahal aku sudah berbuat jahat padanya.


Kakak ipar... Kau jangan khawatir...


Selama aku masih hidup, maka aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu.


Kata Sandra dalam hati. Kini ia sadar bahwa keberuntungan yang ia miliki adalah mempunyai kakak ipar yang sangat menyayanginya.


*


Desi mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Matanya langsung menangkap bayangan Alex yang tengah berdiri di balkon kamar. Perlahan Desi melangkah ke arah Alex yang sedang membelakanginya. Tirai jendela yang tertiup angin menjadi background yang sangat apik saat Desi dari dekat sedang memperhatikan sang suami yang masih tak beranjak dari tempatnya berdiri. Dengan langkah setengah berlari ia langsung memeluk Alex dari belakang.

__ADS_1


Sedangkan Alex yang menerima pelukan dari sang istri dari belakang tatkala terkejut. Bibirnya tersenyum senang mendapati Desi yang tiba-tiba saja memeluknya. Tangannya terulur mengelus tangan Desi yang tengah melingkar di perutnya. "Kenapa lama sekali?"


"Di bawah aku sedang berbicara dengan Sandra," jawabnya sambil menyenderkan kepalanya di punggung Alex. Memejamkan matanya seraya mengeratkan pelukannya.


"Sandra?"


"Hem..." Jawab Desi sambil menganggukkan kepalanya. "Dia minta maaf padaku."


"Minta maaf?"


"Hem..." Kembali menganggukkan kepalanya. "Dia bilang dia sangat menyesal atas peristiwa beberapa hari yang lalu. Dan aku sudah bilang kalau aku sudah memaafkannya."


Alex terdiam mendengar cerita dari sang istri. Ia bahkan masih membiarkan Desi memeluknya dari belakang. Namun lama-kelamaan ia merasa ada yang aneh saat Desi tak mual. "Sayang..."


"Hem?"


"Tidak! Aku kan tidak melihat wajahmu. Aku akan merasa mual ketika aku melihat wajahmu."


Seperti menemukan jerami di tumpukan jarum, eh salah. Seperti menemukan jarum di tumpukan jerami. Kini ide cemerlang tiba-tiba muncul di kepala Alex. "Sayang coba kau tutup mata."


Desi membuka matanya saat ada perintah yang tak masuk akal dari Alex. "Untuk apa?"


"Sudah kau tutup mata saja."


"Baiklah." Desi yang memang tak merasa curiga atas permintaan Alex. Kini dirinya memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Perlahan Alex membalikkan badannya. Menatap penuh cinta wajah Desi dari dekat. "Kau benar-benar tidak merasa mual saat ini?" Tanyanya memastikan.


"Tidak!" Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. "Aku kan sudah bilang kalau..." Perkataan Desi terpotong saat Alex mencium bibirnya. Dan sesaat itu juga ia akan membuka matanya namun tangan Alex lebih cepat menutup kembali kedua matanya. "Sayang..."


"Jangan banyak bicara..." Bisik Alex ke telinga Desi. "Untuk saat ini tutuplah matamu beberapa saat," bisiknya lagi seraya menggigit pelan telinga sang istri.


"Sayang..."


Alex kembali mencium bibir Desi. "Kenapa kau terlalu banyak bicara?" Tanyanya yang kembali mengecup bibir tipis Desi. Namun lama-kelamaan kecupan tersebut kini menjadi ciuman yang panjang. Kini tangan kanan Alex melingkar di pinggang sang istri sedangkan tangan kirinya menekan tengkuk leher belakang sang istri.


Dengan mata yang masih terpejam Desi mengikuti permainan bibir Alex. Lama-kelamaan permainan bibir itu naik satu level. Dari yang Desi rasakan kini ciuman Alex turun ke lehernya. Ia juga bisa merasakan saat Alex menggendong dirinya sambil bibir mereka tak berhenti berpagutan.


Dengan sangat hati-hati Alex menurunkan Desi di atas tempat tidur. Melihat sang istri yang masih memejamkan mata kini Alex kembali menyerang leher jenjang Desi dengan membabi buta. Tangannya sangat lihai membuka kancing baju Desi satu persatu. Dari leher ciumannya turun ke bawah.


Sedangkan nafas Desi kini sudah naik turun ketika ia mengikuti permainan Alex. Ia membuka kedua matanya saat ia bisa merasakan kepala Alex berada di perutnya. Ia bisa merasakan saat Alex berkali-kali mencium perutnya yang masih rata.


Beberapa menit Desi merasakan permainan yang mereka mainkan semakin menaiki level. Dengan nafas terengah-engah tubuh Desi bergetar hebat saat ia sudah mencapai batas klimaksnya. Tubuhnya seakan lemas saat sang suami bahkan belum memulai level terakhir.


Alex kembali menatap Desi yang memejamkan matanya. Mencium kening sang istri dengan lembut. Lalu turun ke kedua pipinya. Lalu hidung kemudian turun ke bibir tipis sang istri. Mereka kembali berpagutan mesra saat Desi sudah kembali sadar dari batas klimaksnya tadi.


Apa yang di tahan Alex selama beberapa hari ini seperti terbayar sudah sebentar lagi. Pasalnya ia sudah menahan apa yang ingin ia lakukan pada Desi beberapa hari terakhir ini. Namun karena masa ngidam yang dialami sang istri membuatnya tak bisa dekat-dekat lagi dengan Desi. Beruntung ia menemukan cara agar ia bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami saat ia secara tak sengaja menanyakan perihal menutup mata agar mereka tak bersitatap secara langsung.


"Aku mencintaimu..." Bisik Alex pada telinga Desi.


Sedangkan Desi kini kesulitan menjawab pernyataan Alex saat ia susah payah mengatur nafasnya yang memburu ketika sang suami makin melanjutkan permainan ke level tertinggi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2